
Rendi hanya bisa mengusap kepala Sagara dengan lembut.
"Paman aku bukan anak kecil ya, jangan cepelti itu!" keluh Sagara karena tidak suka rambutnya di usap , ucapan Sagara berhasil membuat Rendi tersenyum.
"Sudah Gara ...., jangan jahili paman Rendi!" Ara yang sedari tadi menunggu di depan segera memanggil Sagara.
"Iya mom ...!"
Sagar pun segera berlari meninggalkan Rendi dan menghampiri Sanaya dan mominya.
Mereka pun segera mendekati Agra dan beberapa orang lainnya. Sagara yang tak sabar menunggu adik dan mominya berjalan lambat, segera berlari.
"Pap ...., Oma kenapa menangis?" tanya Sagara yang sudah menarik jas papinya. Agra pun segera berjongkok di samping putranya.
Agra pun mengusap pipi putranya yang masih berusia dua tahun itu "Sayang ...., beri salam dulu buat opa!"
"Opa ...., apa kabal, Sagala dan Sanaya datang sama momi, papi, Oma, opa calman, uncle Dipta, paman lendi." ucap Sagara sambil mengabsen semua yang datang ke tempat itu dengan jari-jarinya.
"Kenapa momi sama Sanaya di tinggal sayang?" tanya Agra lagi pada putranya itu.
"Pelempuan kalau jalan lama ....!" keluh Sagara.
"Tapi lain kali nggak boleh gitu ya, Sagara harus selalu jagain momi sama Sanaya sayang, kalau papa pergi kan Sagara yang jagain mereka."
Sagara pun mengangguk, ia sepertinya sudah sangat memahami ucapan orang tua. "Sagala minta maap pap, Sagala janji nggak akan ngulang lagi."
Sagara memang tumbuh lebih cepat, cara berpikirnya pun sudah seperti pria dewasa. Siapapun yang berhadapan dengannya, mereka tidak akan merasa sedang berbicara dengan anak usia dua tahun.
__ADS_1
Sanaya dan Ara sudah menyusul mereka, setelah memanjatkan doa, mereka pun segera meninggalkan pemakaman.
"Hari ini kamu boleh pulang cepat!" ucap Agra pada Rendi yang sudah mengawal mereka sampai ke rumah dengan semua pasukannya.
"Terimakasih pak, selamat istirahat!"
Agra pun mengangguk, ia berlalu meninggalkan Rendi yang masih berdiri di tempatnya, sekarang giliran si centil Sanaya yang menghampirinya.
Ampun deh ...., kenapa juga malaikat kecil ini menghampiriku. Pasti ada aja deh ...
Rendi hanya bisa mengeluh dalam hati saat Sanaya semakin dekat.
"Paman lendi ....!" teriak Sanaya.
"Iya ....!" Lagi-lagi Rendi harus berjongkok agar gadis kecil itu bisa dengan mudah menjangkau wajah gadis kecil itu.
Apa yang sudah Nadin ajarkan pada anak-anak ini ....
Rendi pun dengan susah payah memasang senyumnya. ia sedikit menarik bibirnya hingga membuat sebuah lengkungan di sana.
Sanaya memicingkan matanya dan sedikit menyebutkan bibirnya. "Kenapa cenyum paman lendi jelek cekali ....? Aku nggak cuka liat cenyum paman lendi!"
Sanaya segera berlari meninggalkan Rendi, membuat Rendi hanya bisa menatap bingung. Belum selesai dengan kebingungannya, kini punggungnya di tepuk dari belakang, membuatnya segera menoleh ke belakang.
Sagara sudah berdiri di belakangnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Satu pergi, satu lagi muncul ....
__ADS_1
Sagara segera berdiri di depan Rendi, tepat di mana Sanaya tadi berdiri.
"Makanya paman lendi jangan telalu kaku, cewek nggak cuka cama cowok yang kaku!"
"Sagara ....., apa yang kamu katakan sama paman Rendi?" tanya Ara yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Cagala mengatakan yang cebenalnya mom ...., uncle Dipta aja bica cenyum!"
Apa-apaan anak ini, bisa-bisa nya dia ngebandingin aku dengan Divta.
"Sudah masuk, jangan ganggu paman Rendi terus!"
Sagara pun tampak mendengus. Tapi melihat tatapan tajam mominya ia lebih baik menghindar.
"Terimakasih ya untuk hari ini!" ucap Ara pada Rendi setelah Sagara meninggalkan mereka.
"Sama-sama, Bu. Saya permisi!"
Ara pun mengangguk, Rendi pun segera berlalu dengan mobilnya. Setelah mobil Rendi tak terlihat lagi, Ara segera masuk ke dalam rumah.
BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘😘