
“temen?” wanita itu menoleh pada anak laki-laki yang
bersama dengan Sanaya, rambut panjang yang tidak tertata rapi, baju di keluarkan kalung panjang dengan kerah baju yang di naikkan.
Masak temannya neng Nay kayak gini …, ganteng tapi berantakan sekali ….
Aditya tersenyum pada wanita itu, senyumnya begitu manis.
“Hai budhe!” ia melambaikan tangannya dengan gaya selengekannya.
“Hai ...., silahkan duduk! Biar budhe buatkan makanan sama
minuman!” ucap budhe Rini.
"Terimakasih budhe!" ucap Aditya lagi, Sanaya pun segera menarik tas Aditya dan membawanya ke sebuah meja.
"Budhe tinggal ya!"
"Iya budhe!"
Sanaya pun segera duduk di bangku yang sudah ia pilih, letaknya begitu strategis. Berada di dekat jendela kaca dan kolam ikat kecil, sehingga mereka bisa melihat ikan-ikan itu berenang.
Sedangkan Aditya, dia memilih tidak segera duduk, ia mengedarkan pandangannya, memperhatikan kafe milik mommy nya Sanaya itu. Memang tidak begitu luas, tapi sangat strategis. Dari kafe itu ia bisa melihat jalan yang mungkin biasa di gunakan oleh orang-orang sekitar tempat itu untuk lari pagi karena bukan jalan untuk mobil-mobil besar.
Di seberang jalan, mereka langsung di hubungkan dengan sebuah taman.
Dan tidak jauh dari kafe itu ada ruko yang berjejer, bahkan di sebelahnya juga ada sebuah rumah makan.
Orang-orang yang makan di rumah makan sebelah biasanya akan mampir ke kafe untuk membeli kue.
“Bagus juga ya kafe ini!” ucap Aditya setelah puas mengamati seluruh isi kafe itu.
“Banyak cerita di balik kafe ini, makanya nggak bakal di jual!”
Aditya menganggukkan kepalanya, "Pantas saja!"
Sanaya mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Kayak buku!" Aditya memberi jeda pada ucapannya lalu melanjutkannya, "Tebal!"
"Apaan sih Dit?!" Sanaya sampai tertawa mendengarkan lelucon Aditya.
"Abis kamu bilang gitu, cerita itu di buku bukan di kafe!"
"Maksud gue, banyak kenangan di kafe ini kata mommy gue!"
"Nah gitu baru bener!"
Hmmmm
Sanaya menormalkan kembali bibirnya yang terus tertawa saat dekat dengan Aditya.
Ting
Sebuah pesan masuk dari ponselnya Sanaya. Sanaya segera mengambil ponsel yang masih di dalam tas sekolahnya yang berwarna biru muda itu.
...Gara...
...online...
*Masih di mana?
^^^Masih di kafe, ngapa sih nanya-nanya?^^^
Sama siapa?
^^^Sama temen!!!!!^^^
Jangan macam-macam ya
^^^Apaan sih*^^^
Sanaya segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Siapa? Cowok lo ya? Dia marah?" tanya Aditya.
"Apaan sih, bukan! Itu Gara!"
"Kalau dari cowok kamu nggak pa pa kali!"
"Iya kaliiiii ....!"
Mereka kembali diam ....
Aditya memperhatikan vas bunga yang ada di depannya, ada vas bunga kecil tapi bukan bunga plastik. Ternyata bunga itu adalah bunga asli. Sebuah kaktus kecil yang tampak menonjol berwarna hijau di tengah nuansa putih itu.
“Nyokap lo penyuka bunga ya?” tanya Aditya kemudian.
“Nggak, kenapa?”
“Bunganya kok asli?”
__ADS_1
“Itu budhe Rini!”
“Ohhh …, yang tadi?” tanya Aditya dan Sanaya pun menganggukkan kepalanya.
Tidak berapa lama budhe Rini kembali datang dengan
membawa nampa berisi sepiring kue dan dua gelas coklat dingin.
“Silahkan, ini kuenya dan ini minumnya!" ucap budhe Rini sambil meletakkan satu persatu piring dan gelas itu.
"Kalian pasti lapar kan?” tanya budhe dan Sanaya pun segera menganggukkan kepalanya.
“Terimakasih ya budhe!” ucapnya kemudian.
“Iya …, silahkan dimakan, ayo pumpung masih anget kuenya!”
Budhe Rini masih berdiri di samping mereka dengan
nampan yang ia dekap di perutnya.
