My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Aril vs Gara


__ADS_3

Sudah jam empat, sudah waktunya para pekerja untuk pulang, jalanan sangat macet membuat Sagara beberapa kali mendengus kesal. Sesekali ia melihat jam tangannya, untuk ia berangkat lebih cepat. Ia sudah mengantisipasi kemacetan yang akan terjadi.


Akhirnya setelah cukup lama, mereka sampai juga di depan sebuah restauran yang di maksud.


"Bi, kamu yakin ini tempatnya?" tanya Sagara, ia hanya membuka kaca mobilnya tanpa berniat untuk turun.


"Berdasarkan informasi yang saya dapat sih iya!"


"Kamu turun dulu gih, aku tunggu di sini!"


"Kenapa tuan muda malah mau di sini?"


"Ya biar nggak nunggu lama!"


Sagara ingat restauran yang ada di depannya itu milik siapa. Walaupun sudah lama sekali, tapi papa Agra pernah mengajaknya datang.


"Baiklah!"


Abimanyu hanya bisa pasrah, mau bagaimana lagi di sini ia masih jam kerja, harus nurut sama atasan.


Anak laki-laki yang mengenakan jas hitam nya itu terpaksa turun, lagian tuan besar Agra bisa-bisanya mempercayakan pekerjaan seperti ini pada anak-anak, begitu pikirnya. Kalau nanti ada kesalahan dia rasa bukan menjadi masalah besar karena mereka belum berpengalaman.


Saat langkah kakinya sudah mencapai ambang pintu masuk restauran, Abimanyu memilih berhenti. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang ada di dalam foto dalam ponselnya.


"Ahhhh belum ada!"


Dari pada melanjutkan berjalan masuk, Abimanyu memilih kembali menghampiri Sagara. Sebenarnya ia cukup tahu, teman sekaligus bosnya itu bukannya tidak mau menunggu lama, tapi pasti dia sedang mempersiapkan diri.


Tiba-tiba menjadi pewaris adalah beban berat baginya. Ia harus melewatkan waktu bermainnya dengan belajar dan belajar dan di paksa untuk dewasa sebelum waktunya, sungguh menyedihkan.


Mom Ara sempat protes, tapi apa di kata. Suara nyonya Besar lebih berpengaruh, bahkan ia tidak punya wewenang untuk mengatur nasib dan masa depan anak-anak nya.


"Bagaimana?" tanya Sagara sambil kembali mendongakkan kepalanya keluar dari jendela mobil itu.


"Seperti masih belum datang!"


"Baiklah ...., sebaiknya kita masuk saja!"


Sagar pun memilih keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke restauran.


"Tuan muda, bukankah ini restauran milik paman Jerry?" tanya Abimanyu saat mereka masuk dan mencari tempat duduk yang kosong, tempatnya begitu luas dan tidak begitu ramai, jadi mereka bisa nyaman untuk membicarakan hal-hal bisnis di tempat itu.


"Aku tahu!"


Mereka memilih duduk di tengah ruangan agar nanti kliennya bisa dengan mudah menemukan mereka.


"Mau pesan apa?"


Seseorang tiba-tiba membuat Sagara dan Abimanyu menoleh pada pelayan yang membawa buku menu dengan seragam khas pelayan di restoran itu.


"Nanti saja!" ucap Sagara.


Tapi Abimanyu masih tertegun melihat pelayan yang usianya masih sangat muda, sepertinya satu tahun lebih muda dari Sagara.

__ADS_1


Abimanyu memang lebih tua dua tahun dari Sagara, tapi dia ia harus sekolah bersama dengan Sagara agar bisa terus menemani Sagara dan tumbuh kemistri di antara mereka berdua.


Sagara lebih tertarik dengan ponselnya, ia tidak begitu memperhatikan siapa gadis pelayan itu, tapi gadis pelayan itu sepertinya mengenali anak laki-laki berjas di depannya itu.


"Sagara Rahardi!" ucap gadis itu berhasil membuat Sagara menoleh pada gadis yang menyebut namanya dengan begitu lengkap.


"Kamu mengenaliku?" Kening Sagara berkerut menatap gadis cantik dengan rambut yang di kuncir kuda dengan dandanan pelayan itu.


"Saya permisi!"


