My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Part 2 (28)


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, seakan


roda terus berputar tanpa mau berhenti, kenangan demi kenangan saling


berloncatan seperti malam yang berganti siang, ada sedih ada senang, bahagia,


menangis dan tertawa. Tak ada yang benar-benar indah menjadi terus indah, tak ada yang benar-benar sedih dan terpuruk dalam kesedihan.


Seperti ulat yang harus berpuasa


dan menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu, begitupun manusia. Untuk


menjadi manusia yang lebih baik seorang manusia harus melalui beberapa fase,


masalah sebenarnya itu itu saja, hampir sama masalah yang di hadapi setiap


orang, tapi bagaimana manusia itu menghadapi masalah itu dan keluar sebagai


dirinya sendiri.


Empat tahun sudah kini usia


sagara dan sanaya, banyak sekali kemajuan yang di miliki kedua anak itu dengan


kelebihannya masing-masing. Mereka memang terlahir bersama di waktu yang sama


dan di Rahim yang sama, tapi sifat dan karakter mereka berbeda, walaupun belum


terlihat jelas tapi setidaknya sifat-sifat mereka sudah bisa di terjemahkan.


Pagi itu, meski tak terlalu pagi,


tapi cukup pagi bagi wanita yang tidak memiliki rutinitas yang terlalu jelas


seperti Ara, matahari hampir sepenggal kepala, belum terlalu panas,


tapi sudah terlambat berjemur. Empat tahun sudah terkungkung di istana itu,


kini babak baru bagi kehidupan Ara. Ara harus mulai mencari sekolah untuk


anak-anaknya.


Perdebatan perdebatan sengit


terjadi kala harus menentukan di mana anak-anak itu akan sekolah. Keras kepala


mertuanya membuat Ara harus sedikit mengalah, ia harus mulai mencari cara lain


untuk meluluhkan hati mertuanya.


Nyonya besar rumah itu bersikeras


akan memasukkan cucu-cucunya di home schooling, seperti masa kecil agra dan


Rendi, mereka memiliki pelajaran yang tentunya tidak sama dengan pelajaran


anak-anak pada umumnya, terutama untuk Sagara. Nyonya Ratih akan membentuk


sagara sebagai penerus kerajaan bisnis keluarganya yang kelak akan menggantikan


papinya.

__ADS_1


“Mbak Ara kenapa, ada masalah?”


Tanya wanita dengan kue di tangannya. Ara menelungkup kan kepalanya di meja


kafe, rasanya kepalanya hari ini begitu berat, perkataan ibu mertuanya terus


terngiang pagi tadi.


Pagi tadi saat sarapan di meja


makan yang sangat besar itu, dengan formasi lengkap, nyonya Ratih yang berada


di tengah.


“Bby, satu bulan lagi pendaftaran


sekolah, apa tidak sebaiknya aku carikan sekolah untuk Sagara dan Sanaya?”


Tanya Ara pada obrolan santai itu.


“Itu ide yang bagus!” jawab Agra


sambil sibuk mengunyah makanannya. Tiba-tiba suara sendok dan garpu yang


berbenturan di piring menghentikan obrolan mereka, mata mereka langsung tertuju


pada satu titik, nyonya Ratih.


“Ibu tidak setuju!”


“Maksud ibu?” Tanya Agra yang


“Tidak ada pelajaran umum, ibu


sudah menyiapkan guru khusus untuk Sagara. Ia harus memulai pelajarannya dari


kecil!”


“Tapi sagara masih terlalu kecil


untuk itu bu, dia masih perlu bermain dengan teman-temannya!” bantah Agra


dengan nada hormatnya.


“Itu keputusan ibu, jika untuk sanaya


terserah kalian, tapi Sagara, dia punya tanggung jawab besar kelak!”


Pembicaraan di pagi hari yang


begitu berat untuk orang awam seperti Ara, bahkan ia tidak bisa menentukan


keputusan yang terbaik untuk putranya sendiri, segalanya ada aturan yang tidak


bisa di langgar.


Mungkin keberuntungan bagi Agra karena dulu di titipkan di


panti asuhan membuatnya mengerti tentang dunia luar, lalu bagaimana dengan


nasib putranya sekarang yang harus tunduk dengan aturan tidaqk tertulis itu.

__ADS_1


“Mbak Ara tidur ya? Kalau tidur


di dalam aja mbak!” ucap wanita itu lagi karena Ara tak juga bergerak dari


posisinya.


“Aku pusing mbak Rini!” ucap Ara


merancai, ia pun mendongakkan kepalanya, menatap wanita yang usianya tidak jauh


beda dengan dirinya itu.


“Mbak Ara sakit?”


Ara menggelengkan kepalanya. “Aku


butuh teman curhat mbak, duduklah …!” Ara menarik tangan mbak Rini dan


memintanya untuk duduk di sampingnya, lalu Ara menceritakan tentang obrolan


paginya dengan ibu mertuanya.


“Memang ada ya mbak aturan


seperti itu?” Tanya mbak Rini tak percaya. Ara pun hanya mengangguk.


“memang orang kaya itu ada-ada


saja, bikin pusing saja!”


“Lalu pendapat mbak Rini


bagaimana?” Tanya Ara, ia benar-benar butuh masukan sekarang, persoalan ini


begitu berat baginya, bahkan jika harus membagi dua anaknya dalam dua tempat


rasanya mustahil.


“Pendapat yang mana mbak?”


“Sanaya boleh sekola di tempat


umum tapi Sagarea tidak, lalu apa itu adil jika aku menyekolahkan mereka di


tempat yang berbeda?”


“Mungkin itu memang jalan


satu-satunya, mau bagimana lagi mbak Ara. Di syukuri saja, ibunya mas Agra


pasti ingin yang terbaik buat cucu cucunya.”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2