My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
extra part 3


__ADS_3

Mobil yang sedang di kendarai Rendi sedang berhenti tepat di garis


pembatas zebracross. Ia mengedarkan pandangannya sambil menunggu warna hijau


pada lampu lalu lintas menyala.


Tapi matanya terpancing pada seseorang yang


sedikit familiar di matanya akhir-akhir ini. Seorang gadis yang cerewet yang


beberapa kali ia temui tanpa sengaja. Gadis itu tampak sibuk membetulkan


motornya di pinggir jalan. Gadis itu berjongkok sangat serius.


Lampu hijau menyala, Rendi lekas melepas pedal koplingnya dan


menginjak pedal gasnya. Kendaraan mulai melaju, tapi bukan berjalan terus, ia


malah menyalakan lampu sein ke kiri, ia menepikan kendaraannya.


Dia lekas keluar dari mobil, menghampiri gadis itu, gadis itu


sedang jongkok dan sesekali memukul motornya, tampak putus asa.


“ada apa?” tanya Rendi dingin, tetap dengan gayanya yang cuek.


Gadis itu mendongak dan berdiri kaget melihat siapa yang


menghampirinya.


“pak Rendi?”


“kenapa?”tanyanya lagi. Tapi wajahnya tampak menyebalkan.


“mogok, pak ..., pak Rendi mau ke rumahnya kak Agra ya ...? aku


ikut ya ...?” ternyata gaya cerewet Nadin tetap sama, tak peduli dia berhadapan


dengan gunung es sekalipun, tetap saja tak berpengaruh baginya.


“dasar bocah ...., terserah lah ...” Rendi segera meninggalkan


Nadin. Nadin pun mengikutinya. Ia persenyum penuh kemenangan.


“tapi pak ..., motornya? Tidak mungkin saya tinggal...” ucap Nadin


sambil terus mengekor di belakang Rendi.


“di panggul ...” jawab Rendi ketus tanpa menoleh.


“hahhhhh ...” Nadin berhenti mendengar ucapan Rendi.


“mana mungkin aku memanggulnya ..., memang aku samson apa?” batin Nadin.


Tin tin tin


Tanpa di sadari ternyata Rendi sudah masuk kedalam mobil. Suara


klakson berhasil membangunkan Nadin dari lamunannya.


“jadi ikut tidak ....?” teriak Rendi dari dalam mobil.


“dasar balok es ..., bisa tidak sih tidak bertindak semaunya ....,


nyesel aku ketemu sama dia ...” gerutu Nadin sambil berjalan menghampiri mobil


Rendi. Nadin pun masuk ke dalam mobil.


Setelah sempurna duduknya, sebelum Rendi menginjak pedal gasnya,


lagi-lagi Nadin memegang tangan Rendi.


“pak ...”


“lepas ...” ucap Rendi dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari


jalanan.


“baiklah ..., tapi bagaimana dengan motorku?” tanya Nadin memelas.


“lihat itu ....” Nadin pun mengikuti jari telunjuk Rendi, tepat di


mana motornya terparkir.

__ADS_1


"mereka siapa pak? Apa yang akan di lakukan dengan motorku? Motorku mau di apakan? Apa mereka pencuri? Kenapa bapak diam saja? Ayo bantu aku ....!” Nadin memberondongi Rendi dengan banyak pertanyaan. Nadin terlihat begitu cemas,


tampak dari wajahnya panik. Hampir saja Nadin kembali membuka pintu mobilnya tapi segera di cegah oleh Rendi.


“mereka orangku, yang akan ngurusin motor butut kamu ...” ucap Rendi sambil menahan tangan Nadin.


“ahhh ...., lega ...., aku kira ...” ucap Nadin sambil mengelus


dadanya.


“sudah ...?” ucapan Rendi dengan tatapan dingin dan tajam segera


menghentikan ucapan Nadin.


“cerewet sekali bocah ini ...” batin Rendi.


"Sudah ....." jawab Nadin.


"Inih ....." Rendi memberikan selembar sapu tangan pada Nadin.


"Untuk apa?" tanya Nadin bingung.


"Lihat wajahmu ....!" Rendi menunjukkan beberapa oli yang ternyata bersarang di pipi Nadin, ia menunjukan melalui kaca spion di sebelah Nadin.


"Bersihkan ....!"


"Baik ....!"


Rendi pun melajukan mobilnya, sedangkan Nadin diam sambil membersihkan noda oli di wajahnya.


Keadaan mobil


menjadi hening. Rendi fokus mengendarai mobilnya, sedangkan Nadin berusaha


keras menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Setelah berjalan beberapa


menit barulah Nadin teringat sesuatu.


