
Para pesarta rapat pun saling berbisik, mereka bertanya-tanya
maksud dari ucapan Ratih, sedangkan yang mereka gadang-gadang akan menjadi
penerus Ratih belum menampakkan batang hidungnya.
Mereka mencari-cari kemungkinan yang paling mungkin untuk menjawab
teka-teki yang mereka buat sendiri.
“jadi maksud nyonya ..., nyonya akan menyerahkan jabatan sebagai
presiden direktur kepada ...?” tanya salah satu peserta rapat tapi tak berani
melanjutkannya takut ucapannya akan menjadi masalah.
“ya seperti yang kalian semua pikirkan jadi akan ada dua posisi
yang kosong di sini yaitu sebagai presiden direktur dan CEO, karena tuan Wijaya
sudah mewasiatkan saham dari perusahaan ini untuk kedua putranya, maka yang
akan menempati dua posisi penting itu juga kedua putranya” ucapan Ratih benar-benar penuh wibawa. walaupun seorang wanita tapi karismanya tak bisa di ragukan lagi.
“lalu siapa yang akan menempati jabatan sebagai presiden direktur
menggantikan anda nyonya?”
“untuk itu kita tunggu pengacara dari tuan Wijaya, karena tuan
Wijaya sudah mewasiatkannya” ucap Ratih masih tetap tenang di tempatnya. berbeda dengan Aruni yang tampak begitu gusar. Ratih yang menyadarinya hanya tersenyum dingin.
"aku sudah tahu apa yang kau pikirkan Aruni, kau tetap saja...,licik ...." batin Ratih dengan senyum dinginnya.
“sial ...., aku harus berbuat sesuatu untuk menjatuhkan ratih dan
putranya ...” batin Aruni
“tunggu..., sebagai peserta rapat, saya bolehkan mengemukakan
pendapat saya ...” ucap Aruni dengan angkuhnya, dan di angguki oleh sebagian
peserta rapat
“silahkan nyonya ...”
Ratih pun kembali duduk, dan membiarkan Aruni bicara, ia tahu pasti Aruni
akan berusaha menjatuhkannya dan putranya, ia hanya bisa berharap Agra datang
tepat waktu sebelum dewan direksi memutuskannya.
“kita memilih pemimpin, pastinya pemimpin yang dapat membawa
perusahaan ini merajai dunia bisnis”
Semua setuju dengan apa yang di ucapkan Aruni, merasa ucapannya di
dengar, Aruni pun melanjutkan rencanannya.
“lalu bagaimana kita akan memilih seorang yang jelas saja akan mencoreng nama baik perusahaan ini" ucap Aruni dengan senyum liciknya.
“maksud nyonya?” tanya salah satu peserta rapat
“ya ...,seperti gosip yang kita dengar akhir-akhir ini, bahwa putra yang di gadang-gadang akan menggantikan mantan suami
saya ternyata menikah karena sebuah kecelakaan, bukankah itu akan menurunkan
reputasi perusahaan ini, banyak yang akan meragukan kemampuannya”
__ADS_1
“maksud nyonya kecelakaan macam apa itu?”
“berdasarkan gosip yang saya dengar dan sudah beredar di media, pak Agra menikahi sekertarisnya, karena sekertarisnya telah di
hamili..., bukankah itu aib ..., apa lagi beritanya sekarang sudah menyebar,
dan pastinya jika sampai di dengar oleh perusahaan lain, pasti akan menjadi
alasan yang sangat kuat untuk menjatuhkannya”
“iya ...., kami setuju dengan ucapan nyonya Aruni ...” banyak
peserta rapat yang menyetujui pendapat Aruni, tapi juga sebagian dari mereka
masih ada yang mendukung Agra yang akan memimpin perusahaan.
“bukankah memang sudah seharusnya putra tertua yang mewarisi semua
ini ..., dan kemampuan putra saya juga tidak usah di ragukan lagi, ia cukup
mahir memimpin perusahaan, terbukti dengan berkembangnya perusahaan cabang yang ada di Singapura, itu berkat kerja keras putra saya ini ....” ucap Aruni sambil menunjuk ke arah Divta yang masih duduk tenang. begitu tenang seakan persebatan itu tidak mempengaruhinya.
Salman yang sudah terbakar emosi, sudah beberapa kali ingin membuka suara, tapi Ratih tetap
mencegahnya. ia merasa ini belum waktunya untuk menyumpal mulut pedas Aruni.
