
Bagaikan bunga yang sabar selama kuncupnya untuk kemudian mekar dengan
indah. Atau ulat yang sabar menanti dalam kepompong untuk bermetamorfosa
menjadi kupu-kupu yang cantik
Tuhan tidak menjanjikan langit selalu biru, tapi ia selalu menghadirkan pelangi setelah badai berlalu
***
Walaupun ia sebenarnya di perlakukan bak seorang ratu, rasa bosan
ara benar-benar kian melanda apalagi ia
tak boleh melakukan pekerjaan apapun,membuat jiwa membangkangnya segera muncul
“bi biarkan aku melakukan itu”
“tidak nona”
“ini boleh ya?”
“maaf nona”
“sedikit saja boleh ya?”
“jangan nona”
Penolakan-demi penolakan yang di dapat Ara saat ingin melakukan
sesuati
Dan hal yang lebih membuat Ara frustasi adalah ketika ia di suruh meminum susu dan vitamin untuk ibu
hamil
“apa aku bileh meminumnya nanti bi?”
“maaf nona, tapi nyonya menyuruh kami menemani nona saat meminum
obatnya”
“apa aku boleh meminum sedikit saja?”
“harus di habiskan nona”
“aku sisakan sedikit ya?”
“harus habis nona”
Makanan yang ia makan pun berbeda dengan yang di makan Agra, bi
Anna sangat memperhatikan asupan gizi Ara
“apa aku boleh makan yang aku mau bi?”
“maaf nona, tapi menu makanan nona sudah di tentukan”
“bisakah aku menambahkan sambal? Ini hambar sekali”
“maaf nona, tidak boleh”
“ini boleh aku makan?”
“tidak nona”
“yang ini boleh ya?”
“jangan nona, nyonya bisa marah”
Setiap kali Ara menolak, bi Anna selalu mengatakan jika itu perintanh
nyonya besar, bi Anna tak bisa melanggar, dan lagi-lagi ara hanya bisa pasrah
Satu minggu sudah setelah hari pernikahan itu, untung saja Agra
__ADS_1
orang yang sangat paham dengan keadaan ara, seperti saat ini, saat pulang
kerja, Agra sudah menunggunya di depan pintu
“kenapa kau menungguku?”
“selamat malam nona” rendi ikut turun dan ikut menyapa Ara
“malam ..., nggak mau masuk dulu?”
“tidsak usah nona, saya langsung pulang saja”
“baiklah ...”
“selamat intirahat pak Agra, nona” Rendi pun segera meninggalkan
mereka berdua
“pak ..., mana pesananku?” Ara segera menagih pesanannya siang tadi
“tak sabaran sekali sih ...., jangan di sini nanti jika ada yang
liat bisa bahaya” bisik Agra pada Ara
“baiklah ...” ara hanya bisa pasrah, dan segera memasuki rumah
“ya udah kamu tunggu di kamar, biar aku yang membuatkan untukmu”
Agra pun menyuruh Ara untuk ke kamar terlebih dahulu sedangkan Agra segera
menuju ke dapur
Agra membawa sekantong plastik kecil, isinya dua bungkus mie
instan, Agra pun segera melonggarkan
dasinya dan melipat kemejanya hingga ke siku supaya lebih memudahkan gerakannya
Bi anna yang melihat tuan mudanya sedang sibuk di dapur segera
“tuan muda ...”
“bi ....” agra hanya melihat sekilas dan kembali fokus pada
kegiatannya memasak mie instan
“apa yang tuan muda lakukan?”
“aku sedang membuat mie instan bi, maaf membuat dapurmu berantakan”
‘mie instan ?” wajah bi anna seketika terlihat khawatir, agra yang
menyadarinya segera menjelaskan
“jangan khawatir bi, ini untukku sendiri, aku sedang ingin saja
makan mie instan, kalau sekali-kali boleh kan”
“maaf tuan, tapi nyonya”
“ibu jangan sampai tahu, ini yang makan aku bukan Ara”
“baik tuan” Agra pun selesai memasak mie instan, walau dua bungkus,
ia sengaja menjadikannya dalam satu mangkuk besar supaya bi anna tidak curiga,
jika ia melihat Agra membawa dua mangkuk maka sudah dapat di pastikan jika
satunya untuk Ara
“ya udah bi, saya ke kamar dulu” sebelum bi anna menaruh curiga
lagi Agra segera memberi alasan “soalya kalau makan aku jadi suka makan di
depan istriku, tapi kasihan jika Ara harus turun buat menemaniku makan”
“oh ..., iya tuan”
__ADS_1
Agra pun segera berlalu meninggalkan bi anna dan menuju ke dalam
kamar
“lama sekali sih ...” Ara segera menarik mangkuk di tangan agra
“dasar kau ini ..., nggak sabaran sekali”
Ara segera duduk di sofa dan menaruh mangkuk mie di atas meja,
“wah ...., ini enak sekali ....” ara mencium aroma mie yang menusuk
hidung, dan segera menyantapnya dengan sangat lahap
“siapa dulu yang buat, aku ...” Agra membanggakan diri sambil ikut
duduk di lantai bersama Ara
‘bagi untukku juga ...”
“tapi sendoknya Cuma satu?”
“kau kan bisa suapi aku ...., aku sudah capek cari mie instan,
memasak pula ...”
“kau perhitungan sekali ...”
Walaupun protes tapi ara tetap menyuapkan mie itu ke mulut Agra,
akhirnya mereka pun menghabiskan mie bersama-sama dengan sendok yang sama
“ah ...., kenyang sekali ...” ara menyenderkan punggungnya di sofa
sambil mengelus perutnya
“aku senang ...” guman Agra saat melihat wajah Ara yang terlihat
begitu polos dengan kaca matanya itu
‘makasih ya ....”
“sama-sama ...”
-
-
-
-
-
-
Kebahagiaan bukanlah disaat kamu memiliki kesempurnaan, namun ketika
kamu dapat menerima ketidak sempurnaan dengan tulus dan ikhlas.
Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas. Dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit
-
-
-
-
-
KAKAK JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTENYA YA
AUTHOR MENUNGGUNYA.........
__ADS_1