
Hari berlalu begitu cepat, seakan
roda terus berputar tanpa mau berhenti, kenangan demi kenangan saling
berloncatan seperti malam yang berganti siang, ada sedih ada senang, bahagia,
menangis dan tertawa. Tak ada yang benar-benar indah menjadi terus indah, tak ada yang benar-benar sedih dan terpuruk dalam kesedihan.
Seperti ulat yang harus berpuasa
dan menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu, begitupun manusia. Untuk
menjadi manusia yang lebih baik seorang manusia harus melalui beberapa fase,
masalah sebenarnya itu itu saja, hampir sama masalah yang di hadapi setiap
orang, tapi bagaimana manusia itu menghadapi masalah itu dan keluar sebagai
dirinya sendiri.
Empat tahun sudah kini usia
sagara dan sanaya, banyak sekali kemajuan yang di miliki kedua anak itu dengan
kelebihannya masing-masing. Mereka memang terlahir bersama di waktu yang sama
dan di Rahim yang sama, tapi sifat dan karakter mereka berbeda, walaupun belum
terlihat jelas tapi setidaknya sifat-sifat mereka sudah bisa di terjemahkan.
Pagi itu, meski tak terlalu pagi,
tapi cukup pagi bagi wanita yang tidak memiliki rutinitas yang terlalu jelas
seperti Ara, matahari hampir sepenggal kepala, belum terlalu panas,
tapi sudah terlambat berjemur. Empat tahun sudah terkungkung di istana itu,
kini babak baru bagi kehidupan Ara. Ara harus mulai mencari sekolah untuk
anak-anaknya.
Perdebatan perdebatan sengit
terjadi kala harus menentukan di mana anak-anak itu akan sekolah. Keras kepala
mertuanya membuat Ara harus sedikit mengalah, ia harus mulai mencari cara lain
untuk meluluhkan hati mertuanya.
Nyonya besar rumah itu bersikeras
akan memasukkan cucu-cucunya di home schooling, seperti masa kecil agra dan
Rendi, mereka memiliki pelajaran yang tentunya tidak sama dengan pelajaran
anak-anak pada umumnya, terutama untuk Sagara. Nyonya Ratih akan membentuk
sagara sebagai penerus kerajaan bisnis keluarganya yang kelak akan menggantikan
papinya.
__ADS_1
“Mbak Ara kenapa, ada masalah?”
Tanya wanita dengan kue di tangannya. Ara menelungkup kan kepalanya di meja
kafe, rasanya kepalanya hari ini begitu berat, perkataan ibu mertuanya terus
terngiang pagi tadi.
Pagi tadi saat sarapan di meja
makan yang sangat besar itu, dengan formasi lengkap, nyonya Ratih yang berada
di tengah.
“Bby, satu bulan lagi pendaftaran
sekolah, apa tidak sebaiknya aku carikan sekolah untuk Sagara dan Sanaya?”
Tanya Ara pada obrolan santai itu.
“Itu ide yang bagus!” jawab Agra
sambil sibuk mengunyah makanannya. Tiba-tiba suara sendok dan garpu yang
berbenturan di piring menghentikan obrolan mereka, mata mereka langsung tertuju
pada satu titik, nyonya Ratih.
“Ibu tidak setuju!”
“Maksud ibu?” Tanya Agra yang
“Tidak ada pelajaran umum, ibu
sudah menyiapkan guru khusus untuk Sagara. Ia harus memulai pelajarannya dari
kecil!”
“Tapi sagara masih terlalu kecil
untuk itu bu, dia masih perlu bermain dengan teman-temannya!” bantah Agra
dengan nada hormatnya.
“Itu keputusan ibu, jika untuk sanaya
terserah kalian, tapi Sagara, dia punya tanggung jawab besar kelak!”
Pembicaraan di pagi hari yang
begitu berat untuk orang awam seperti Ara, bahkan ia tidak bisa menentukan
keputusan yang terbaik untuk putranya sendiri, segalanya ada aturan yang tidak
bisa di langgar.
Mungkin keberuntungan bagi Agra karena dulu di titipkan di
panti asuhan membuatnya mengerti tentang dunia luar, lalu bagaimana dengan
nasib putranya sekarang yang harus tunduk dengan aturan tidaqk tertulis itu.
__ADS_1
“Mbak Ara tidur ya? Kalau tidur
di dalam aja mbak!” ucap wanita itu lagi karena Ara tak juga bergerak dari
posisinya.
“Aku pusing mbak Rini!” ucap Ara
merancai, ia pun mendongakkan kepalanya, menatap wanita yang usianya tidak jauh
beda dengan dirinya itu.
“Mbak Ara sakit?”
Ara menggelengkan kepalanya. “Aku
butuh teman curhat mbak, duduklah …!” Ara menarik tangan mbak Rini dan
memintanya untuk duduk di sampingnya, lalu Ara menceritakan tentang obrolan
paginya dengan ibu mertuanya.
“Memang ada ya mbak aturan
seperti itu?” Tanya mbak Rini tak percaya. Ara pun hanya mengangguk.
“memang orang kaya itu ada-ada
saja, bikin pusing saja!”
“Lalu pendapat mbak Rini
bagaimana?” Tanya Ara, ia benar-benar butuh masukan sekarang, persoalan ini
begitu berat baginya, bahkan jika harus membagi dua anaknya dalam dua tempat
rasanya mustahil.
“Pendapat yang mana mbak?”
“Sanaya boleh sekola di tempat
umum tapi Sagarea tidak, lalu apa itu adil jika aku menyekolahkan mereka di
tempat yang berbeda?”
“Mungkin itu memang jalan
satu-satunya, mau bagimana lagi mbak Ara. Di syukuri saja, ibunya mas Agra
pasti ingin yang terbaik buat cucu cucunya.”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘
__ADS_1