
Malam ini mereka makan malam bersama, di tambah dengan Divta yang ikut bersama mereka.
"Nak Divta, akan tetap menetap di Indonesia ya?" tanya ayah Roy di sela obrolan mereka.
"Jika ada yang tetap bisa membuatku tinggal, aku akan menetap paman!" ucap Divta sambil melirik Nadin, sedangkan yang di lirik hanya melengos.
"Ya sebaiknya nak Divta segera cari pasangan, usia nak Divta juga sudah matang kan!" ucap ibu Dewi ikut menanggapi percakapan mereka.
"Maunya sih gitu, Tante ...., tapi sulit banget menaklukkan hati cewek, dulu sudah pernah gagal sih Tante!" ucap Divta kali ini bukan Nadin tapi Ara yang menjadi sasaran, memang tak bisa di pungkiri jika semenjak kini perasaannya pada Ara masih terlalu besar, tapi ia juga menemukan sosok Ara di diri Nadin, membuatnya ingin memiliki Nadin.
"Benarkah, siapa?" tanya Davina yang sepertinya sengaja memancing kekacauan karena melihat tatapan yang tak biasa dari Agra pada Ara, ada marah dan cemburu di sana.
"Itu sudah masa lalu ...., dia teman masa kecilku, tapi aku terlambat datang. Mungkin dia bukan jodohku, I'am fine ..., because she happy with his familly."
"Nak Divta yang sabar, Allah pasti sudah menyiapkan jodoh terbaik buat nak Divta!"
"Terimakasih paman!"
Obrolan itu berlanjut hingga selesai makan malam, setelah Divta berpamitan untuk pulang, mereka satu persatu masuk ke dalam kamar.
Jangan khawatir, ternyata ayah Roy benar-benar ayah Ter the best pokoknya, dia sudah membuatkan satu kamar lagi untuk tamu. Jadi bisa langsung Ara dan Agra tempati.
Baby twins sudah tertidur lebih dulu sebelum acara makan malam tadi, mereka tidak tidur dengan papi maminya, ia lebih suka tidur dengan eyang nya, nenek Nani.
"Kalian istirahatlah!" perintah ayah Roy.
"Iya yah, aku juga sudah sangat capek!" ucap Agra sambil tak sabar ingin segera ke kamarnya. "Saya ke kamar dulu ya yah!" pamit Agra tanpa menunggu Ara.
__ADS_1
Kenapa dengannya, nggak biasanya seperti itu.
Setelah Agra masuk ke dalam kamar, Ara yang masih duduk bersama ayah dan adiknya merasa tidak enak, ia kepikiran dengan sikap suaminya itu.
"Ayah ...., sepertinya aku juga harus menyusul Agra deh, ayah juga istirahat ya!" ucap Ara yang hendap beranjak dari duduknya.
"Ya kakak, nggak seru ...., aku kan masih pengen ngobrol!" keluh Nadin.
"Besok lagi ya dek, kakak ngantuk, besok akhir pekan ngobrol sepuasnya sama Sagar dan Sanaya."
"Ya udah deh kalau gitu!"
"Selamat malam ayah ...!" ucap Ara sambil memberikan ciuman di pipi ayahnya, ternyata kebiasaan manis itu tetap di lakukan walaupun ia sudah berkeluarga.
Ara pun segera menyusul suaminya di kamar, dengan pelan ia membuka pintu dan kembali menutupnya. Ia langsung ke kamar mandi sambil membawa baju tidurnya, mencuci muka, menggosok gigi, dan berganti pakaian dengan pakaian tidur.
Setelah selesai urusannya di kamar mandi, Ara pun segera menghampiri suaminya, suaminya itu tidur membelakanginya, dengan pelan Ara merangkak ke atas tempat tidur.
"Bby ...., sudah tidur ya?" tanya Ara lagi memastikan, setelah tak ada respon dari suaminya, Ara pun ikut berbaring di samping suaminya, ia memiringkan tubuhnya menatap punggung suaminya, memainkan jari-jarinya di sana.
"Bby ...., kamu sudah benar-benar tidur ya, ya sudah selamat malam!"
Ara pun membenarkan selimutnya, mematikan lampu utama dan mengganti dengan lampu tidur.
Ara memutar tubuhnya, beralih membelakangi suaminya, ia berusaha memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
"Bby kamu belum tidur ya!?" Ara pun memutar tubuhnya, mengahadap ke suaminya.
__ADS_1
"Bby kamu kenapa?" tanya Ara sambil meletakkan telapak tangannya ke pipi suaminya.
"Aku tidak suka kamu mengingat kembali masa lalumu, aku ingin hanya aku, hanya aku yang ada di hatimu, dulu, sekarang dan selamanya!"
"Bby ....!"
"Dengarkan aku, ya aku posesif, aku cemburu, aku tidak suka kamu dekat dengan siapapun selain aku!"
"Aku tahu ...!" ucap Ara sambil tersenyum, "Maafkan aku!"
Agra terdiam, ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ara, walaupun ini sudah untuk kesekian kalinya, tapi tetap saja jantung mereka berdetak kencang saat situasi seperti ini.
Agra menempelkan bibirnya ke atas bibir Ara, yang awalnya hanya ingin menyesapnya saja, kini sudah menjadi lumayan yang menuntut, suara desahan sudah mulai bersahutan dari mereka. Agra menjelajahi setiap jengkal tubuh istrinya.
Malam itu menjadi malam yang panjang untuk mereka.
Spesial Visual Agra.
Rasa cemburu bisa menguatkan sebuah ikatan cinta, tapi dengan cemburu, cinta itu juga bisa hancur.
Bersambung
**Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
follow juga Ig aku ya
__ADS_1
Tri.ani.5249**
"