
Hari ini Agra kembali lagi ke kantor setelah libur satu hari, hari ini begitu sibuk. Pagi-pagi Rendi sudah menyerahkan jadwal seharian ini.
"Mari pak kita berangkat, utusan dari perusahaan z sudah menunggu kita!"
"Baiklah ...., siapkan semuanya!"
"Baik pak, mari berangkat!" ucap Rendi. Ia membiarkan Agra berjalan lebih dulu di depan, ia sedikit di belakangnya.
"Usahakan kita bisa kembali ke kantor sebelum makan siang!"
"Baik pak!"
"Ara akan mengantarkan makan siang nanti, aku tidak mau dia menunggu!"
"Baik pak!"
"Kenapa kau ini kaku sekali sih, jawab yang bener, baik pak, baik pak, pantas saja Sagara dan Sanaya selalu mengeluh tentangmu!"
"Saya akan memperbaikinya!"
"Iya aku tahu ...., dan lagi mereka terlalu mengidolakan mu, katanya paman lendi itu ilonmen!" Agra menirukan gaya bicara putra putrinya.
Cehhhh. ...., dia cemburu juga anak-anaknya dekat dengan orang lain ....
"Aku tidak cemburu ya ...., aku cuma nggak suka mereka terlalu memujimu, ingat itu, aku cuma nggak suka ....!"
"Iya pak!" dalam hati sebenarnya ingin tertawa tapi takut dosa menertawakan sikap kekanak-kanakan bosnya.
Mereka sudah sampai di tempat tujuan, sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu kedatangan mereka. Setelah kedatangan Agra dan Rendi mereka bisa memulai presentasi nya.
Hingga pukul 12.00, mereka baru menyelesaikan meetingnya.
"Huahhhh ...., kenapa sih selalu melebar, seharusnya kita sudah kembali setengah jam yang lalu." keluh Agra.
"Maafkan saya pak, lain kali saya akan benar-benar mengaturnya."
"Ara pasti sudah menungguku sangat lama!"
Agra terus saja menggerutu sepanjang jalan, sedang Rendi hanya menjadi pendengar setianya saja. Walaupun mungkin telinganya bisa meledak kapan saja.
Sesampai di kantor, Agra tak sabar menuju ke ruangannya. Ia tidak suka membuat istrinya menunggu.
"Siang pak!" sapa setertarisnya.
"Apa istri saya sudah datang?"
"Sudah setelah jam yang lalu pak!"
"Istirahatlah makan siang!"
"Baik pak!"
Agra pun bergegas masuk, ia mendapati istrinya sedang asik dengan ponselnya. Ara sepertinya pura-pura tidak melihat kedatangan suaminya.
Agra segera mengendap-endap mendekati istrinya.
__ADS_1
Cup
Agra mendaratkan ciuman di pipi istrinya dengan sangat gemas.
"bby ....!" protes Ara, karena ulah suaminya itu hingga membuat tubuhnya terhuyung ke samping dan ponselnya terjatuh.
"Siapa suruh cuekin suami ...., heh?" tanya Agra gemas sambil mencubit pipi istrinya.
"Lama banget sih bby, untung nggak aku tinggal tadi ...., kasihan tahu kalau ninggalin Sagara dan Sanaya sendiri."
"Kamu ya ...., sudah sama suami masih juga mikirin mereka, apa rasa cinta itu sudah berkurang sekarang?" Agra memasang wajah cemberutnya.
"bby ...., mana mungkin seperti itu, cintaku itu terlalu besar untukmu ...., tapi cintaku juga sama besar untuk mereka!" ucap Ara dengan senyum jahilnya.
"Kau ini ya ...., tahu suaminya cemburu, malah memanas-manasi ....!"
"Sudah ...., makanlah ....!" Ara segera menyuapkan potongan sayur di mulut Agra, membuat Agra terpaksa diam seketika.
"Manisnya suamiku ....!"
"Jangan menggoda ....!"
