
“Bunda baik banget sih sama Nay!” ucap Sanaya sambil
tersenyum menatap wanita cantik itu. Wajah khas orang jawa, ayu dan bersahaja. Berbeda sekali dengan Aditya yang urakan.
Wanita cantik itu menoleh padanya, ia meletakkan sendok sayurnya.
“Bunda seneng karena putra bunda akhirnya mengajak
cewek juga ke rumah!”
Sanaya mengerutkan keningnya, ia mengambil kembali piring dan mengelapnya dengan lap bermotif kotak-kotak itu.
“Emang biasanya ngajak siapa bund?”
Dia memang belum terlalu kenal dengan Aditya, tapi yang membuat nya tertarik untuk mengenal pria itu adalah entah kenapa dia merasa Aditya itu berbeda dari cowok-cowok yang pernah ia kenal.
Unik ....
“Anak motor!"
"Anak motor?"
Sebenarnya Sanaya tidak begitu terkejut. Terlihat sekali dari penampilannya kalau dia itu anak motor.
Beda banget sama orang tuanya .....
"Iya, itulah kenapa papa nya Adit suka marah gara-gara Adit pulang bawa anak motor!”
“Jadi Adit anak motor ya bund?”
“Bunda pikir juga kayak gitu, makanya bunda berharap
banget Adit punya cewek biar bisa melarang dia buat main motor, kalau bunda sih
nggak bakal mempan! Sama papa nya aja nggak mempan!”
Wanita itu kembali menghampiri sayurnya yang terlihat mulai matang. Bunda Diah mematikan kompornya dan menyiapkan wadah untuk tempat sayur.
Sanaya sudah selesai.mengelap piring, ia kembali ke dapur menghampiri bunda Diah. Ia masih penasaran sebenarnya orang seperti apa Aditya Banu ini.
“Emang Adit nggak takut ya bund sama papa nya?”
Benar-benar polos, bahkan hal sekecil itu pun Sanaya tanyakan.
“Takut, tapi kan papa nya jarang di rumah! Paling di rumah cuma satu minggu sekali!”
“Tapi bunda kok di rumah?”
“Bunda nggak mungkin ninggalin Adit kan Nay …, bunda belum tega!"
"Kasihan sekali pasti papa Adrian! Dia pasti kesepian!"
"Bunda juga suka mikir kayak gitu, pengen banget bisa ikut kemanapun papa Adrian pergi!"
"Adit nggak punya saudara ya bun?"
"Punya!"
"Mana kok nggak keliatan?"
"Ikut sama opa dan omanya di luar negri!"
"Padahal bisa jadi temennya Adit kan bund!"
"Ya siapa tahu nanti pas Adit sudah nikah, bunda bisa ikut keliling dunia sama papa
Adrian, jenguk adiknya Adit di sana!”
“Ihhh bunda, ngomongnya kok udah soal nikah aja sih
bund!”
__ADS_1
Serasa seperti bunda Dia meminta Sanaya buat jadi istri putranya saja.
“Ya mau bagaimana lagi, bunda cuma pengen Adit jadi
anak bener Nay!”
“Tapi Adit pinter lo bund!”
“Pinter nggak menjamin dia baik Nay, bunda pengen anak bunda pinter tapi juga baik! Pinter api kalau main terus memang mau
mandiri dari mana!”
Orang yang sedang di bicarakan itu saat ini sudah selesai mandi, ia sudah mengganti baju seragamnya dengan baju rumahan.
Setelah selesai, ia pun segera menyusul dua wanita itu di dapur.
“Kalian ngomongin Adit ya? Serius banget!” tanya Adit yang
tiba-tiba muncul dan mencomot tempe goreng kesukaan Adit yang baru matang membuat pembicaraan mereka terpotong.
"Panas banget bund!" ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut agar mengurangi rasa panasnya.
"Makanya jangan asal comot, masih panas sayang!"
"Bunda nggak bilang sihhh!" keluhnya membuat Sanaya tertawa melihat kelakuan Adit. Dia benar-benar apa adanya, apapun yang ingin dia lakukan, dia lakukan.
Dia menyukai kejujuran, selalu jadi dirinya sendiri.
