My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
extra part 1


__ADS_3

Setelah dua kali dua puluh empat jam, akhirnya Ara dan baby boy dan baby girl sudah di perbolehkan pulang.


"Bby ...., kita langsung ke rumah ibu ya?" tanya Ara pada suaminya yang sedang sibuk memasukkan barang-barang baby boy dan baby girl ke dalam tas. Sedangkan Ara memangku baby boy.


"Iya sayang ....., Ibu tidak akan membiarkan kita memiliki rumah sendiri."


"Bukan itu maksudku bby ...., maksudku ...., Ayah pasti juga ingin kita tinggal di sana."


"Itu pasti sayang ...., tapi tidak sekarang ...., nanti kalau baby boy dan baby girl sudah agak besar. kita bisa sesekali berkunjung ke rumah ayah."


Belum sempat Ara menimpali ucapan suaminya. tiba-tiba pintu terbuka.


"Kakak ....., apa kalian sudah siap? kau tahu pak Mun mu itu sangat membosankan. Dia tidak bisa di ajak bicara. Dia itu cuma bisa menjawab hem, iya, tidak. Sepertinya memang hanya itu kosa kata yang dia punya." celoteh Nadin sambil menghampiri kakaknya dan mengambil alih baby boy dari gendongan kakaknya. Sedangkan Agra dan Ara hanya bisa di buat tertawa dengan tingkah Nadin yang tetap saja cerewet.


Setelah tawa mereka terhenti. Ara kembali menatap ke pintu, seperta ada seseorang yang sedang dia tunggu.


"Dek ...., ayah nggak ikut?" tanya Ara pada Nadin.


"Ayah katanya langsung ke rumah besar saja. mobilnya nggak akan cukup untuk kita semua. Jadi cuma aku yang ke sini."


"maaf aku terlambat .....!" tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu. dia adalah Divta.


"Bang ....., bang Divta ke sini?" tanya Agra tak percaya.


"Iya ...., aku akan mengantar kalian pulang." ucap Divta sambil mendekat pada Nadin. " Aku juga merindukannya."


"Hahhh ...." Semua terlejut atas pengakuan Divta. terlebih Nadin.


"Maksudku ....., baby boy ...." ucap Divta mengklarifikasi sambil mengelus pipi cuby baby boy. " Dan ..., baby girl." Divta pun beralih pada baby girl yang sedang tertidur pulas di dekat Ara duduk.


"Abang membuatku terkejut ....." ucap Agra. Sedangkan Nadin, wajahnya sudah memerah menahan malu.


"Baiklah ...., ayo kita berangkat ...."


***


Mereka pun meninggalkan rumah sakit. Pak Mun yang sudah siap di depan rumah sakit terpaksa pulang dengan tanpa penumpang. Karena Agra memilih menaiki mobil abangnya, karena ia tidak ingin membuat abangnya kecewa.


Agra dan Divta duduk di depan, Divta di bagian kemudi. Sedangkan Ara dan Nadin duduk di belakang dengan masing-masing memangku baby.


Sepanjang jalan Agra dan Divta tak hentinya saling melontarkan candaan. Mereka benar-benar menjadi saudara yang kompak. saling melengkapi satu sama lain.


Saat mereka sampai di depan rumah besar itu. Semua keluarga menyambutnya.


Ara turun di bantu Agra sedangkan Nadin turun di bantu Divta.


"Terimakasih ....." ucap Nadin pada Divta saat sudah berhasil turun dari mobil.

__ADS_1


"Sama-sama ...." ucap Divta dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Mari aku bantu lagi ..." Divta menawarkan diri lagi saat Nadin kesusahan membawa tasnya. Tapi hal itu mendapat tatapan dingin dari pria yang sedang berdiri di depan pintu. Matanya menaut. Entah apa yang sedang di pikirkannya.


"Mari masuk sayang ...." Ratih sudah membatu Ara berjalan. sedangkan baby girl sudah di serahkan pada Agra. ya Ara masih sedikit kesusahan berjalan.


"Selamat datang nyonya muda ...." sapa bi Anna pada Ara.


"Nyonya muda ...?" Ara terlihat bingun dengan panggilan barunya.


"Selamat karena sudah menjadi nyonya ...." ucap Bi Anna lagi.


"Sama-sama bi ..." Ara pun tak mau ambil pusing. masa bodo dengan panggilan barunya.


