My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 99


__ADS_3

Akhirnya Ara benar-benar belum berani memberi tahu mengenai kehamilannya


pada suaminya, karena rasa takutnya yang berlebihan


Hari ini Agra tidak pergi kemana-mana , ia sengaja membantu istrinya di ruko apalagi semenjak melihat istrinya tak baik-baik saja,


ia tak mau terlalu memaksa istrinya untuk bicara, tapi ia pasti akan mencari tahu


sendiri apa yang terjadi dengan istrinya cepat atau lambat, Tuhan itu adil menciptakan pasangan bukan sama-sama sempurna tapi menciptakan mereka dengan segala kekurangan dan kelebihannya agar mereka bisa saling melengkapi


Hubungan yang istimewa bukanlah bertemunya dua orang yang sama, tapi bersatunya mereka yang saling berbeda, dan menikmati hidup saling melengkapi.


Mereka sudah benar-benar menetap di ruko itu, meninggalkan


kontrakan lamanya, karena memang sudah habis masa kontraknya


“sayang hari ini acaranya apa?” tanya Ara yang sedang mengeringkan


rambutnya di depan cermin, Agra yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung


mendekap tubuh mungil istrinya dari belakang dengan menyandarkan dagunya di


pundak Ara


“hari ini aku di sama kamu sayang, aku ada janji"


"sama siapa bby?",


" aku ada janji sama Jerry” jelas Agra sambil


sesekali mencium tengkuk Ara


“Jerry....,  si embul ....?”


tanya Ara


“iya sayang ..., dia kayaknya mau ngajak kerja sama, tapi aku nggak


suka kamu dekat-dekat sama dia ya ...” Agra sudah memberikan ultimatumnya dan menampakkan


wajah cemberutnya


“kenapa?”


“dia suka curi-curi pandang sama kamu, aku nggak suka” Agra menghujani tengkuk dan kepala Ara dengan beberapa ciuman


“dasar posesif ...” Ara membalik badannya hingga berhadapan dengan


Agra


“iya dong istri aku cantik” agra sambil mencubit ujung hidung Ara


“augh ...., sakit tahu ...” Ara langsung mengelus hidungnya yang


memerah, dan Agra hanya bisa tersenyum puas


“ya udah ayo kita sarapan...” ajak Agra yang memang pagi ini agra


sengaja menyiapkan sarapan untuk istrinya, Ara akhir-akhir ini sedikit lebih


manja


“kamu kan belum pakek baju ....” Ara menunjuk ke Agra yang masih


memakai handuk


“oh iya ..., kamu tunggu di dapur biar aku pakek baju dulu” Ara


hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan segera keluar dari kamar


menuju ke dapur


Ara sampai di dapur dan mendapati dua piring nasi goreng di atas


meja denga telur ceplok di atasnya, tapi entah kenapa kepala Ara langsung


terasa pusing saat melihat nasi goreng itu, ia merasa perutnya begitu penuh


serasa ingin muntah


“astaga ..., apa yang terjadi ....” Ara pun langsung pergi


meninggalkan meja dapur menuju ke ruang tamu supaya tidak melihat nasi goreng


itu, ia segera menyandarkan tubuhnya di sofa kecil di ruang tamu

__ADS_1


“badanku lemas sekali ...., padahal belum sampek muntah ....” Ara


memegangi keningnya yang terasa berat


“sayang kenapa kamu disini? Ayo kita makan ...” Agra menghampiri


Ara dan berjongkok di depan Ara yang masih memejamkan matanya


“kamu makan dulu ya bby..., aku lagi nggak nafsu makan” Ara mencoba


memberi alasan


“kamu sakit ya ....? pucat sekali wajahmu ...” Agra memperhatikan


wajah istrinya yang masih terpejam dan memegang dahinya


 “kamu nggak deman, tapi


kenapa pucat sekali”