"Kenapa lihatin gue kayak gitu? Sudah mulai jatuh cinta ya sama gue?" tanya Adit saat menyadari jika sedari tadi Sanaya memperhatikannya.
“PeDe banget …!”
Sanaya memilih mengalihkan perhatiannya dari Adit, ia membantu Bunda Diah memindahkan sayur itu ke dalam baskom.
Aditya memperhatikan Sanaya, ia tidak percaya jika gadis semanja Sanaya mau berada di dapur, “Nay bisa masak ya bund?”
“Dia berbakat loh Dit, hanya butuh belajar aja!”
“Enak aja bilang gue nggak bisa masak, di rumah mom
aku juga ajarin Nay masak!”
Aditya memilih duduk di salah satu kursi yang ada di samping meja makan dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah makanan.
“Memang mau?” tanya nya lagi.
Sanaya membawa baskom berisi sayur itu ke meja makan dan ikut duduk berhadapan dengan Aditya.
“Siapa nih yang mau?” tanya Sanaya.
“Mom kamu, dia mau ajarin kamu?”
“Ya maulah …! Emang tampang gue tampang-tampang suka
ngerecokin orang masak apa!”
“Ya kan anak manja kayak kamu pasti jarang ke dapur!”
“Enak aja, bakat masak mom gue nurun ke gue!”
Bunda Diah hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putra dengan temannya itu.
“Sudah-sudah …, jangan berantem, lebih baik kita makan dulu!” ucap bunda Diah menghentikan pertikaian mereka.
Ia duduk di antara Adit dan Nay. ia juga meletakkan piring kosong di depan Sanaya dan Aditya.
“Nggak nungguin papa, bund?” tanya Aditya. Karena seingatnya papa nya hari ini pulang.
“Nanti aja, papa biar bunda masakin lagi, kasihan
nanti Nay nya kalau nungguin papa, kemalaman pulangnya!”
__ADS_1
“Nggak pa pa bund, kalau mau nunggu!” ucap Sanaya yang merasa tidak enak.
“Nggak enak sama orang tua kamu, pasti nungguin! Ayo
makan sekarang!”
Mereka pun akhirnya menikmati makan sore, karena masih jam lima. Untung saja mereka masaknya bukan makanan yang terlalu berat jadi malamnya mereka bisa makan malam lagi.
"Nay rencananya akan kuliah di mana kalau sudah lulus?"
"Belum tahu bun, soalnya Nay juga nggak tahu nilai Mau nanti bakal masuk universitas apa!"
"Kok bisa gitu?"
"Nay nggak pintar bund!"
"Nggak pa pa, asal kamu tetap mau berusaha, itu sudah cukup! Semangat ya!"
"Jangan khawatir bund, Adit bakal bantu dia supaya nggak ketinggalan banget!" ucap Adit yang ikut bicara.
"Nggak perlu, aku udah ada Abi! Dia udah jadi guru terbaikku, bahkan dia kenal sama aku melebihi aku mengenal diriku sendiri!"
Bunda Diah mengerutkan keningnya, "Siapa Abi?"
"Ohhhh ...., dia temennya Nay bund!"
"Kayaknya spesial banget?"
"Ya gitu deh bund!"
Bunda Diah menatap putranya yang hanya diam, seperti ada yang salah.
Mereka mengobrol sambil menikmati makan malamnya.
Setelah selesai makan, Nay pun berpamitan pada bunda
Diah.
“Makasih ya bun atas makanannya, lain kali Nay ke
sini lagi boleh kan bund?”
“Boleh dong sayang, bunda malah seneng! Bunda kan
jadi ada temennya!”
"Gue ambil jaket dulu, lo tunggu di depan ya!"
"Iya!"
Aditya kembali lagi ke kamar, memakai jaket birunya dan juga kunci motornya. Lalu kembali menghampiri Sanaya dan bunda Diah yang sudah ada di depan.
“Nay pulang dulu bund!” ucapnya sambil memeluk bunda Diah.
“Hati-hati ya!”
Mereka pun segera naik motor setelah memakai helmnya. Motor Adit melaju meninggalkan halaman rumahnya, langit sudah mulai gelap. Langit jingga nan indah itu kini berganti menjadi
gelap. Langit gelap kota Jakarta yang mulai di hiasi oleh lampu kota dengan berbagai warna.
Spesial visual Aditya
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