My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 103


__ADS_3

Lembaran kisah hidup bagaikan


lembaran kanvas yang terlukis begitu rumit, kadang hidup mengajarkan kita arti


kebahagiaan, tapi kebahagiaan seakan hanya tolak ukur bagi seseorang untuk


menentukan kedamaian


Aspal jalanan menampakkan kilatannya saat kendaraan mulai


menginjaknya dengan sesukanya, mereka berebut menampakkan diri dari ujung jalan


ke ujung yang lainnya


Ara masih setia duduk di pinggir jalan di sebuah halte, ia menunggu


salah satu bis kota yang akan lewat


Ia terus memaninkan ponselnya, mengambil beberapa gambar dirinya


dengan tangannya yang terus mengelus perutnya yang masih rata, ia membunuh


waktu, menghilangkan kebosanan, hingga tak terasa ternyata dirinya menunggu


cukup lama, hingga sebuah bus berhenti tepat di depannya


Dengan gerakan cepat, Ara segera menginjakkan kakinya ke dalam bus,


ia menyusuri koridor bus mencari kursi yang masih kosong, dan tak menunggun


lama, ada sebuah bangku kosong di jajaran ke 2 dari depan, ia pun segera


mendudukkan  bokongnya di sana


bersebelahan dengan seorang ibu dengan menggendong anak bayinya


“permisi bu ..., sebelah ibu kosong kan?” Ara memohon ijin untuk duduk di sebelahnya


“iya mbak ...., silahkan duduk bak ..." Ara pun tersenyum mendapat ijin dari orang di sebelahnya


setelah Ara sempurna duduk, bus sudah melaju kembali, Ara tak berminat untuk membuka pembicaraan dengan ibu di sebelahnya, ia lebih memilih untuk memainkan ponselnya, engunggah beberapa foto di ig nya dan membubuhkan beberapa caption lucu


"mau ke mana?’ tanya ibu itu pada Ara setelah


Ara fokus dengan ponselnya


“mau ke daerah X bu ....” Ara menanggapinya dengan ramah dan kembali menatap payar ponselnya


“mau periksa kandungan ya?” tanya ibu itu tiba-tiba, dan Ara baru


ingat jika daerah yang akan Ara kunjungi bersebelahan dengan rumah sakit tempat


Ara cek up kemarin, Ara pun akhirnya hanya menanggapi dengan senyuman, tak ada niatan


untuk menjawabnya


“nggak pa-pa mbak, nggak usah malu, itu biasa bagi anak pertama,


masih suka malu-malu, suaminya nggak nemenin mbak?” tanya ibu itu lagi, membuat


Ara sebenarnya sedikit terganggu, tapi mau gimana lagi, Ara pun hanya


menanggapinya dengan senyuman, untung saja sudah hampir sampai dengan tujuannya


“pak ....kiri pak ....” Ara meneriaki pak kondektur, memberi


isyarat bahwa dia akan turun


“saya turun dulu bu ...” Ara pun segera berdiri meninggalkan ibu


itu, ia menunggu sampai supir bus menghentikan laju busnya, baru Ara turun


Dan seperti yang ia duga jika tempat yang di tunjuk ibu mertuanya


bersebelahan dengan rumah sakit tempat dokter Frans praktek, Ara memandangi


sebuah kafe dari seberang jalan, sambil menunggu traficlight itu berwarna hijau


“kita bertemu lagi adik ipar ...” suara seseorang yang tak begitu


asing menggema di telingannya, orang itu berdiri tepat di sampingnya, membuat


Ara segera menoleh ke tempatnya


“kak Divta ....” ucap Ara begitu tercengang melihat orang di


sampingnya


“ternyata kau masih mengingatku ...., ini kali kedua kita bertemu


ya ...”


“bisakah anda jangan mengikutiku, saya tidak punya urusan dengan


anda ...” ucap Ara gugup


“kamu jangan takut ..., aku hanya ingin menyapamu saja ...., dan


menyapa keponakanku ...”

__ADS_1


“aku mohon jangan menggangguku atau anakku”


“aku pasti akan melepaskanmu jika kau mau bekerja sama dengan ku,


biarkan Agra menyerahkan semuanya dan aku akan membiarkan kalian hidup tenang,


gampang kan?”


Ara tak punya jawaban atau pertanyaan untuk menanggapi ucapannya,


untung lampu penyeberangan sudah menyala hijau, membuat Ara segera melangkahkan


kakinya meninggalkan Divta , ia tak berkeinginan untuk menoleh


Tapi setelah sampai di ujung jalan, baru Ara memiliki keberanian


untuk mencari tahu keberadaan pria itu, ia kembali menoleh ke belakang, tapi


tak menemukannya lagi di seberang jalan, ia menghembuskan nafasnya lega, tapi


ia juga baru sadar kenapa pria itu tak mengikutinya


Di depan sana banyak anak buahnya Ratih, tak mungkin ia menampakkan


diri, Ara pun kembali melanjutkan langkahnya, ia sebenarnya begitu ragu siapa


yang bisa ia percaya, tapi setidaknya ia berkeyakinan bahwa tidak mungkin


seorang nenek menyakiti cucunya sendiri


“selamat datang nona, nyonya sudah menunggu anda ...” seseorang berjas


hitam sudah siap menyambut Ara di depan pintu masuk, alunan musik nan harmonis


sayup-sayup terdengar dari luar


“di mana tuan?”


“mari ikut saya nona ...”


