
Lembaran kisah hidup bagaikan
lembaran kanvas yang terlukis begitu rumit, kadang hidup mengajarkan kita arti
kebahagiaan, tapi kebahagiaan seakan hanya tolak ukur bagi seseorang untuk
menentukan kedamaian
Aspal jalanan menampakkan kilatannya saat kendaraan mulai
menginjaknya dengan sesukanya, mereka berebut menampakkan diri dari ujung jalan
ke ujung yang lainnya
Ara masih setia duduk di pinggir jalan di sebuah halte, ia menunggu
salah satu bis kota yang akan lewat
Ia terus memaninkan ponselnya, mengambil beberapa gambar dirinya
dengan tangannya yang terus mengelus perutnya yang masih rata, ia membunuh
waktu, menghilangkan kebosanan, hingga tak terasa ternyata dirinya menunggu
cukup lama, hingga sebuah bus berhenti tepat di depannya
Dengan gerakan cepat, Ara segera menginjakkan kakinya ke dalam bus,
ia menyusuri koridor bus mencari kursi yang masih kosong, dan tak menunggun
lama, ada sebuah bangku kosong di jajaran ke 2 dari depan, ia pun segera
mendudukkan bokongnya di sana
bersebelahan dengan seorang ibu dengan menggendong anak bayinya
“permisi bu ..., sebelah ibu kosong kan?” Ara memohon ijin untuk duduk di sebelahnya
“iya mbak ...., silahkan duduk bak ..." Ara pun tersenyum mendapat ijin dari orang di sebelahnya
setelah Ara sempurna duduk, bus sudah melaju kembali, Ara tak berminat untuk membuka pembicaraan dengan ibu di sebelahnya, ia lebih memilih untuk memainkan ponselnya, engunggah beberapa foto di ig nya dan membubuhkan beberapa caption lucu
"mau ke mana?’ tanya ibu itu pada Ara setelah
Ara fokus dengan ponselnya
“mau ke daerah X bu ....” Ara menanggapinya dengan ramah dan kembali menatap payar ponselnya
“mau periksa kandungan ya?” tanya ibu itu tiba-tiba, dan Ara baru
ingat jika daerah yang akan Ara kunjungi bersebelahan dengan rumah sakit tempat
Ara cek up kemarin, Ara pun akhirnya hanya menanggapi dengan senyuman, tak ada niatan
untuk menjawabnya
“nggak pa-pa mbak, nggak usah malu, itu biasa bagi anak pertama,
masih suka malu-malu, suaminya nggak nemenin mbak?” tanya ibu itu lagi, membuat
Ara sebenarnya sedikit terganggu, tapi mau gimana lagi, Ara pun hanya
menanggapinya dengan senyuman, untung saja sudah hampir sampai dengan tujuannya
“pak ....kiri pak ....” Ara meneriaki pak kondektur, memberi
isyarat bahwa dia akan turun
“saya turun dulu bu ...” Ara pun segera berdiri meninggalkan ibu
itu, ia menunggu sampai supir bus menghentikan laju busnya, baru Ara turun
Dan seperti yang ia duga jika tempat yang di tunjuk ibu mertuanya
bersebelahan dengan rumah sakit tempat dokter Frans praktek, Ara memandangi
sebuah kafe dari seberang jalan, sambil menunggu traficlight itu berwarna hijau
“kita bertemu lagi adik ipar ...” suara seseorang yang tak begitu
asing menggema di telingannya, orang itu berdiri tepat di sampingnya, membuat
Ara segera menoleh ke tempatnya
“kak Divta ....” ucap Ara begitu tercengang melihat orang di
sampingnya
“ternyata kau masih mengingatku ...., ini kali kedua kita bertemu
ya ...”
“bisakah anda jangan mengikutiku, saya tidak punya urusan dengan
anda ...” ucap Ara gugup
“kamu jangan takut ..., aku hanya ingin menyapamu saja ...., dan
menyapa keponakanku ...”
__ADS_1
“aku mohon jangan menggangguku atau anakku”
“aku pasti akan melepaskanmu jika kau mau bekerja sama dengan ku,
biarkan Agra menyerahkan semuanya dan aku akan membiarkan kalian hidup tenang,
gampang kan?”
Ara tak punya jawaban atau pertanyaan untuk menanggapi ucapannya,
untung lampu penyeberangan sudah menyala hijau, membuat Ara segera melangkahkan
kakinya meninggalkan Divta , ia tak berkeinginan untuk menoleh
Tapi setelah sampai di ujung jalan, baru Ara memiliki keberanian
untuk mencari tahu keberadaan pria itu, ia kembali menoleh ke belakang, tapi
tak menemukannya lagi di seberang jalan, ia menghembuskan nafasnya lega, tapi
ia juga baru sadar kenapa pria itu tak mengikutinya
Di depan sana banyak anak buahnya Ratih, tak mungkin ia menampakkan
diri, Ara pun kembali melanjutkan langkahnya, ia sebenarnya begitu ragu siapa
yang bisa ia percaya, tapi setidaknya ia berkeyakinan bahwa tidak mungkin
seorang nenek menyakiti cucunya sendiri
“selamat datang nona, nyonya sudah menunggu anda ...” seseorang berjas
hitam sudah siap menyambut Ara di depan pintu masuk, alunan musik nan harmonis
sayup-sayup terdengar dari luar
“di mana tuan?”
“mari ikut saya nona ...”