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Ratih sudah menyiapkan kamar untuk Sagar dan Sanaya.


"Kenapa kita ke kamar ini, ibu ...?" tanya Ara saat langkahnya terhenti di depan kamar di sebelah kamar yang selama ini mereka tinggali.


"Buka saja sayang ...." perintah Ratih pada Ara. Ara pun tak menunggu perintah dua kali. Ia pun segera membukanya.


"Tralala ...." Roy menyambutnya dengan merentangkan tangan di dalam kamar itu.


"Ayah ...." ucap Ara tak percaya. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar. Perpaduan warna yang begitu indah. Di sebelah kiri warna pink dengan nuansa princess, sedang di sebelah kanan di dominasi warna biru dengan nuansa superhero.


"Ayah dan bu Ratih sudah menyiapkan semua ini untuk cucu-cucu kita. Bagaimana, kamu suka?"


"Baguslah jika kamu suka. Tidak hanya itu, ibu juga sudah menyiapkan yang lainnya lagi."


"Apa itu ibu?"


prok


prok


Ratih menepuk tangannya dua kali. dan dalam sekejap muncul dua wanita muda yang berpakaian berbeda dengan pelayan lainnya.


"Mereka siapa, ibu?"


"Perkenalkan diri kalian pada nyonya Ara."


"Baik nyonya ..."


Satu dari mereka lebih dulu maju selangkah.


"Saya Reni nyonya. Saya di tugaskan nyonya besar untuk menjaga baby boy." Kemudian wanita muda yang seumuran dengan Ara itu mundur kembali. Gantian wanita yang satunya, yang terlihat lebih tua dari pada Reni.


"Saya Nita, nyonya ...., Saya di tugaskan nyonya besar untuk menjaga baby girl." kemudian dia melakukan hal yang sama seperti wanita sebelumnya.

__ADS_1


"Ibu ...." tapi tak seperti dugaan Ratih. Wajah Ara terlihat kecewa.


"Ada apa sayang ...., apa kau tidak suka dengan kejutan yang Ibu berikan?" tanya Ratih.


"Ibu ...., maafkan aku ...., karena tidak menghargai apa yang ibu berikat. Maafkan aku ..."


"Sayang ...., jangan sungkan. Katakanlah ...!" perintah Ratih.


"Aku tidak menginginkan babysister, Ibu ....., aku hanya ingin merawat mereka sendiri. Dengan tanganku sendiri, ibu ...., aku tidak ingin mereka lebih dekat dengan babysisternya dibandingkan dengan ibu yang telah melahirkan mereka."


Ha ha ha ha


Ara sudah takut mengutarakan pendapatnya. Tapi respin Ratih, sungguh mengejutkan Ara.


"Ibu tidak marah?" tanya Ara.


"Kenapa ibu harus marah sayang. ibu malah srnang jika putri ibu ini berpikir seperti itu. Jangan khawatir sayang, mereka hanya akan datang jika kamu butuhkan. Semua kebutuhan Sagar dan Sanaya hanya kamu yang akan mengaturnya. Dan mereka hanya membantu."


"Terimakasih atas pengertian ibu ..."


***


Di luar di ruang tamu itu Agra sedang menemani Divta dan Rendi berbincang-bincang ringan.


spesial Visual



Sedangkan Nadin mengikuti kakaknya di kamar baby boy dan baby girl.


Ratih dan Roy sudah meninggalkan mereka. Roy berpamitan terlebih dulu karena ada barang yang akan datang ke toko.


"Kak ....."


"hemmm?" tanya Ara sambil menyusui Sanaya. sedangkan Sagara suda tertidur pulas di tempat tidurnya.


"Bagaimana menurut kakak. baikan Pak Divta atau pak Rendi?"


"Hahhh ...." mendapatkan pertanyaan yang tak terduga. Membuat Ara kembali menajamkan telinganya.


"Maksudku ...., menurut kakak. Mereka itu bagaimana?"


"Menurut kakak. Mereka itu biasa aja, yang istimewa ya tetap my Hubby. Agra."


"Ka-kak ...., aku bicara sungguh-sungguh."


"Aku juga sungguh-sungguh dek. Emang kakak ngaco ...., Kamu itu ada-ada aja dek."

__ADS_1


HAPPY Reading 😘😘😘😘


__ADS_2