“plissss ..., jangan tanya dulu ... aku bisa nggak tahan ...” batin


Arakarena menahan rasa ingin muntah hingga membuat wajahnya begitu pucat


“aku nggak pa pa ..., cepatlah sama ..., kamu sarapan sendiri ya


...” Ara masih enggan membuka matanya, rasanya sudah sampai tenggorokan


“baiklah tapi janji, nanti sarapan ya ...” Ara hanya bisa


menganggu, Agra pun kembali menuju ke dapur untuk menyantap sarapannya


“aneh sekali ..., kenapa ya Ara ...?” Agra bergumam sambil makan


Brerrtt brerrrttt brerrrrtttt


Saat makanannya belum benar-benar habis, tiba-tiba ponsel yang


berada di sebelah piring Agra berdering


“ponsel Ara” Agra hendak menyerahkan ponselnya pada istrinya tapi


langkahnya terhenti saat melihat nama yang tertera di dalam panggilan


“Rendi ..., kenapa dia menghubungi istriku?” niatnya untuk


warna hijau


“selamat pagi nona Ara” Agra tak berniat menyahuti ucapan Rendi ,


ia ingi mendengar apa yang sebenarnya sedang di rahasiakan istrinya dan Rendi


hingga istrinya tak memberitahunya


 “bagaimana keadaan anda, apa


anda mengalami hal yang aneh, menurut penuturan dokter itu hal yang wajar,


besok jadwal anda periksa”


“periksa apa? Dokter apa?” ucapan Agra segera membuat diam orang di


seberang sana, sepertinya Rendi sudah mengumpat dengan kecerobohannya sendiri


“kamu bisa langsung tanya sendiri pada istrimu”


“jika dia mau cerita, aku tak mungkin bertanya padamu” jawab Agra


kesal


“seharusnya kamu lebih peka dengan istri kamu”


“atau jangan-jangan kamu dan Ara ...”


“maaf Gra ..., gue Cuma nanyain kabar istri lo, jangan mikir


macam-macam ....”


“kenapa lo harus mencemaskan istri gue, ada gue yang selalu jagain


dia”


“karena dia istri lo, istri saudara gue”


“dia nggak butuh perhatian lo, berhenti hubungin istri gue, kalau

__ADS_1


ada apa-apa langsung bicara sama gue” Agra segera mematikan sambungan telpon


saat Ara benjalan menghampirinya


“sayang, telpon dari siapa?”


“hanya salah sambung, nggak penting” Agra berusaha menutupi dan


meletakkan ponsel Ara kembali ke atas meja


“itukan ponselku bby ...?” Ara berusaha menyelidik


“ia tadi ada di meja dapur, jadi aku ambilin, nih ..., lain kali


jangan terima telpon dari orang lain selain suami kamu”


“maksudnya?” ara bingung kenapa Agra tiba-tiba bicara seperti itu


“berjanjilah , hanya aku tempatmu bersandar ..., aku tak mau kamu


bersandar pada orang lain” rasa cemburu Agra menutupi segalanya


“iya ...”


“ya udah ayo turun ..., Jerry pasti sudah menunggu”


***


Setelah turun ke lantai bawah,  Ara melihat di seberang jalan ada penjual bubur ayam yang sedang


menjajakan dagangannya di bawah pohon besar di sudut taman, entah kenapa aroma


bubur ayam itu seolah sudah sangat menusuk hidung ingin segera menyantapnya


walaupun hanya melihatnya


“bby...” ara menarik tangan Agra agar menghentikan langkahnya


yang sedang menuju ke dapur kafe


“iya ..., kenapa sayang?”


“aku pengen makan bubur ayam itu ...” ara menunjuk gerobak bubur


ayam di pinggir jalan yang baru saja buka


“tumben ..., biasanya kamu nggak suka sama bubur ayam”


“nggak tahu ..., hari ini aku ingin sekali makan bubur ayam”


“ya udah kamu tunggu di sini ya, biar aku belikan”


“ya ....” agra pun keluar dari ruko dan menyeberang jalan


menghampiri penjual bubur ayam, sambil menunggu agra kembali, ara mencari


panggilan masuk


“pak Rendi? Jadi tadi yang telpon pak Rendi” ara pun kemudian


mengetikkan beberapa pesan pada Rendi


Ara : “ada apa pak Rendi nelpon?”


Rendi : “apa nona Ara ada waktu?”


Ara : “maaf hari ini tidak bisa, ada apa?”


Rendi : “besok waktu anda pemeriksaan,  nyonya juga meminta bertemu”


Ara : “ibu?”


Rendi : “ya nona, jika sudah ada waktu silahkan anda menghubungi


saya nona”


Ara tak membalas lagi pesan itu karena tampak Agra sudah kembali


menyeberang jalan, hendak menghampirinya, Ara segera menghapus pesan dari Rendi


karena tak mau membuat Agra cemburu


BERSAMBUNG


jangan lupa bayar aku dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya

__ADS_1


kasih vote juga ya


__ADS_2