My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 84


__ADS_3

Satu bulan sudah Agra kerja di kafe, Agra masih terus memutar


otaknya supaya bisa lebih baik, Agra bekerja sebagai pelayan, karena sistem


kerjanya terbagi atas dua sif sehingga Agra memanfaatkan waktu luangnya untuk


mencari penghasilan sampingan


Banyak pekerjaan yang di lakukan, mulai dari mengantar barang,


menjualkan barang milik orang lain, membantu bosnya mempromosikan kafenya


suatu ketika saat mengantar Ara ke pasar, Agra mendapat peluang di


sana, tanpa sepengetahuan Ara, Agra pun menjualkan dagangan orang dan kadang


juga menjadi kuli panggul, untuk Agra ini bukan hal yang sulit karena saat


masih di panti asuhan Agra juga tak sungkan untuk melakukan pekerjaan kasar


kini kulit yang dulu putih bersih tampak lebih gelap, walaupun


begitu tak menghilangkan ketampanan si bos ganteng itu, malah kini lebih


terlihat maco, tak jarang Agra jadi bahan obrolan ibu-ibu sekomplek gara-gara


pesonanya


“wah...., bu agra belanja ya?” tanya salah satu ibu-ibu yang


kebetulan juga sedang belanja di tukang sayur keliling


“iya bu ...” jawab Ara sambil memilih sayuran


“senang ya bu agra, punya suami kayak oppa oppa korea, udah


ganteng..., sayang istri lagi ....”


Ara pun hanya tersenyum, ia yang mendengar ibu-ibu komplek


membicarakan suaminya sebenarnya sedikit risih tapi mau bagaimana , memang


suaminya tampan


“mbak Ara nya juga cantik, cocok banget deh pokoknya ...”


Ara yang sudah mulai tidak nyaman, ia segera menyerahkan


belanjaannya pada tukang sayur “sudah mang ..., berapa senuanya?”


“25 ribu mbak ...”


Ara menyerahkan selembar uang 50 ribuan, setelah mendapat kembalian


dari mang tukang sayur Ara pun segera berpamitan kepada ibu-ibu yang lain


“saya duluan bu ....”


“iya mbak Ara ....”


Ara yang melihat suaminya bekerja keras ia tak mau hanya berpangku


tangan, walaupun selama ini Agra tidak pernah menceritakan pekerjaannya yang


sebenarnya pada Ara, karena ia tak mau jika sampai istrinya itu merasa tidak


enak hati


Ara juga tak pernah menceritakan masalah keluarganya ini pada Ayah


dan Adiknya. Meskipun Nadin sering sekali menanyakan kenapa kakaknya itu pindah


ke rumah kecil itu tanpa fasilitas apapun


Setelah sampai rumah, Ara pun segera berkutat di dapur, untuk


menyiapkan makan siang


Tok tok tok


Tiba-tiba ketukan pintu menghentuikan aktifitasnya, ia pun segera


berlari ke pintu ruang tamu dan membukanya


“pagi kak ...” sapa Nadin yang sudah berdiri di depan pintu, Ara


sedikit mengerutkan keningnya herang, kenapa Nadin pagi-pagi sudah datang ke


rumahnya


“Nadin ....., pagi dek, pagi-pagi kok sudah ke sini, nggak kuliah?”


“masuk agak siangan kak.”


“ya udah masuk dek ...” Nadin masuk dan di ikuti Ara di


belakanngnya


”kakak lagi apa, baunya enak sekali?” Nadin langsung menuju ke meja


dapur


“nih lagi buat cemilan, cobain dek ...”


Nadin mengambil sepotong kue yang baru saja matang, tampak dari


asap yang masih mengepul di sana


“emmm ..., enaknya, kakak nih berbakat lo buat ginian, kenapa nggak

__ADS_1


jualan aja kak, ntar biar aku bantu jualin”


‘iya ya kenapa kakak nggak kepikiran ya dek”


“kakak mah payah ...”


“ih ..., jahat kamu dek ...’


“eh kak ..., kemaren pas aku nongkrong sama temen-temen di kafe,


aku lihat kak Agra”


“emang dek... ,Agra kerja di kafe”


“jadi kakak udah tahu? Tapi kak Agra jadi pelayan kak, masak


seorang bos jadi pelayan, kakak nggak sedang nyembunyiin sesuatu kan dari aku?”


tanya Nadin penuh selidik


“enggak dek..., memang kak Agra lagi mulai dari nol aja ...”


“maksud kakak?”


“ya kami akan mencoba hidup apa adanya, seperti kebanyakan rumah


tangga yang lainnya”


“jadi semuanya sudah terbongkar ya kak?” Nadin semakin menyelidik


“i-iya dek ...” Ara sedikit ragu menceritakan pada adiknya


“kenapa kakak nggak cerita?”


“maaf dek ...., kakak bingung harus cerita bagaimana, kakak nggak


mau ngrepitin kamu”


“kakak ....” Nadin lalu memeluk Ara


Setelah itu Ara segera menceritakan semuanya pada Nadin


“kamu janji ya dek, jangan bilang Ayah, aku nggak mau ayah cemas”


“tapi ini bagus kak, ayah jadi nggak salah faham lagi sama kakak”


“nanti saja jika waktunya sudah tepat, kakak akan ngomong sendirin


sama ayah”


“baiklah ..., terserah kakak saja.”


