My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Dia kakakku


__ADS_3

Akhirnya Abimanyu dan Ariel sampai juga di rumah sakit terdekat dengan restauran milik papa Jerry. Mbak Nia sudah menunggunya di sana.


"Gimana mbak, papa?"


"Dokter masih menanganinya! Kamu yang sabar ya!" ucap mbak Nia sambil mengusap punggung Ariel.


"Terimakasih ya mbak!"


"Ya sudah aku kembali ke restoran ya, soalnya tadi aku tinggal begitu saja!"


"Iya mbak, sekali lagi makasih ya mbak!"


"Sama-sama!"


Kini di ruang tunggu itu tinggal Ariel dan Abimanyu. Mereka menunggu hingga dokter selesai penanganan.


"Papa lo kenapa?" tanya Abimanyu.


"Papa sakit, Bi! Jantungnya bermasalah!"


Abimanyu cukup merasa iba dnegan saudara sekandungnya itu. Walau bagaimana pun ini pasti sangat berat untuk Ariel.


Setelah menunggu satu jam, akhirnya dokter yang menangani papa Jerry keluar juga.


Ariel dan Abi pun segera menghampiri dokter itu.


"Bagaimana dok keadaan papa saya?" tanya Ariel.


"Siapa di sini keluarganya?" tanya dokter itu.


"Saya dok!"


"Bisa ikut saya sebentar?"


"Baik dok!"


Dokter pun berlalu, tapi sebelum Ariel mengikuti dokter itu. Ia menoleh pada Abi.


"Abi, tolong jagain papa aku sebentar ya!"


Abimanyu pun menganggukkan kepalanya.


Ariel segera mengejar dokter ke ruangannya.


Abi yang melihat semua perawat sudah keluar dari ruangan itu, ia pun masuk setelah meminta ijin. Ia ingin melihat bagaimana rupa papa saudarinya itu.


Wajah pucat pria yang sedang berbaring di atas tempat tidur pasien tidak mengurangi ketampanan pria itu.


Abi pun menggeser bangku kecil di samping papa Jerry dan duduk di sana agar lebih dekat.


Abi terus menatap pria itu, terlihat sekali dia pria baik-baik.


"Beruntung sekali Ariel!" gumam nya lirih.


Pria yang sedang berbaring itu ternyata sudah sadar, ia perlahan membuka matanya.


"Om sudah bangun?" tanya Abi membuat papa Jerry menoleh padanya.


"Biar saya panggil dokter!" Abi sudah berdiri hendak meraih tombol kecil yang di gunakan untuk memanggil dokter itu, tapi tangannya lebih dulu di tahan oleh papa Jerry.


"Jangan!" ucapnya lemah membuat Abi mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk di samping papa Jerry.


Papa Jerry tersenyum, "Apa kami Sagara?"


Abi segera menggelengkan kepalanya, "Bukan om!"


Papa Jerry terlihat mengerutkan keningnya, semenjak besar ia memang belum bertemu dengan Sagara. Ia baru tahu jika Ariel sudah menjalin hubungan dengan anak itu. Lalu siapa anak laki-laki di sampingnya?


Sepertinya Abi mengerti maksud tatapan papa Jerry.

__ADS_1


"Saya Abimanyu, om!"


"Abimanyu!" tiba-tiba papa Jerry terlihat terkejut, ia sampai hampir saja bangun tapi Abimanyu segera menahannya.


"Tidur saja om!"


"Bagaimana bisa kamu_?" tanya papa Jerry, tapi segera ia urungkan. Ia tidak yakin jika anak di depannya mengetahui semuanya.


"Saya tahu semuanya, om!"


Papa Jerry mengerutkan keningnya. Abi pun segera melanjutkan bicaranya.


"Saya tahu kalau saya dan Ariel saudara beda papa, saya bukan anak yang di inginkan oleh wanita itu begitupun dengan Ariel! Saya tahu jika saya dan Ariel punya nasib yang sama, Ariel ada saya!"


"Saya senang bisa bertemu denganmu, semoga kita berjodoh!"


"Maksud om?"


"Saya tidak bisa terus menjaga Ariel, saya butuh orang lain yang bisa menjaganya suatu saat nanti! Kamu adalah kakaknya, mau atau tidak mau, sayangi dia seperti saya menyayanginya!"


Tanpa mereka sadari ternyata di balik pintu itu ada Ariel yang sedang berdiri mendengar pembicaraan mereka.


Abi ...., jadi Abi kakakku ....?


Gadis itu tidak melanjutkan langkahnya, ia memilih untuk duduk di kursi tunggu berbahan besi berwarna silver dengan perpaduan warna hitam panjang yang ada di depan ruang perawatan papa Jerry.


