
Mereka juga melewati kelas Sagara dan Abimanyu. Melihat Sanaya berjalan
melintas di depan kelas mereka dengan seorang anak laki-laki membuat mereka
jadi ingin tahu dengan siapa saudaranya itu berjalan.
Tapi mereka hanya bisa saling menatap tanpa berani
meninggalkan bangkunya karena hari ini guru datang lebih cepat ke dalam
kelasnya.
Dia anak itu …., batin Sagara. Mereka pernah bertemu
satu kali. Awalnya ia tidak begitu penasaran dengan anak berantakan itu tapi
melihat ia bersama Sanaya membuatnya mau tidak mau ingin mengetahui siapa anak
laki-laki itu.
Sanaya sama siapa? Kenapa aku baru melihatnya di sekolah ini? Apa dia satu kelas dengan
Nay? Kalau iya, kenapa aku tidak mengenalnya, sepertinya aku mengenal semua
teman Sanaya …, batin Abimanyu, ia hanya terus memutar
pulpennya tanpa berniat mencatat yang di tulis bu guru di depan.
“Abimanyu!” seseorang memanggilnya
ternyata itu bu guru membuat Abimanyu gelagapan untuk menjawabnya.
“Iya bu!”
“Tolong jelaskan apa yang di maksud sifat
koligatif!” ucap bu guru di depan.
“Saya bu?” tanya Abimanyu yang terkejut.
“Memang saya menunjuk orang lain, ayo jelaskan!”
“Baik bu!”
Abimanyu pun berdiri, ia harus menjawab sesuai
kemampuannya. Setidaknya semalam ia sudah membaca materi tentang ini.
“Sifat koligatif adalah sifat-sifat yang tergantung
pada kuantitas partikel zat terlarut dalam larutan! Sudah bu!”
“Sudah? Ada yang bisa menjelaskan detailnya?”
Ariel pun berdiri, “Saya bu!” ia mengacungkan
tangannya.
“Iya ariel, silahkan jelaskan secara detailnya!”
“Sifat koligatif yaitu sifat-sifat yang tidak tergantung pada jenis atau identitas zatnya
baik berupa atom, molekul ataupun ion. Sifat koligatif larutan terdiri dari
penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan tekanan
osmosis!”
“Bagus, itu penjelasan detailnya. Abimanyu!” panggil
bu guru lagi.
“Iya bu!”
“Konsentrasi ya!”
“Iya bu!”
Di kelas lain, Sanaya berhenti tepat di samping
kelasnya, sudah ada guru di dalam.
“Gimana nih, ada guru?” tanyanya sambil berbisik
pada Aditya.
“Masuk ya tinggal masuk aja! Repot …!”
“mana bisa di dalam udah ada guru!”
Hehhhhh
Aditya menghela nafas, ia menarik tangan Sanaya
hingga masuk ke dalam kelas Sanaya.
“Lo apa-apaan!” ucap Sanaya tanpa menggerakkan
bibirnya saat mereka sudah sampai didepan kelas.
“Sanaya?” bu guru terlihat terkejut melihat Sanaya
bersama anak kelas dua belas.
Sanaya terpaksa menatap bu guru dengan penuh
keberanian, lagi pula sudah kepalang tanggung kan,
“maaf bu!”
__ADS_1
“Kamu dari mana? Kenapa dari luar?”
“Sebenarnya tadi ser_!” ucapan Sanaya menggantung
saat tiba-tiba Aditya menyambar ucapannya,
“Sebenarnya seragam Sanaya tertukar dengan seragam
saya bu, maaf karena keterlambatan ini bu!” ucap Aditya dengan begitu sopan.
Anak
berantakan kayak gitu bisa sopan juga sama bu guru …., batin Sanaya yang
bengong sendiri menatap Aditya.
“Kamu Aditya kan?” tanya bu guru.
Waw
…, bu guru juga mengenalnya …, keren ….
“Iya bu, saya kelasnya di sebelah!”
“Selamat ya
atas juara satu lomba cerdas cermatnya, sekolah bangga sama kamu!”
Hahhhh
Kali ini Sanaya benar-benar tidak bisa
menyembunyikan keterkejutannya dengan apa yang di ucapkan oleh bu Guru. jadi
selain Abi, Aditya salah satu anak yang mengikuti lomba itu dan dia yang
mengalahkan Abi. Tidak bisa di duga ….
“Terimakasih bu, ya sudah saya permisi bu!”
“Iya silahkan!”