***


Setelah kedatangan Nadin tadi pagi, kini Ara jadi tahu jika


ternyata selama ini suaminya hanya bekerja sebagai pelayan, tapi bagaimana bisa


yang berkeliaran di benaknya


Ia menatapi layar ponselnya, tak ada pesan yang masuk, ia sungguh


berharap suaminya mengirimkan pesan untuknya


Kini sudah jam sembilan malam tapi Agra belum juga pulang, selama


ini Ara tak pernah mempermasalahkan hal itu, tapi setelah tahu jika Agra


sebagai pelayan Ara menjadi sangat cemas, bagaimana seorang pelayan berangkat


pagi pulang malam? Pikiran Ara benar-benar melayang ke mana –mana, hingga


sebuah ketukan pintu menyadarkannya


Tok tok tok


Ara pun segera membukakan pintu, karena sudah pasti suaminya akan


pulang hampir tengah malam,


“Gra ...” Ara pun langsung meraih dan mencium punggung tangan


suaminya


“kamu belum tidur ...” Agra pun langsung duduk di atas tikar dan


Ara segera menutup dan mengunci pintu kembali, sebelum ikut duduk bersama


suaminya Ara terlebih dahulu mengambilkan air putih untuk suaminya


“minum dulu Gra ...”


“makasih sayang ...” Agra pun segera meneguk habis air yang di


berikan istrinya


“biar aku siapkan air hangat ya ..., kamu pasti capek” tapi sebelum


Ara berdiri, tangannya sudah lebih dulu di raih oleh Agra


“nggak usah sayang, biar aku mandi pakek air dingin aja”


“tapi ini sudah malam lo Gra ...” ara benar-benar merasa khawatir


melihat suaminya yang tampak begitu lelah


“nggak sayang, aku kalau udah lihat istri aku ini, capeknya langsung


ilang gitu aja, ya udah aku  mandi dulu

__ADS_1


ya” Agra mencubit kedua pipi Ara lembut


Agra pun langsung menuju ke kamar mandi, sedangkan Ara menyiapkan


pakaian Agra, lima belas menit kemudian Agra keluar dari kamar mandi dengan


handuk yang hanya melilit di bagian bawah tubuh Agra hingga di atas lutut


sehingga dadanya di biarkan terbuka,


 Ara yang melihat pemandangan


seperti itu seketika darahnya mendidih, jantungnya terasa mau copot dari


tempatnya, matanya yang selalu mengagumi tubuh itu tak mampu berkedip,


hingga tanpa di sadari Agra sudah berdiri di depannya dan meraih


pinggangnya, hingga tak ada jarak di antara mereka, dada bidang itu menempel


sempurna di tubuhnya


“arrghhhh” Ara terkejut dengan tindakan Agra langsung membuyarkan


konsentrasi Ara terhadap makluk tuhan yang begitu indah itu


“masih nggak percaya ini milikmu” kata-kata Agra membuat pipi Ara


seketika memerah karena malu


 “hah ...”


“tuh kan ..., ini semua milikmu sayang, kamu bebas liat sepuasnya,


bebas pegang sepuasnya” goda Agra


‘ih apaan sih ...” Ara pun langsung mendorong tubuh Agra hingga


menyisakan jarak di antara mereka, dan mencubit pinggang Agra


“aduch ...., sakit sayang”


“salah siapa menggodaku ..., cepetan pakek baju dulu, aku siapin


makan buatmu  dulu” wajah Ara sudah


memerah karena malu


Agra pun segera memakai baju yang sudah di siapkan ara dan menyusul


Ara ke depan , ke ruang tamu yang di sulap menjadi ruang makan lesehan


“wah ... enak kayaknya ...”


“kok kayakknya sih emang biasanya nggak enak” Ara pun pura-pura


merajut sambil mengerucutkan bibirnya


“setiap hari enak sayang, apalagi kalau makannyanya lewat bibir


kamu itu sayang”


“mulai deh godanya, cepetan makan, sudah malam ” karena jam sudah


menunjuk ke angka sebelas malam, sebenarnya sudah bukan lagi waktunya makan


malam


“besok-besok  biar aku ambil


sendiri saja sayang makannya, jadi kamu bisa langsung istirahat, aku juga mau


bawa kunci cadangan aja, biar kamu nggak usah nungguin aku pulang”


“memang kerjaanmu begitu banyak ya hingga harus pulang malam


terus?”


“iya Ra...,biar harus lembur, biar bisa ngumpulin uang buat sewa


Ruko”


“emang kamu di kafe kerjanya di bagian apa sih?” Ara sudah tak


tahan untuk menanyakannya lagi, ia benar-benar penasaran dengan kebenaran yang


di katakan Nadin tadi pagi


“e ..., aku kerjanya di bagian pemasaran sayang, makanya sedikit


sibuk”


“benarkah?” Ara benar-benar tak tahu kenapa suaminya membohonginya,


“kenapa sayang? Kamu nggak percaya sama aku?”


“bukan gitu..., tapi tadi Nadin kesini, katanya kemarin liat kamu


kerja di kafe jadi pelayan”


“oh ...itu, itu karena aku lagi nyontohin sama yang lainnya cara


melayani pelanggan” ara pun mencoba mempercayai perkataan suaminya


***


BERSAMBUNG


jangan lupa kasih upah ya dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya

__ADS_1


kasih VOTE juga


__ADS_2