
Hari ini menjadi hari yang sibuk bagi Sagara dan Abimanyu. Ini akhir pekan, mereka tidak perlu ke sekolah terlebih dahulu hari ini .
Jadi mereka tidak perlu ke sekolah terlebih dulu sebelum ke perusahaan.
Tapi ini menjadi hari yang berat bagi yang sedang di mabuk cinta.
"Bisa tidak singkirkan sebentar ponselmu itu!" keluh Abimanyu karena sedari tadi Sagara hanya sibuk berkirim pesan dan tidak konsentrasi dengan apa yang sedang di kerjakan.
Hehhhh
Sagara hanya menghela nafas, ia menatap sini sapa sahabatnya itu dan kembali konsentrasi dengan layar laptopnya.
"Gini nih kalau nggak pernah tahu rasanya jatuh cinta!"
"Kamu salah!"
Ucapan Abimanyu yang spontan itu berhasil menyita perhatian Sagara.
"Maksudnya?"
"Bahkan aku faham dengan rasanya patah hati!"
"Dalem banget kayaknya!"
Abimanyu memilin melanjutkan pekerjaannya ketimbang menimpali ucapan Sagara.
"Hehhhhh ...., kenapa hari ini lama sekali sih ....!" keluh Sagara beberapa kali. Hari libur menjadi hari yang menyedihkan baginya karena tidak bisa bertemu dengan Ariel.
Apa lagi besok masih ada hari libur lagi. Ia hanya bisa pasrah dan satu-satunya harapannya adalah besok semua pekerjaannya ini segera selesai dan bisa mengajak Ariel jalan-jalan.
"Bisakah hari ini kita kerja sampai malam saja? Biar besok sudah selesai!" tanya Sagara.
Membuat Abimanyu sejenak menghentikan pekerjaannya dan menoleh padanya. Ia menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Gue serius tanyanya!"
"Gue juga serius jawabnya!"
"Maksudnya?"
"Bukankah tuan dan nyonya malam ini mengajakmu dalam jamuan makan malam, ada nyonya besar juga kan?"
"Ah iya ...., kenapa bisa lupa sih!"
"Makanya jangan mikirin cewek terus!"
Sagara hanya menyebirkan bibirnya. Dia tidak bisa pulang malam hari ini, itu berarti besok juga tidak bisa bertemu dengan Ariel lagi.
"Lebih baik kita makan siang saja dulu!" ajak Abimanyu saat melihat jam sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Malas ahhh!"
"Ayo!"
Tanpa menunggu lama, Abimanyu segera menarik Sagara. Walaupun bos dan asisten tetap saja tidak bisa menutupi kalau mereka masih anak remaja, kadang mereka juga masih suka labil.
Kedatangan mereka di kantin kantor berhasil menjadi pusat perhatian. Mereka anak-anak muda yang tampan dan selalu jadi idola di manapun mereka berada.
Hanya kalau di kantor, para karyawan hanya berani mencuri pandang dan membicarakan ketampanan mereka dari belakang tanpa berani terang-terangan.
Apalagi mereka punya nilai plus, mereka anak-anak yang jenius dan memiliki kemampuan public speaking yang sangat bagus.
...***"***...
Berbeda seratus delapan puluh derajat, di rumah besar itu sang putri sibuk bermanja-manja di atas tempat tidurnya.
"Nay sayang ...., ayo bangun!"
__ADS_1
"Nay malas mom ....!"
Sanaya terus menggeliat di atas tempat tidurnya tanpa berniat untuk bangun.
"Mau sampai kapan sayang tiduran terus kayak gini?"
"Nay males mom kemana-mana, nggak ada temen juga!"
"Gini aja, hari ini temenin mom yuk! Nanti malam kan ada jamuan makan malam, Nay sama mom kan harus beli baju untuk malam nanti, gimana? Mau nggak?"
"Malas ahhhhh mom!"
"Kan kemarin sudah janji sama papa, iya kan?"
"Mom ...., kenapa mengingatkanku lagi!?"
Mom Ara hanya tersenyum dan mengusap kepala Sanaya.
"Siap-siaplah, mom tunggu di bawah!"
Mom Ara segera meninggalkan putrinya itu. Sanaya dengan begitu malas meninggalkan tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Sudah siang tapi anak itu masih saja setia di kamar tidurnya.
Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan baju yang cocok untuk di buat keluar rumah. Hanya baju sederhana yang nyaman dengan flatshoes agar membuatnya nyaman saat berbelanja.
Mereka pun menuju ke sebuah butik langganan keluarga. Mom Ara memilihkan gaun untuk putrinya juga selain untuk dirinya sendiri.
"Kamu suka yang warna putih atau merah sayang?"
"Terserah mom aja deh!" jawab Sanaya begitu malas.
"Jangan gitu dong sayang!"
Sanaya pun tersenyum hambar, entah kenapa rasanya tidak ada semangat sama sekali.
"Iya mom!"
Sanaya pun terpaksa memilih gaun untuk dirinya sendiri.
"Baiklah, kalau gitu kita ke kasir ya!"
Setelah melakukan pembayaran mom Ara segera mengajak Sanaya keluar.
"Sayang kita ke salon ya?"
"Kenapa ke salon segala sih mom?"
"Kan biar cantik!"
"Padahal Nay udah cantik dari sono nya mom!"
"Memang, nggak ada nih yang ngeraguin kalau putri mom ini yang paling cantik!"
Ha ha ha ....
"Nah gitu dong sayang, mom kan rindu ketawa kamu yang kayak gitu!"
"Ihhhh mom ...., bikin haru aja!"
...**""**...
Malam ini Sanaya berangkat bersama mom Ara, sedangkan papa Agra dan oma Ratih sudah menunggu di sana. Sagara menyusul karena dia harus lembur.
Sanaya begitu cantik dengan gaunnya yang panjang berwarna biru yang senada gaun yang di pakai mom Ara.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh pengawal.
"Silahkan nyonya, nyonya besar dan tuan sudah menunggu!"
__ADS_1
"Terimakasih!"
Mom Ara menoleh pada putrinya itu.
"Ayo sayang!"
Pengawal itu mengantar mereka meja yang sudah di pesan oleh papa Agra dan oma Ratih.
"Selamat malam ibu, bby!" sapa mom Ara sambil menunduk memberi hormat.
Papa Agra segera berdiri dan memeluk istrinya dengan penuh cinta memberi ciuman di keningnya lalu menggeser kursi untuk istrinya.
"Duduklah sayang!"
"Terimakasih, bby!" ucap Mom Ara dan segera duduk.
"Buat aku nggak pa?" tanya Sanaya dengan nada protes.
"Iya dong sayang!"
Papa Agra juga menggeser kan kursi untuk putrinya itu,
"Silahkan tuan putri papa!"
"Makasih pa!"
"Lalu upah untuk papa apa?" tanya papa Agra sambil menyodorkan pipinya.
Cup
Sanaya mendaratkan kecupannya ke pipi papa Agra.
"Ini sudah lebih dari cukup sayang!"
Sedari tadi nyonya Ratih hanya terus diam menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil putranya. Selalu membuat iri yang melihatnya.
"Apa Sagara belum ada kabar?" tanya oma saat semuanya sudah duduk.
"Katanya masih di jalan bu, sebentar lagi pasti sampai!"
"Bagaimana pekerjaannya?"
"Dua hari ini pemasaran kain nya laku keras, ternyata Sagara yang menjadi model untuk beberapa kainnya itu!"
"Benarkah?" tanya nyonya Ratih dengan nada datar. Ia bukannya tidak senang dengan pencapaian cucu nya kali ini. Tapi di balik keberhasilan cucunya itu ada hal yang membuat nyonya Ratih sedikit was-was.
Papa Agra mengerutkan keningnya melihat ekspresi wajah ibunya. "Apa ada yang ibu sembunyikan?"
"Apa kamu tidak mencurigai sesuatu?"
"Maksud ibu?"
"Jangan karena tidak ada masalah apapun membuat kita lengah Agra, bisa jadi mereka menunggu saat yang tepat untuk menggulirkan bom atom itu!"
Sanaya yang mendengarkan percakapan antara papa dan omanya hanya bengong. Otaknya belum sampai ke bab itu, mungkin ...
Sanaya sampai harus meneguk air minum yang ada di depannya.
"Pembicaraan yang rumit!" gumamnya lirih tapi masih bisa di dengar oleh mom Ara, mom Ara hanya tersenyum.
Ia hanya merasa senasib saja dengan putrinya itu, sampai sekarang pun ia masih suka bingung dengan apa yang di bicarakan ibu mertuanya dengan suaminya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°