
“terserah lo lah …!”
Sanaya memilih pergi dengan kesal meninggalkan
Abimanyu.
Membuat Abimanyu mendengus kesal. Bukannya membuat
Sanaya mengerti tapi malah membuat gadis itu marah padanya.
Abimanyu pun memilih kembali ke kelasnya, ia melewati
Sagara begitu saja membuatnya heran.
Ada apa dengannya?
Sagara pun menghampiri abimanyu dan memutar kursi
yang ada di depan meja Abimanyu.
Ia menyandarkan dagunya di sandaran kursi, melihat
wajah sahabat sekaligus asistennya itu begitu suntuk,
“Ada apa?”
“hmmm!”
“Hmmm itu bukan jawaban!”
Abimanyu pun menatap saudara kembar Sanaya itu
dengan tajam.
“Kamu tahu kalau Sanaya sedang dekat dengan anak
laki-laki?”
Mendengar pertanyaan Abimanyu, Sagara pun
mengerutkan keningnya. Sudah berapa banyak berita yang tidak ia ketahui olehnya
selama menjalani hukumannya.
“Dengan siapa?”
“Bahkan kamu yang posesif sama dia aja nggak tahu
kalau dia lagi dekat dengan anak cowok!”
“Kamu kan udah menjaganya, kok bisa kecolongan sih!”
“Dia punya kehidupan sendiri yang aku tidak bisa
atur begitu saja!”
hehhhh
sagara menghela nafas, benar apa yang di katakana oleh
anak laki-laki di depannya itu. Dia memang saudara kembarnya tapi Sanaya punya
kehidupan sendiri. Tapi ia juga tidak rela jika adiknya itu sampai dekat dengan
anak yang kurang baik, ia harus menyelidiki siapa anak itu.
Sagara memilih kembali ke bangkunya. Anak gadis di
belakangnya terus memperhatikannya.
“Ternyata ada sisi baiknya juga nih cowok!” gumamnya
lirih. Ariel dulu tidak pernah menemukan kebaikan pada anak laki-laki di depannya tapi setelah beberapa kali mereka di pertemukan di perpustakaan dan
mendengar beberapa obrolannya dengan Abimanyu dia jadi sadar jika mungkin anak
itu menjadi tidak tahu aturan saat menyangkut saudara kembarnya.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Sanaya sudah merapikan
bukunya, tapi ia lupa. Ia harus mengumpulkan buku tugasnya dulu. ia pun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada saudaranya.
^^^Gara …, kamu duluan aja…^^^
Kenapa?
^^^Aku ada urusan sebentar, mau ngumpulin buku tugas di ruang guru!^^^
Kalau Cuma ngumpulin tugas, aku tunggu …
^^^Nggak usah, aku mau mampir ke toko buku dulu!^^^
Aku tunggu!
^^^Nggak usah! Kenapa maksa sih, biasanya juga enggak?^^^
Jangan bilang kamu mau pulang bareng sama cowok itu ya?
^^^Pasti nih Abi yang ngomong^^^
Iya
^^^Pokoknya aku mau pulang sendiri, titik …, aku juga udah ijin sama mom …, jadi nggak usah^^^
__ADS_1
^^^nglarang-nglarang …^^^
Terserah lah …
Sagara segera menyakukan kembali ponselnya dengan
kesal.
‘Kita pulang!” ucap Sagara membuat Abimanyu terlihat
bingung. Pasalnya ia belum melihat Sanaya.
“Nay gimana?”
“Dia mau pulang telat!”
“Biar aku tunggu, kamu pulang dulu saja!”
“Nggak usah, dia udah ijin sama mommy!”
Akhirnya abimanyu pun menyerah. Lagi pula kalau
Sanaya sedang ngambek seperti itu dia tidak akan mungkin mau di ajak bicara.
Mereka pun memilih meninggalkan Sanaya, sebenarnya
ini bukan yang pertama kalinya Sanaya pulang sendiri, tapi sekarang rasanya
beda karena Sanaya dekat dengan seseorang.
***
Sanaya segera berjalan menuju ke ruang guru, ia
mencari meja bu Fatim. Untunglah bu Fatim belum pulang, Sanaya dengan cepat
menghampirinya.
“Maaf bu, saya Sanaya! Maaf tugasnya sedikit
terlambat!”
Bu Fatim menatap Sanaya, memastikan jika siswa di
depannya benar-benar siswa yang sempat ia hukum.
“Sudah selesai?”
“Sudah bu!”
“Mana!”
Sanaya pun menyerahkan bukunya.
“tetap di situ!”
