
Hari ini adalah hari yang begitu berat bagi keluarga Wijaya untuk dua puluh tahun terakhir. Banyak sekali yang mereka lalui tanpa kehadiran Wijaya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun Agra bisa mengerti kesedihan yang di rasakan oleh ibunya.
Untuk pertama kalinya ia bisa melihat air mata yang telah di tahan oleh ibunya.
Untuk pertama kalinya ia bisa merasa lemah di depan kasih sayang ibunya, ego yang besar yang sudah ia bendung bertahun-tahun menghilang dengan terpaan waktu.
Nyonya Ratih sedang berdiri di pojok kamarnya menatap pria tampan yang sedang memangku kedua putranya.
"Aku bertambah tua, tapi kau tetap di situ menatapku dengan wajah dan senyum yang sama!" ucap nyonya Ratih.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau senang dengan apa yang terjadi sekarang. Putra kecilmu sudah tumbuh menjadi dewasa dengan dua anak yang lucu!"
"Putra sulungmu ...., dia sudah kembali ke jalan yang benar, dia benar-benar menjadi Laksman nya Rama."
"Putra sahabatmu seperti bayangan yang akan selalu melindungi putramu!"
Tanpa terasa air mata menetes, hanya di tempat inilah dia bisa menunjukkan sisi lemahnya, dengan beberapa terpaan badai membuat sisi lembut seorang wanita berubah menjadi sisi yang begitu kokoh dan tak terkalahkan.
Tok tok tok
Dengan cepat wanita yang sudah sedikit berkerut pada beberapa bagian wajahnya itu, segera menghapus air matanya, ia tidak mau orang lain melihatnya.
"Masuk!"
Ceklek
Pintu pun terbuka, menampakkan wajah putra kebanggaannya di sana.
"Ibu!"
"Hemmm .....? Masuklah ...!"
Agra pun segera masuk ke kamar ibunya, kamar yang dulu begitu asing, kini menjadi tempat ternyaman baginya untuk berkeluh kesah.
"Kita akan ke makan ayah!?"
"Iya ....., tunggu sebentar!" ucap nyonya Ratih, ia tampak sedang mencari-cari sebuah benda. Sebuah tas tangan yang setia ia bawa ke mana-mana.
"Ayo ....!"
__ADS_1
Nyonya Ratih pun berjalan mendahului Agra, tapi Agra masih berdiri di tempatnya dengan setiap menatap punggung itu.
"Gra!" nyonya Ratih menoleh dan mendapati putranya masih tetap berdiri di tempatnya. "Ayo .....!"
Terimakasih ibu, karena cintamu yang luar biasa, menjadikan aku manusia yang kuat
Agra pun berjalan mensejajari ibunya, ia menautkan jemarinya ke jemari ibunya, nyonya Ratih menatap Agra dengan senyumnya lembutnya.
Setidaknya dengan seperti ini aku bisa menjagamu Bu ....
"Mari nyonya!" paman Salman sudah siap di samping mobil, ia sudah membukakan pintu mobil untuk nyonya Ratih. Kali ini Agra tidak bersama Ara, Ara berada di mobil yang berbeda bersama baby twins.
Atas permintaan Ara, akhirnya Agra setuju untuk menemani ibunya. Luka yang di simpan oleh ibunya sudah terlalu lama di pendam, mungkin dengan menemaninya di saat terlemah dalam hidupnya bisa sedikit menguatkan.
"Sayang ...., hari ini kita bertemu dengan kakek kalian, nanti jangan nakal ya di sana!" ucap Ara pada Sagara dan Sanaya.
"Ok mam!" jawab Sagara dan Sanaya kompak.
"Bagus ...., mami bangga pada kalian!"
Mobil pun segera melaju ke pemakaman, di sana sudah menunggu Divta dan Rendi. Entah sejak kapan mereka berada di sana.
Nyonya Ratih dan paman Salman segera turun dan di sambut oleh mereka, Divta segera berjalan mengikuti nyonya Ratih. Sedangkan Agra berhenti sejenak untuk menyapa Rendi.
"Bagaimana, aman?" tanya Agra.
"Aman pak!"
"Lakukan penjagaan pada Sagara dan Sanaya,!"
"Baik pak!"
Agra pun segera berjalan menyusul ibunya yang sudah berjalan lebih dulu dengan paman Salman.
Ara dan baby twins yang baru sampai segera di sambut oleh Rendi.
"Siang Bu, maaf pak Agra meminta saya untuk mengawal anda!"
"Siang Rend!" Ara membalas sapaan Rendi, ia tidak mau terlalu kaku di depan Rendi. "Sapa paman Rendi sayang ....!"
"Ciang paman lendi!" sapa Sagara dan Sanaya kompak.
__ADS_1
"Siang tuan dan nona muda!"
"Jangan seperti itu sama mereka, aku nggak mau ya mereka tumbuh kayak robot!" ucap Ara tidak suka.
"Maafkan saya Bu, mari saya antar!" ucap Rendi sambil mempersilahkan mereka untuk berjalan.
"Mom ....., paman lendi kayak lobotnya Sagala!" celoteh Sanaya pada maminya.
"Masih kelenan lobotnya Sagala ya mom, paman lendi nggak bisa ngeluarin sinal exs!" protes Sagara yang tidak terima.
"Kalian jangan salah, paman Rendi itu sudah kayak Ironman, dia seperti pahlawan super!" ucap Ara.
Rendi yang sedari tadi di belakang mereka hanya bisa sedikit mengulas senyumnya. Tapi lagi-lagi dengan wajah kakunya itu bisa menutupi semuanya.
Sagar yang penasaran segera berbalik pada pria kaku di belakangnya, ia menatap Rendi dengan seksama.
"Ada apa tuan muda?" tanya Rendi yang tak mengerti arti tatapan Sagara, walaupun kecil tapi keisengan Sagara sudah mulai muncul. Ia benar-benar mirip papinya.
"Coba paman lendi menunduk!" perintah Sagara dengan memberi isyarat dengan tangan kecilnya itu, Rendi pun segera berjongkok tepat di depan Sagara.
"Apa benak kata momi, paman lendi kayak ilonmen?" Sagar memegang dada Rendi.
"Benal ...., dada paman lendi kelas kayak batu, pantas unty Nadin bilang paman kayak balok es, bial aku panggil paman ilonmen aja deh!"
Beraninya Nadin mengatakan hal itu pada anak kecil....
Rendi hanya bisa mengusap kepala Sagara dengan lembut.
"Paman aku bukan anak kecil ya, jangan seperti itu!" keluh Sagara karena tidak suka rambutnya di usap , ucapan Sagara berhasil membuat Rendi tersenyum.
"Sudah Gara ...., jangan jahili paman Rendi!" Ara yang sedari tadi menunggu di depan segera memanggil Sagara.
"Iya mom ...!"
Sagar pun segera berlari meninggalkan Rendi dan menghampiri Sanaya dan mominya.
BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