“pak ...” ucap Nadin ragu.


“apa lagi?” tanya Rendi tanpa menatap orang yang bertanya.


“aku belum beli kado untuk kedua keponakanku. Bolehkan kita mampir


“kado ..., aku juga belum punya kado ...” batin Rendi. tapi


Rendi tak mau menurunkan egonya dengan menjawab ucapan bocah di sampingnya.


“gimana? Bisa ya pak..., aku mohon ....!!!!” Nadin tampak memelas.


Tapi tetap saja Rendi tak terpengaruh.


“sebenarnya robot atau orang sih di sampingku ini ..., dasar ....,


nyesel aku bicara sama dia , dasar nggak punya hati ....” batin Nadin


sambil mengerucutkan bibirnya. Ia begitu kesal dengan Rendi.


Tiba-tiba mobil terhenti tepat di depan toko yang menjual


perlengkapan dan peralatan bayi. Nadin terkejut saat mobil tiba-tiba berhenti.


Saat mengedarkan pandangannya barulah ia sadar jika berada di depan toko.


“turun atau tetap di situ?” tanya Rendi tetap tanpa ekspresi.


“hah ..., kapan


orang ini turunya, cepat sekali ...., dasar orang aneh ...”batin Nadin. Nadin pun akhirnya turun.


Mereka berdua segera masuk ke dalam.


Keadaan toko itu memang selalu ramai, selain itu toko perlengkapan dan


peralatan bayi paling lengkap , kualitasnya juga sangat bagus.


Rendi dan Nadin pun menyusuri lorong


demi lorong mencari kado yang cocok untuk di berikan kepada anak kembar itu.


Anak dari wanita yang pernah singgah di hatinya.


“menurutmu, apa yang harus aku beli?”

__ADS_1


tanya Rendi. pertanyaan Rendi yang tiba-tiba sedikit membuat Nadin terkejut.


“dia bertanya


padaku? Benarkah..., apa dia bertanya padaku ...” batin Nadin bingung dan yang keluar dari mulutnya hanya ....


“hahhhh ....”


“lupakan ...” ucap Rendi, lalu pergi


begitu saja meninggalkan Nadin yang masih bingung.


“benar kan, dia itu benar-benar


menyebalkan ..., nyesel aku pernah mengaguminya ..., pria tua, sombong, angkuh


..., lengkap sudah ...” gerutu Nadin sambil terus memilih barang yang akan di


jadikan kado. Setelah selesai Nadin pun membawa barang belanjaannnya ke kasir


dan meminta kasir untuk membungkuskan sekalian.


Karena cukup lama menunggu di kasir.


Rendi tak jyuga datang, akhirnya Nadin memutuskan menyusul Rendi menyusuri


lorong. Hingga ia menemukan Rendi di salah satu lorong.


“pak ..., apa sudah?” tanya Nadin sambil


berjalan menghampiri Rendi. sedangkan Rendi yang merasa di panggil segera


menoleh ke arah Nadin.


“permisi kak ...” tampak seseorang


sedang kesusahan mengambil barang di rak paling atas, terdapat banyak kardus di


rak paling atas. Karena kurang keseimbangan. Akhirnya kardus-kardus itu


bergerak hendak jatuh menimpa Nadin.


“Nadin awas ...” seru Rendi, ia mendekat


dan melindungi kepala Nadin dengan lengannya.


Bruk bruk bruk bruk


“maaf kak saya nggak sengaja ...” ucap


pemuda tadi. Rendi pun mengangguk. Pemuda itu pun meninggalkan mereka.


Nadin terpaku dan gugup, tentu saja


berada terlalu dekat dengan yang pernah ia kagumi. Walaupun ia benci dengan


sikap dingin Rendi, tetap saja dalam hatinya tak pernah dia pungkiri. Ia


terlalu mengagumi pria di hadapannya itu.


“sudak menatapnya?” ucapan Rendi


seketika membuat Nadin mengalihkan pandangannya.


“untung cakep ...” batin Nadin sambil dengan cepat mengalihkan


pandangannya dari pria yang minim ekspresi itu.


Setelah mengikuti Rendi berkeliling,


akhirnya pria es batu itu pun menemukan yang di cari. Mereka membawanya ke


kasir dan meminta kasir untuk membungkus sekalian.


Rendi dan Nadin kembali ke dalam mobil


dengan barang belanjaannya. Mereka menaruh kadonya di bangku belakang. Tak lama


kemudian Rendi menyalakan mobilnya. Rendi dan Nadin lekas mengenakan


seatbeltnya. Setelah memberikan upah parkir, Rendi melajukan kendaraannya


menuju ke rumah Agra.

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘😘😘


__ADS_2