My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 115


__ADS_3

Di kafe


sejak keberangkatan Agra ke kantor ibunya, sejak saat itu juga, Ara


terus merasa gelisah. Wanita itu berjalan mondar-mandir di depan kafe. sesekali terdengar nafas yang di keluarkannya begitu berat, berharap bisa mengurangi perasaan cemasnya. entah kenapa dia merasa hari ini begitu mencekam.


“aku benar-benar cemas” bibir Ara yang sedari tadi pucat berucap


dengan gemetar, suaranya nyaris tak terdengar.


Merasa tidak tenang dan semakin gelisah . Ara memutuskan untuk


kembali masuk ke dalam dan mencari-cari adik perempuannya.


“apa aku jalan-jalan sebentar ya ....” Ara pun tak mau berdiam diri di dalam


rumah, ia memutuskan untuk menghirup udara segar,


Ara menarik nafas dan menghembuskannya. Ia begitu ragu untuk


meminta ijin pada adiknya.dengan ragu ia mendekati adiknya. Ia tahu adiknya


sudah di beri tanggung jawab oleh Agra untuk terus mengawasinya selama Agra


pergi.


“dek ..., aku jalan-jalan dulu ya ...” Ara berpamitan pada Nadin


yang memang sudah standby di kafe.


“nggak boleh ...” jawab Nadin tegas.


“sebentar aja dek ...”


“pokoknya nggak boleh, ya nggak boleh ..., jangan ngeyel kak ...,


ntar aku di marahi sama kak Agra.”


“nggak akan dek ...., aku Cuma ke taman depan aja, boleh ya ...,


aku bosan dek, aku cemas ...” melihat kakak perempuannya memelas, membuat Nadin


menjadi tidak tega.


“ya udahkalau gitu biar aku temenin ya ...”


“nggak usah lah dek ..., aku Cuma sebentar nggak sampek satu jam, aku


akan ke taman depan saja ...”


“kalau nggak mau di temenin, ya udah nggak usah keluar ...” jawab


Nadin sambil melipat kedua tangannya di atas perut. Pertanda ucapannya tak bisa


di rubah.


“baiklah ..., ayo ...” Akhirnya Ara menyerah juga. lagian juga lebih baik dari pada tidak ada temannya. ia akan mempunyai teman mengobrol.


Ara yang di temani Nadin pun pun berjalan kaki menuju ke taman


depan, mereka berjalan kaki sepanjang 100 meter mengitari taman,  mereka menyusuri jalan sekitar taman yang


kebetulan begitu sepi, kerena masih jam 9 belum waktunya orang-orang bersantai,


matahari sedikit menyengat, Ara sesekali menyeka keringatnya yang mengalir di


dahinya.


“kakak capek ya ..., kita duduk dulu ya ...” Nadin merasa tidak tega melihat Ara yang sepertinya sudah kelelahan, dia pun mengajak kakak


perempuannya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di pinggir taman.


“iya dek ..., kakak haus banget ..., kita cari minum aja dek ...”


Ara menolak untuk duduk. Ara mengedarkan pandangannya tapi takenemukan satupun pedagang kaki lima kalau ada pun belum membuka lapaknya.


“ya udah deh ..., kakak di sini aja, biar akau yang cari minum.”


"dimana?" Nadin terlihat mencari-cari, kemudian matanya tertuju pada mini market yang berada di seberang jalan.


"itu ada mini market ...." tunjuk Nadin.


“baiklah ... tapi jangan lama-lama!”


"ok ...., siap bos ..."


Nadin pun meninggalkan Ara, ia menuju ke mini market yang tak


terlalu jauh dari tempatnya, tapi harus menyeberang jalan.

__ADS_1


Ara pun memutuskan untuk duduk sambil menunggu adik perempuannya


kembali, tapi belum sempurna duduk, ia di kejutkan oleh sebuah mobil berwarna


hitam berhenti tepat di depannya, hingga seorang pria keluar dari mobil itu.


“nona Ara ...” seulas senyum misterius menyambutnya


“iya ...?” Ara begitu terkesiap saat pria asing di depannya


mengenal namanya


“saya kemari untuk menjemput nona ...” orang itu mengulum kembali


senyumannya


“saya ...?”


“saya di perintah suami anda nona ...”


“tapi biasanya dengan pak Mun ...”


"pak Mun?"


"iya ..., pak Munir..., sopir pribadi suami saya ..."


“oh .....pak Mun, pak Mun sedang ada pekerjaan lain nona, jadi suami anda menyuruh


saya yang menjemput anda nona” tutur orang itu. Ara semakin di buat bingung dan


merasa aneh. Ia tidak merasa membicarakan bahwa ia harus datang ke kantor,


karena Agra sudah bilang ia akan segera pulang.


Tapi belum sempat ia dengan pikirannya sudah di bekap oleh


seseorang, hingga membuat kesadarannya menghilang.


