
Akhirnya Ara benar-benar belum berani memberi tahu mengenai kehamilannya
pada suaminya, karena rasa takutnya yang berlebihan
Hari ini Agra tidak pergi kemana-mana , ia sengaja membantu istrinya di ruko apalagi semenjak melihat istrinya tak baik-baik saja,
ia tak mau terlalu memaksa istrinya untuk bicara, tapi ia pasti akan mencari tahu
sendiri apa yang terjadi dengan istrinya cepat atau lambat, Tuhan itu adil menciptakan pasangan bukan sama-sama sempurna tapi menciptakan mereka dengan segala kekurangan dan kelebihannya agar mereka bisa saling melengkapi
Hubungan yang istimewa bukanlah bertemunya dua orang yang sama, tapi bersatunya mereka yang saling berbeda, dan menikmati hidup saling melengkapi.
Mereka sudah benar-benar menetap di ruko itu, meninggalkan
kontrakan lamanya, karena memang sudah habis masa kontraknya
“sayang hari ini acaranya apa?” tanya Ara yang sedang mengeringkan
rambutnya di depan cermin, Agra yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung
mendekap tubuh mungil istrinya dari belakang dengan menyandarkan dagunya di
pundak Ara
“hari ini aku di sama kamu sayang, aku ada janji"
"sama siapa bby?",
" aku ada janji sama Jerry” jelas Agra sambil
sesekali mencium tengkuk Ara
“Jerry...., si embul ....?”
tanya Ara
“iya sayang ..., dia kayaknya mau ngajak kerja sama, tapi aku nggak
suka kamu dekat-dekat sama dia ya ...” Agra sudah memberikan ultimatumnya dan menampakkan
wajah cemberutnya
“kenapa?”
“dia suka curi-curi pandang sama kamu, aku nggak suka” Agra menghujani tengkuk dan kepala Ara dengan beberapa ciuman
“dasar posesif ...” Ara membalik badannya hingga berhadapan dengan
Agra
“iya dong istri aku cantik” agra sambil mencubit ujung hidung Ara
“augh ...., sakit tahu ...” Ara langsung mengelus hidungnya yang
memerah, dan Agra hanya bisa tersenyum puas
“ya udah ayo kita sarapan...” ajak Agra yang memang pagi ini agra
sengaja menyiapkan sarapan untuk istrinya, Ara akhir-akhir ini sedikit lebih
manja
“kamu kan belum pakek baju ....” Ara menunjuk ke Agra yang masih
memakai handuk
“oh iya ..., kamu tunggu di dapur biar aku pakek baju dulu” Ara
hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan segera keluar dari kamar
menuju ke dapur
Ara sampai di dapur dan mendapati dua piring nasi goreng di atas
meja denga telur ceplok di atasnya, tapi entah kenapa kepala Ara langsung
terasa pusing saat melihat nasi goreng itu, ia merasa perutnya begitu penuh
serasa ingin muntah
“astaga ..., apa yang terjadi ....” Ara pun langsung pergi
meninggalkan meja dapur menuju ke ruang tamu supaya tidak melihat nasi goreng
itu, ia segera menyandarkan tubuhnya di sofa kecil di ruang tamu
__ADS_1
“badanku lemas sekali ...., padahal belum sampek muntah ....” Ara
memegangi keningnya yang terasa berat
“sayang kenapa kamu disini? Ayo kita makan ...” Agra menghampiri
Ara dan berjongkok di depan Ara yang masih memejamkan matanya
“kamu makan dulu ya bby..., aku lagi nggak nafsu makan” Ara mencoba
memberi alasan
“kamu sakit ya ....? pucat sekali wajahmu ...” Agra memperhatikan
wajah istrinya yang masih terpejam dan memegang dahinya
“kamu nggak deman, tapi
kenapa pucat sekali”
“plissss ..., jangan tanya dulu ... aku bisa nggak tahan ...” batin
Arakarena menahan rasa ingin muntah hingga membuat wajahnya begitu pucat
“aku nggak pa pa ..., cepatlah sama ..., kamu sarapan sendiri ya
...” Ara masih enggan membuka matanya, rasanya sudah sampai tenggorokan
“baiklah tapi janji, nanti sarapan ya ...” Ara hanya bisa
menganggu, Agra pun kembali menuju ke dapur untuk menyantap sarapannya
“aneh sekali ..., kenapa ya Ara ...?” Agra bergumam sambil makan
Brerrtt brerrrttt brerrrrtttt
Saat makanannya belum benar-benar habis, tiba-tiba ponsel yang
berada di sebelah piring Agra berdering
“ponsel Ara” Agra hendak menyerahkan ponselnya pada istrinya tapi
langkahnya terhenti saat melihat nama yang tertera di dalam panggilan
“Rendi ..., kenapa dia menghubungi istriku?” niatnya untuk
warna hijau
“selamat pagi nona Ara” Agra tak berniat menyahuti ucapan Rendi ,
ia ingi mendengar apa yang sebenarnya sedang di rahasiakan istrinya dan Rendi
hingga istrinya tak memberitahunya
“bagaimana keadaan anda, apa
anda mengalami hal yang aneh, menurut penuturan dokter itu hal yang wajar,
besok jadwal anda periksa”
“periksa apa? Dokter apa?” ucapan Agra segera membuat diam orang di
seberang sana, sepertinya Rendi sudah mengumpat dengan kecerobohannya sendiri
“kamu bisa langsung tanya sendiri pada istrimu”
“jika dia mau cerita, aku tak mungkin bertanya padamu” jawab Agra
kesal
“seharusnya kamu lebih peka dengan istri kamu”
“atau jangan-jangan kamu dan Ara ...”