Ara pun hanya bisa pasrah, ia mengikutinya dari belakang, saat
masuk ke dalam pria itu tak juga mengajaknya berhenti di salah satu meja kafe,
tapi masih menuntunnya lebih ke dalam lagi, hingga mereka berhenti di lantai
dua di sebuah ruangan yang bertuliskan VVIP
“silahkan masuk nona ...” pria itu menunduk hormat sambil memegang
handle pintu, dan sebelah tangannya di rentangkan tanda mempersilahkan masuk
Ara pun tak ambil pusing, ia segera masuk dan melihat di saat sudah
duduk ibu mertuanya, dan lagi tak berpindah dari belakangnya Salman
Tak ada orang lain di sama, hanya ada mereka bertiga,
“selamat siang ibu ....” Ara menyapa ibu mertuanya terlebih dahulu
“duduklah ....” Ratih mempersilahkan Ara untuk duduk, ia mengambil
kursi yang berhadapan dengan ibu mertuanya
“ibu sudah mendengar kabar dari dokter Frans”
Ara langsung faham dengan apa yang ingin di bicarakan ibu
mertuanya, ia bingung harus menanggapinya bagimana
“kenapa kau tak memberitahu ibu?” seharusnya pertanyaan itu mudah
untuk di jawab, tapi nyatanya Ara tak punya jawaban yang pasti atas pertanyaan
ibu mertuanya, bagaimana bisa memberitahu jika hubungan mereka tidak baik baik saja
“sampai kapan kau akan menyembunyikannya, dan menghindar dari ibu?”
Ara bingung harus bersikap bangaimana dengan wanita yang ada di
depannya ini, ia ingin memisahkan dirinya dengan suaminya tapi kenapa masih
mengurusi urusan pribadinya? Kenapa dia harus perduli? Pertanyaan-pertanyaan
itu muncul sendiri di benaknya
“aku harap kau akan segera membawa putra dan cucuku kembali ke
rumah” ucapan Ratih benar-benar membuatnya bingung
“saya tidak tahu dengan maksud semua ini nyonya, tapi saya cukup
mengerti kesusahan suamiku selama ini, tapi otakku terlalu sulit untuk mencerna
rencana-rencana anda, jadi saya mohon dengan sangat jangan melibatkan KAMI ,
aku dan anak yang masih dalam kandunganku dalam permainan kalian, saya Cuma
ingin hidup tenang tanpa tekanan dari siapapun”
__ADS_1
Entah dapat keberanian dari mana hingga Ara berani berbicara
sekurang ajar itu pada ibu mertuanya, mungkin dari rasa melindungi anak dalam
kandungannya yang teramat besar
Apa lagi setelah pertemuan kali keduanya dengan Divta, pandangan
Divta yang begitu menakutkan dan mengancam apalagi ia tidak hanya mengancam
dirinya tapi juga anak yang masih dalam kandungannya
***
Ara penatap jendela ruangan atas yang langsung bisa melihat lalu
lalang jalanan ibu kota, ia menerawang jauh , entah apa yang sedang ia pikirkan.
Banyak sekeli pertanyaan yang jawabannya begitu memusat di
pikirannya, ada rasa takut yang besar saat memikirkan semuanya
“sayang ...” suara yang begitu ia kenal segera memecah lamunannya
Agra segera melingkarkan tangannya di perut Ara yang sudah mulai tampak
“sudah selesai bby ...?” tanya Ara sambil mengelus punggung tangan
Agra yang melingkar di perutnya, Agra memang baru saja menyelesaikan proyeknya
dengan Jerry di kafe bawah
“sudah sayang ....., bagaimana kabar babby di sini?” Agra mengelus
lembut perut istrinya dan mendaratkan ciuman kepala Ara
“dia baik bby...., sehat ....”
“kata mbak Rini, kamu habis keluar, kemana?”
“a-ku ..., aku habis ke mini market buat belanja” ucap Ara
berbohong
“benarkah? Lalu apa yang sedang kau pikirkan sayang?” Agra begitu
penasaran dengan Ara, semenjak pulang tadi istrinya itu tak begitu banyak
bicara
“apakah kau bisa hidup menjadi orang biasa saja bby?”
“maksud kamu?” Agra bingung dengan pertanyaan Ara, ia sedikit
mengerutkan keningnya dan menaikkan sebelah alisnya
Ara pun membalik badannya, menatap suaminya dengan serius
“jangan menjadi pewaris tunggal, jangan menjadi CEO, aku mau kita
hidup jauh dari mereka.”
“mereka?” Agra semakin heran, siapa sebenarnya yang di maksud
istrinya.
“maaf jika aku terlalu egois, aku Cuma mau hidup damai dengan
keluarga kecilku saja.” Air mata Ara yang sejak tadi di tahannya iki
benar-benar lolos, Agra pun segera memeluk tubuh Ara dengan sangat erat, entah
apa yang telah di sembunyikan istrinya
Kring kring kring
Bunyi ponsel milik Agra membuatnya mengalihkan pandangan ke
nponselnya yang berada di dalam saku celananya, masih tetap dengan pelukannya,
ia mengambil ponselnya dengan satu tangan, Agra segera mengerutkan keningnya,
menyadari jika suaminya tak segera menerima panggilan itu, Ara pun melepaskan
pelukannya dan menjauhkan diri dari Agra
“siapa?” tanyannya tanpa suara, Agra yang melihat nomor baru di
ponselnya hanya mengangkat kedua bahunya
“hallo ...” Agra segera menerima panggilan itu
***
BERSAMBUNG
jangan lupa bayar aku dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
kasih vote juga ya
__ADS_1