
"Pa ...., memang cuma kita yang makan malam?" tanya Sanaya saat sadar jika di ruangan itu hanya ada mereka dan tidak orang lain, bahkan Sagara juga belum datang.
"Sabar sayang, nanti kamu juga tahu siapa orang yang mengajak kita makan malam!"
Benar saja tidak berapa lama, Sagara datang dari pintu masuk dan menghampiri mereka.
"Selamat malam, maaf saya terlambat!" ucap Sagara yang terlihat baru saja berlari. Jangan sampai dia terlambat, oma dan papa nya pasti tidak akan suka.
"Duduklah ...!"
"Terimakasih oma!"
Sagara pun segera menggeser bangku yang ada di samping Sanaya dan duduk di sana. Lalu matanya mengamati sekeliling, belum ada siapapun selain keluarga mereka.
Katanya malam ini makan malam dengan keluarga sahabat oma ...., mana?
"Hutss!" panggil Sagara pada saudari kembarnya itu.
Sanaya pun menoleh dan menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, "Apa?"
"Jadi aku nggak telat?" bisiknya
Sanaya hanya menggelengkan kepalanya membuat Sagara menghela nafas. Ia menyesal karena telah terburu-buru.
Srekkkk
Sanaya menggeser gelas minumnya yang sudah di minumnya hingga tersisa setengahnya.
"Minumlah!"
Tanpa pikir panjang Gara segera meneguknya, ia memang benar-benar haus karena sudah berlari.
"Haus banget kayaknya!"
"Memang!"
Kemudian kedatangan dua orang seusia nyonya Ratih membuat percakapan mereka terhenti.
Wow ...., bule ....! batin Sanaya. Pria tua itu terlihat seperti blasteran sedang kan yang wanita lebih terlihat seperti wanita jawa dengan warna kulit yang khas sawo matang, terlihat begitu manis.
"Selamat malam jeng Ratih!" sapa wanita tua itu.
"Selamat malam jeng Rika, tuan Rusdi! Selamat duduk!"
Setelah berbasa-basi, mereka pun duduk. Papa Agra dan mom Ara sudah beberapa kali bertemu dengan mereka saat di Jogja.
"Ini ya putra dan putri kalian? Mereka benar-benar cantik dan tampan!"
"Terimakasih oma!" Sanaya memang paling tidak bisa kalau di puji. Sedangkan Sagara seperti biasa, selalu bersikap sok cool.
"Di mana putra dan menantunya jeng?" tanya oma Ratih.
"Oh iya, sebentar lagi mereka akan sampai, katanya tadi mampir dulu ke suatu tempat!"
Selama nyonya Ratih dan nyonya Rika mengobrol, ternyata papa Agra dan tuan Rusdi juga asik berbincang-bincang, kadang mereka juga sesekali mengajak Gara berbicara.
Hanya tinggal Mom Ara dan Sanaya yang diam. Menunggu tamu berikutnya.
__ADS_1
"Selamat malam! Maaf kami terlambat!"
Sapa seseorang, kali ini berhasil membuat Sanaya terlonjak, ia sampai berdiri dari duduknya.
"Bunda Diah!"
"Adit!"
Karena gumaman Sanaya itu membuat Sagara ikut menoleh kepada orang-orang yang baru datang itu.
Ia juga tidak kalah terkejutnya.
Ini maksudnya apa ....
Aditya datang bersama kedua orang tuanya. Papa Adrian tidak kalah tampan dengan Aditya.
Dan Aditya, dia begitu berbeda. Dia memakai setelan jas dan kemeja, begitu rapi.
"Selamat malam semuanya!"
Nyonya Ratih menatap ke arah Aditya.
"Jadi dia cucu Jeng, dia tampan juag seperti papanya!"
"Terimakasih oma!"
Sagara hanya terus menatap Aditya, tapi sesekali juga menatap adiknya itu. Ia ingin tahu apa adiknya itu juga tahu sesuatu.
"Karena sudah lengkap, bagaimana kalau kita mulai makan malamnya? Nanti setelah makan malam baru kita lanjutkan ngobrolnya!" saran nyonya Ratih.
"Itu ide bagus Jeng!"
Sesekali terlihat Aditya mencuri pandang pada gadis yang tepat berada di depannya itu.