“ini belum waktunya ..., sabarlah ..., tunggu sebentar lagi ...”
ucap Ratih lirih sambil menahan Salman
“ya kami setuju jika pak Divta yang memimpin perusahaan ini ....”
Aruni mendapat suara 70% dari peserta rapat. sedikit menggoyahkan kepercayaan diri Ratih.
“tunggu .......” tiba-tiba dari pintu masuk datang dua orang yang
sejak tadi telah di tunggu-tunggu, senyum tersungging dari bibir Ratih, mereka
Semua menoleh ke sumber suara, Agra datang dengan begitu menyihir
semua yang datang, singa finityGroup telah datang kembali. itulah mungkin yang di rasakan di sana. suasana yang begitu menyihir. semua mata menatap kedatangannya.
“maaf karena telah membuat kalian menunggu ...” ucap Agra begitu tegas. seakan memiliki kekuatan tersendiri di setiap ucapannya.
Salman pun segera menggeserkan kursi untuk Agra
“senang melihat anda juga menghadiri rapat ini nyonya Aruni ...”
sapa Agra pada Aruni sebelum duduk, dan yang di sapa pun hanya bisa tersenyum
masam.
“saya di sini mau meluruskan semuanya” ucap Agra santai, Agra pun
kembali berdiri dan membuka beberapa file yang sepertinya sudah di persiapkan
di dalam faskdisk, file yang sama dengan berkas yang sedang ia pegang saat ini.
“yang pertama ..., saya dan istri saya tidak menikah karena
kecelakaan, untuk itu dapat kalian bisa melihat di monitor, saya menikah sudah
satu setengah tahun dan sekarang istri saya sedang hamil empat bulan”
“dan ini adalah foto USG anak kami ...dan bla ba bla ...” Agra
menjelaskan panjang lebar, mematahkan semua tuduhan yang di lontarkan Aruni,
walau sesekali Aruni tampak mengajukan beberapa pertanyaan yang menyudutkan
__ADS_1
Agra, tapi seperti biasa Agra dengan sangat mudah menjawabnya.
Ratih hanya tersenyum menyaksikan perdebatan Aruni dan putranya
sedangkan Divta, ia sesekali membela ibunya tapi di antara perdebatan itu
selalu di menangkan oleh Agra.
“dan untuk lain sebagainya yang bersifat pribadi maka akan kami
bicarakan secara pribadi dengan pengacara kami, untuk pemilihan menjadi penerus
presiden direktur perusahaan ini, kami kembalikan kepada kalian para wakil
direksi” Agra menutup dengan tegas , kemudian kembali duduk
Terlihat para peserta rapat saling berdiskusi, kemudian tampak
salah satu dari mereka mewakili
“permisi saya mewakili para wakil direksi, sebagian besar dari kami
memilih pak Agra yang menggantikan bu Ratih, karena menurut kami pak Agra lah
yang paling tepat mendudukinya, dan untuk pak Divta mungkin bisa di tempatkan
sebagai CEO”
Akhirnya semua menyetujuinya, terkecuali yang pasti adalah Divta
dan ibunya, tentu saja mereka datang kembali ke Indonesia bukan untuk itu,
mereka ingin mengambil semuanya
Rapat pun selesai, di dalam ruangan itu masih tersisa Agra , Divta,
Ratih, Rendi, Salman dan Aruni entah apa yang sedang mereka pikirkan
masing-masing
“nyonya Aruni bisa menunggu sebentar, kita bisa bertemu dengan
pengacara pak Wijaya” ucap Salma saat Aruni hendak beranjak meninggalkan
ruangan, Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali duduk
Dan benar saja tak berapa lama orang yang sedang mereka tunggu
datang juga
“selamat siang..., maaf saya terlambat ...” sapa orang yang mungkin
disebut pengacara jika di lihat dari pakaiannya yang rapi
“silahkan pak Ridwan ....” Salman pun segera mempersilahkan orang
itu untuk bergabung dimeja rapat yang masih sama
“silahkan duduk ...”
“terimakasih ...”
Setelah benar-benar duduk barulah orang yang di panggil Ridwan itu
mengeluarkan beberapa berkas.
BERSAMBUNG
jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
__ADS_1
dan lagi kasih vote juga ya
makasih ......