
Malam ini Agra pulang lebih cepat,
ia menikmati secangkir kopi sambil menemani Ara yang sedang sibuk di depan
laptop suaminya
Ia sebenarnya sedikit kesal karena istrinya malah lebih perhatian
pada layar lipatnya daripada menatap wajahnya, ia memasang wajah semanis
mungkin tapi tepat saja tak di pandang oleh istrinya
Ehmmm
Agra berdehem untuk mengalihkan perhatian istrinya
‘apa sih ..., aku sibuk” Ara sedikit kesal karena Agra selalu
mengganggu konsentrasinya
“sebenarnya apa sih yang kau lakukan dengan benda itu?, menyebalkan
sekali ....” tanya Agra penasaran sambil menyesap copinya,
“itu punyaku ...” Agra menunjuk pada layar lipat yang sedang di
pegang istrinya
ia duduk di sofa sedangkan Ara lebih suka duduk di bawah dengan
mata yang fokus pada layar lipatnya di atas meja
“aku lupa membawa laptopku, jadi aku pinjam punya mu, kau pelit
sekali ....” gerutu Ara
“kau harus membayarnya nanti ...” Agra masih tak mau kalah
“kau ini suami apaan, perhitungan sekali sama istri....” Ara
menjebirkan bibirnya kesal, membuat Agra sedikit menahan senyumnya
“apa yang kau kerjakan? Matamu ntar bisa tambah jadi enam kalau
kelamaan di depan benda itu” Agra mengejek Ara, walau sebenarnya penasaran
dengan apa yang di lakuin istrinya
“kau jangan mengejekku terus ..., aku harus membuat daftar kue yang
sudah bisa aku buat, karena aku terlalu lama berdiam diri, aku takut aku jadi
lupa cara membuatnya, makanya aku harus mengetik ulang” jelas Ara
“buat apa?”
“nanti..., mungkin resep dari ibuku ini bisa aku manfaatkan...” ia
sudah mempersiapkan diri jika nanti harus berpisah dengan suaminya, ia harus
memiliki keahlian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
Ia tak mungkin kembali bekerja di kantor Agra, jika setiap hari
bertemu dengannya akan membuatnya sulit untuk melupakannya
Ia juga tidak mungkin meminta Agra untuk tetap di sampingnya jika
nanti ibunya meminta Ara meninggalkan Agra
Ia juga tak bermaksud
menceritakan kedatangan Viona, ia lebih suka memendam semuanya sendiri, ia tak
mau membuat suaminya memikirkannya, ia tahu pekerjaan suaminya di kantor sangat
banyak, setelah ia mengundurkan diri, bahkan Agra tak ada keinginan untuk
mencari gantinya
“kau belum pernah membuatkan aku kue...” agra mencoba untuk protes
“mana bisa ...., kau lihat sendiri di sini bahkan aku tak di
ijinkan untuk memegan panci ....”
“kau menggemaskan sekali jika sedang cemberut seperti itu” goda
Agra
Pipi Ara menjadi memerah karena malu, walau pun akhir-akhir ini
Agra sering memujinya tapi tetap saja berhasil membuat Ara tersipu
Kemudian pikiran Ara kembali pada peristiwa ibu mertuanya
menceritakan masa lalu Agra,rasa penasarannya kembali mencuat, mungkin hal
terakhir yang bisa Ara perbuat adalah dengan menyatukan kembali Agra denagan
ibunya, ia harus mencari tahu akar permasalahan yang membuat hubungan ibui dan
__ADS_1
anak itu renggang
Ia pun segera menutup laptopnya, dan naik ke atas
sofa duduk berdampingan dengan suaminya
“mungkin ini saatnya aku bertanya” batin Ara
Entah apa yang membuat hubungan ibu dan anak itu di masa lalu,
kekakuan yang di rasakan Ara semakin kerasa semakin kesini, sebenarnya Ara
begitu penasaran,
tapi rasa penasarannya masih kalah dengan rasa takutnya untuk
bertanya, ia masih merasa belum sepenuhnya masuk dalam keluarga itu
“ah nanti saja ....” batin ara lagira tetap diam di samping Agra,
ia menatap suaminya sebentar dan kemudian diam lagi
“ada apa?” tanya Agra penasaran saat melihat Ara terus diam
“aku lapar..., apakah sekarang sudah waktunya makan malam?”
“astaga aku sampai lupa ..., iya ini sudah jam delapan malam, ibu
pasti sudah menunggu” Agra segera bangkit dan meraih tangan Ara
“ayo ....”
“kemana?”