Ternyata Sanaya pun juga melakukan hal yang sama, ia begitu penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Apa ini maksud ucapannya kemarin ....? Kenapa aku jadi memikirkan hal itu ....
Sanaya sama sekali tidak bisa menikmati makanannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Apa ini artinya dia tahu sesuatu yang aku tidak tahu ....
Setelah semua piring kotor dan sisa makanan di singkirkan dan meja kembali bersih barulah mereka memulai obrolan seriusnya.
"Baiklah, sekarang kita bisa mulai pembicaraannya!" ucap nyonya Ratih.
"Saya sebagai papa nya Aditya, akan menyerahkan keputusan pada pihak nyonya! Kalian sudah melihat putra kami dan silahkan memberi penilaian!" ucap papa Adrian dan sesekali menoleh pada istrinya.
"Bagaimana mbak Ara? Kalau saya sudah sangat srek loh sama Sanaya!" ucap bunda Diah yang ikut menimpali ucapan suaminya.
"Tunggu ...., tunggu!"
Tiba-tiba Sanaya berdiri, membuat mereka menghentikan pembicaraan mereka. Ulah Sanaya ini seketika mendapat tatapan tajam dari omanya.
"Sanaya duduk!" ucap nyonya Ratih.
"Tidak oma, Nay harus tahu! Sebenarnya ada apa ini?"
__ADS_1
"Duduk dan kami akan menjelaskan semua!" ucap nyonya Ratih dan Sanaya menggelengkan kepalanya.
"Duduk!" kali ini nyonya Ratih serius, ia memberi aba-aba dengan suara lirih tapi dengan begitu yakin.
Sanaya tidak bisa mengelak, Sagar juga segera menarik tangan saudari kembarnya itu.
Nyonya Ratih pun segera bersiap, semua yang ada di sana pun seketika diam.
"Jadi makan malam ini selain sebagai acara silaturahmi, jadi ada hal yang lebih penting. Kita sudah menyepakatinya semenjak mereka masih kecil jika kita akan menjodohkan mereka saat usia mereka sudah delapan belas tahun! Dan sekarang sudah waktunya, jadi kita bisa melanjutkan rencana itu dua bulan lagi saat usia Sanaya genap delapan belas tahun!"
Sanaya sudah menduganya, tapi dengan Adit, apa itu artinya Adit sudah mengetahui sebelumnya?
"Jadi maksud oma, Nay sama Adit_?"
"Iya, dan kalian akan bertunangan selama masih sekolah dan kalian akan menikah saat sudah lulus SMA!"
"Tapi oma, Nay masih kecil!" protes Sanaya. Mom Ara mengusap punggung putrinya membuat Sanaya menoleh pada mommy nya.
"Jadi mom juga tahu rencana oma ini, mom menyetujuinya?"
Melihat Sanaya yang begitu syok, Aditya tidak bisa membiarkan nya begitu saja.
"Maaf semua, boleh saya bicara dengan Nay sebentar, berdua saja!" tanya Aditya meminta ijin.
"Nggak!" tolak Sanaya segera.
"Ayolah Nay, sebentar saja!" bujuk Aditya sambil mengedipkan matanya, meminta Sanaya agar setuju.
"Ayo sayang! Demi mom, Nay sayang kan sama mom?!"
Sanaya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia pun berdiri meninggalkan kursinya.
Aditya mengajak Sanaya ke taman yang ada di area restoran itu. Mereka duduk di bangku taman yang sebelah kanan dan kirinya ada tiang yang tidak begitu tinggi dengan bohlam warna putih besar menghiasi taman.
"Jadi lo tahu semuanya?" tanya Sanaya dan Aditya menganggukkan kepalanya.
Sanaya menatap langit yang begitu cerah hari ini, langit itu bertabur bintang tidak seperti hatinya yang abu-abu,
"Sejak kapan?"
Ia tidak tahu harus senang atau sedih. Di satu sisi, itu artinya dia akan bebas dari segala aturan di rumahnya saat nanti keluar dari rumah lamanya. Dan di sisi lain, entah kenapa bayangan Abimanyu masih selalu menjadi pertimbangan yang panjang dalam hidupnya.
"Sejak aku mencoba mengenal siapa Sanaya!"
"Maksudnya kejadian di belakang sekolah itu?"
"Sebelum itu!"
Sanaya mengerutkan keningnya, ia menoleh pada cowok yang duduk di sampingnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°