
"Abi ...!"
Panggilan itu berhasil membuat anak laki-laki yang bernama Abimanyu itu menoleh padanya.
Seketika suasana menjadi hening,
"Ariel!"
Ariel pun berjalan mendekat dan berhenti satu meter di depan Abimanyu.
"Ada yang ingin aku tanyakan!" ucap Ariel.
Abi diam, ia ingin mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh Ariel. Abi memilih untuk tidak mengatakan apapun sebelum Ariel sendiri yang menanyakan.
"Aku siapa?"
Pertanyaan yang seharusnya Ariel tujukan pada dirinya sendiri tapi malah di tujukan pada Abimanyu.
Aku siapa?
Lalu bagaimana orang lain akan menjawabnya jika dirinya sendiri masih belum mengenali siapa dirinya.
"Aku dan kamu? gue sama lo? Kita saudara? Kenapa?" tanya Ariel secara bertubi-tubi.
"Aku tidak punya apapun untuk memberi alasan atau mengatakan tidak tahu karena nyatanya aku tahu!" ucap Abimanyu dengan wajah dinginnya.
"Bagaimana kita bisa terjebak di tempat yang sama? Aku kira tidak ada yang lebih buruk nasibnya di bandingkan dengan diriku! Tapi nyatanya aku lebih beruntung dari pada dirimu, aku masih punya papa yang sangat menyayangiku!"
"Dan nyonya Viona?" tanya Abimanyu yang penasaran bagaimana rasanya mempunyai kasih sayang seorang ibu seperti Viona.
"Jika dia bisa membuang putranya, bukankah akan lebih mudah membuang putrinya?"
"Jadi maksudnya kita sama soal ibu?"
"Iya, begitulah!"
Ariel memilih duduk di bangku kayu panjang yang ada di dekat mereka, Abimanyu pun menyusulnya dan duduk di sampingnya.
"Kamu tahu apa yang tidak aku sesali menjadi putra nyonya Viona?" ucap Abimanyu dengan mata yang menerawang jauh ke depan menatap beberapa anak yang lalu lalang di jalanan di belakang sekolah.
"Apa?"
"Menjadi kakak laki-laki dari adik perempuan sepertimu!"
"Lalu apa yang membuatmu paling menyesal mempunya ibu seperti mama Viona?"
"Dia penyebab utama hati adik perempuanku terluka!"
"Maksudnya?" tanya Ariel yang tidak mengerti.
"Jauhi Sagara sebelum cinta yang kamu pupuk semakin dalam!"
Mendengar ucapan Abimanyu membuat Ariel begitu terkejut. Dulu seingatnya dia yang sangat mendukung hubungan mereka, lalu sekarang saat nyonya Ratih memintanya untuk menjauhi Sagara, Abimanyu juga melakukan hal yang sama,
"Maksudnya?"
"Jangan biarkan hubungan kalian di manfaatkan oleh orang lain untuk menghancurkan Gara, beri Gara waktu hingga ia punya kekuatan sendiri yang tidak akan mudah tumbang saat di terpa angin kencang!"
Kenapa kata-kata Abimanyu hampir sama dengan omanya Gara ...., apa oma nya Gara mengatakan sesuatu padanya? Atau Abimanyu mengetahui sesuatu?
Ariel sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia bingung harus menyimpulkan dari mana dulu.
"Apa sudah ada seseorang yang mengatakan sesuatu padamu?" tanya Abimanyu yang penasaran melihat alir wajah Ariel yang terlihat tidak bingung.
__ADS_1
"Kenapa hubungan kami bisa menjadi masalah besar bagi Gara, Bi?"
"Bukan hubungannya yang salah, tapi waktunya yang salah! Biarkan Gara menempuh pendidikan nya nanti dan setelah dia kembali jika kalian memnag berjodoh makan kalian akan di pertemukan kembali!"
"Aku tahu!"
Ariel berdiri dari duduknya dan menatap Abi yang masih duduk, "Aku duluan, papa ku baru pulang dari rumah sakit! Terimakasih atas waktunya, KAKAK!"
Ariel berjalan perlahan meninggalkan Abimanyu yang masih duduk diam menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh.
"Aku tahu kamu pasti kuat, kamu mungkin lebih kaut dari pada diriku!" ucap Abimanyu lirih.
Hatinya sudah cukup hancur dengan merelakan Sanaya untuk Aditya dan sekarang ia juga harus melihat perasaan yang hancur dari sahabat dan adiknya.
...🍀🍀🍀...
