
"Merelakan segala yang hilang dan pergi. Berarti membuka pintu bagi yang lebih baik dan baru. Dunia ialah aliran ujian, jangan henti memaknainya."
****
"Baiklah biar saya ambilkan dulu." ucap Dewi lalu pergi meninggalkan mereka. Dan tak berapa lama ia kembali dengan membawa sebuah amplop besar, amplop itu tampak lusuh dan berdebu.
"Maaf ..., amplopnya berdebu, karena saya menyimpannya di atas lemari." ucap Dewi sambil menyingkirkan debu-debu yang menempel di amplop itu.
Setelah lebih bersih akhirnya Dewi menyerahkan amplop itu pada Roy. Roy membolak-balik amplop yang masih merekat erat itu. Sangat jelas jika amplop itu tidak pernah di buka sekalipun.
Roy membuka perekatnya. Di dalamnya ada selembar kertas, dengan sangat hati-hati Roy membukanya.
Tapi di bawahnya juga terselip selembar kertas lagi dengan warna yang berbeda. Roy membuka surat yang pertama. surat berwarna putih.
SURAT WASIAT
***Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Dafian Wijaya
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 11 September 1970
Alamat : xxxxx
No KTP: xxxxxxx
Kepada anak-anak saya:
Davina Vianita
Dengan surat ini saya nyatakan bahwa saya menyerahkan sebagian harta saya kepada anak semata wayang saya tersebut, yaitu:
Rumah yang saya tinggali saat ini,
Tanah yang berada pada samping rumah
Sebidang tanah yang berada di daerah xx dengan luas xx hektar.
Apabila saya sudah tidak ada, dengan ketentuan harta itu digunakan, untuk menyelesaikan semua permasalahan utang piutang saya, maka saya serahkan sepenuhnya kepada putri semata wayang saya.
Demikian surat wasiat ini saya buat, tanpa ada paksaan sama sekali dari pihak manapun.
Yang Berwasiat,
( Dafian Wijaya*** )
"Bapak punya tanah?" tanya Davina putri Dafian dan Dewi.
"Ibu juga baru mengetahuinya sekarang." ucap Dewi.
__ADS_1
"Pak Roy, lalu apa isi yang satunya?" tanya Salman.
Roy pun kembali membuka lipatan kertas dengan warna biru itu, di sana bukan ketikan lagi, tapi sebuah tulisan tangan.
*Samarinda, 20/05/2017
Teruntuk istriku tercinta, sayang .... Dewi, kau bagai dewi dalam kehidupanku. Aku begitu jahat padamu, aku memberi banyak kesusahan dalam hidupmu. Aku minta maaf ...., aku menyesal, seandainya waktu dapat di putar kembali, mungkin aku akan kembali pada saat kita tidak pernah bertemu, dan aku akan menghindari bertemu denganmu, agar tak ada luka di sana ....
Aku sungguh menyesal, kau harus hidup seperti dalam neraka selama dua puluh lima tahun bersamaku ....
Dafian mu ini, Dafian yang selalu kau banggakan ...., tak ubahnya seperti sampah.
Aku minta maaf ....!
Kau tahu? sejak bertemu denganmu aku meras aku punya keluarga utuh, kau menghadiahiku seorang putri yang cantik. Tapi kau tahu aku, aku bukan orang yang bisa dengan mudah mengungkapkan perasaan, tapi dengan kata lembut mu kau mengajariku.
Aku ingin sekali memberimu kemudahan, kebahagiaan, aku melakukan semua ini untukmu, kau jangan marah ya sayangku ....
Jika nanti aku telah tiada, bisakah kau menyanggupi permintaanku? aku harap kau bisa, ini demi kamu dan putri kita.
Aku suamimu yang selalu menggoreskan luka dalam hatimu......
Dafian Wijaya*
"Apa cuma itu?" tanya Salman.
"Iya ....!" jawab Roy. Dia tampak bingung, tak ada satu kata pun yang menjurus pada dirinya.