Bu Fatim memeriksa hasil pekerjaan Sanaya dari nomor
satu sampai nomor dua lima, dari dua puluh lima soal hanya salah tiga. Dan sepertinya
Aditya sengaja melakukannya agar guru tidak terlalu curiga.
“Bagus! Kamu boleh pulang sekarang!”
“terimakasih bu!”
Akhirnya setelah setengah jam berada di ruang guru, ia
bisa pulang juga.
Sekolah terlihat sudah sepi, hanya ada beberapa
siswa saja yang masih bertahan di sekolah. Sepertinya mereka anak OSIS. Sebenarnya
Sanaya salah satunya, tapi dia tidak pernah ikut rapat OSIS, dia hanya akan
datang kalau pas ada kegiatan saja.
Tin tin tin
Sebuah motor besar berwarna hijau tiba-tiba berhenti
di sampingnya, helm yang menutup wajah pengemudinya membuat Sanaya tidak
mengenali siapa anak di balik helm itu.
Sanaya mengerutkan keningnya, sepertinya pemilik
motor mengerti arti tatapan Sanaya, ia pun segera membuka kaca helmnya.
“Mau pulang bareng nggak?”
“Aditya!”
Sanaya pun kembali melangkahkan kakinya, gara-gara Aditya dirinya jadi bertengkar dengan Abimanyu.
Aditya pun memilih turun dan berjalan sambil menuntun motornya. Ia mensejajari langkah Sanaya.
“Beneran nggak mau nih?”
“Jangan maksa ya!”
“Nggak maksa sih, cuma kasian aja liat cewek cantik
jalan kaki!”
__ADS_1
Sanaya pun menghentikan langkahnya, “Apa sih mau mu?”
“Mau ngantar kamu!”
“kalau nggak mau?”
“Ya aku paksa dong!”
“Aku mau naik angkot!”
“Aku bisa tinggalin motor di sini, trus ikut kamu naik angkot! Tapi kayaknya sih kamu nggak punya uang buat bayar angkot!”
Ahhh iya …, gue kok bisa lupa sih kalau gue nggak punya uang saku …, ngapain juga tadi
nyuruh Gara pulang duluan, ngapain juga ke toko buku kalau nggak bawa uang …,
oma sita kartu atm aku juga lagi …
“Sudah nggak usah banyak mikir, ayo naik!”
Akhirnya mau tidak mau Sanaya ikut juga sama Aditya,
ia juga tidak punya uang buat naik angkot.
“Pegangan!”
“hahhh?”
“Pegangan yang kenceng!”
Aditya segera menjalankan motornya dengan begitu
cepat membuat Sanaya dengan reflek melingkarkan tangannya di pinggang Aditya.
Anak itu tersenyum sambil menatap tangan Sanaya yang
melingkar di perutnya.
“Mau mampir ke mana dulu?”
“Emang boleh?”
“Boleh!”
“Ke kafe mommy aku!”
“Siap antar tuan putri!”
Sanaya pun memberi arahan untuk menuju ke kafe
mommy nya. Pasti mommy nya kalau jam-jam seperti ini masih di kafe. Tapi melihat
penampilan Aditya yang acak adul, Sanaya jadi tidak yakin mommy nya akan suka.
“Kamu di sini aja ya!” ucap Sanaya saat sudah turun
dari atas motor Aditya.
“Kenapa?”
“Ya di sini aja!”
“Takut mommy mu nggak suka?” tanya Aditya dan Sanaya
pun hanya diam.
“Jangan khawatir, aku bisa sopan kok kalau sama
orang tua, lagi pula aku haus, ada kan minuman gratis, kalau nggak ada air putih juga nggak pa pa!”
“kok maksa sih!” keluh Sanaya.
“Ya mau bagaimana lagi, aku kan haus!”
Aditya segera turun dari motornya. Ia meninggalkan
Sanaya begitu saja dan mendahuluinya masuk ke dalam kafe.
“Astaga Adit …!” Sanaya sampai menepuk keningnya
gara-gara ulah Aditya. Mau tidak mau ia pun harus mengejar Aditya dan masuk ke
dalam kafe.
“Budhe …!” teriak Sanaya membuat wanita yang
terlihat lebih tua dari mommy nya itu menoleh padanya.
“Ya ampun neng Nay …, tumben ke sini, sama siapa?”
tanya wanita itu karena ia tidak mendapati Sagara juga di sampingnya.
“Sama temen budhe!”
“temen?” wanita itu menoleh pada anak laki-laki yang
bersama dengan Sanaya, rambut panjang yang tidak tertata rapi, baju di keluarkan kalung panjang dengan kerah baju yang di naikkan.
Masak temannya neng Nay kayak gini …, ganteng tapi berantakan sekali ….
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