"Lalu kenapa dia memintaku menjauhi Gara?" gumamnya lirih.


Ingatannya kembali pada ucapan Abimanyu satu jam yang lalu, dia memintanya menjauhi Sagara.


"Kenapa hidupku terlalu rumit, apa ini juga ada hubungannya dengan Sanaya yang sekarang dekat dengan Aditya?"


Ariel menundukkan kepalanya, tangannya mengusap kasar rambutnya hingga tertarik ke belakang.


"Ril, sejak kapan kembali?"


"Aku ..., aku baru saja sampai!"


"Aku harus pergi, kamu tidak pa pa kan aku tinggal sendiri, nanti malam aku akan ke sini lagi, kamu mau aku bawakan apa?"


"Tidak perlu, terimakasih sudah menolongku!"


"Tidak pa pa, sampai jumpa nanti malam!"


Abimanyu berlalu begitu saja, langkah anak itu begitu lebar karena kakinya yang panjang.


...🍀🍀🍀...


"Lo dari mana sih? Kata nyonya Viona lo nggak sampai di tempatnya?"


Kedatangannya langsung di sambut dengan berbagai pertanyaan. Abi hanya diam lalu duduk di sofa ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ruangan itu menjadi ruang kerja mereka beberapa minggu ini.


Sagara pun ikut duduk, ia sudah sangat kesal karena sedari tadi terus di protes oleh pihak Viona karena surat perjanjian belum sampai ke tangan mereka.


"Dari mana aja sih?"


"Dari rumah sakit!"


"Kakek sakit?"


"Enggak!"


"Lalu?"


"Papanya Ariel!"


"Papanya Ariel?" Sagara begitu terkejut sekaligus kecewa karena bukan dirinya yang ada di samping gadis itu saat mendapat masalah.


"Lo kenapa bisa sama Ariel? Atau jangan-jangan ini alasan lo nyuruh gue buat jauhin Ariel?" tanya Sagara menyelidik. Rahangnya mengeras, rasanya tidak terima.

__ADS_1


"Nggak udah mikir macem-macem, gue tadi ke butik tapi ketemu sama Ariel. Tiba-tiba dia dapat telpon kalau papa nya masuk rumah sakit jadi gue antar Ariel ke rumah sakit!"


Abimanyu menceritakan yang sebenarnya, tapi ia sengaja menghilangkan bagian yang ia berbicara di kafe.


Sagara langsung memeriksa ponselnya, ia melihat tidak ada panggilan satupun dari Ariel.


"Dia tidak menganggap ku ada!" gumamnya.


"Karena dia bukan orang yang suka memamerkan kesedihannya!"


"Lo jadi sok tahu banget sih!" ucapnya lalu berdiri dan mengambil jasnya.


"Mau ke mana?" tanya Abimanyu saat Sagara hendak keluar dari ruangannya.


"Ke rumah sakit, urus semua masalah yang telah lo buat! Gua pergi dulu!"


...🍀🍀🍀...


Sanaya dan Adit akhirnya sampai juga di depan rumah besar itu.


"Makasih ya udah temenin gue, tapi jangan mengatakan apapun pada siapapun tentang yang lo dengar tadi!"


"Gue bisa di percaya, tapi ada syaratnya!"


"Apa-apa kok ada syaratnya sih!?"


"Di dunia ini tidak ada yang gratis, nafas aja bayar!"


"Ya udah ayo sebutin apa yang lo inginkan!"


"Makan siang di kantin sama gue!"


"Baiklah, sudah sana pergi!"


"Iya iya ....!"


Setelah Aditya meninggalkannya, Sanaya segera masuk. Ia segera mencari omanya, ada yang sangat ia ketahui dari omanya.


"Bi ...., apa oma ada di rumah?" tanyanya pada bi Anna yang kebetulan lewat.


"Nyonya besar ada di taman, nona! Tapi nyonya ada tamu!"


"Baiklah bi terimakasih!"


Sanaya pun segera menuju ke taman, dan benar saja ada tamu di sana. Penampilannya begitu rapi dan dia juga begitu hormat pada omanya itu. Sanaya pun segera mendekat, saat melihat kedatangan Sanaya. Omanya segera meminta tamunya itu untuk pergi.


"Kita lanjutkan besok saja, kamu boleh pergi sekarang!"


"Baik nyonya, saya permisi!"


Oma Ratih hanya mengangkat tangannya menandakan sudah boleh pergi.


Setelah pria itu pergi, oma Ratih menatap Sanaya.


"Selamat sore oma!"


"Kesini lah, duduk sama oma!"


Sanaya pun segera duduk di gazebo taman bersama omanya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2