"Apa pak Dafian tidak meninggalkan sesuatu lagi, selain ini?" tanya Salman pada Dewi. Tampak Dewi sedang berfikir. Ia seperti kembali ke masa lalu, di mana terakhir kali bersama suaminya.
"Bisakah anda mengingatnya?" tanya Salman tak sabar.
"Ya .... aku ingat." ucap Dewi setelah sekian lama terdiam. "Dia memberiku sebuah kotak, dan memintaku menyerahkan pada seseorang yang akan mencarinya, ataukah itu mungkin kalian?" tanya Dewi.
"Bisa saya melihat kotak itu?" tanya Roy.
"Baiklah ...., biar saya ambilkan ..." Dewi pun kembali bergegas masuk ke dalam bilik, yang hanya tertutup oleh sebuah kain yang sudah sangat lusuh. Tak berapa lama ia kembali dengan membawa sebuah kotak berwarna hitam.
"Ini kotaknya...., maaf karena saya pernah membukanya ...., hanya ada benda-benda lama jadi saya tidak berminat membukanya lagi." ucap Dewi sambil menaruh kotak itu tepat di depan Roy.
Roy pun segera mengambilnya dan membuka penutupnya. Roy melihat berlembar-lembar foto di sana.
Kemudian ada beberapa foto Dafian besar.
Dan masih ada foto-foto Dafian lainnya. Roy begitu tersentuh, ia seperti melihat cerminan dirinya dalam diri Dafian. Mata Roy tampak memerah menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ingin rasanya ia bisa memeluk saudaranya itu, walau hanya dalam foto.
Setelah puas melihat foto-foto itu, Roy kembali menemukan secarik kertas berisi sebuah alamat.
"Pak Salman, bukankah ini alamat saya di Jakarta?" Roy menunjukkan secarik kertas itu pada Salman.
__ADS_1
"Iya ...., pak Roy benar, bagaimana bisa pak Dafian punya alamat pak Roy?" tanya Salman.
"Coba saya cari barang lainnya...." ucap Roy sambil mencari-cari sesuatu di dalamnya.
"Ini ada sebuah tiket pak." Roy menunjukkan kembali sebuah tiket pesawat. Salman pun segera membukanya.
"Ini sudah lama sekali, di sini tanggal dan tahunnya, tiket ini sudah empat tahun yang lalu." ucap Salman sambil memperhatikan tiket pesawat itu.
"Empat tahun?" tanya Dewi.
"Iya ....!" jawab Salman.
"Empat tahun, berarti tepat sebelum Dafian di vonis gagal ginjal." ucap Dewi.
"Apa ada sesuatu yang lain pak Roy?" tanya Salman. Roy pun segera mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa memberi petunjuk.
Kemudian tangannya menemukan beberapa foto kembali.
"Ini foto kedua putriku juga ada di sini." Roy menunjukkannya pada Salman."
"Boleh aku melihat foto itu paman?" tanya gadis yang sedari tadi hanya menjadi penonton, dia adalah Davina.
Salman pun menyerahkan foto Ara dan Nadin pada Davina.
"Mereka cantik paman ...." ucap Davina.
"Iya mereka putri paman." ucap Roy menanggapi.
"Pak Roy benar, mungkin ada sesuatu yang lain yang belum kita ketahui." ucap Salman.
Roy kembali mengaduk-aduk isi kotak itu. Dan tak berapa lama ia menemukan sebuah amplop. Roy segera mengambilnya.
"Ada amplop lagi pak Salman." ucap Roy.
"Bukalah pak Roy, siapa tahu di situ petunjuknya."
"Iya paman, aku juga penasaran, apa isinya ..." ucap gadis yang sedari tadi buat penasaran itu.
Dengan sangat hati-hati Roy mulai membukanya. Ada tiga lembar kertas di dalamnya. Di tulis dalam waktu yang berbeda. Jangka waktunya cukup lama.
****
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya." - Umar bin Khattab
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya
__ADS_1
Yang buanyak .....
Matur nuwun 🙏🙏🙏🙏