My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 113


__ADS_3

Para pesarta rapat pun saling berbisik, mereka bertanya-tanya


maksud dari ucapan Ratih, sedangkan yang mereka gadang-gadang akan menjadi


penerus Ratih belum menampakkan batang hidungnya.


Mereka mencari-cari kemungkinan yang paling mungkin untuk menjawab


teka-teki yang mereka buat sendiri.


“jadi maksud nyonya ..., nyonya akan menyerahkan jabatan sebagai


presiden direktur kepada ...?” tanya salah satu peserta rapat tapi tak berani


melanjutkannya takut ucapannya akan menjadi masalah.


“ya seperti yang kalian semua pikirkan jadi akan ada dua posisi


yang kosong di sini yaitu sebagai presiden direktur dan CEO, karena tuan Wijaya


sudah mewasiatkan saham dari perusahaan ini untuk kedua putranya, maka yang


akan menempati dua posisi penting itu juga kedua putranya” ucapan Ratih benar-benar penuh wibawa. walaupun seorang wanita tapi karismanya tak bisa di ragukan lagi.


“lalu siapa yang akan menempati jabatan sebagai presiden direktur


menggantikan anda nyonya?”


“untuk itu kita tunggu pengacara dari tuan Wijaya, karena tuan


Wijaya sudah mewasiatkannya” ucap Ratih masih tetap tenang di tempatnya. berbeda dengan Aruni yang tampak begitu gusar. Ratih yang menyadarinya hanya tersenyum dingin.


"aku sudah tahu apa yang kau pikirkan Aruni, kau tetap saja...,licik ...." batin Ratih dengan senyum dinginnya.


“sial ...., aku harus berbuat sesuatu untuk menjatuhkan ratih dan


putranya ...” batin Aruni


“tunggu..., sebagai peserta rapat, saya bolehkan mengemukakan


pendapat saya ...” ucap Aruni dengan angkuhnya, dan di angguki oleh sebagian


peserta rapat


“silahkan nyonya ...”


Ratih pun kembali duduk, dan membiarkan Aruni bicara, ia tahu pasti Aruni


akan berusaha menjatuhkannya dan putranya, ia hanya bisa berharap Agra datang


tepat waktu sebelum dewan direksi memutuskannya.


“kita memilih pemimpin, pastinya pemimpin yang dapat membawa


perusahaan ini merajai dunia bisnis”


Semua setuju dengan apa yang di ucapkan Aruni, merasa ucapannya di


dengar, Aruni pun melanjutkan rencanannya.


“lalu bagaimana kita akan memilih seorang yang jelas saja akan mencoreng nama baik perusahaan ini" ucap Aruni dengan senyum liciknya.


“maksud nyonya?” tanya salah satu peserta rapat


“ya ...,seperti gosip yang kita dengar akhir-akhir ini, bahwa putra yang di gadang-gadang akan menggantikan mantan suami


saya ternyata menikah karena sebuah kecelakaan, bukankah itu akan menurunkan


reputasi perusahaan ini, banyak yang akan meragukan kemampuannya”

__ADS_1


“maksud nyonya kecelakaan macam apa itu?”


“berdasarkan gosip yang saya dengar dan sudah beredar di media, pak Agra menikahi sekertarisnya, karena sekertarisnya telah di


hamili..., bukankah itu aib ..., apa lagi beritanya sekarang sudah menyebar,


dan pastinya jika sampai di dengar oleh perusahaan lain, pasti akan menjadi


alasan yang sangat kuat untuk menjatuhkannya”


“iya ...., kami setuju dengan ucapan nyonya Aruni ...” banyak


peserta rapat yang menyetujui pendapat Aruni, tapi juga sebagian dari mereka


masih ada yang mendukung Agra yang akan memimpin perusahaan.


“bukankah memang sudah seharusnya putra tertua yang mewarisi semua


ini ..., dan kemampuan putra saya juga tidak usah di ragukan lagi, ia cukup


mahir memimpin perusahaan, terbukti dengan berkembangnya perusahaan cabang yang ada di Singapura, itu berkat kerja keras putra saya ini ....” ucap Aruni sambil menunjuk ke arah Divta yang masih duduk tenang. begitu tenang seakan persebatan itu tidak mempengaruhinya.


Salman yang sudah terbakar emosi, sudah beberapa kali ingin membuka suara, tapi Ratih tetap


mencegahnya. ia merasa ini belum waktunya untuk menyumpal mulut pedas Aruni.


