
Di meja makan itu sekarang terasa lebih hidup, banyak peristiwa yang bisa di ceritakan di sana, celotehan baby twins membuat suasana semakin hangat.
bi Anna, kepala pelayan di rumah itu dengan sigapnya memberi intruksi pada anak buahnya.
"Selamat makan nyonya, tuan!" ucap bi Anna setelah selesai menyiapkan makan malam.
"Terimakasih bi!" ucap Ara, bi Anna pun hanya bisa menganggukan kepalanya dan meninggalkan keluarga itu.
"Biar Ara ambilkan ya Bu!" ucap Ara sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk ibu mertuanya kemudian bergantian untuk suaminya.
Sagara dan Sanaya walaupun mereka belum bisa makan bersama mereka, tapi Ara sudah membiasakan mereka untuk bisa ikut duduk di meja makan, karena menurutnya meja makan adalah tempat yang paling tepat untuk menyampaikan segala sesuatu yang di lakukan setelah melewati seharian dengan urusan masing-masing, di meja makan ini mereka bisa terbuka.
"Bagaimana pekerjaanmu nak?" tanya nyonya Ratih pada Agra.
"Sudah lebih baik Bu, bang Divta benar-benar membantuku!"
"Baguslah kalau seperti itu, oh iya ...., Sanaya dan Sagara sudah besar, sudah mereka tidak kalian ajak berkunjung ke rumah pak Roy, pak Roy pasti senang melihat kedatangan kalian!"
"Ibu benar, bagaimana sayang apa kau mau?" tanya Agra pada istrinya.
"Aku seneng baget bby!" ucap Ara dengan wajah yang berbinar.
__ADS_1
"Bagaimana kalau besok sayang, kebetulan besok tidak ada meeting penting!" Ara pun mengangguk dengan bersemangat.
***
Matahari mulai menampakkan sinarnya, di dalam kamar itu, ibu beranak kembar itu sedang sibuk mengemas berbagai keperluan untuk putra putrinya.
"Banyak banget sayang yang di kemas, sudah kayak mau pindahan aja!" ucap Agra yang sedari tadi hanya bisa memperhatikan istrinya yang sedang sibuk.
"Semua keperluan Sagar sama Sanaya bby, aku nggak mungkin kan mengajak baby sitter mereka juga, bisa penuh rumah ayah!"
"Iya ya sayang, kita nanti tidur di mana ya?" tanya Agra khawatir, terakhir mereka datang ke rumah itu kamarnya hanya ada empat, dan penghuninya begitu banyak. "Apa sebaiknya kita nggak usah nginep aja ya?"
"Iya ...., kita menginap, walau harus tidur di mobil ...!" ucap Agra pelan di akhir kalimatnya agar istrinya tidak mendengarkan.
"Bby ....!!!!"
"Aku tidak berkata-kata apa-apa sayang ....!" teriak Agra sambil meninggalkan istrinya yang sedang kesal itu.
Setelah selesai berkemas, mereka pun berpamitan pada nyonya Ratih.
"Sayang pamit dulu ya sama Oma ...!" perintah Ara pada Sagara dan Sanaya. Dan kedua baby itu pun seperti mengerti apa yang di katakan maminya, dengan langkah ringannya mereka menghampiri Oma nya.
__ADS_1
"Hati-hati ya cucu Oma, jangan nakal di rumah kakek Roy dan nenek Dewi, jangan lama-lama di sana, Oma akan merindukan kalian!" ucap nyonya Ratih sambil mencium bergantian pipi cucunya.
"Kami berangkat ya Bu!" ucap Ara sambil mencium tangan ibu mertuanya, begitupun dengan Agra.
"Salam buat pak Roy dan ibu Dewi ya, maaf nggak bisa ikut berkunjung!"
"Iya Bu, assalamualaikum ...!"
"Waalaikum salam ....!"
Mereka sudah berada di dalam mobil, kali ini Agra tidak mengajak pak Mun juga, ia juga tidak mengajak Rendi bersama mereka, sekarang penjagaan Rendi tak seketat dulu. Rendi sudah tidak mengawasi Agra dua puluh empat jam lagi, ia hanya menaruh mata-mata nya di beberapa titik saja.
***
**Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
follow Ig aku juga ya
Tri.ani.5249**
__ADS_1