
Agra segera menarik tangan Ara,
hingga si pemilik tangan bangkit dari duduknya
Mereka melewati Rendi yang masih diam di tempatnya, Ara hanya
menatap Rendi sekilas dan berlalu
Mereka sampai di depan pintu lift , Ara hanya bisa melihat
tangannya yang masih tertaut dengan tangan Agra
“bisa lepaskan tanganku?” tanya Ara ragu
“kenapa aku harus melepasnya?” tanya Agra sambil menarik tangan Ara
ke depan dadanya dan senyum di bibirnya yang tak pudar sedikit pun semenjak
keluar dari ruangan
“nanti ada yang melihatnya .....” bisik Ara
“biarkan semua melihatnya sayang ...., aku akan menunjukkan pada
dunia bahwa kau istriku” Agra berkata lembut pada Ara, tepat setelah itu pintu
lift terbuka dan ibu Agra serta pak Salman berdiri di dalamnya hendak keluar
“ibu ...” Ara yang lebih dulu menyadari keberadaan mereka segera
memberi tahu Agra, karena Agra masih menghadap ke wajah Ara
Agra pun segera menyempurnakan berdurunya dan menunduk memberi
hormat pada ibunya
“selamat siang ibu ..., paman....”
“selamat siang tuan muda ...” sapa Salman “apakah anda akan keluar,
tuan muda?”
Agra hanya mengangguk, lalu mata Ratih menatap dingin pada tangan
Agra dan Ara yang saling bertaut
“bisakah kalian menyembunyikan pernikahan kalian untuk sementara
waktu” ucap Ratih, membuat Ara segera menarik tangannya melepaskan diri dari
tangan Agra, tapi Agra terlihat tidak begitu suka
“baik ibu ...” jawab Ara, karena Agra tak juga memberi tanggapan
“bagus ....., pulanglah ...” ucap Ratih kembali sambil menatap
putranya, seperti hendak meminta jangan gegabah
Agra pun segera menarik tangan Ara kembali memasuki lift yang
hampir tertutup, meninggalkan ibunya hingga pintu lift memisahkan mereka
“apa nyonya punya alasan lain?” tanya Salman saat pintu lift sudah
tertutup
“aku tidak mau ambil resiko, semakin sedikit yang tahu semakin
mudah kita mengawasinya”
“sepertinya tuan muda tidak setuju?”
“dia memang keras kepala, tapi aku yakin dia bisa mengerti”
“mari nyonya ...., Rendi sudah ada di ruangannya ...”
Setelah pintu lift tertutup, Agra hanya diam, senyum yang
mengembang tadi seketika sirna karena ucapan ibunya
“gra .....” Ara yang terus menatap Agra , seperti menemukan rahasia
lain yang masih tertutup
“hemmm...”
“apa kau baik-baik saja ...?” tanya Ara, dan Agra hanya menoleh
serta mengulas senyum pada Ara, berharap istrinya tak terlalu memikirkan apa
yang terjadi
“ehmmm...., jadi kau baik-baik saja ya ...” berusaha menyimpulkan
sendiri jawabannya
Tak berapa lama pintu lift pun terbuka, Agra melakukan seperti yang
di perintahkan ibunya, walaupun mereka terlihat tidak akur, tapi Agra tetaplah
anak yang penurut, Agra sangat menyayangi ibunya
Agra keluar mendahului Ara, dia memasang wajah dingin dan tegasnya,
menampilkan seolah-olah mereka tak ada hubungan, Ara yang langkahnya lebih
__ADS_1
pendek hanya bisa mengikutinya di belakang tanpa protes
Banyak karyawan yang lalu lalang, walaupun tidak ada yang aneh,
tetap saja si bos tampan itu selalu menjadi pusat perhatian
“tadi nona Viona keluar sendiri dengan kacau, sekarang pak Agra
sama mbak Ara, apa yang terjadi ya?”
“tapi tadi ada dokter tampan itu ..., lalu siapa yang sakit,
sepertinya pak Agra baik-baik saja”
“kayaknya mbak Ara jadi juaranya deh”
“wah kayaknya cinlok deh mbak Ara sama pak bos”
“tapi mereka terlihat biasa aja ...”
