My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 92


__ADS_3

Satu minggu setelah perdebatannya dengan ara, Pagi ini Agra sengaja


tak berangkat kerja, karena hari ini tepat satu tahun pernikahan mereka


Ara seperti biasa akhir-akhir ini setiap pagi selalu merasakan


badannya begitu lemas, ia masih males-malesan di dalam kamar


Agra membuka pintunya dan meregangkan badannya menghirup udara pagi,


tapi langkahnya terhenti saat melihat mobil Rendi sudah terparkir di depan


rumahnya


 “selamat pagi Gra ...” sapa


rendi yang tiba-tiba berdiri di depan rumahnya


“lo ngapain di sini pagi-pagi, di suruh nyokap?” agra yang awalnya kaget


kini terlihat emosi


“aku kesini karena ingin menemuimu  ...” ucap Rendi santai tetap dengan wajah


dinginnya


“benarkah ....? tak bisa di percaya ...” Agra tersenyum meremehkan


“apa kau tak mau mempersilahkan aku duduk, aku cukup capek jika harus


terus berdiri”


“kalau mau duduk, ya duduk saja ...” rendi pun tak menunggu lama ,


ia pun lansung duduk di kursi teras rumahnya


“nggak kerja?” tanya Rendi berbasa-basi


“aku libur ...”


“kenapa, biasanya nggak pernah ambil cuti?” Rendi menyelidik


“terserah gue, sepertinya kamu tahu sekali kehidupanku, atau


jangan- jangan kau masih suka membuntutiku ya? Dasar ..., pasti ini akan


terulang lagi ...”


“aku suka , jika kamu menyadarinya ...”


“pasti kamu juga yang sudah ngasih tahu ara tentang semua yang


terjadi”


“itu bukan salahku ....”


“pintar sekali kau buat alasan ...”


Walau awalnya penuh perdebatan tapi tetap saja pertemuan mereka


menjadi begitu hangat , layaknya dua sahabat yang sudah lama tak bertemu


Walaupun ada rasa kaku, tapi tetap saja tak bisa di punkiri dua


sahabat ini akan tetap saling mendukung


***


“ kayak ada tamu  ...?” Ara


yang awalnya tiduran , mendengar seperti ada yang sedang berbicara dengan


suaminya di teras rumah,


Ia melihat kompor masih menyala tapi tak mendapati suaminya di


dapur , ara segera mematikan kompor dan menghampiri suaminya, tapi ia hanya


mendapati suaminya sedang duduk seorang diri di teras rumah


“bby siapa tamunya? Kok nggak ada?” Ara celingukan kesana kemqari


tapi tak menemukan siapapun


“udah aku usir tamunya ...” jawab Agra enteng seakan tanpa beban


“jahat banget ..., emang siapa tamunya?” tanya ara penasaran


“rendi ....” jawab agra santai

__ADS_1


“yah ...., kenapa rendinya di usir sih ..., kamu jahat banget ...,


dia pasti kecewa deh sama kamu ...”


“aku becanda ..., dia lagi ada urusan lain makanya buru- buru


pergi” agra berusaha menjelaskan supaya ara tidak marah padanya


Flasback on


Setelah percakapan basa-basi mereka yang panjang lebar, pembicaraan


dua orang sahabat, akhirnya pembicaraan itu berubah serius


 “pasti kamu juga yang sudah


ngasih tahu ara tentang semua yang terjadi”


“itu bukan salahku ....”


“pintar sekali kau buat alasan ...”


“mau bagaimana memang ara yang maksa aku buat cerita, aku rasa dia


lebih pintar dari yang kamu tahu”


“aku tahu, memang istriku pintar, to the poin aja, sebenarnya apa


yang buat lo kesini sepagi ini?”


“bang divta sudah kembali” mendengar ucapan Rendi, Agra sedikit


tercengang, pikirannya kembali lagi ke beberapa tahun yang nlalu bsaat kakaknya


meninggalkannya,


Mereka terpisah karena dengan paksa ibunya mengajak Divta pergi ke


luar negri, semenjak itu mereka tak pernah bertemu lagi, bahkan untuk saling


berkirim kabar


“peduli apa aku, dia sudah memutuskan hubungannya denganku, sudah


sangat lama ....”


