
Tidak berapa lama, saat bel berbunyi. Riska masuk
bersama anak-anak lainnya. Ia duduk di bangkunya, tangannya langsung menyentuh
sebuah kertas di atas meja.
Riska maaf ya …, beneran kemarin aku nggak sengaja ke kantin sama Abimanyu, maafin
aku ya ….
Tepat seperti yang di duga Sanaya, Riska menoleh
padanya dengan wajah datar dan kembali menatap ke depan karena guru sudah berdiri di depan kelas.
Suara gaduh tadi kini sudah berubah menjadi keheningan.
“Selamat pagi anak-anak!” sapa guru itu dan duduk di
bangkunya.
“selamat pagi pak!” jawab teman-teman sekelas sanaya
Serentak. Guru matematika sudah memakai kaca mata tebalnya, sudah di pastikan
semua siswa harus memulai mengumpulkan
tugas rumahnya.
Sanaya terlihat mencari-cari buku yang sudah seperti
emas dia jaga sepanjang malam, tapi saat di perlukan buku itu malah menghilang dari laci mejanya. Seingatnya tadi sebelum ke kelas Aditya, buku tugas itu ia letakkan di dalam laci
mejanya, tapi sekarang buku itu tidak ada.
“Sanaya!”
Sepertinya pak guru tahu jika Sanaya tidak bisa mengumpulkan bukunya. Saat teman-temannya bergantian baju untuk mengumpulkan
buku, Sanaya masih duduk di bangkunya.
“Tidak mengerjakan tugas?” tanya pak guru lagi saat
Sanaya tidak memberi jawaban.
“Tidak pak, tadi saya sudah mengerjakan tapi bukunya
tiba-tiba hilang!”
“memang buku punya kaki, trus jalan-jalan! Alasan klise
…, keluar! Tidak usah ikut pelajaran saya!”
“baik pak!”
Sanaya dengan wajah kesal sekaligus sedihnya segera
berdiri, tapi belum juga ia meninggalkan bangkunya tiba-tiba pintu kelas di
ketuk.
Tok tok tok
Seorang anak laki-laki dengan penampilan rapinya
berdiri di depan kelas Sanaya.
“Permisi pak!”
“Masuklah!”
Anak laki-laki itu membawa sebuah buku di tangannya.
Ia berjalan mendekati pak Guru.
“Ada apa abimanyu?”
“Saya menemukan buku ini di depan kelas, namanya
Sanaya. Karena saya merasa jika Sanaya anak kelas ini pak!”
Itu bukan buku ku Abi …., Sanaya jelas masih ingat jika bukunya
memiliki sampul berwarna pink dan itu sampulnya coklat.
“Iya benar, terimakasih ya!”
“Sama-sama pak, saya permisi!”
__ADS_1
Pak Guru memeriksa buku itu dan ternyata ada tugas-tugas Sanaya di dalamnya.
“Tetap di kelas, ini buku tugasmu!”
“Iya pak!”
Sanaya masih terus memikirkan buku itu sepanjang
pelajaran. Dan bahkan nilainya paling tinggi di kelas hari ini, setelah buku itu di bagikan ia baru yakin kalau tulisan yang ada di dalam buku itu adalah
tulisan Abimanyu.
Setelah bel istirahat berbunyi, Sanaya tidak sabar
ingin menemui Abimanyu. Ia melupakan sejenak masalahnya dengan Riska. Ia harus
tahu maksud Abimanyu apa.
Ia berjalan cepat menuju ke kelas Abimanyu, baru juga sampai di tengah jalan ia sudah bisa melihat anak laki-laki itu sedang
duduk di bangku taman sekolah dengan buku di tangannya.
Sanaya menghampiri Abimanyu dengan cepat dan merebut
buku yang menutupi wajah anak laki-laki itu, membuat Abimanyu mendengus karena
ulah sananya.
“Ada apa?”
“Bagaimana kamu tahu kalau buku ku hilang, dan buku
tadi, bagaimana kamu bisa punya salinannya, dan jawabannya juga lebih baik dari
yang aku kerjakan kemarin!”
“Duduklah!”
Heehhhhhh
Sanaya menghela nafas kesal lalu duduk di samping
Abimanyu membuat Abi menggeser duduknya.
“Minumlah!”
sekolah.
“Aku bukan mau minum, Bi!”
