My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Part 2 (29)


__ADS_3

Kini setiap hari selalu saja ada perdebatan di dalam kamar


itu, Agra tak bisa membantah keputusan ibunya tapi ia juga tidak bisa


mengabaikan keinginan istrinya. Memang benar jika kelak Sagara lah yang akan


melanjutkan kepemimpinannya, bahkan untuk menjadi setangguh sekarang ibunya


sudah menggemblengnya sedari kecil, memang tidak mudah bahkan ia harus rela


terpisah dengan Ibunya demi menjadi yang terkuat.


“Apa salahnya sayang, jika Sagara sekolah di rumah, kita


masih bisa membawanya keluar, misalnya ke panti asuhan atau tempat-tempat lain


yang menyenangkan!”


“tapi bby, Sanaya tanpa abangnya, apa yakin akan aman?”


“Biarkan Sanaya mandiri sayang!”


Perdebatan-perdebatan kecil itu membuat hubungan mereka


sedikit terganggu, banyak hal-hal romantis sering sekali mereka lewatkan.


“Terserah kau saja!” Ara kesal dan memilih keluar dari kamar tanpa menunggu penyelesaiannya, Agra hanya bisa menghela nafas, urusan di


perusahan kadang kala sudah membuat kepalanya penuh dan sekarang di tambah


urusan sekolah anak-anaknya, sebelumnya dia ataupun istrinya tidak pernah


memikirkan hal itu, tapi kenap sekarang menjadi pemikiran yang begitu serius?


“Bro …, bisa ketemuan nggak?”


“…”


“Nanti siang gue tunggu di kafe biasa!”


Agra menutup telponnya, ia mengambil jaketnya yang


tergantung di dalam ruang ganti, mungkin dengan menemui seseorang masalahnya


akan sedikit terselesaikan. Dr. Frans adalah solusi satu-satunya saat ini, dulu


saat kecil hanya dr. frans saja yang sekolah di sekolah umum, mungkin dia akan


bisa memberi gambaran.


Kalau mengulang kisah itu, dulu masih kecil. Agra dan Rendi


sekolah di rumah Agra dengan guru khusus sebelum tragedy kematian ayah Agra,


setelah berusia sepuluh tahun barulah Agra keluar dari rumah besar dan tinggal


di panti asuhan. Sedangkan Dr. Frans dari kecil, dari taman kanak-kanak dia


sudah bersekolah di sekolah umum, mereka baru benar-benar bersahabat saat Agra


di panti asuhan, sejak kecil dr. Frans sudah tinggal di panti asuhan dan nyonya


Ratih lah yang kemudian mengadopsinya.

__ADS_1


Cukup lama akhirnya Agra sampai juga di sebuah kafe yang


biasa mereka nongkrong, menghabiskan waktu sebelum merak menikah, maksudnya


Agra dan Rendi, sedang dr. Frans entah kapan dia akan bertemu dengan jodohnya.


Agra menunggu dengan perasaan cemas, bukan karena ia takut


jika pria tanpa prinsip itu tidak datang, tapi ia takut jika sahabatnya itu


tidak punya solusi yang bagus untuk masalahnya, memang setiap kali sahabatnya


itu bisa dengan mudah menyelesaikan masalnya yang orang seperti dirinya dan


Rendi tidak tahu jawabannya, tapi masalah anak ia tidak yakin pria cengengesan


itu tahu jawabannya, pasalnya dia belum punya anak, menikah saja belum


bagaimana punya anak.


Agra menyesap kopinya, sungguh menunggu membuatnya kesal,


sepertinya sahabatnya itu sengaja mengerjainya.


“Dia sengaja sekali membuatku kesal!” gerutu Agra sambil


beberapa kali melakukan panggilan.


Sepertinya memang pria yang sedari tadi di telpon tidak


menjawab telponnya karena dia sekarang sedang berjalan menuju ke arahnya dengan


gaya nya yang super keren, dokter muda dengan segudang prestasi dan pemilik


rumah sakit ternama dengan dokter-dokter ahli  yang bekerja di sana. Pria dengan kaca mata, rambut yang di biarkan


untuk di lihat.


“Hai bro …, lama nggak nunggunya?”


Bukannya menjawab, Agra malah menatap tajam sahabatnya itu.


Tapi sayang tatapan itu sangat tidak mempan bagi dokter muda itu.


“Waw …, jika melihatmu seperti ini, gue jadi inget sama Sagara, kenapa persis sekali ya?”


Agra melipat tangannya di depan dada dan menyenderkan


punggungnya di senderan sofa, memang sudah menjadi kebiasaan, mereka selalu


menyewa tempat khusus untuk mereka, akan sangat susah jika bicara di tempat


umum bagi orang dengan nama besar seperti Agra, pembicaraan kecil yang


sepertinya tidak ada mutu nya akan menjadi besar jika sampai di dengar oleh


orang yang gila informasi.


“Gue kira setelah menikah, sahabat-sahabat gue bakal


nglupain gue, eh ternyata gue masih saj di butuhin ya kalau ada masalah aja sih


…!” cerocos dokter Frans sambil meminum kopi yang sengaja Agra pesan semenjak

__ADS_1


tadi.


“Gue butuh solusi dari lo!” ucap Agra pada singkat dan


jelas. Dr. Frans hanya berdecak.


“Sudah gue duga, nggak lo, nggak Rendi sama aja, kalau pas


nangis-nangis aja lo panggil gue!”


“Ini masalah sekolah!” ucap Agra dengan singkat lagi.


“Kenapa? Lo mau sekolah lagu?”


“Bukan gue, anak-anak gue!”


“Ya bagus lah, memang Indonesia itu ada aturan mewajibkan


anak wajib belajar Sembilan tahun, jadi kenapa lo yang repot. Ikuti aja aturan


pemerintah!”


“Kalau buat sekolah, gue bukan hanya nyekolahin anak gue


Sembilan tahun, sampai pendidikan tertinggi pun gue jabanin …!”


“Iya gue percaya, lo sultan. Lalu sekarang masalahnya apa?”


Agra pun menceritakan masalahnya pada Dr. frans ,


menceritakan perdebatannya dengan istrinya, dengan ibunya.


“Sekarang beri gue solusi terbaik buat masalah gue!”


“Gampang, kenapa lo nggak minta pendapat Sagara sama Sanaya,


mereka berhak menentukan di sekolah apa mereka akan belajar! Akan-anak lo anak


yang cerdas!”


“Iya …, lo bener. Kenapa gue sampai nggak kepikiran ya!”


“Lo itu pinternya kelewat, jadi hal remeh kayak gini nggak


nyantol di otak lo!” ucap dr. Frans dengan santainya.


“Gue pulang dulu, nikmati kopi lo …!”


Agra tanpa menunggu jawaban dari dr. Frans segera


meninggalan sahabatnya itu.


“Dasar …, kebiasaan, suka banget ninggalin pas lagi sayang


sayangnya …, emang gue nggak butuh tempat curhat apa, oh Ya Allah Gusti …, segera


kirim kan jodoh buat gue …, setidaknya  sedikit terbebas dari penindasan mereka berdua!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘


__ADS_2