“kita makan...., malam ini kau pasti akan sangat kelelahan” Agra
dengan senyum menggoda, membuat Ara kembali bergidik dengan pipi yang sudah
merona
Di ruang makan, benar saja Ratih sudah menunggu mereka
“maafkan kami ibu, membuat ibu menunggu” Ara merasa tidak enak
“duduklah ...” Ratih menyuruh mereka untuk duduk,
Dan seperti biasa Agra melakukan hal kecil yang manis untuk Ara, ia
menggeserkan kursi untuk Ara sebelum duduk
Mereka makan dengan sangat hikmat, tak ada percakapan selama makan,
Bi Anna tetap setia berdiri tak jauh dari meja makan, memastikan
majikannya tidak kekurangan apapun saat makan
Ternyata yang di khawatirkan Ara juga tidak terjadi, ibu mertuanya
juga tak ada niatan menceritakan kejadian tadi siang pada Agra, membuat Ara
sedikit lega
***
Setelah makan malam selesai, mereka pun kembali masuk ke dalam
kamar tak ada keinginan untuk berhenti di ruang keluarga dan berbincang hangat
terlebih dahulu sebelum larut dalam keheningan malam, membuat ruangan besar itu
tak begitu berfungsi, kehangatan keluarga tak di temukan di sana,
“sayang ..., kau tunggu sebentar ya, aku menyelesaikan pekerjaanku
yang tertundak karena harus pulang awal” Ara hanya mengangguk
Cup
Lagi-lagi agra benar-benar memperlakukan Ara dengan sangat manis,
membuat wanita itu merasa sangat bahagia
“tunggu aku ....” Agra segera keluar dari kamarnya dan menuju ke
ruang karja yang letaknya di samping kamarnya
Ara segera naik ke atas tempat tidur, ia mengambil buku yang ada di
sampingnya, berisi resep masakan, ia memang suka memasak tapi hobinya harus
terhenti karena di rumah ini ia tak bisa melakukan sesuatu selain hanya memberi
perintah
Ia sangat merindukan keluarganya, ayah dan Adik nya, ia pun
meletakkan bukunya di sembarang tempat dan mencari-cari benda pipih yang dapat
menghubungkan dengan Adiknya
Akhirnya benda itu ia temukan di balik selimut tebal, entah sejak
__ADS_1
kapan benda itu di situ, ia pun mengetikkan beberapa pesan
*Ara*
“dek ...., udah tidur belum? Kakak kangen nih ...”
Setelah selesai mengirimkan pesan, ia menatap layar ponselnya,
berharap segera mendapat jawaban
Dan benar saja, notifikasi pesan masuk berada di layar depan ponsel
Ara
*Nadin*
“aku juga kangen sama kakak, kakak belum tidur? Aku juga belum bisa
tidur ...”
*Ara*
“bagaimana kabar ayah dek?”
*Nadin*
“ayah sakit kak ...”
Mendapat pesan seperti itu, membuat Ara begitu cemas, ia segera
melakukan panggilan pada Adiknya
“hallo dek ...”
“hallo kak ....”
“bagaimana keadaan ayah dek ?”
“ayah nggak pa pa kak ..., Cuma kecapekan, kakak nggak usah
khawatir”
“gimana kakak nggak khawatir, ayah sakit ..., kakak akan ke sana sekarang...”
“jangan kak ....., nanti kakak kena masalah, bagaimana jika besok
saja ..., plisss kak ..., jangan memaksa”
“baiklah ..., kakak besok ke rumah ...”
Sambungan telpon pun tertutup, walaupun sudah mendapat kepastian
dari adiknya, tapi tetap saja tak menghilangkan kecemasan di hati Ara
Ia tidak mungkin bercerita pada Agra tentang keadaan ayahnya, ia
bingung harus memastikan bagaimana, kemudian ia memikirkan seseorang yang bisa
ia mintai bantuan
Ia memhubungi seseorang itu, dan seseorang itu adalah Rendi
BERSAMBUNG
nah tuh kan tuh kan ..., Ara ngapain ngubungi bang Rendi ......, bang Agra nya ngambek tuh .......
sabar ya ..., aku juga kaget lo pas covernya ganti, aku kira babang Agra nya beneran ngambek nggak mau ketemu lagi ma author .....
authornya padahal ngarep bangeeet bisa di move on in sama babang ganteng .....
jangan lupa kasih author upah ya dengan memberikan like dan komentarnya, trus kasih vote juga
sambil nunggu up nya MY BOS IS MY HERO
bisa mampir juga nih ke novel Tri Ani lainnya
JODOH 1
JODOH 2
baru up loooooooh .......
__ADS_1