My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Bonschap 10


__ADS_3

"Bby ...., sudah sore, aku pulang ya!" ucap Ara sambil merapikan bajunya yang berantakan karena ulah suaminya.


"Biar aku antar!" ucap Agra yang sudah mengenakan kembali jasnya.


"Nggak usah bby, aku akan pulang dengan pak Mun!"


"Baiklah aku akan mengantar sampai depan!"


Agra pun segera menggandenga tangan istrinya, mereka keluar dari ruangan Agra dengan tetap masih bergandengan.


Rendi yang tanpa sengaja melintas segera menghampiri mereka.


"Selamat siang Bu !" ucap Rendi menyapa Ara.


"Siang Rend, bagaimana kabarmu?"


"Saya baik, Bu!"


"Saya akan mengantar istri saya ke lobby sebentar! Segera siapkan meeting berikutnya!"


"Baik pak!"


Setelah Ara pulang, Agra pun melanjutkan meeting dengan orang-orang yang berbeda. Hingga malam mereka baru kembali, banyak sekali pekerjaan yang tertunda dan harus segera di selesaikan.


Agra meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, saat tiba-tiba pintunya di ketuk.


"Masuk!"


Dan tak lama dari balik pintu itu ia melihat Divta di sana.


"Bang ...., bang Divta belum pulang juga?" tanya Agra. Bukan sebuah kebiasaan jika Divta lembur, dia lebih suka menyelesaikan pekerjaannya di waktu yang semestinya.


"Aku sengaja menunggumu!" ucap Divta lalu duduk di depan meja kerja Agra.


"Lama tak bertemu dengan sagar dan Sanaya ya, bagaimana kabarnya?"


"Mereka baik, ada yang penting yang ingin bang Divta bicarakan?"


Sejauh ini hubungan mereka baik tapi tetap tidak bisa sedekat itu, seperti ada sedikit sekat yang sengaja Divta pasang untuk membatasinya.


"Kalau kau tidak keberatan, bagaimana kalau kita keluar sebentar?"


"Baiklah ....!"


Agra pun segera menghubungi istrinya kembali dan mengatakan akan pulang sedikit terlambat lagi hari ini, sebenarnya ingin sekali segera pulang dan bertemu dengan istri dan baby twins. Tapi ia tidak mungkin menolak permintaan Divta, untuk pertama kalinya abangnya itu mengajaknya berbicara secara pribadi, bukan mengenai pekerjaan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita ke lapangan futsal, sudah lama sekali kita tidak ke sana?!" ucap Divta dan Agra pun menyetujuinya.


Mereka menuju ke sebuah lapangan, mengganti pakaiannya dengan pakaian futsal yang memang selalu Agra bawa kemana-mana. Pria itu begitu menyukai olah raga sepak bola, Agra memang pria jetset , tapi bukan olahraga-olahraga jetset yang ia sukai, seperti berselancar di lapangan gold atau apalah itu dengan kalangan-kalangan atas lainnya.


Ia suka dengan olah raga merakyat seperti sepak bola dan futsal, kehidupan sederhananya sejak kecil tetap ia bawa hingga dewasa.


Meeka melakukan pemanasan sebelum bermain, setelah melakukan pemanasan mereka segera bergabung dengan salah satu klub di tempat itu dan membentuk tim, mereka berolah raga selama satu jam, setelah merasa lelah Meeka segera duduk di pinggiran lapangan.


"Minumlah ....!" ucap Divta sambil menyodorkan botol minum yang lebih dulu di buka segelnya.


"Makasih bang ....!"


"Lama sekali kita tidak bermain seperti ini, sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, dulu kita bermain di lapangan kecil saat ayah masih ada, beliau yang selalu menjadi wasit." ucap Divta sambil menerawang jauh ke depan.


"Lusa adalah hari peringatan ayah meninggal, apa bang Divta akan ikut ke pemakaman?"


"Ya ....., maafkan mamiku, mungkin jika mamiku tidak terlalu serakah, semua itu tidak akan terjadi!"


"Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan. Biarkan semua berjalan semestinya, dan kita bisa mengambil pelajaran dari semuanya bang, bahwa cinta dan keluarga di atas segala-galanya."


"Terimakasih untuk semua yang kau beri selama ini untukmu, cintamu dan kasih sayangmu, aku sebagai yang lebih tua seharusnya bisa menjagamu tapi malah hampir mencelakai mu."


"Itu terjadi karena sebuah kesalah pahaman saja, jika saja Abang tahu lebih dulu semuanya, mungkin abang lah yang akan berdiri di depanku sebagai tameng ku, dan di sampingku sebagai temanku, dan di belakangku sebagai pendukung ku, aku percaya itu!"


Agra pun menepuk punggung kakak laki-laki nya itu, ia tidak bisa menjadi orang yang bisa menasehati, tapi setidaknya ia bisa menjadi seorang adik yang siap menjadi tempat untuk berkeluh kesah.


Terjadi keheningan beberapa saat, Divta terlihat ragu untuk mengungkapkan maksudnya.


"Gra!"


"Hemmm?"


"Seandainya aku melamar Nadin, apa kau akan menyetujuinya?" tanya Divta, membuat Agra begitu terkejut, bukan karena ia tidak tahu dengan perasaan abangnya itu terhadap adik iparnya, tapi secepat itu?


Ia masih bisa melihat cinta yang besar dari tatapan abangnya itu terhadap istrinya, ia cemburu, sangat cemburu, tapi ia tidak bisa menyalahkan cinta. Divta lebih dulu bertemu dengan Ara sebelum dirinya, ia tidak mampu mencegahnya.


Tapi untuk Nadin, abangnya memang mengagumi sosok Nadin, tapi bukan sebuah cinta, hanya sebuah obsesi untuk memiliki sesuatu yang sama seperti Ara. Wajah dan senyumnya yang terlihat sama di miliki oleh Nadin, sikapnya yang baik dan lembut juga di miliki oleh Nadin.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Divta lagi saat Agra tak juga memberi jawaban.


"Apa tidak terlalu cepat?"


"Bukan sekarang, tapi nanti setelah acara peringatan kematian ayah, apa kau setuju?"


"Aku mendukung apapun yang Abang anggap benar, dan memang benar menurutku, tapi Nadin masih terlalu kecil, dia belum lulus kuliah, masih satu setengah tahun lagi."

__ADS_1


"Kami bisa bertunangan dulu, baru setelah Nadin lulus kami bisa menikah!"


"Jika Nadin mau, saya sebagai kakak ipar Nadin hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, dan sebagai adik Abang, saya hanya meminta, jika itu benar-benar terjadi, makan jaga dia seperti Abang menjaga mama Abang."


"Terimakasih atas ijinnya ....!"


Di tengah-tengah percakapanan serius antara adik dan Abang itu tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.


"Maaf pak, mengganggu waktu anda, tapi ibu Ara sudah menelpon saya, meminta anda untuk segera pulang!"


"Rend, kamu di sini?" tanya Agra tak percaya.


"Bu Ara menghubungi saya karena ponsel anda tidak bisa di hubungi!"


"Ceeehhhh ...., kau memang selalu tahu dimana pun aku berada!" keluh Agra.


"Ya sudah, pulanglah dulu kasihan istrimu sudah menunggu!" ucap Divta sambil menepuk punggung Agra.


Agra pun segera berdiri, ia sebenarnya tidak merasa enak dengan abangnya tapi panggilan ini tidak bisa di tunda lagi, ia tidak suka melihat istrinya marah.


"Aku ganti baju dulu!" ucap Agra, lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Rend!"


"Iya?"


"Apa yang akan kau lakukan jika seseorang menyukai apa yang kau sukai?"


"Maksudnya?"


"Apa kau akan menyerah atau kau akan memperjuangkannya?"


"Aku tidak tahu apa yang anda maksud, tapi aku memilih berjuang sebelum aku benar-benar kalah."


"Bagus ...., aku suka jawabanmu!"


BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2