
Kini setiap hari selalu saja ada perdebatan di dalam kamar
itu, Agra tak bisa membantah keputusan ibunya tapi ia juga tidak bisa
mengabaikan keinginan istrinya. Memang benar jika kelak Sagara lah yang akan
melanjutkan kepemimpinannya, bahkan untuk menjadi setangguh sekarang ibunya
sudah menggemblengnya sedari kecil, memang tidak mudah bahkan ia harus rela
terpisah dengan Ibunya demi menjadi yang terkuat.
“Apa salahnya sayang, jika Sagara sekolah di rumah, kita
masih bisa membawanya keluar, misalnya ke panti asuhan atau tempat-tempat lain
yang menyenangkan!”
“tapi bby, Sanaya tanpa abangnya, apa yakin akan aman?”
“Biarkan Sanaya mandiri sayang!”
Perdebatan-perdebatan kecil itu membuat hubungan mereka
sedikit terganggu, banyak hal-hal romantis sering sekali mereka lewatkan.
“Terserah kau saja!” Ara kesal dan memilih keluar dari kamar tanpa menunggu penyelesaiannya, Agra hanya bisa menghela nafas, urusan di
perusahan kadang kala sudah membuat kepalanya penuh dan sekarang di tambah
urusan sekolah anak-anaknya, sebelumnya dia ataupun istrinya tidak pernah
memikirkan hal itu, tapi kenap sekarang menjadi pemikiran yang begitu serius?
“Bro …, bisa ketemuan nggak?”
“…”
“Nanti siang gue tunggu di kafe biasa!”
Agra menutup telponnya, ia mengambil jaketnya yang
tergantung di dalam ruang ganti, mungkin dengan menemui seseorang masalahnya
akan sedikit terselesaikan. Dr. Frans adalah solusi satu-satunya saat ini, dulu
saat kecil hanya dr. frans saja yang sekolah di sekolah umum, mungkin dia akan
bisa memberi gambaran.
Kalau mengulang kisah itu, dulu masih kecil. Agra dan Rendi
sekolah di rumah Agra dengan guru khusus sebelum tragedy kematian ayah Agra,
setelah berusia sepuluh tahun barulah Agra keluar dari rumah besar dan tinggal
di panti asuhan. Sedangkan Dr. Frans dari kecil, dari taman kanak-kanak dia
sudah bersekolah di sekolah umum, mereka baru benar-benar bersahabat saat Agra
di panti asuhan, sejak kecil dr. Frans sudah tinggal di panti asuhan dan nyonya
Ratih lah yang kemudian mengadopsinya.
__ADS_1
Cukup lama akhirnya Agra sampai juga di sebuah kafe yang
biasa mereka nongkrong, menghabiskan waktu sebelum merak menikah, maksudnya
Agra dan Rendi, sedang dr. Frans entah kapan dia akan bertemu dengan jodohnya.
Agra menunggu dengan perasaan cemas, bukan karena ia takut
jika pria tanpa prinsip itu tidak datang, tapi ia takut jika sahabatnya itu
tidak punya solusi yang bagus untuk masalahnya, memang setiap kali sahabatnya
itu bisa dengan mudah menyelesaikan masalnya yang orang seperti dirinya dan
Rendi tidak tahu jawabannya, tapi masalah anak ia tidak yakin pria cengengesan
itu tahu jawabannya, pasalnya dia belum punya anak, menikah saja belum
bagaimana punya anak.
Agra menyesap kopinya, sungguh menunggu membuatnya kesal,
sepertinya sahabatnya itu sengaja mengerjainya.
“Dia sengaja sekali membuatku kesal!” gerutu Agra sambil
beberapa kali melakukan panggilan.
Sepertinya memang pria yang sedari tadi di telpon tidak
menjawab telponnya karena dia sekarang sedang berjalan menuju ke arahnya dengan
gaya nya yang super keren, dokter muda dengan segudang prestasi dan pemilik
rumah sakit ternama dengan dokter-dokter ahli yang bekerja di sana. Pria dengan kaca mata, rambut yang di biarkan
untuk di lihat.
“Hai bro …, lama nggak nunggunya?”
Bukannya menjawab, Agra malah menatap tajam sahabatnya itu.
Tapi sayang tatapan itu sangat tidak mempan bagi dokter muda itu.
“Waw …, jika melihatmu seperti ini, gue jadi inget sama Sagara, kenapa persis sekali ya?”
Agra melipat tangannya di depan dada dan menyenderkan
punggungnya di senderan sofa, memang sudah menjadi kebiasaan, mereka selalu
menyewa tempat khusus untuk mereka, akan sangat susah jika bicara di tempat
umum bagi orang dengan nama besar seperti Agra, pembicaraan kecil yang
sepertinya tidak ada mutu nya akan menjadi besar jika sampai di dengar oleh
orang yang gila informasi.
“Gue kira setelah menikah, sahabat-sahabat gue bakal
nglupain gue, eh ternyata gue masih saj di butuhin ya kalau ada masalah aja sih
…!” cerocos dokter Frans sambil meminum kopi yang sengaja Agra pesan semenjak
__ADS_1
tadi.
“Gue butuh solusi dari lo!” ucap Agra pada singkat dan
jelas. Dr. Frans hanya berdecak.
“Sudah gue duga, nggak lo, nggak Rendi sama aja, kalau pas
nangis-nangis aja lo panggil gue!”
“Ini masalah sekolah!” ucap Agra dengan singkat lagi.
“Kenapa? Lo mau sekolah lagu?”
“Bukan gue, anak-anak gue!”
“Ya bagus lah, memang Indonesia itu ada aturan mewajibkan
anak wajib belajar Sembilan tahun, jadi kenapa lo yang repot. Ikuti aja aturan
pemerintah!”
“Kalau buat sekolah, gue bukan hanya nyekolahin anak gue
Sembilan tahun, sampai pendidikan tertinggi pun gue jabanin …!”
“Iya gue percaya, lo sultan. Lalu sekarang masalahnya apa?”
Agra pun menceritakan masalahnya pada Dr. frans ,
menceritakan perdebatannya dengan istrinya, dengan ibunya.
“Sekarang beri gue solusi terbaik buat masalah gue!”
“Gampang, kenapa lo nggak minta pendapat Sagara sama Sanaya,
mereka berhak menentukan di sekolah apa mereka akan belajar! Akan-anak lo anak
yang cerdas!”
“Iya …, lo bener. Kenapa gue sampai nggak kepikiran ya!”
“Lo itu pinternya kelewat, jadi hal remeh kayak gini nggak
nyantol di otak lo!” ucap dr. Frans dengan santainya.
“Gue pulang dulu, nikmati kopi lo …!”
Agra tanpa menunggu jawaban dari dr. Frans segera
meninggalan sahabatnya itu.
“Dasar …, kebiasaan, suka banget ninggalin pas lagi sayang
sayangnya …, emang gue nggak butuh tempat curhat apa, oh Ya Allah Gusti …, segera
kirim kan jodoh buat gue …, setidaknya sedikit terbebas dari penindasan mereka berdua!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