Bukannya menjawab pertanyaan Sagara, gadis itu malah meninggalkan mereka. Sagara yang masih bingung pun memilih untuk menatap Abimanyu.


"Kau mengenalnya?"


"Kalau dugaan saya benar, dia adalah Aril!"


"Aril?"


"Iya, pernah ingat saat kita pergi ke sekolah Nay! Gadis itu yang sudah kamu kerjai habis-habisan karena dia mendorong Naya sampai terjatuh!"


Flashback on


Siang itu Sanaya pulang ke rumah dengan kaki dan tangan yang terluka, dia menangis menahan sakit.


Mom Ara kebetulan tidak menjemputnya karena ada acara, ia meminta sopir untuk menjemput Sanaya.


"Mom ....., hiks hiks hiks ...., mom ...., hiks hiks hiks ....!"


Sagara dan Abimanyu yang sedang belajar di ruang kerja neneknya mendengarkan tangisan Sanaya. Mereka pun segera menghampiri Sanaya.


Sebenarnya banyak pelayan yang berusaha untuk menenangkannya, tapi tetap tidak ada yang bisa.


"Nay ...., kaki dan tangan kamu kenapa?" Sagara sudah duduk berjongkok di depan Sanaya.


Hiks hiks hiks


"Aku terjatuh!"


"Siapapun, ayo ambilkan obat untuk Nay!" teriak Sagara kesal karena tidak ada yang mengambilkan obat luka untuknya.


"Baik tuan muda!"


"Jangan menangis lagi, aku akan mengobati lukamu!"


Setelah pelayan membawakan kotak obat, Abimanyu segera mengambilnya obat luka dan menyerahkannya pada Sagara.


"Sakit ...., Gara sakit ....!"


"Tahan sebentar, nanti juga sembuh!"


Sagara menyelesaikan mengobati luka Sanaya dan menutupnya dengan hansaplas.


"Sudah nggak sakit kan?" tanya Sagara sambil memeluk saudara kembarnya itu, "Jangan menangis lagi, sekarang ceritakan padaku kenapa bisa jatuh!"

__ADS_1


Setelah Sagara melepas pelukannya, ia pun mengusap air mata di pipi adiknya itu.


"Sebenarnya Nay di dorong sama temennya Nay! Tapi Gara janji ya jangan katakan apapun pada mom!"


"Siapa yang dorong kamu?"


"Janji dulu, kalian nggak cerita sama mom atau papa!"


"Iya, cepat katakan!"


"Janji dulu!"


Sanaya mengacungkan jari kelingkingnya dan Sagara terpaksa menyetujuinya, ia menatutkan jari kelingkingnya di jari Sanaya.


"Sekarang katakan!"


"Aril yang mendorongku!"


"Siapa Aril?"


"Dia teman sekelas ku Gara, aku kasih tahu pun kalian juga tidak akan tahu!"


Ternyata yang Sanaya kira itu salah, hari berikutnya Sagara dan Abimanyu menyelinap keluar rumah, ia memesan taksi yang membawa mereka ke sekolah Sanaya.


Sesampai di sekolah, Sagara bertanya pada teman-teman Sanaya, anak yang bernama Aril. Salah satu dari mereka memberi tahu.


Seorang anak perempuan yang duduk sendiri di depan kelas. Sagara dan Abimanyu mendekati nya di tangannya sudah ada lumpur dengan sengaja ia menjatuhkan lumpur itu tepat di bahu dan rok gadis kecil itu.


"Kalian siapa? Kalian apa-apaan?"


"Itu sebagai balasan karena kami sudah membuat Sanaya terluka!"


Tidak cukup dengan itu saja, ia mereka sengaja menyembunyikan buku Aril di tempat sampah.


Hampir setiap hari Sagara mengerjai Aril saat pulang sekolah, karena saat itu saat ya g aman untuk membuat anak itu jera dan tidak di ketahui oleh guru.


"Hei ...., aku akan sangat membencimu, mengerti!" teriak Aril begitu kesal.


"Kenalkan, saya Sagara Rahardi! Ingat dan catat di otak kamu!"


Sejak saat itu, Aril begitu membenci yang namanya Sagara Rahardi, ia bahkan juga sangat membenci Sanaya.


Flashback off


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG tri.ani5249


Happy Reading đŸ„°đŸ„°đŸ„°đŸ„°

__ADS_1


__ADS_2