
POV Agra
"Dicintai seseorang secara mendalam
memberikan kita kekuatan, sementara mencintai seseorang secara mendalam
memberikan kita keberanian" - Lao Tzu
Aku melihat kecemasan di wajah istriku,entah kenapa perasaanku ikut
sakit, rasanya lebih sakit dari pada aku harus di tikam belati
rasanya aku ingin memuluknya
dan bicara “semua akan baik-baik saja” tapi aku sendiri merasa semuanya tidak
baik-baik saja
Kami pun keluar dari kamar setelah terlebih dulu aku bernego pada
ibuku, aku sengaja berbisik kepada ibuku untuk tidak mengajak Ara saat kami
berdiskusi membicarakan hasilnya, untuk ibu menyetujuinya
Kami punberjalan menuju ke
ruang kerja ibuku yang jaraknya cukup jauh dari kamar kami, sehingga
kemungkinan Ara mendengarkan diskusi kami kecil kalau tidak dia sengaja
menguping
Setelah sampai di ruang kerja ibu, kami duduk di sofa depan meja
kerja ibu
“bagaimana dokter , apa hasilnya?” ibuku bertanya antusias, aku
sungguh tak bisa membantah ibu itulah yang aku takutkan, walaupun aku sudah tahu
jawaban apa yang akan di ucapkan oleh dokter, ibuku adalah segalanya walaupun
aku tak pernah mengatakannya, dan istriku adalah hidupku
Yang sungguh aku cemaskan, setelah ini apa yang akan ibu perbuat
dengan pernikahan kami, rasanya sulit jika memikirkan hal itu
“hasilnya NEGATIF nyonya,
nona Ara tidak sedang hamil” seketika wajah ibu menunjukkan ketegangan tapi
cukup sulit untuk ku artikan, wajah yang akhir-akhir ini sudah jarang aku temui
kini muncul lagi
“terimakasih dok atas penjelasannya, dokter boleh pergi” ibu
mempersilahkan dokter itu untuk meninggalkan ruangan
“baik nyonya, saya permisi” dokter Louis pun keluar di antar oleh
paman Salman
Setelah dokter Louis keluar, terjadi keheningan di dalam ruangan
itu untuk beberapa saat, semua sedang asik dengan pikirannya masing-masing
“Viona tolong keluar dari sini, ada yang ingin aku bicarakan pada
putra ku” ibu memecah keheningan kami, walau aku tahu jika Viona begitu
penasaran dengan pembicaraan kami, dia pun tak mau ambil resiko dengan
menentang ibu
“tapi ...., baik nyonya” awallnya menolak tapi saat menatap wajah
ibuku akhirnya ia meninggalkan ruangan
Sekarang tinggal tersisa kami berdua di dalam ruangan ini, hawa
panas dan mencekam di dalam ruangan, keheningan kembali hadir, baik aku atau
ibu tidak ada yang ingin memulai duluan, tapi dari tatapan ibu padaku aku tahu
tatapan itu meminta penjelasan.
Aku duduk tegap berhadapan dengan ibuku, ku lipat kakiku di atas
kaki yang satunya, aku menunjukkan wajah tegas begitupun dengan ibu
“kau mengetahuinya?” suara ibu keluar, seakan sudah tak sabar
mendengar penjelasan dariku
“iya” itu yang bisa aku katakan
“sejak kapan?” walaupun dalam mode senyap tapi ibu masih terlihat
elegan
“sejak terjadi kesalah fahaman itu”
“salah faham?”
“ibu yang membuat kesalah fahaman itu, kami tidak pernah melakukan
__ADS_1
apa-apa, saat itu Ara sedang sakit, tapi ibu malah menyutuh kami menikah tanpa
mau mendengar penjelasan kami”
Setelah penjelasanku panjang lebar, keheningan kembali muncul.
Entah apa yang sedang di pikirkan oleh ibu, setelah lima menit kami saling
diam, akhirnya ibu mulai membuka pembicaraan
“ceraikan dia ....”
Jederrrrrrr
Kata itulah yang paling aku takutkan keluar dari bibir ibuku,
sungguh aku tak bisa mengerti jalan pikiran ibuku
Ibu pun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
“masuk ke ruang kerjaku sekarang”
“.............”
Tok tok tok
Tak berapa lama pintu pun di ketuk
“masuk” saat aku melihat dari balik pintu ada rendi yang masuk ke
dalam ruangan
“selamat pagi nyonya, selamat pagi pak”
“duduklah ...” Rendi pun langsung duduk berhadapan dengan kami
“ibu punya dua pilihan untukmu” aku hanya bisa memanddang ibu
dengan wajah penuh tanda tanya
“yang pertama ceraikan Ara dan kamu akan tetap jadi CEO
vinitygroup, yang kedua kamu boleh tetap bersamanya tapi kamu harus membuktikan
bahwa dia tidak hanya menginginkan hartamu”
“aku memilih yang kedua” jawabku singkat, tapi aku tahu itu
mengejudkan ibu dan Rendi
“pak ..., pikirkan kembali keputusan anda” Rendi berusa mencegahku
untuk mengambil keputusan itu
“keputusanku sudah bulat”
harus bisa membuktikan bahwa ara benar tulus sama kamu”
“baik saya permisi” aku pun bangkit dari dudukku dan meninggalkan
ruang kerja ibuku
***
POV Rendi
Pagi ini perasaanku benar-benar tidak enak, tak biasanya nyonya
menghubungiku pagi-pagi sekali apalagi sekarang weekend
Aku pun segera menuju rumah besar, aku melihat ada dokter Louis keluar
dari rumah besar
“pagi dokter ...”