“ini belum waktunya ..., sabarlah ..., tunggu sebentar lagi ...”


ucap Ratih lirih sambil menahan Salman


“ya kami setuju jika pak Divta yang memimpin perusahaan ini ....”


Aruni mendapat suara 70% dari peserta rapat. sedikit menggoyahkan kepercayaan diri Ratih.


“tunggu .......” tiba-tiba dari pintu masuk datang dua orang yang


sejak tadi telah di tunggu-tunggu, senyum tersungging dari bibir Ratih, mereka


Semua menoleh ke sumber suara, Agra datang dengan begitu menyihir


semua yang datang, singa finityGroup telah datang kembali. itulah mungkin yang di rasakan di sana. suasana yang begitu menyihir. semua mata menatap kedatangannya.


“maaf karena telah membuat kalian menunggu ...” ucap Agra begitu tegas. seakan memiliki kekuatan tersendiri di setiap ucapannya.


Salman pun segera menggeserkan kursi untuk Agra


“senang melihat anda juga menghadiri rapat ini nyonya Aruni ...”


sapa Agra pada Aruni sebelum duduk, dan yang di sapa pun hanya bisa tersenyum


masam.


“saya di sini mau meluruskan semuanya” ucap Agra santai, Agra pun


kembali berdiri dan membuka beberapa file yang sepertinya sudah di persiapkan


di dalam faskdisk, file yang sama dengan berkas yang sedang ia pegang saat ini.


“yang pertama ..., saya dan istri saya tidak menikah karena


kecelakaan, untuk itu dapat kalian bisa melihat di monitor, saya menikah sudah


satu setengah tahun dan sekarang istri saya sedang hamil empat bulan”


“dan ini adalah foto USG anak kami ...dan bla ba bla ...” Agra


menjelaskan panjang lebar, mematahkan semua tuduhan yang di lontarkan Aruni,


walau sesekali Aruni tampak mengajukan beberapa pertanyaan yang menyudutkan

__ADS_1


Agra, tapi seperti biasa Agra dengan sangat mudah menjawabnya.


Ratih hanya tersenyum menyaksikan perdebatan Aruni dan putranya


sedangkan Divta, ia sesekali membela ibunya tapi di antara perdebatan itu


selalu di menangkan oleh Agra.


“dan untuk lain sebagainya yang bersifat pribadi maka akan kami


bicarakan secara pribadi dengan pengacara kami, untuk pemilihan menjadi penerus


presiden direktur perusahaan ini, kami kembalikan kepada kalian para wakil


direksi” Agra menutup dengan tegas , kemudian kembali duduk


Terlihat para peserta rapat saling berdiskusi, kemudian tampak


salah satu dari mereka mewakili


“permisi saya mewakili para wakil direksi, sebagian besar dari kami


memilih pak Agra yang menggantikan bu Ratih, karena menurut kami pak Agra lah


yang paling tepat mendudukinya, dan untuk pak Divta mungkin bisa di tempatkan


sebagai CEO”


Akhirnya semua menyetujuinya, terkecuali yang pasti adalah Divta


dan ibunya, tentu saja mereka datang kembali ke Indonesia bukan untuk itu,


mereka ingin mengambil semuanya


Rapat pun selesai, di dalam ruangan itu masih tersisa Agra , Divta,


Ratih, Rendi, Salman dan Aruni entah apa yang sedang mereka pikirkan


masing-masing


“nyonya Aruni bisa menunggu sebentar, kita bisa bertemu dengan


pengacara pak Wijaya” ucap Salma saat Aruni hendak beranjak meninggalkan


ruangan, Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali duduk


Dan benar saja tak berapa lama orang yang sedang mereka tunggu


datang juga


“selamat siang..., maaf saya terlambat ...” sapa orang yang mungkin


disebut pengacara jika di lihat dari pakaiannya yang rapi


“silahkan pak Ridwan ....” Salman pun segera mempersilahkan orang


itu untuk bergabung dimeja rapat yang masih sama


“silahkan duduk ...”


“terimakasih ...”


Setelah benar-benar duduk barulah orang yang di panggil Ridwan itu


mengeluarkan beberapa berkas.


BERSAMBUNG


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya

__ADS_1


dan lagi kasih vote juga ya


makasih ......


__ADS_2