“maaf Gra ..., gue Cuma nanyain kabar istri lo, jangan mikir
macam-macam ....”
“kenapa lo harus mencemaskan istri gue, ada gue yang selalu jagain
dia”
“karena dia istri lo, istri saudara gue”
“dia nggak butuh perhatian lo, berhenti hubungin istri gue, kalau
__ADS_1
ada apa-apa langsung bicara sama gue” Agra segera mematikan sambungan telpon
saat Ara benjalan menghampirinya
“sayang, telpon dari siapa?”
“hanya salah sambung, nggak penting” Agra berusaha menutupi dan
meletakkan ponsel Ara kembali ke atas meja
“itukan ponselku bby ...?” Ara berusaha menyelidik
“ia tadi ada di meja dapur, jadi aku ambilin, nih ..., lain kali
jangan terima telpon dari orang lain selain suami kamu”
“maksudnya?” ara bingung kenapa Agra tiba-tiba bicara seperti itu
“berjanjilah , hanya aku tempatmu bersandar ..., aku tak mau kamu
bersandar pada orang lain” rasa cemburu Agra menutupi segalanya
“iya ...”
“ya udah ayo turun ..., Jerry pasti sudah menunggu”
***
Setelah turun ke lantai bawah, Ara melihat di seberang jalan ada penjual bubur ayam yang sedang
menjajakan dagangannya di bawah pohon besar di sudut taman, entah kenapa aroma
bubur ayam itu seolah sudah sangat menusuk hidung ingin segera menyantapnya
walaupun hanya melihatnya
“bby...” ara menarik tangan Agra agar menghentikan langkahnya
yang sedang menuju ke dapur kafe
“iya ..., kenapa sayang?”
“aku pengen makan bubur ayam itu ...” ara menunjuk gerobak bubur
ayam di pinggir jalan yang baru saja buka
“tumben ..., biasanya kamu nggak suka sama bubur ayam”
“nggak tahu ..., hari ini aku ingin sekali makan bubur ayam”
“ya udah kamu tunggu di sini ya, biar aku belikan”
“ya ....” agra pun keluar dari ruko dan menyeberang jalan
menghampiri penjual bubur ayam, sambil menunggu agra kembali, ara mencari
panggilan masuk
“pak Rendi? Jadi tadi yang telpon pak Rendi” ara pun kemudian
mengetikkan beberapa pesan pada Rendi
Ara : “ada apa pak Rendi nelpon?”
Rendi : “apa nona Ara ada waktu?”
Ara : “maaf hari ini tidak bisa, ada apa?”
Rendi : “besok waktu anda pemeriksaan, nyonya juga meminta bertemu”
Ara : “ibu?”
Rendi : “ya nona, jika sudah ada waktu silahkan anda menghubungi
saya nona”
Ara tak membalas lagi pesan itu karena tampak Agra sudah kembali
menyeberang jalan, hendak menghampirinya, Ara segera menghapus pesan dari Rendi
karena tak mau membuat Agra cemburu
BERSAMBUNG
jangan lupa bayar aku dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
__ADS_1
kasih vote juga ya