Ara pun hanya bisa pasrah, ia mengikutinya dari belakang, saat


masuk ke dalam pria itu tak juga mengajaknya berhenti di salah satu meja kafe,


tapi masih menuntunnya lebih ke dalam lagi, hingga mereka berhenti di lantai


dua di sebuah ruangan yang bertuliskan VVIP


“silahkan masuk nona ...” pria itu menunduk hormat sambil memegang


handle pintu, dan sebelah tangannya di rentangkan tanda mempersilahkan masuk


Ara pun tak ambil pusing, ia segera masuk dan melihat di saat sudah


duduk ibu mertuanya, dan lagi tak berpindah dari belakangnya Salman


Tak ada orang lain di sama, hanya ada mereka bertiga,


“selamat siang ibu ....” Ara menyapa ibu mertuanya terlebih dahulu


“duduklah ....” Ratih mempersilahkan Ara untuk duduk, ia mengambil


kursi yang berhadapan dengan ibu mertuanya


“ibu sudah mendengar kabar dari dokter Frans”


Ara langsung faham dengan apa yang ingin di bicarakan ibu


mertuanya, ia bingung harus menanggapinya bagimana


“kenapa kau tak memberitahu ibu?” seharusnya pertanyaan itu mudah


untuk di jawab, tapi nyatanya Ara tak punya jawaban yang pasti atas pertanyaan


ibu mertuanya, bagaimana bisa memberitahu jika hubungan mereka tidak baik baik saja


“sampai kapan kau akan menyembunyikannya, dan menghindar dari ibu?”


Ara bingung harus bersikap bangaimana dengan wanita yang ada di


depannya ini, ia ingin memisahkan dirinya dengan suaminya tapi kenapa masih


mengurusi urusan pribadinya? Kenapa dia harus perduli? Pertanyaan-pertanyaan


itu muncul sendiri di benaknya


“aku harap kau akan segera membawa putra dan cucuku kembali ke


rumah” ucapan Ratih benar-benar membuatnya bingung


“saya tidak tahu dengan maksud semua ini nyonya, tapi saya cukup


mengerti kesusahan suamiku selama ini, tapi otakku terlalu sulit untuk mencerna


rencana-rencana anda, jadi saya mohon dengan sangat jangan melibatkan KAMI ,


aku dan anak yang masih dalam kandunganku dalam permainan kalian, saya Cuma


ingin hidup tenang tanpa tekanan dari siapapun”

__ADS_1


Entah dapat keberanian dari mana hingga Ara berani berbicara


sekurang ajar itu pada ibu mertuanya, mungkin dari rasa melindungi anak dalam


kandungannya yang teramat besar


Apa lagi setelah pertemuan kali keduanya dengan Divta, pandangan


Divta yang begitu menakutkan dan mengancam apalagi ia tidak hanya mengancam


dirinya tapi juga anak yang masih dalam kandungannya


***


Ara penatap jendela ruangan atas yang langsung bisa melihat lalu


lalang jalanan ibu kota, ia menerawang jauh , entah apa yang sedang ia pikirkan.


Banyak sekeli pertanyaan yang jawabannya begitu memusat di


pikirannya, ada rasa takut yang besar saat memikirkan semuanya


“sayang ...” suara yang begitu ia kenal segera memecah lamunannya


Agra segera melingkarkan tangannya di perut Ara yang sudah mulai tampak


“sudah selesai bby ...?” tanya Ara sambil mengelus punggung tangan


Agra yang melingkar di perutnya, Agra memang baru saja menyelesaikan proyeknya


dengan Jerry di kafe bawah


“sudah sayang ....., bagaimana kabar babby di sini?” Agra mengelus


lembut perut istrinya dan mendaratkan ciuman kepala Ara


“dia baik bby...., sehat ....”


“kata mbak Rini, kamu habis keluar, kemana?”


“a-ku ..., aku habis ke mini market buat belanja” ucap Ara


berbohong


“benarkah? Lalu apa yang sedang kau pikirkan sayang?” Agra begitu


penasaran dengan Ara, semenjak pulang tadi istrinya itu tak begitu banyak


bicara


“apakah kau bisa hidup menjadi orang biasa saja bby?”


“maksud kamu?” Agra bingung dengan pertanyaan Ara, ia sedikit


mengerutkan keningnya dan menaikkan sebelah alisnya


Ara pun membalik badannya, menatap suaminya dengan serius


“jangan menjadi pewaris tunggal, jangan menjadi CEO, aku mau kita


hidup jauh dari mereka.”


“mereka?” Agra semakin heran, siapa sebenarnya yang di maksud


istrinya.


“maaf jika aku terlalu egois, aku Cuma mau hidup damai dengan


keluarga kecilku saja.” Air mata Ara yang sejak tadi di tahannya iki


benar-benar lolos, Agra pun segera memeluk tubuh Ara dengan sangat erat, entah


apa yang telah di sembunyikan istrinya


Kring kring kring


Bunyi ponsel milik Agra membuatnya mengalihkan pandangan ke


nponselnya yang berada di dalam saku celananya, masih tetap dengan pelukannya,


ia mengambil ponselnya dengan satu tangan, Agra segera mengerutkan keningnya,


menyadari jika suaminya tak segera menerima panggilan itu, Ara pun melepaskan


pelukannya dan menjauhkan diri dari Agra


“siapa?” tanyannya tanpa suara, Agra yang melihat nomor baru di


ponselnya hanya mengangkat kedua bahunya


“hallo ...” Agra segera menerima panggilan itu


***


BERSAMBUNG


jangan lupa bayar aku dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


kasih vote juga ya

__ADS_1


__ADS_2