“pagi pak rendi ....”
“sedang apa dokter ke sini?”
“saya baru memeriksa kandungan menantu rumah ini” benar apa yang
aku khawatirkan, hari ini benar-benar terjadi, aku takut setelah ini akan ada
kesalah pahaman kembali di antara nyonya dan pak Agra
Pasti akan sulit untuk meyakinkan pak Agra supaya bisa percaya
kemabli pada ibunya
“terimakasih dokter, sampai jumpa, hati-hati di jalan ....”
Setelah pertemuanku dengan dokter, aku pun langsung memasuki rumah,
tapi kembali aku kembali di kejutkan dengan seseorang di depanku
“Viona ...” aku hanya bisa berguman, tapi segera ku netralkan
kembali wajahku, aku tak mau terlihat panik di depannya
“pagi nona Viona”
“eh lo Ren, pagi juga”
“apa yang nona lakukan di sini”
“oh ..., aku ..., aku di undang sama tante Ratih"
__ADS_1
"ya sudah saya permisi nona, sepertinya anda tak terlalu di butuhkan lagi di sini"
"tak masalah"
Kepana dia senang sekali? Seperti habis dapat lotre saja
Oh astaga ....!!!!!!!!
Pasti ini ada hubungannya dengan Agra , pasti ini rencana wanita
ular itu, sial ....!!!!! aku kalah satu poin darinya, seharusnya aku sudah
memperhitungkan dari awal
Breerrrrrtttttt breerrrrtttttt
Ponselku berdering menghentikan umpatanku
“..............”
“baik nyonya” aku pun segera menuju ke ruang kerja ibu Agra
Tok tok tok
“masuk” suara tegas itu aku yakini suara nyonya besar
“selamat pagi nyonya, selamat pagi pak” aku melihat hanya ada dua
orang di dalam ruangan iru, mana Ara?
“duduklah ...” aku pun langsung duduk berhadapan dengan mereka, aku
masih belum terlalu faham dengan situasi yang sebenarnya
“ibu punya dua pilihan untukmu” apa yang nyonya maksud, pilihan? Pilihan apa?
“yang pertama ceraikan Ara dan kamu akan tetap jadi CEO
vinitygroup, yang kedua kamu boleh tetap bersamanya tapi kamu harus membuktikan
bahwa dia tidak hanya menginginkan hartamu” hah ... apa apaan ini nyonya, apa
yang nyonya lakukan, benteng besar nan tinggi itu akan kembali tercipta, jika
nyonya melakukan itu, aku harus apa?
“aku memilih yang kedua” walau aku tahu apa yang akan di pilih oleh
Agra, tapi tetap saja keputusan itu membuatku terkejud, selama ini Agra tak pernah
mau mengalah tapi kenapa sekarang demi Ara , Agra mau melepas semuanya
“pak ..., pikirkan kembali keputusan anda” hanya itu yang bisa aku
katakan, karena jika setelah ini akulah pasti yang akan berada di tempat yang
paling tidak menguntungkan
“keputusanku sudah bulat”
“baiklah, berati mulai sekarang sampai enam builan ke depan kamu
harus bisa membuktikan bahwa ara benar tulus sama kamu”
“baik saya permisi”
Setelaah pak Agra keluar dari ruangan , aku sudah tak sabar untuk
menanyakan keputusan nyonya
“nyonya ...”
“aku sudah tahu apa yang kau pikirkan , tapi ini resiko yang harus
aku pilih, aku belum bisa melepaskannya di tengah kejamnya dunia ini, biarkan
dia belajar, dan mencari orang-orang yang benar-benar tulus padanya”
“maafkan saya nyonya karena telah salah faham”
“tugasmu adalah terus awasi Agra dan tolong pegang perusahaan untuk
sementara waktu”
“baik nyonya ...”
“dan jangan lupa, awasi terus Viona, saya sedikit curiga padanya”
“baik nyonya”
***
waw waw .... dari semua komentar mintanya Ara hamil ya
**maaf maaf ya aku mengecewakan kalian, soalnya nih bab udah aku tulis sampek bab 100
nih sudah aku tulis alurnya sampek bab 100 jadi nggak bisa ngrubah donk
jangan timpuk author ya
lari...........!!!!!!!
stop stop....
jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
dan lagi kasih vote juga**
__ADS_1