Abimanyu pun memiringkan duduknya empat puluh lima
derajat menghadap Sanaya.
“Aku tahu semua ini pasti terjadi, kamu itu ceroboh!
Pasti kamu meninggalkannya di rumah!”
“Isssttttt …, mana ada seperti itu, kamu melihatnyansendiri kan tadi pagi aku tidak memasukkannya ke dalam tas. Aku memegangnya
kemanapun aku pergi agar tidak ketinggalan!”
Setelah di ingat-ingat, memang benar apa yang di katakana
Sanaya. Ia bahkan terus tersenyum melihat bagaimana Sanaya tidak melepaskan
bukunya. Lalu …
“Apa yang terjadi?”
“Apanya?”
“Di mana kamu meninggalkannya?”
“Tadi pagi aku meletakkannya di laci lalu aku tinggal
sebentar ke kelas sebelah tapi saat aku kembali bukunya sudah nggak ada!”
Sanaya terlihat begitu antusias bercerita. Ia yakin
kalau dirinya memang tidak lupa, dan berusaha meyakinkan Abimanyu untuk
mempercayai ceritanya.
Berarti memang ada yang sengaja mengerjai Sanaya …., batin Abimanyu. Ia memilih untuk berdiri dan menarik tangan Sanaya.
“Eh eh eh …, mau ke mana?”
__ADS_1
“Kita ke kantin saja, aku lapar!”
Sanaya masih menoleh ke belakang, Abimanyu
meninggalkan bukunya begitu saja, “Tapi buku mu?”
“Biarkan saja di situ!”
Mereka berjalan menuju ke kantin, kayaknya semalam
masa hukuman Sanaya, Abimanyu lah yang akan mentraktir Sanaya.
Di tempat lain, Sagara memilih untuk ke perpustakaan. Ia memang harus mencari materi tambahan untuk tugasnya nanti
sore. Di jam pelajaran tambahannya di rumah, ia juga harus mengerjakan banyak
soal.
Di rumahnya memang sudah cukup banyak buku, tapi
saat ia masih ada waktu senggang di sekolah. Ia bisa menghafalkan beberapa
materi darri buku yang ada di perpustakaan.
Sagara menyusuri rak buku, ia memilih buku yang
tepat untuknya. Hingga akhirnya setumpuk buku sudah berada di tangannya. Ia mencari
meja yang masih senggang. Ada satu meja yang sedikit besar dan tanpa
penghuninya.
Sagara berjalan cepat menuju ke tempat itu, tapi baru saja akan duduk. Seseorang dari arah lain tiba-tiba duduk di depannya.
“kamu?”
“Aku yang duluan!” ucap gadis itu dengan buku yang tidak kalah banyak di tangannya.
“Nona Ariel yang terhormat, tapi saya sudah melihat meja ini dari tadi!”
“Yang hanya melihat akan kalah sama yang menempati!”
“Dasar keras kepala!”
“Ya sudah lah, aku bukan orang yang serakah! Duduk saja
di situ dan aku duduk di sini!”
Walaupun keberatan, Sagara akhirnya duduk juga. Ia tidak
punya pilihan lain karena semua bangku sudah ada penghuninya.
“Kenapa hari ini banyak sekali yang suka bermain di
perpustakaan sih!” gumam Sagara sambil memulai membuka bukunya.
“Memang cuma kamu apa yang boleh ke perpustakaan.” Jawab
Ariel kesal.
“Saya tidak bicara dengan anda, jadi diam saja!”
“bagaimana aku bisa tenang kalau kamu terus bicara,
menyebalkan!”
Tiba-tiba Sagara berdiri dan menundukkan tubuhnya,
mencoba menggapai kelapa Ariel, ia memakaikan headphone nya ke kepala Ariel. Membuat
Ariel mendongakkan kepalanya terkejut, ia bahkan tertegun di buatnya karena wajah Sagara yang begitu dekat dengan wajahnya.
Saat Ariel masih terpaku, Sagara sudah kembali beralih di tempatnya dan memilih beberapa lagu yang tepat untuk Ariel dari ponselnya.
“Begitu lebih bagus kan?”
Hal itu membuat Ariel sadar, ia sudah mengagumiwajah pria di depannya itu. Ternyata setelah di lihat dari dekat, anak
laki-laki di depannya itu begitu tampan.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