"Sudah lanjutkan makannya!" Ara segera menyuapkan lagi makanannya sebelum suaminya itu melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
tapi tetap saja, di tengah-tengah makan, kejahilan Agra selalu menyelingi acara makan siang itu, Agra benar-benar senang bisa menjahili istrinya itu. Berdua saja seperti ini sekarang menjadi momen yang sangat langka, jika di rumah ia harus rela berbagi dengan baby twins, untung saja ibunya sekarang sudah mengurangi kegiatannya sehingga memudahkan Ara untuk meninggalkan baby twins.
kring kring kring
Tiba-tiba ponsel Agra berdering, membuat Agra mendengus kesal.
Ara hanya bisa menggeleng. "Angkat aja bby ...!"
Walaupun dengan malas, akhirnya Agra pun menjawab telponnya.
"Ada apa?"
"Maaf pak mengganggu, tapi nona Nadin masuk rumah sakit!"
"Kok bisa?!" Agra benar-benar terkejut.
"Nona Nadin terserang alergi!"
"Alergi, di bawa ke rumah sakit mana?"
"Rumah sakit dr. Frans!"
Agra segera menutup telponnya, Ara yang sedari tadi memperhatikan suaminya tak sabar ingin bertanya.
"Ada apa bby, siapa yang alergi?"
"Kita ke rumah sakit!" ucap Agra sambil menyambar jasnya yang menggantung di sandaran kursi.
"Iya ...., tapi siapa yang sakit!"
"Nadin!"
__ADS_1
"Hah ..., Nadin ...., bagaimana keadaannya?"
"Hussst .....!" ucap Agra sambil menutup bibir istrinya menggunakan jarinya, ia tidak mau membuat istrinya semakin cemas.
Agra segera menarik istrinya, menggandenga ya keluar dari ruangan, mobil sudah menunggunya di depan lobby.
"Kita ke rumah sakit!"
"Baik pak!"
Agra bisa melihat kecemasan di wajah istrinya itu, ia menggenggam erat jemari tangan istrinya, berusaha menyalurkan kekuatan pada istrinya, mengusap punggung istrinya agar istrinya tidak terlalu cemas.
Sesampai di rumah sakit, mereka segera mencari ke IGD. Ternyata mereka bersamaan dengan ayah Roy dan ibu dewi.
"Nak ....!"
"Ayah ...!"
ayah Roy segera memeluk putrinya itu.
"Kita masuk dulu yah!" ucap Agra, ayah Roy mengangguk, mereka pun segera masuk dan sudah menemukan Divta, Rendi dan Davina di sana.
"Apa yang terjadi dengan Nadin, dimana dia?" tanya ayah Roy begitu khawatir.
"Ayah tenang ya!" ucap Davina segera menghampiri ayah dan ibunya. "Alergi Nadin kambuh!"
"Kok bisa ...., bagaimana bisa kambuh?" tanya ayah Roy begitu marah.
"Tadi Nadin makan seafood!" ucap Davina.
"Seafood ...., kenapa bisa seceroboh ini sih ....!" ucap ayah Roy sambil mengusap rambutnya kasar.
"Ayah ....., ayah yang sabar ya, Nadin pasti bisa melawan alerginya!" ucap Ara sambil memeluk ayahnya. Membuat Davina mudur, ia sedikit kesal, karena terabaikan. Ayah Roy membalas pelukan putrinya.
Agra sudah mendekat pada Divta dan Rendi. Ia menatap dua pria itu bergantian.
"Kalian berdua?" tanya Agra.
"Tadi Rendi datang tepat waktu, ia menghentikan Nadin memakan seafood!" ucap Divta sedikit tidak rela, ia ingin sekali dia lah yang paling berguna untuk Nadin, tapi selalu kedahuluan Rendi.
Waaah ...., bagaimana ini ..., kayaknya keputusanku kemarin salah deh ....
Agra teringat pada lamaran Divta pada Nadin beberapa hari yang lalu, jika melihat Rendi sekacau ini, ia jadi ragu.
Mungkinkah memang Nadin dan Rendi memiliki hubungan ....
Kini Agra sedang di Landa bingung, bagaimana bisa ia mengabaikan perasaan abangnya. Walaupun ia tahu mungkin Rendi lebih baik.
BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