
Ara masih begitu menghawatirkan ayahnya, walaupun ia sudah mendapat
kabar dari Rendi, tak membuatnya bisa tenang sebelum menemui ayahnya
Sebelum Agra berangkat ke
kantor Ara sudah meminta ijin untuk menjenguk ayahnya
“gra ...” Ara menatap Agra dari balik cermin sambil merapikan
rambutnya
“ehmmmm ...” Agra masih sibuk mengancingkan kemejanya dan
mengenakan dasinya, kini agra sudah mulai terbiasa dengan melakukan
kegiatan-kegiatan kecil tanpa Ara
“bisakah aku pergi ke rumah ayah? Kata Nadin ayah sakit ...”
“ayah sakit ....?” Agra begitu terkejut mendengarkan berita dari
Ara, ia menghentikan aktifitasnya dan menghampiri Ara,
“sejak kapan?” tanyanya lagi saat sudah di dekat Ara
“tadi malam ...”
“kenapa tak memberi tahuku tadi malam, kita bisa ke sana tadi malam
...”
“kau terlihat sibuk, aku tidak mau mengganggumu ....”
“tidak ada yang lebih penting darimu sayang ...” Agra menangkup
kedua pipi ara
“aku sudah memberitahu pak Rendi ....” mendengar ucapan Ara, Agra
segera menjauhkan diri dari Ara, raut wajahnya berubah
Ara pun menyadari perubahan ekspresi Agra, agra terlihat kesal
dengan ucapan Ara, ara pun segera memegang tangan suaminya
“maafkan aku ..., aku tak bermaksud ...., aku hanya bingung harus
memberitahu siapa ...” Ara segera memeluk Agra, tapi Agra tak membalasnya, ia
melepaskan pelukan istrinya
“aku tidak suka kau mengandalkan orang lain ..., aku suamimu ...,
aku yang harus jadi orang pertama yang tahu tentang istriku ...”
“maafkan aku, aku menyesal ....”
“jangan mengulanginya lagi ...” dan Ara hanya mengangguk pasrah ,
ia merasa bersalah karena telah membuat suaminya merasa kesal
“aku akan mengantarmu ke rumah ayah ...”
“benarkah ....” Ara berbinar
“iya ....., bersiaplah .....”
Ara pun segera bersiap-siap , mereka berangkat bersama, Agra ikut
turun sebelum berangkat ke kantor
Tok tok tok
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pintu pun terbuka,
menampakkan nadin di sana
“kakak ...” Nadin pun segera memeluk Ara
“silahkan masuk kak ...” setelah selesai menumpahkan rasa rindu
__ADS_1
pada kakaknya, Nadin segera mempersilahkan mereka masuk
“mana Ayah dek ...?’ tanya Ara
“ada di kamar kak ....”
Ara dan Agra pun segera masuk ke dalam kamar ayahnya, tapi saat
melihat kedatangan Ara, Ayah Ara seperti enggan untuk menatap Ara, ia malah
memalingkan wajahnya ke arah cendela
“ayah ....” Ara menumpahkan air matanya, air mata kerinduan dan
rasa sakit karena di abaikan oleh ayahnya
Agra hanya bisa memeluk istrinya
“ayah ..., bagaimana keadaan ayah? Kenapa ayah sakit ? maafkan Ara
yah ... karena telah membuat ayah sakit ...” walaupun di abaikan. Ara tetap
saja mengajak ayahnya untuk bicara
“bisa bawa kakakmu keluar dulu, aku ingin bicara berdua dengan ayah
...” Agra meminta nadin untuk membawa keluar dari kamar ayahnya
Nadin pun menganggu, dan mengajak ara keluar dari kamar, setelah
tinggal berdua, Agra pun mendekat pada tempat tidur ayah mertuanya
“saya minta maaf karena telah membuat ayah sakit hati, tapi
percayalah pada kami, percayalah pada putri ayah ..., dia tetap putri ayah yang
penurut ...,”
“saya tidak melakukan pembelaan atas kesalahan kami..., tapi saya
berjanji akan membuktikan bahwa kami tidak melakukan kesalahan ...”
“tunggu lah saat itu tiba yah, dan terima saya sepenuhnya sebagai
Tak ada jawaban sama sekali dari laki-laki paruh baya itu
“kalau begitu saya permisi .....” Agra pun meninggalkan kamar ayah
mertuanya
Setelah kepergian Agra, baru ayah Ara memalingkan wajahnya
“jika yang kamu katakan benar ..., aku akan menunggunya ....” gumam
Ayah Ara dengan titik air di sudut matanya
Agra menghampiri Ara yang duduk di ruang keluarga bersama Nadin
“sayang ..., kita ke kantor ya ...”
“ke kantor ...?” tanya Ara
“iya ..., kamu bisa ikut aku ke kantor ....”
“kenapa?”
“tidak pa pa ....., ya sudah kami permisi dulu ya ...” Agra menarik
tangan Ara dan meninggalkan Nadin seorang diri
Mereka menuju ke mobil yang masih terparkir di depan rumah, pak Mun
masih setia menunggu di sampingt mobil dan membukakan pintu untuk mereka
“kita ke kantor pak “ perintah Agra saat sudah masuk ke dalam mobil
“baik tuan ...” sahut pak Mun mematuhi
“apa tidak pa pa ....?” tanya Ara sambil menatap suaminya yang
sedang menampakkan wajah seriusnya
__ADS_1
“kenapa?”
“ibu tidak mengijinkan aku menunjukkan identitasku sebagai istrimu
...”
Bukannya menjawab Agra malah mengecup bibir Ara, kecupan yang cukup
lama, kemupan yang mengartikan bahwa ia sedang menumpahkan rasa cintanya pada
istrinya
“jika ada yang tahu, berarti sudah waktunya semua orang tahu ...”
Agra mengelus rambutnya dengan lembut
Mereka sampai di depan gedung yang menjulang tinggi itu, ia menatap
istrinya
“ayo turun ....”
“tidak ...., kau duluan saja ....” Ara menolaknya
“tidak pa pa ...., biarkan jika mereka tahu ...” Agra menarik
tangan Ara saat sudah keluar dari mobil
Mereka memasuki gedung itu sambil bergandeng tangan, banyak mata
memandang, mereka saling berbisik melihat kedekantan Agra dan Ara
Ternyata orang yang mengawasi mereka sejak lama juga sedang
mengambil gambar mereka, dan melaporkan pada atasannya
Seseorang sedang menunggu panggilan penting, dan tak lama ponselnya
berdering, ia pun segera mengangkatnya
“apa yang kamu dapat?” seseorang itu merasa tak sabar
“ini tuan ...” pria yang telah berhasil mengambil foto kemesraan
Agra dan Ara mengirimkan beberapa foto
“apa ini?’ tanya pria yang sedang duduk angkuh itu, menscroll layar
ponselnya yang lain untuk melihat kiriman foto dari orang yang sedang melakukan
panggilan
“itu foto tuan Agra bersama istrinya”
“istri?”
“iya tuan, ternyata selama ini tuan Agra telah menikah, tapi nyonya
sengaja menyembunyikan identitas istrinya”
“bagus ...., selidiki terus gerak-gerik mereka, cari tahu siapa
wanita ini ...”
“baik tuan...”
Setelah mengakhiri panggilan telponnya, ia terlihat tersenyum penuh
arti
“tunggu aku adikku sayang ..., kakak kamu ini akan segera menemuimu
...., tunggu kejutan dariku ...”
BERSAMBUNG
jangan lupa kasih upah sama author dengan memberikan like dan komentarnya ya
trus kasih bintang lima
lagi kasih votenya yang banyak ya
__ADS_1
biar authornya tambah semangat**