“aku dengar-dengar pak Agra sudah menikah lo”
“atau jangan jangan mbak Ara yang jadi istri pak Agra”
Masih banyak lagi gunjingan yang ia dengar, sekarang Agra tahu apa
maksud ibunya menyuruh untuk menyembunyikan identitas Ara, semakin banyak yang
tahu maka akan semakin sulit baginya melindungi Ara, walaupun tak tampak, tapi
banyak di dalam atau di luar yang sedang mengincar mereka
“kau datang ke sini dengan pak mun?” tanya Agra saat sudah sampai
di depan gedung, tapi tetap masih menjaga jarak, Ara yang di tanya hanya
mengangguk
“tuan muda ....” pak Munir yang melihat kedatangan tuan mudanya
segera menghampiri dan menyapanya
“pak Mun, kami akan pulang, antar kami pulang”
“baik tuan...” pak mun pun sudah membukakan pintu untuk Agra dan
Ara
Setelah mereka masuk, pak mun segera menjalankan mobilnya, Agra
duduk di samping Ara, Agra segera melonggarkan dasinya dan melipat kedua lengan
bajunya
“aku lapar ....” tiba-tiba Ara membuka pembicaraan
perintah pada pak mun, Agra kembali menarik tangan Ara. Mencium punggung tangan Ara dengan
lembut, Ara yang di perlakukan tak biasa hanya bisa tersenyum senang
Hingga mobil berhenti di sebuah restaurant china, dapat terlihat
dari tampilan desain interior kontemporer china, dengan elemen kayu dan logam,
pemandangan kota jakarta dengan sudut 180 derajat menghiasi jendela kaca besar
pada dinding restauran itu
“kenapa makan di sini?” tanya Ara karena tahu jika Agra lebih
menyukai makanan ala timur tengah
“aku ingin merasakan hal baru dengan keadaan yang baru”
Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan menyodorkan buku menu
pada Ara
“aku tak tahu makanan apa ini” Ara berbisik pada Agra, Agra pun
segera mengambil buku menu itu dan memesan beberapa makanan
“untuk pembukanya saya memesan yum cha dan untuk makanan inti saya
pesan steamed grouper with kaffir dan iga sapi”
“baik tuan”
Tak berapa lama makanan pun datang
“aku benar-benar lapar ...” ara mengelus perutnya karena beberapa
hari ini tak begitu enak makan
“makanlah yang banyak ...., karena setelah ini kita harus segera
memproduksi Agra junior”
“dasar kau ini, membuat selera makanku hilang saja” gerutu Ara
dengan wajah yang sudah memerah karena malu dan Agra hanya membalasnya dengan
senyuman
“baiklah jika hilang selera makanmu, biar aku suapi ...” Agra
segera mengambil sendoknya dan menyodorkan ke mulut Ara, Ara tak mampu
__ADS_1
menolaknya
“kenapa begini jadi lebih enak ya ...” Ara tersenyum senang
“aku akan menyuapimu setiap hari setelah ini ....”
“jangan ...” ara langsung berteriak
“cihhhh..., kenapa kau suka sekali berteriak ...” keluh Agra,
sambil terus menyuapkan makanannya bergantian ke mulutnya dan Ara
“memangnya pekerjaanmu Cuma akan menyuapiku ....” Ara memanyunkan
mulutnya, membuat Agra semakin gemas
‘kenapa kau menggemaskan sekali ....., jangan seperti itu, aku bisa
kehilangan kendali jika terus seperti itu”
“aku memang menggemaskan, kau saja yang tidak sadar, memang apa
yang akan kau lakukan?”
Agra seketika mendekatkan wajahnya hingga nafasnya bisa di rasakan
oleh Ara
“aku akan menciummu sekarang juga ....”
Ara reflek langsung mendorong tubuh Agra keras hingga si pemilik
tubuh harus terjengkal jatuh di samping kursi
“aughhhh ......” Ara yang tak bermaksud membuat Agra jatuh langsung
menutup mulutnya dengan kedua tangannya
“kau sengaja ya ....” Agra bangun dengan kedua alisnya sudah saling
bertaut, giginya mengerat
“aku tidak sengaja ....” Ara berucap pelang “maafkan aku ....”
‘tidak semudah itu .....”
“lalu aku harus apa ...”
‘cium aku ...”
“cium ....”
“ya ...., jika tidak ...”
“ya aku akan menciummu .... nanti”
“tidak , aku maunya sekarang”
“sekarang....?” Ara menoleh ke segala arah, ia melihat walau tak
banyak tapi ada orang di sana, pengawalnya juga duduk tak jauh dari mereka
“iya sekarang, mau tidak? jika tidak ...”
“baiklah .....” Ara dengan terpaksa menyanggupinya, jika tidak
mungkin akan lebih buruk lagi
Ara segera mendekat pada pipi Agra
“berhenti ......” Agra menahan bibir Ara yang akan mendarat di pipi
Agra
“ada apa lagi ....” Ara di buat kesal
“di sini ...., bukan di sini ...” Agra menunjuk bibirnya
“di situ ...?”
“iya ...., kenapa? Tidak mau?”
“ah ...., kenapa dia menyebalkan sekali ....” batin Ara sambil
menjejakkan kakinya kasar
Ara hanya bisa pasrah, ia kembali mendekatkan wajahnya ke arah Agra
Cup
Ara yang ingin segera menjauhkan bibirnya tapi kalah dengan tangan
Agra yang lebih dulu menahan tengkuknya, ciuman itu berlangsung beberapa detik,
mereka seakan lupa jika sedang berda di tempat umum, tapi untungnya Agra
memesan privat room, jadi hanya ada beberapa pelayan saja di sana dengan jarak
yang cukup jauh
*
*
*
*
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA
__ADS_1
KASIH VOTE JUGA ......