
Cup
Ara yang ingin segera menjauhkan bibirnya tapi kalah dengan tangan
Agra yang lebih dulu menahan tengkuknya, ciuman itu berlangsung beberapa detik,
mereka seakan lupa jika sedang berda di tempat umum, tapi untungnya Agra
memesan privat room, jadi hanya ada beberapa pelayan saja di sana dengan jarak
yang cukup jauh
Ara memukul dada Agra dengan kedua tangannya saat sudah merasa
kehabisan nafas, dan Agra pun segera melepaskan pagutannya
“kau ini bisa nggak, tetap bernafas ....” keluh Agra saat ciuman
itu sudah terlepas
“kau yang salah kenapa aku yang di salahkan ..., dasar ......”
“karena kau selalu lupa bernafas ...”
Ara pun hanya memanyunkan bibirnya yang sudah terasa bengkak karena
ulah Agra, pipinya sudah seperti kepiting panggang, malu bercampur senang
“dasar ..., tak tau tempat ...” gerutu Ara
***
Setelah selesai acara makan yang cukup lama itu, mereka pun segera
pulang, tak ingin membuat rencana untuk mampir tenpat lain terlebih dahulu
mobil sudah memasuki rumah
besar itu, Agra dan Ara masuk ke dalam rumah dengan tangan yang tak pernah
lepas satu sama lain, senyum tak juga terlepas dari bibir mereka
“selamat sore tuan muda, nona muda ...” sapa bi Anna
“Sore bi ....” Ara membalas sapaannya
‘tadi kami sudah makan di luar, jadi tidak akan turun untuk makan
malam , bilang pada ibu ...” ucap agra pada bi Anna memberi intruksi
“baik tuan ....”
“memang kita mau ngapain di dalam kamar?” tanya Ara polos sambil
menaiki tangga meninggalkan bi Anna
“kita mau olah raga ....” jawab Agra sekenanya
‘memang olah raga apa di dalam kamar ...?”
“kenapa kau selalu saja banyak bertanya”
Agra segera membuka pintunya dan menguncinya
‘kenapa di kunci?’ Ara sudah merasa gugup , ia menerka-nerka
sendiri apa yang akan terjadi
Agra tak menjawabnya, tapi langsung menatap Ara, serasa bumi
berhenti berputar sekian detik ketika mata mereka saling bertemu.
Ara terlihat begitu kikuk dan gugup, entah sejak kapan Agra
menggiring tubuh Ara hingga sudah berada di tepi tempat tidur
Agra mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Ara. Jantung mereka
seakan memberi irama tersendiri, saling bersahutan.
Dag dig dug
Agra segera ******* bibir Ara bersamaan dengan aliran darahnya yang
semakin memanas, seakan AC di kamar itu tak berfungsi lagi, mereka berciuman
sekian detik, berhenti lalu memulai lagi
“udah ya ....” ara menghentikan Agra yang hendak menyatukan
__ADS_1
bibirnya kembali dan menjauhkan wajahnya
“kenapa?” Agra langsung memelas
“aku malu ....” Ara menutup wajahnya yang sudah memerah
“kenapa malu ...., aku akan membantumu ...”
Agra kembali mendekatkan bibirnya, mulai dari ******* kecil
bibirnya dan ******* itu sedah merambah kemana-mana
Entah sejak kapan mereka sudah menanggalkan bajunya, sudah tak ada
pembatas lagi di antara mereka, malam itu menjadi malam yang panjang bagi
pengantin yang sudah terlambat beberapa bulan merayakan malam pengantinya
(Dan lanjutnya akan di lanjutkan oleh yang profesional ya ....)
