My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Part 2 (45)


__ADS_3

Rasa penasaran yang tinggi pada suatu hal kadang kala akan menjerumuskan kita pada


pemikiran yang salah, jadi tetaplah berpikir positif dan melihat sesuatu dari


sudut pandang yang berbeda.


~~


Ara merapikan penampilannya. Memastikan jika tidak ada tepung atau adonan yang menempel di tubuh dan wajahnya, mengibaskan dress


selutut nya dan segera keluar dari dapur. Langkahnya melambat saat ekor matanya


mulai menangkap punggung seseorang. Wanita itu duduk membelakanginya, tapi


punggung itu dulu begitu ia ingat.


“Nona Viona!” pekik Ara. Wanita itu pun segera


menoleh ke arah Ara saat mendengar namanya di sebut. Ia segera berdiri melihat


Ara datang.


“Ara!”


sapanya sambil tersenyum, wanita itu masih


sama cantik dan anggun. Wajah dan tubuhnya tampak sekali terawatt. Dia masih


seorang model jika di lihat dari penampilannya yang tidak asal-asalan.


“nona Viona di sini?”


“Duduklah …!” perintah Viona.


Ara pun segera duduk di hadapan Viona, di kursi kecil itu. Meraka saling berhadapan.


“Lama tidak bertemu ya! Bagaimana kabarmu?” Tanya Viona dengan gaya anggunnya yang masih sama.


“Saya baik!”


“bagaimana kabar Agra?”


Deg


Jantung Ara langsung berhentik berdetak untuk


beberapa detik, kenapa wanita ini menanyakan suaminya setelah apa yang ia lihat


beberapa bulan lalu.


“Jangan seperti itu, aku hanya menanyakannnya saja


nggak ada maksud lain!” Viona meralat ucapannya, sepertinya ia sadar dengan


perubahan ekspresi Ara.


“Dia baik, sangat baik! Bagaimana kabar nona Viona?”


“Aku juga baik ….!”


Mereka kembali terdiam, menikmati suasana. Mencoba mencari topik lain yang harus di biacrakan.


Apa ini saat yang tepat untuk menanyakan hal itu?


“Beberapa waktu lalu saya melihat nona Viona bersama seorang anak perempuan!”


Mendengar pertanyaan Ara, wanita itu tampak terkejut. Tapi hanya dalam hitungan detik ia bisa kembali menetralkannya.

__ADS_1


“Dia putriku!” ucapnya tanpa menatap Ara, ia memilih menatap ke luar ke arah jalanan.


“Putri?”


Viona menghela nafasnya, kemudian ia kembali


mengatur posisi duduknya kali ini dia sudah berani menatap Ara.


“Rasanya sulit untuk mengakuinya, aku sebenarnya sudah lama ingin menemuimu, tapi aku terlalu takut. Agra pasti tidak akan


membiarkan kita bertemu!”


“Kenapa?”


“Karena aku pernah menyakitimu!”


“Boleh aku bertanya?” Tanya Ara lagi saat Viona terdiam


“Bertanyalah!”


“Siapa ayah Aril, apa benar Jerry ayahnya atau orang lain?”


Tak bisa di pungkiri kali ini pemikiran Ara tertuju


pada hal itu, bukan tidak mungkin itu adalah akan orang lain. Dan orang lain


yang ada dalam pikirannya saat ini kenapa selalu terarah kepada suaminya, ia


benar-benar takut jika hal itu benar-benar terjadi.


“Nyonya …!”


belum sempat Viona menjelaskan tiba-tiba


pengawalnya datang menghampiri mereka. Dia menatap Viona dengan wajah


menyakiti nyonya mudanya.


"Ya sudah Ra, sepertinya saya juga harus pergi, sampai jumpa lagi!" Viona berdiri dari duduknya dan meninggalkan Ara. Ara menatap anak buahnya kesal.


“Ada apa?”


Ara begitu kesal, ia seharusnya sekarang


sudah tahu anak siapa Aril itu tapi karena kedatangan anak buahnya membuat


Viona mengurungkan niatnya untuk bercerita, ia memilih untuk segera berpamitan.


Setelah Viona pergi Ara kembali menatap pengawalnya yang telah begitu lancang


mengganggu percakapan mereka.


“Maafkan saya Nyonya, tapi ini sudah waktunya nona Sanaya pulang!”


“Oh …, Astaga kenapa aku bisa lupa!” gerutu Ara


sambil menepuk jidatnya.


 Ia pun segera


mengambil kue dan tasnya, berpamitan pada mbak Rini dan menuju ke sekolah


Sanaya. Untung saja belum terlalu sepi, Sanaya sudah menunggunya di depan


kelas.


“Mom …, kenapa lama sekali?” keluh Sanaya.

__ADS_1


“Maaf sayang …, mommy lupa, tadi mommy membuatkan


kue untuk papi!”


“Apa kita sekarang akan ke tempat papi!”


“Iya sayang!”


“Asyik ….., Nay senang, kita ke tempat papi!” Sanaya meloncat-loncat kegirangan. Mereka pun segera menuju ke tempat Agra.


Setelah melakukan perjalanan dengan mobil pribadi mereka, akhirnya mereka sampai di depan gedung pencakar langit itu, di depan


gedung FinityGroup.


“Papi sungguh luar biasa, bukankah gedung ini begitu besar?”


“Iya sayang …., papimu memang luar biasa, makanya mommy jatuh cinta sama papimu!”


Seluruh penghuni gedung itu sudah mengenali dua perempuan itu, dua perempuan itu adalah orang yang berharga bagi pimpinannya,


setiap mereka berpapasan dengan Arad an Sanaya mereka akan menundukkan


kepalanya memberi hormat, Sanaya begitu senang.


“Bu Ara!”


sapa sekertaris Agra. Sekarang ruang


sekertaris itu sudahterpisah dari ruangan Agra. Tidak seperti dulu saat Ara


yang bekerja sebagai sekertarisnya.


“Hai tante!” sapa Sanaya.


“Selamat Siang nona Sanaya!”


“Tante cantik sekali!”


pujian Sanaya membuat sekertaris Agra tersipu malu. Ara yang melihatnya hanya tersenyum.


“Apa pak agra nya ada?”


“Pak agra ada di dalam bu!”


“Ya udah, aku masuk ya!”


“Silahkan bu!”


Dengan sedikit ke susahan Sanaya berusaha membuka pintu itu, setelah pintu berhasil terbuka. Sanaya tidak langsung masuk, ia


memilih mengintip terlebih dulu dengan menyusupkan kepalanya terlebih dulu.


Agra yang mendengar pintu terbuka segera meletakkan


berkasnya di atas meja dan melihat kea rag pintu karena penasaran, taka da yang


masuk ataupun meminta ijin untuk masuk. Senyumnya mengembang saat melihat wajah


imut yang berada di balik pintu itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘😘


__ADS_2