
Kebetulan Ara di kantor, sambil menunggu suaminya bekerja , ia
masih terus memikirkan cerita suaminya, ia begitu penasaran, ia ingin
mendengarkan cerita versi Rendi
Ia berencana untuk menemui
Rendi tanpa sepengetahuan Agra, ia mencari alasan untuk keluar dari ruangan
suaminya
“gra ....”
Mendengar istrinya memanggil, membuat Agra mendongakkan kepalanya
menatap istrinya yang sedang duduk di sofa
“ada apa sayang ?”
“aku keluar sebentar jalan-jalan ya ..., aku bosan di sini terus
...” mendengar ucapan Ara, Agra mengangkat sebelah alisnya, menunjukkan guratan
tipis di dahinya
“bukan bosan bersama kamu ..., maksudku ...., aku ingin keliling
kantor ini saja, sudah lama banget kan aku tak ke sini ....” Ara segera meralat
ucapannya, agar Agra tak salah paham dengan ucapannya
‘baiklah ...., tapi jangan jauh-jauh ...., kita makan siang bersama
...”
“baik sayang ...” Ara pun segera beranjak dari duduknya dan berlari
menuju ke pintu keluar, tapi belum sempurna ia membvuka pintu, ia segera
memutar balik gerakannya, ia menghampiri tempat duduk Agra
‘ada apa?” agra bertanya heran saat Ara sudah berada di hadapannya
Cup
Sebuah kecupan mendarat di bibir Agra
“sampai jumpa nanti sayang ...” Ara segera meninggalkan Agra yang
masih tersenyum menyentuh bibirnya
Ara pun langsung menuju ke ruangan Rendi, ia tak mau membuang
waktu, karena satu jam lagi sudah waktunya makan siang
Ia ingin tahu cerita dari
pihak rendi, ia merasa rendi bukanlah orang yang dengan mudah menikmati
kemewahan di atas penderitaan orang lain, apa lagi ini orang lainnya adalah
sahabatnya sendiri
”mbak ..., pak Rendinya ada?” tanya Ara pada sekertaris Rendi
“mbak ..., maksudku nona ...., pak Rendi di dalam” sepertinya
sekertaris Rendi sudah tahu jika kini Ara adalah istri Agra membuatnya canggung
untuk memanggil nama
“terimakasih mbak ..., aku masuk ya ...”
Tok tok tok
__ADS_1
“masuklah ...” ada sahutan dari dalam, yang Ara yakini itu suara
Rendi
Ara pun segera masuk
“nona ...” Rendi sedikit kaget saat melihat Ara mendatanginya,
“bisa kita bicara?” Ara tak mau berlama-lama
“silahkan duduk nona” Rendi menyuruh Ara untuk duduk
“bukan di sini” Ara menolak untuk duduk
“maksud nona?” Rendi menjadi terlihat begitu bingung
“bisakah kita ke kafe depan?”
“maksud nona?”
“aku sengaja tidak memberitahu jika aku menemuimu pada pak Agra”
“baiklah mari nona”
mereka pun menuju kafe dekat kantor, setelah memesan minuman, Ara
memulai penbicaraan setelah terjadi kesunyian beberapa saat
“pak rendi ...” ara menghentikan keheningan di antara mereka dengan
memanggil rendi
“iya ...”
“jika tidak keberatan , tolong ceritakan masa lalu kalian” ara tak
mau terlalu membuang waktu
“maksud nona?” rendi merasa bingung dengan apa yang di katakan
“aku ingin tahu apa alasan ibu menaruh pak Agra ke panti asuhan”
“nona tahu?” Rendi sungguh tak percaya jika Ara mengetahui hal itu
“aku baru tahu dari pak
Agra, tapi aku juga ingin tahu ceritanya versi kamu”
“maaf nona, tapi ini rahasiaku bersama nyonya besar”
“tapi aku melakukan ini demi mereka, aku mohon kita bisa bekerja
sama”
“maksud nona?”
“kenapa kau begitu kaku sih, aku lakuin ini supaya hubungan mereka
membaik, aku merasa nggak enak jika dalam satu rumah tidak ada percakapan, dan
kau malah mengulur waktu, kau lupa ya jika aku ada yang mengawasi kemanapun aku
pergi dan sebentar lagi pasti pak Agra akan kemari dan memarahi kita” Ara
keluar lah gaya cerewetnya
“maaf nona, baiklah saya akan mulai cerita,tapi berjanjilah nona”
“ya....., apa?”
“jangan ceritakan hal ini pada pak Agra”
“kenapa?”
“berjanjilah nona”
__ADS_1
“iya, baik baik ...” Ara mengalah demi mendapatkan informasi
“ setelah kematian tuan besar karena kasus pembunuhan, nyonya besar
mengirim tuan muda ke panti asuhan.
“iya ...., aku tahu itu ....., trus apa?” Ara merasa tidak sabar
‘jangan memotong dulu nona ..., jika nona tidak ingin salah faham”
“baiklah .......” Ara memposisiskan diri untuk menjadi pendengar
yang baik
“Setelah nyonya mengirim tuan muda ke panti asuhan, ayahku
membawaku ke rumah besar, sebelum ke sana ayahku mengatakan jika ini adalah
waktu yang tepat buat keluarga kami untuk membalas kebaikan tuan besar, jika
nyawa yang harus jadi taruhannya, maka kami harus rela.
Sesampai di rumah besar, lagi-lagi nyonya besar menanyakan kembali
keputusan ayahku, tapi aku dengan mantap, aku bersedia mati demi kelangsungan
hidup tuan muda.
Dan benar saja , setelah saat itu sering sekali saya mendapat teror
dan tak jarang terjadi percobaan penculikan dan pembunuhan, karena orang-orang
itu mengira saya tuan muda, pewaris tunggal tuan besar
rencana orang-orang jahat
itu selalu sudah lebih dulu diketahu oleh orang-orang kepercayaan tuan besar
dan ayahku, serangan demi serangan selalu dapat di patahkan
Tak Cuma itu, karena sayangnya nyonya besar pada tuan muda, nyonya
pun juga mengirim dokter frans untuk menjaga dan menjadi teman bagi tuan muda
di panti asuhan
Dokter Frans adalah putra dari sopir pribadi tuan besar yang ikut
terbunuh dalam kecelakaan mobil, sedang ibunya menyerahkan frans untuk di didik
oleh nyonya besar sebagai orang kepercayaan tuan muda kelak
Tapi dokter Frans pun tak pernah tahu jika ibunya bukan meninggal
karena kecelakaan tapi karena mengakhiri hidupnya
Saya menggantikan sementara sebagai tuan muda, menjadi tamengnya,
setelah pelakunya tertangkap dan di rasa aman dan kami pun sudah cukup tangguh
untuk menjaga diri karena kami di bekali ilmu bela diri, saat itu kami sudah
lulus SMA, nyonya menjemput kembali tuan muda
Begitu juga dengan dokter Frans,nyonya sengaja mengirim kami kuliah
di Italia , supaya kami tidak terpisah dan tuan muda tetap ada yang mengawasi”
“oh ... jadi begitu, kayak di cerita-cerita super hero ya, aku
kagum banget sama kamu, kamu benar-benar pahlawan ...”
BERSAMBUNG
aku selalu tak lupa ngingetin ya buat selalu menyempatkan memberikan like dan komentarnya ya
__ADS_1
biar aku tambah semangat ......