Hari terus berlalu, ujian berjalan setiap hari selama satu minggu. Hari-hari yang seperti ini rasanya ingin sekali berjalan melambat. Tanpa terasa satu minggu berlalu dan ujian pun berakhir.
Banyak sekali hal yang ingin di ulang dan sejenak waktu berhenti dan kembali ke tempat di mana tidak akan ada air mata.
Akan ada libur dua minggu untuk menunggu pengumuman kelulusan. Sedangkan Sanaya ini seperti libur biasanya. Libur dengan tanpa ada yang ingin dia lakukan.
Dorrrrr
Sanaya mengagetkan kakak kembar nya yang sedang duduk termenung di teras lantai dua.
"Bisa tidak kalau datang nggak usah mengagetkan!?"
"Bisa!"
Sanaya ikut duduk di samping Sagara. Ia mengamati wajah Sagara yang begitu suntuk.
"Kenapa sih?"
"Sebentar lagi aku berangkat ke luar negri untuk belajar, ini tidak sebentar. Butuh waktu empat sampai lima tahun untuk di sana, apa kau tidak akan merindukaku?"
"Hemmmm, aku tahu!"
"Bukan aku kak yang kamu pikirkan? Ariel?"
Sagara menoleh pada saudara kembarnya itu dan menganggukkan kepalanya,
"Aku tidak tahu jadinya aku nanti di sana tanpa dia!"
"Kenapa tidak di ajak saja ke sana?"
"Ariel menolaknya, ada papa Jerry yang harus dia jaga!"
"Ya udah lah, iklas saja! Aku aja ikhlas!"
"Jagain dia buat aku ya!"
"Memang aku baby sitter apa!? Lagian aku jaga diri sendiri aja nggak bisa, gimana mau jagain orang!"
"Ayolah, demi aku! aku hanya punya waktu dua minggu untuk ketemu sama Ariel!"
"Ya ya deh ...., terserah kamu!"
Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka yang sedang duduk di balkon kamar mereka.
"Permisi tuan muda, nona Muda!" ucap pelayan itu.
"Ada apa bi??" tanya Gara.
__ADS_1
"Nyonya besar meminta anda menemui tamu anda!"
"Tamu?"
"Iya tuan, sepertinya teman sekolah tuan dan nona muda!"
Sagara dan Sanaya saling berpandangan. Mereka sepertinya memikirkan hal yang sama.
Mereka pun dengan cepat berdiri dan berjalan cepat menuju ke ruang tamu, tapi sepertinya perkiraan mereka salah.
Seorang gadis cantik sedang berdiri di ruang tamu dengan tas kecil yang menggantung di bahunya. Celana jeans panjang dan kaos berwarna pink begitu pas di tubuhnya,
"Ariel!"
Gadis itu menoleh ke arah Gara dan Nay lalu tersenyum,
"Hai!"
Tangannya melambai begitu cantik, Sanaya segera berlari dan memeluk tubuh sahabat barunya itu,
"Ariel, aku senang kamu ke sini!"
"Aku juga senang bisa ke sini!"
Gara masih terdiam di tempatnya, melihat dua wanita yang di cintai itu begitu akrab. Setidaknya nanti saat ia pergi, ia bisa tenang karena ada Sanaya yang akan bersama Ariel.
"Hai Gara ...!" sapa Ariel sambil melambaikan tangannya.
Gara mendekat lalu bergantian memeluknya, tapi kali ini Ariel tidak berani membalasnya.
"Duduklah!"
Mereka berdua pun akhirnya duduk di sofa ruang tamu,
"Ada apa? Kenapa tidak menghubungiku dulu?" tanya Gara.
"Maafkan aku!"
"Oma yang menyuruhnya ke sini!" ucapan seseorang berhasil membuat mereka kembali berdiri,
"Oma?" Gara dan Sanaya tampak terkejut, mereka berpikir sejak kapan omanya kenal dengan Ariel.
"Duduklah, oma akan bicara!"
Mereka pun kembali duduk, sekarang di tambah dengan oma Ratih,
"Karena kalian sedang libur, jadi oma merencanakan liburan kalian ke fila, nanti Abimanyu juga akan ikut!"
"Yeeee .....!" Sanaya begitu senang dengan pengumuman yang omanya berikan,
"Tapi ....!"
"Ada tapinya oma?" Sanaya yang sudah hendak memeluk omanya, ia urungkan.
"Aditya juga akan ikut!"
"Yahhh, kok gitu sih oma!?" protes Sanaya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