Melihat hal itu Aditya segera mengambil potongan kue itu dan
melahapnya. Mengunyahnya perlahan dan menikmati kue itu.
“Wow budhe, ini budhe yang buat? Enak banget!” pujinya.
“Bukan!"
"Lalu? Teman budhe ya?"
"Bukan juga!"
"Trus siapa dong budhe, jangan buat saya penasaran loh, saya bisa nggak bisa tidur!"
Ucapan Aditya berhasil membuat budhe Rini tertawa.
"Itu mom nya neng Nay yang buat!”
"Wow ....., pantes saja!" ucap Aditya membuat budhe Rini dan Nay menatap padanya.
"Pantes kenapa?"
"Pantes, putrinya cantik, suka buat kue semanis ini sih!"
"Garing!" ucap Sanaya sedangkan budhe Rini lagi-lagi tertawa dengan lelucon Aditya.
Sanaya menoleh pada bi Molly, “Mom di sini, Budhe?”
“Iya, tapi masih sibuk soalnya ada tamu!”
“Ya sudah budhe ke dalam dulu ya, nanti kalau mau
nambah panggil budhe saja!”
“Siap budhe!”
Aditya begitu sibuk memakan kue-kue itu, sudah setengah piring itu ia habiskan sendiri. Kue itu memang sangat enak.
Sanaya yang menyadari jika Aditya akan menghabiskan semua kuenya, ia pun segera merebut piringnya.
Tangan Aditya menggantung di udara saat piring berisi kue itu sudah berpindah tempat. “Bagi dong!”
Sanaya membawa piring itu di dekapannya.
“Jangan gitu dong Nay …, aku kan juga mau!”
“Kamu sudah menghabiskan setengahnya!”
“Kamu kan setiap hari bisa makan kue ini, kalau aku
nggak bisa! Ayolah ….!”
Saat mereka sedang berdebat, seorang wanita cantik
dengan dua orang pria keluar dari ruangan itu. Sepertinya mereka tamu mom nya
Ara karena mom Ara ikut mengantar keluar.
Setelah tamunya pergi mom Ara melihat kearah putrinya
itu, ia mengerutkan keningnya saat melihat putrinya itu bersama anak laki-laki.
Mom Ara menghampiri putrinya itu.
“Sayang!”
“Mom …!”
Sanaya segera memeluk mommy nya itu.
“Kamu di sini? Ini siapa?”
__ADS_1
Siapakah dia? batin Ara.
Aditya pun segera berdiri dan mengulurkan tangannya,
“Selamat siang tante, kenalkan saya Aditya tante!”
“Satu kelas sama Nay ya?”
“Nggak tan, saya kelas dua belas!”
“Berarti temannya Gara sama abi dong?”
“Ya begitu lah tan!”
“Tante seneng kalau ada teman Nay yang mau main ke
sini!”
“Aditya juga seneng kok tante, apalagi kalau setiap
hari bisa makan kue buatan tante!”
“Pasti, pokoknya kalau main ke sini bakal tante
buatin kue!”
Mereka pun menikmati kue sambil ngobrol santai
bersama mom Ara. Mom Ara cukup suka dengan Aditya, walaupun berantakan tapi
Aditya sopan dan suka becanda.
Karena sudah sore, Aditya pun berpamitan. Ia meninggalkan
Nay di kafe bersama mom Ara.
“Hati-hati ya!”
“Iya tante!”
Motor Aditya pun meninggalkan kafe itu. Mom Ara
merangkul bahu putrinya itu dan tersenyum.
“Dia baik ya Nay?” tanya mom Ara.
“Hahh?” Sanaya tidak terlalu fokus dengan pertanyaan
momi nya.
“Sudah lupakan, yuk masuk!”
“Iya mom!”
***
Semenjak saat itu, Sanaya jadi sering mengobrol
dengan Aditya. Apalagi bunda nya Aditya selalu menitipkan makan siang untuknya.
“Bunda kamu baik banget sih sama gue?”
“Ya iya lah …, bunda gue emang baik sih!”
“Jadi pengen ketemu sama bunda kamu dan bilang
makasih!”
“beneran mau? Kalau mau kamu boleh deh main ke
rumah, bunda pasti seneng!”
“beneran?”
“Ya …, kalau kamu mau! Nanti siang pulangnya gue
tunggu di depan gerbang!”
“Ok!”
Sanaya senang karena aditya ternyata sangat baik,
akhirnya Aditya menawari Sanaya untuk main ke rumahnya. Mereka pun pulang
bersama dengan motornya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