“ini tak seperti yang kau pikir, semua tak sesederhana itu, dia


“tidak mungkin ...., aku kenal Bang Divta ...”


“kita kenal bang Divta lima belas tahun lalu, kita tidak tahu bang


Divta lima belas tahun terakhir ini”


“kenapa kau begitu yakin?” tanya Agra


“aku tahu karena aku punya buktinya ..., di sudah terpengaruh


dengan nyonya Aruni ...”


“maksudmu?” Agra gagal mencerna ucapan Rendi


“nyonya Aruni sudah mempengaruhi bang Divta untuk membencimu dan


ibu”


“kau tahu dari mana?”


“sebelumnya nyonya Aruni sudah datang ke Indonesia saat kita


belajar di Itali, ia meminta hak waris di limpahkan padanya dan putranya, bang


Divta”


“aku tak memikirkan semua itu, jika mereka ingin mengambilnya


kenapa tidak ibu serahkan saja ...”


“itulah yang ibu takutkan ..., aku berharap kamu tidak mengambil


keputusan gegabah, setelah membaca ini ...” Rendi menyerahkan sebuah map hijau


“ini apa?” tanya Agra sambil memandangi map yang ada di atas meja


kecil di antara mereka


“nyonya mengharapkan kau cepat kembali ...”


“pergilah ..., dia lebih membutuhkanmu ...”

__ADS_1


“kau tetap jadi yang nomor satu”


Mereka terdiam beberapa saat di tengah pikiran mereka masing-masing


“baiklah saya permisi ..., jaga dirimu ....” rendi pun akhirnya


pergi dengan kekecewaan karea Agra belum bisa membuka hatinya untuk ibunya


Flaskback of


“itu apa bby ..?” Ara menatap map yang masih berada di atas meja


plastik itu


“bukan apa-apa, biar aku simpan dulu” Agra pun segera mengambil map


itu dan di bawanya masuk ke dalam kamar di ikuti Ara di belakangnay, agra


menyimpan map itu ke dalam laci lemari


“sayang ...” Agra membalikkan badan menatap Ara yang sudah berdiri


di belakangnya


“iya ....” Ara mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya


Agra pun segera menakup kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya


dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ara


“kamu sudah baikan? Habis ini kita ke rumah sakit ya” Agra


berbicara begitu lembut hingga hembusan nafasnya terasa menyentuh wajah Ara,


Ara yang di perlakukan begitu lembut tak mampu lagi membendung rasa bahagianya


Ara memejamkan kedua matanya, melihat Ara memejamkan mata, Agra pun


tersenyum dan tak menyianyiakan hal itu, ia segera mendekatkan bibirnya dan


menempelkannya di bibir istrinya


Merasakan benda kenyal dan dingin itu menempel sempurna di


bibirnya, Ara pun membuka matanya, hingga mata mereka bertemu, walaupun sudah


ratusan kali mereka merasakan hal itu, tapi sensasi itu tetap sama seperti


pertama kali mereka berciuman, jantung mereka seperti tak bisa di kontrol


Setelah menjauhkan bibirnya dari bibir istrinya, Agra pun segera


mengusap bibir merona istrinya dengan ibu jarinya


“I love you, my wife....” ucapan sederhana yang selalu ia ucapkan


setiap hari selalu membuat hati Ara berbunga-bunga


“love you too ...”


“kita ke dokter ya.”


“nggak mau ah ..., ngapain bby ke dokter?”


“kita periksa keadaan kamu”


“aku nggak pa pa bby..., Cuma kecapekan doang ...” karena di hari


istimewa ini agra tak mau berdebat dengan istrinya, akhirnya ia memilih untuk


mengalah, masih ada hari lain untuk pergi ke dokter pikirnya


“ya udah kalau sudah baikan,  cepatlah siap-siap sayang ...., aku pengen


mengajakmu ke suatu tempat” ia menyuruh ara untuk bersiap-siap karena agra


ingin memberi kejutan pada ara di hari universary pernikahannya yang pertama,


makanya ia sengaja cuti kerja


“kemana?”


“nanti kalau aku kasih tahu bukan surprize, sayang ...”


“baiklah ..., aku siap-siap dulu ya ...”


BERSAMBUNG


jangan lupa kasih upah dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya

__ADS_1


kasih vote juga ya


__ADS_2