Malam yang dingin itu menjadi saksi cinta mereka yang mulai
merekah, hubungan yang berawal dari kata salah faham menjadi cinta yang mungkin
suatu saat akan saling menguatkan
***
Pagi ini udara menembus celah kamar, dua sejoli itu sedang
berpelukan di bawah selimut yang sama
Ara menggeliatkan tubuhnya, rasanya, rasa nyerinya belum hilang
karena pergulatannya tadi malam, tubuhnya terbatas bergerak karena kungkungan
dari tangan kekar Agra
“morning sayang ...” Agra yang belum membuka matanya mengeluarkan
suara seraknya
“Gra ...., bisakah kau menjauhkan tubuhmu” pinta Ara saat mencoba
untuk bangun
“biarkan seperti ini sayang ...” Agra malah mengeratkan pelukannya
“apa kau lapar ...?” Agra segera membuka matanya, dan melihat Ara
yang mengangguk
“kau tidak membiarkanku keluar kamar sejak pukul tujuh malam, aku
benar-benar lapar”
Tok tok tok
Tiba-tiba ketukan pintu membuat mereka terdiam
“pak ...., bolehkah saya masuk” terdengar suara Rendi dari luar,
Agra dan Ara segera melotot bersama-sama , memandangi tubuhnya yang masih
telanjang
“tidak ...., jangan ...., biar aku yang keluar.....” agra segera
menyahutinya.
“bisa bahaya jika Rendi masuk dan melihat ....” batin Agra sambil
melihat tubuh Ara yang hanya tertutup selimut
“kenapa melihatku seperti itu?” Ara yang merasa di lihat Agra
merasa risih
“diam disini, jangan kemana-mana sampai aku kembali” dan Ara hanya
mengangguk menyanggupi permintaan suaminya
Agra menangkup pipi Ara dengan dua tangan dan mencium bibirnya
Cup
‘manis sekali ...” Agra berucap pelan, kemudian menuruni tempat
tidur, dan mengenakan celana kolornya dan buru-buru menuju ke pintu, membukanya
__ADS_1
dan segera menutupnya kembali setelah sampai di luar
Sedangkan Ara, lagi-lagi pipinya di buat merona karena ulah Agra
Agra yang sudah berada di balik pintu segera menghampiri Rendi
“ada apa pagi-pagi kesini?, mengganggu saja .....” gerutu Agra
sambil duduk di sofa di samping Rendi
‘maaf pak, telah mengganggu anda ...”
‘sudah jangan terlalu formal, katakan ada apa?”
“yang pertama, ini sudah siang pak, sudah jam 8 waktunya anda pergi
ke kantor, dan yang ke dua ada sedikit masalah pada proyek kita yang baru,
iklan kita di cekal karena Artisnya terkena kasus narkotika” dari nada
bicaranya Rendi terlihat kesal, entah karena Agra yang sudah jam 8 masih
mengenakan celana kolor atau kah karena ada masalah di kantor
“astaga ...., tapi maaf , gue nggak bisa ke kantor sekarang, lo
berangkat dulu, ntar gue nyusul”
“tapi .....” ucapan Rendi menggantung saat Agra segera memotongnya
“ini juga urgen soalnya ....”
‘baik , saya permisi” Rendi segera bangun dan meninggalkan Agra,
setelah Rendi tak terlihat lagi, Agra segera berlari masuk ke dalam kamar dan
menguncinya kembali
Rendi menuruni tangga, tapi langkahnya terhenti diujung tangga saat
melihat Ratih berjalan menghampirinya
“selamat pagi nyonya” Rendi menundukkan kepalanya memberi hormat,
ia juga melihat Ayahnya duduk tak jauh dari mereka berdiri, Salman tampak
serius dengan berkas di tangannya sehingga tak memperdulukan keberadaan Rendi
“apa ada masalah?” tanya Ratih
“sedikit nyonya, kami pasti akan segera menyelesaikannya”
‘baguslah ...., di mana Agra?” karena tak melihat Agra turun
bersama rendi membuatnya bertanya
“tuan muda meminta waktu sebentar nyonya, beliau menyuruh saya
untuk berangkat terlebih dulu”
“ada apa?” gumam Ratih pelan
“anda bisa menanyakan langsung pada tuan muda , nyonya”
“baiklah ..., pergilah ...”
“saya permisi nyonya ...” Rendi menundukkan kepalanya dan mundur
beberapa langkah dan segera meninggalkan tempatnya, sedangkan Ratih
mendongakkan kepalanya berharap mendapatkan jawaban dari atas sana
-
-
-
-
-
-
-
JANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA
JUGA KASIH VOTENYA
__ADS_1
BIAR AUTHORNYA TAMBAH SEMANGAT NULIS