My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Part 2(14)


__ADS_3

Hari ini Agra harus pulang lebih lambat dari biasanya karena Rendi tak juga masuk kerja, semuanya juga salam Agra sendiri sih.


Agra memasuki rumahnya, tapi ia harus menghentikan langkahnya saat berpaapsan dengan paman Salman.


"Paman ...., lama tak bertemu, bagaimana kabar paman?" sapa Agra. Dan pria paruh baya itu segera menunduk hormat.


"Selamat sore tuan muda, saya baik. Bagaimana kabar tuan muda?"


"Saya juga baik paman. Oh iya paman ...., apa Rendi berkunjung ke rumah paman?"


"Tidak tuan muda, ada apa?"


"Yah saya kira di sana, saya mau nitip sesuatu!"


"Saya berencana untuk meminta mereka datang, mungkin sekarang anak buah saya sudah menjemput mereka tuan, apa yang bisa saya bantu?"


"Maaf jika merepotkan paman ....!"


"Tidak masalah!"


"Ini ...!" Agra menyerahkan dua buah ponsel kepada paman Salman.


Kening paman Salman berkerut. "Ponsel?"


"Itu milik Rendi dan Nadin, besok masa liburnya kan sudah selesai."


"Oh ...., baiklah, nanti saya sampaikan!"


"Ya sudah, Agra masuk dulu ya paman. Paman nggak masuk dulu!"


"Tadi sudah, saya permisi tuan muda!"


"Iya paman, hati-hati ....!"


Agra pun mengurungkan niatnya untuk masuk, ia menunggu hingga paman Salman meninggalkan rumah bersama mobilnya, pria paruh baya itu sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Bahkan Agra sudah menganggapnya sebagai pengganti ayahnya, dedikasinya buat keluarga Agra begitu besar, dari sejak ayahnya dan paman Salman sama-sama remaja hingga kini ke ibunya. Mungkin sifat setia Rendi juga menurun dari paman Salman.


"Pap ...., ulang ...!" teriakan Sanaya berhasil membuyarkan lamunan Agra, ia segera mencari sumber suara, Sanaya sudah berlari menghampirinya.


"Sayang .....!"


Agra segera memeluk putrinya itu. Agra dengan gemasnya menciumi putri kecilnya itu, seakan rasa lelahnya hilang terobati ketika melihat putrinya.


"Abang sama momi mana sayang?" tanya Agra karena tak menemukan Sagara dan Ara menyambutnya juga.


"Gala tungguin mom di dapul, mom cedang telja!"

__ADS_1


"Momi kerja apa?"


"Buat tue."


"Wah ...., pasti enak nih ...., papi mau dong, ayo kita susul mereka ....!" Agra segera mengangkat tubuh mungil putrinya hendak menuju ke dapur, tapi langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.


"Gra ....!"


Agra segera menoleh ke sumber suara, Divta berdiri di depan pintu masuk, sepertinya ia sangat buru-buru.


"Bang .....!" Agra segera menurunkan Sanaya kembali. "Masuk bang!"


"Uncle Div ...., canaya Lindu cama uncle ....!" ucap Sanaya yang sudah berlari mendekati Divta.


"Uncle juga kangen sama Sanaya, tapi uncle mau bicara dulu sama papi, boleh ya?"


"Tapi janji duyu, uncle nanti belmain cama canaya!"


"Iya uncle Div janji sama Sanaya, sekarang Sanaya sama momi Sanaya dulu ya!"


"ciap uncle!" sanaya pun segera berlari meninggalkan dua pria dewasa itu.


Setelah Sanaya meninggalkan dua pria dewasa itu akhirnya Agra mendekati Abang ya.


"Ada apa bang?"


Mereka pun kembali ke luar,


"Katakan sejujurnya!" ucap Divta saat mereka sudah sampai di luar rumah.


"Apa bang, serius sekali!"


"Apa benar Nadin sudah menikah?" seketika Agra terkejut, walaupun ia tahu cepat atau lambat abangnya itu akan tahu, tapi ia masih ragu untuk berkata jujur. Ia takut jika abangnya itu akan berubah.


"Dari mana bang Divta tahu?" Jelas bukan Rendi atau Nadin yang memberitahu, lalu siapa?


"Itu tidak penting, sekarang katakan sejujurnya padaku!" ucap Divta sedikit berteriak.


"Iya bang ...., Abang benar!"


Seketika tubuh Divta limbung, untuk kedua kalinya ia harus merasakan hal yang sama. Divta harus berpegangan pada dinding agar tubuhnya tidak terjatuh ke lantai.


"Bang. ..., Abang tidak pa pa?" tanya Agra khawatir, ia ingin membantu Divta tapi bagaimana caranya?


"Dengan siapa Nadin menikah?" tanya Divta lagi sambil memejamkan matanya, ia ingin tahu tapi hatinya tak sanggup untuk menerima informasi itu.

__ADS_1


"Rendi!" ucap Agra yang ucapannya seperti tertahan di kerongkongan, berat untuk mengatakannya. Ia berada dalam dilema yang sulit. Di satu sisi ada Rendi sahabatnya dan di sisi lain ada Divta, abangnya.


"Sudah ku duga ....!" ucap Divta, ia sudah benar-benar menjatuhkan tubuhnya, jongkok dan bersandar di dinding, hatinya hancur untuk kedua kalinya. Alasannya tetap tinggal di sini sudah benar-benar tidak ada, mamanya di penjara, cintanya tak pernah bisa benar-benar berlabuh.


"Bang ...., maafkan saya, karena tidak memberitahu Abang dari awal!"


"Bagaimana mereka bisa menikah?" tanya Divta lagi saat sudah lebih bisa menguasai hatinya.


"Di hari itu, di rumah sakit, pernikahan mereka terjadi secara mendadak!"


"Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah aku perbuat hingga untuk mendapatkan sebuah cinta saja aku begitu sulit!"


"Bang ...., jangan menyalahkan diri sendiri, terus menyalahkan diri sendiri kan semakin membuat kita terpuruk!"


Divta menghapus air matanya yang sudah mengembang di kelopak matanya, ia berdiri dan menepuk pundak Agra


"Jangan cemas aku tidak pa pa, aku hanya butuh sendiri. Aku pergi ...!" ucap Divta lalu begitu saja meninggalkan Agra.


Ia menghampiri mobilnya, seorang sopir sudah bersiap membukakan pintu belakang mobilnya.


"Saya mau sendiri!" ucap Divta sambil mengambil kunci mobil dari sopir itu.


"Tapi tuan!"


"Jangan membantah!"


Divta pun segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya tanpa sopir ataupun pengawal. Agra terlihat begitu cemas, ia harus melakukan sesuatu.


Agra segera merogoh saku jasnya, mencari sesuatu di sana, benda pipih itu, Agra mencari sebuah kontak panggilan.


"Hallo ...!"


"Ya tuan!"


"Ikuti kemanapun pak Divta pergi dan laporkan kepada saya!"


"Baik tuan!"


Agra pun segera mematikan ponselnya dan kembali memasukkan ke dalam saku jasnya. Rasa khawatirnya tak berkurang sebelum ia dapat mengetahui kalau abangnya akan baik-baik saja.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘


__ADS_2