
Hari ini hari pertama anak-anak itu akan Sekolah. Ara begitu
sibuk mempersiapkan semuanya terutama semua kebutuhan Sanaya. Untuk Sagara,
gurunya yang akan datang ke rumah.
“Nay sayang …, mom sudah selesai, ayo cepetan ke bawah kita
harus segera sarapan!” teriak Ara saat sudah selesai menyiapkan bekal untuk
Sanaya.
“Yes mom …!” Sanaya berlarian ke bawah dengan tas
kecil di punggungnya, seragam baru dan memakai sepatu.
“Putri cantik ibu …! Duduklah ….,,!” Ara meninta
putrinya untuk duduk dan menikmati sarapannya, tapi ia tidak melihat putranya
bersama putrinya. “Di mana abangmu?”
“Gara di sini mom!” Gara terlihat baru saja dari
luar rumah. Ia berjalan begitu malas dan segera duduk di samping Sanaya.
“Dari mana sayang?” Tanya Ara sambil mengusap pipi
putranya.
“Papi memintaku untuk menemui seseorang!” jawab
Sagara sambil mulai menggigit roti sandwich coklat kesukaannya.
“Dan kau sudah menemuinya?” Sagara menggelengkan
kepalanya.
“kenapa?”
“Dia terlambat lima menit! Aku meninggalkannya di
luar!”
Sanaya yang hampir menyelesaikan sarapannya merasa
penasaran dengan orang yang di bicarakan oleh momi dan abangnya.
“Mom …, Gara membicarakan siapa?”
“Teman baru Sagara!” jawab Ara dengan senyumnya yang
begitu lembut.
“Siapa?”
Belum sempat Ara menjawab. Seorang anak laki-laki
berjalan bersama pak Mun masuk ke dalam rumah itu, mereka menunduk memberi
hormat. Anak laki-laki dengan penampilan rapi lengkap dengan kemejanya,
tingginya lebih tinggi dari Sagara, tubuhnya sedikit kurus, usianya sepertinya
__ADS_1
enam tahun.
“Selamat pagi nyonya, tuan muda, nona muda!” sapa pria kecil itu, begitu manis. Ara mendekatinya. Sanaya memperhatikan pria itu
dari atas hingga ke bawah.
Kenapa dia kerempeng sekali, apa dia tidak pernah
makan? Kakinya panjang….
“Siapa namamu nak?” Tanya Ara sambil berdiri
menghampiri mereka.
“Abimanyu!” jawabnya tegas.
“Nama yang bagus, ayo sarapan bersama kami!” Ajak Ara.
“Tidak nyonya, silahkan menikmati sarapan anda!”
Waw anak ini luar biasa, sekecil ini, belajar etika
dari mana?
Ara menatap pak Mun, meminta ijin pada pak Mun untuk
memintanya ikut sarapan.
“Kalau begitu saya tinggal dulu nyonya!” Ara
mengangguk, pak Munir menundukkan kepalanya dan mundur dua langkah baru balik
badan. Ara menatap anak yang masih berdiri tegak itu.
yang sudah duduk di meja makan.
“Dia terlambat mom!”
“Sagara!” Ara menajamkan matanya, seolah mengatakan
jika ucapan momi nya tidak bisa di bantah.
“Baik mom!”
akhirnya Sagara menuruti perintah mominya, ia turun dari tempat duduk dan
menghampiri Abimanyu. Menatap Abimanyu dengan tatapan tajam, mangamati dan
menyelidik.
“Berhenti bersikap seperti itu Gara!”
Dia benar-benar mengingatkanku pada kelakuan bos
besar itu, pos Agra, dia menirukan mu …
“Duduk bersamaku dan
jangan menimbulkan suara!” Sagara memberikan aturan yang tidak tertulis untuk
teman barunya itu.
Akhirnya Abimanyu ikut
__ADS_1
duduk bersama Ara dan putra putrinya, sedangkan nyonya Ratih sedang ada urusan, dan melewatkan sarapan paginya. Entah apa yang sedang di kerjakan oleh nyonya Ratih di ruang kerjanya
, Agra sudah semenjak pagi berangkat karena ada urusan di luar kota juga, ia menggunakan penerbangan pagi, sebenarnya Agra
ingin membatalkannya karena ini harei pertama Abimanyu datang ke ruamhnya, ia
ingin melihat dan memastikan senediri bahwa pria kecil itu pantas untuk
mendampingi putranya, tapi ternyata urusannya tidak dapat di tunda.
Akhinya Abimanyu ikut
sarapan bersama mereka, Ara yang memaksanya. Pria kecil itu begitu pantas
menyandang sebagai pengawal pribadi, entah bagaimana pak Munir mengajarinya.
“Nay apa sudah selesai
sarapannya?” Tanya Ara pada putri kecilnya itu.
“Ya mom, kita harus
segera berangkat, nanti terlambat!”
“Baiklah …, Gara
baik-baik ya sama Abimanyu, sebentar lagi guru kalian datang!”
“Ya mom!”
Akhirnya Ara dan Sanaya
berpamitan, tapi sebelum pergi, sanaya menghampiri Abimanya dan membisikkan
sesuatu pada teman baru kakaknya itu.
“Gara orang yang sangat
tidak menyukai kesalahan, jadi jangan lakukan kesalahan satu kali pun, aku suka
padamu! Semangat!” ucapa Sanaya berhasil membuat pria kecil itu tak bergeming.
“Nay ayo …!” ajak Ara.
“Da …., sampai jumpa!”
Sanaya melambaikan tangannya pada pria kecil itu. Ia erlari menyusul menyusul
mominya yang sudah berada di luar rumah.
“Jangan menatap
saudariku seperti itu!” ucapan Sagara segera menyadarkan Abimanyu, ia segera
mengalihkan tatapannya pada anak laki-laki yang dia anggapnya arogan itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