***


Di kantor


Agra tampak masih termenung di tempat kerjanya setelah


menandatangani beberapa berkas, ia berharap keputusan ini yang paling tepat. semoga ia tidak mengorbankan hal yang berharga untuk ini. Rasanya sulit menerima semua ini, di hati kecilnya tetap, ia ingin membangun usahanya sendiri agar bisa sejajar dengan finityGroup.


Suara dering ponsel tiba-tiba memecahkan keheningan yang ada di


laki-laki itu mengambil ponsel yang terselip di saku celananya. Terlihat satu


panggilan masuk dari Nadin yang tertera di layar ponselnya.


“ada apa?” tanya Agra dengan sedikit lemah karena perasaan yang


belum benar-benar bisa beralih dari kejadian tadi , emosinya belum menyusut


sepenuhnya saat ia meletakkan ponselnya itu mendekat ke daun telinga.


“kak ..., kau sekarang dimana?”


“kenapa?”


“apa kak Ara di sana?”


‘maksudnya ...?”


“kak Ara menghilang ...” Suara Nadin terdengar panik.


“maksudnya ...?”


“tadi kami ke taman bersama, saat aku tinggal sebentar membeli


minum, saat aku kembali kak Ara sudah tidak ada.”


“kau sudah mencari ke seluruh taman, atau ke semua penjual di


pinggir jalan? atau ke kafe?”


“sudah, tetapi tidak ada. Aku mencoba menghubungi nomor kakak,


tetapi juga tidak aktif. Tadi ada yang melihat kak Ara di jemput dengan mobil


warna hitam, aku pikir itu kakak, makanya aku menghubungi kakak”


“sial ..., Tunggu, aku akan pulang sekarang ...”


Agra pun mengakhiri panggilannya. Ponsel yang masih ia genggam, ia


kembalikan ke dalam saku. Ia segera keluar dari dalam ruangan dengan

__ADS_1


terburu-buru, entah apa dan siapa yang sedang ia pikirkan. Saat merada di depan


ruangannya, ia berpapasan dengan Rendi.


 “mau kemana ?”tanya Rendi


yang kebetulan hendak menuju ke ruangan Agra. Rendi menyadari wajah panik bosnya.


“dimana pria itu?” Agra malah balik bertanya dengan mata yang


begitu tajam dan berapi-api.


“siapa yang kamu maksud?” Rendi berusaha mengorek informasi dengan mengajukan pertanyaan.


“Divta” ucap Agra dengan sedikit berteriak.


“dia masih di ruang rapat.” Tanpa memberi penjelasan pada Rendi,


Agra langsung saja meninggalkannya. tapi bukan Rendi namanya jika tidak bisa mencari tahu apa yang terjadi.


***


Di dalam ruangan itu, Divta masih saja termenung meratapi semua


kejadian, keadaannya hampir sama dengan keadaan Agra barusan, keadaannya lebih


kacau.


Tiba-tiba pintu kembali di buka secara kasar, dan menampakkan Agra


yang berdiri di sana


“ada apa lagi ke sini ...?” tanya Divta yang  tampak masih frustasi, setiap kali melihat Agra,


ia seakan kembali mengingat kejahatan yang di lakukan oleh mamanya pada ayah


kandungnya. Kata-kata Agra begitu terngiang di telinganya.


Agra pun melangkah dengan langkah kaki yang begitu lebar. Ia segera


menarik kerah pria yang terlihat lemas di pojok ruangan. Dengan kasar ia


menarik tubuh kakaknya hingga terjebak antara dinding dan tubuhnya.


“apa yang lo lakuin sama Ara ...” ucap Agra dengan suara yang


sedikit bergetar dengan gurat kemarahan, tangan yang menunjukkan semua


otot-ototnya dengan wajah yang sudah memerah padam.


“maksud kamu ...?” Divta malah terlihat bingung dan khawatir, ia mencoba


melepaskan genggaman tangan Agra di kerah bajunya. Tapi tetap saja tenaganya


tidak lebih kuat dari tenaga Agra.


“jangan pura-pura tidak tahu ...” Agra masih tak percaya.


“aku benar-benar tidak tahu ...”


“Ara hilang .....” Agra kembali berteriak, ia mengguncang tubuh


Divta hingga tubuh abangnya itu kembali terguncang berpindah dari posisinya. Ia


melampiaskan rasa kesalnya terhadap Divta


“dan aku yakin Aruni ada di balik semua ini ...”


“mama ku ...?” Divta terkesiap. Tatapan mata agra begitu tegas,


kini menghakiminya atas kesalahan ibunya.


“iya siapa lagi ....?” suara Agra tampak melemah, ia melepaskan


pegangannya di kerah baju Divta,


“mama..., aku tidak akan biarkan mama menyakiti orang yang aku


sayang sekali lagi ..., tidak akan ...” batin Divta. Rasa takut begitu menyelimuti pikirannya. entah kenapa ia begitu takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Ara. Hatinya sakit saat memikirkan hal itu.


“aku akan membantumu ...”


Agra seakan tak memperdulikan lagi kata-kata Divta, ia melihat


kejujuran di mata abangnya itu bahwa ia tidak tahu menahu tentang penculikan


Ara.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘😘😘😘


__ADS_2