Aditya pun tersenyum pada sanaya lalu berlalu begitu
saja meninggalkan kelas Sanaya.
“Duduklah …!”
“Terimakasih bu!”
Sanaya pun tidak mau menunggu lama, ia segera duduk
di bangkunya. Riska yang melihat baju Sanaya kedodoran segera memanggilnya
dengan kode.
Hutsss huttssss …
hanya menggerakkan bibirnya.
“Itu baju siapa?”
“Baju cowok yang tadi!”
“Kok bisa?”
“Nanti gue ceritain!”
Mereka pun kembali konsentrasi dengan pelajarannya
sebelum bu guru naik pitam. Ia tahu mata bu guru sudah mulai mengarah ke
mereka.
Seperti biasa di hari-hari tertentu nyonya Ratih
akan mengunjungi guru BK, sebenarnya bukan hanya untuk mengecek
pelanggaran-pelanggaran yang ada tapi
juga mengecek tentang beberapa masalah yang di hadapi oleh peserta didiknya.
“Selamat siang bu!” sapa nyonya Ratih, dia adalah
kepala yayasan di sekolah yang ia bangun itu.
“Bu …, selamat siang! Silahkan duduk bu!”
“Terimakasih!”
Nyonya ratih pun duduk dengan begitu elegannya.
Walaupun sudah tua, tapi sama sekali tidak mengurangi kecantikan dan
keeleganannya. Bu guru BK pun akhirnya duduk di depannya di sofa yang berbeda
dengan terpisah oleh sebuah meja kecil.
Seorang cleaning servise sudah menyiapkan segelas
the untuk nyonya Ratih.
“Silahkan nyonya!”
“Terimakasih!”
Nyonya Ratih terlihat mengedarkan tatapannya ke
seluruh penjuru ruangan, tidak begitu besar tapi terlihat rapi. Buku-buku juga
__ADS_1
tertata rapi di dalam rak buku.
“Nyaman!”
“Terimakasih nyonya!”
“Bagaimana? Apa ada masalah hari ini?”
“Hanya ada dua laporan nyonya!”
Nyonya Ratih mengerutkan keningnya, ia mengambil
cankirnya dan mulai menyeruput teh hangatnya dan kembali meletakkannya di atas
meja.
“Lanjutkan!”
“Ada dua anak yang terlambat hari ini, dan yang luar
bisa mereka berasal dari kelas akselerasi!”
“Siapa?”
“Ariel dan Sagara!”
Sagara
…..
“Lagi, yang ke dua!”
“Ini sebenarnya sudah menjadi hal yang lumrah
nyonya!”
“Apa?”
“Salah satu anak bolos pelajaran matematika tampa
ijin, namanya Sanaya!”
Sanaya juga …
***
Tettttttttt tetttttt tetttttt
Bel berbunyi menandakan semua kelas sudah berakhir.
Ternyata Sagara dan abimanyu sudah berdiri di depan kelas Sanaya.
“Kalian apa-apaan sih, kita bisa bertemu di mobil
kan?” keluh Sanaya yangh tidak suka.
“Siapa anak laki-laki tadi?” tanya Abimanyu
seketika Sanaya tersenyum menatap Abimanyu.
“Dia saingan mu!” celetuk Sanaya membuat Abimanyu
maupun Sagara mengerutkan keningnya.
“Maksudnya apa?”
“PIkir sendiri aja!”
Sanaya memilih berlalu begitu saja meninggalkan dua
anak laki-laki yang persis seperti body guard untuknya itu. Mereka pun segera
menyusul sanaya yang sudah berjalan lebih dulu.
“Aku serius Nay, jawab dia tadi siapa?” tanya Sagara
setelah mereka akan masuk ke dalam mobil. Sagara sengaja menahan pintunya agar
tidak terbuka.
“Aku juga serius Gara! Mau aku bisikkan sesuatu?”
tanya Sanaya sambil melambaikan tangannya pada Sagara. Sagara yang penasaran
segera mendekatkan telinganya.
Sanaya mendekatkan bibirnya ke daun telinga Sagara
membuat Abimanyu kesal, ia memilih berlalu dan masuk lebih dulu ke dalam mobil.
“Dia yang mengalahkan Abi di olimpiade sains
kemarin!”
“Serius?” dan nay pun menganggukkan kepalanya. Jelas
Sagara tidak begitu percaya melihat penampilan anak itu yang terkesan tidak
rapi, ia juga suka sekali membobol, buktinya bisa masuk ke area sekolah
walaupun gerbang di tutup.
bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