My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Extra part 6


__ADS_3

Salman pun berpamitan pada Roy dan ibunya. kini tinggallah ibu dan anak yang sudah lama tak bertemu itu.


"Nak ...., istirahatlah ...., biar ibu siapkan kamar untuk mu." ucap Nani.


"Terimakasih ibu, biar aku bantu."


Roy pun menuntun ibunya yang sudah renta itu, Nani membawa Roy pada sebuah kamar. ukurannya tak lebih besar dari kamarnya di Jakarta.


Roy mengedarkan pandangannya ke seisi kamar, walau sudah tidak di tiduri cukup lama, tapi sepertinya Nani rajin membersihkannya.


Mata Roy tertahan pada sebuah bingkai foto yang tergantung di dinding, foto itu tampak sudah usang.


"Bu ...., ini foto siapa?"


Nani yang sedang sibuk merapikan tempat tidur pun akhirnya menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada putranya.


"Itu foto Dafian pas masih muda, itu foto saat dia baru lulus SMA."


"Dia mirip sekali denganku bu."


"Ya ...., kalian memang kembar identik."


"Bagaimana keluarga Dafian, bu?" tanya Roy. Nani pun duduk di tepi tempat tidur. Roy pun menyusulnya.


"Dafian punya satu putri."


"Dimana mereka?"


"Di kampung halaman istrinya. Semenjak Dafian meninggal, Dewi mengajak putrinya pergi dari sini."


"Lalu ibu?"


"Dewi mengajak ibu, tapi ibu menolaknya."


"Kenapa?"


"Karena ini...., karena harapan ibu tidak pernah pupus, ibu selalu berharap bisa bertemu dengan putra ibu, jika ibu pergi mungkin hari ini tak akan pernah ada."


"Jadi ibu menungguku?"


"Iya ....., ibu menunggumu dan ayahmu, berpuluh-puluh tahun ibu menunggu, ibu tak hilang harapan, setiap hari ibu selalu berharap ayahmu akan memaafkanku dan menjemput kami, tapi hari itu tak kunjung datang.."


"Ibu ....." Roy lagi-lagi menangis haru di pangkuan ibunya.


"Ibu senang kamu datang nak. Dafian juga menitipkan surat wasiat untukmu sebelum meninggal."


"Surat wasiat?"


"Iya ...., tapi Dewi, istri Dafian yang membawanya."


"Aku harus menemui istri Dafian, bu."


"Ya ..., besok kamu boleh mencarinya, tapi sekarang istirahatlah ...., ibu keluar dulu."


"Baik, bu."


Nani pun meninggalkan Roy. Roy kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan setelah ibunya keluar. Ia bisa membayangkan bagaimana masa muda saudara kembarnya di sini. Kamar itu masih seperti kamar akan muda. Tidak ada yang berubah.


Roy pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, otot-otot nya sudah mulai kaku karena seharian berkeliling.


"Aaah ....., nyamannya ....., oh iya hampir lupa, aku belum menghubungi Nadin."

__ADS_1


Roy pun kembali bangun, ia mencari-cari benda pipih yang sedari tadi ia abaikan saja di dalam tas kecilnya.


Setelah menemukan benda pipih itu, Roy segera melakukan Videocall pada putri bungsunya itu.


"Hallo, sayang ....." sapa Roy.


"Hallo ayah ....., Nadin kangen, ayah sehat kan,bagaimana di sana yah, ayah ketemu sama saudara kembar ayah, ayah kapan pulang?" tanya Nadin beruntun. Roy pun hanya bisa tersenyum dengan kecerewetan putrinya itu.


"Nadiiiiin ....., kebiasaan deh, kalau tanya satu-satu ya, sekarang ayah tanya, apa dulu yang harus ayah jawab?"


Nadin pun tertawa.


"Ya, aku mau tanya kabar ayah dulu."


"Ayah baik sayang, ayah sehat dan ada kabar baiknya lagi, sayang."


"Apa yah?"


"Ayah ketemu sama nenek kamu."


"Nenek?"


"Ya ...., nenek kamu masih hidup, dia sehat. Dan juga ada kabar buruknya."


"Apa, yah?"


"Saudara kembar ayah sudah meninggal dunia, dia punya satu putri."


"Astaghfirullah ...., ayah yang sabar ya ...."


"Iya sayang ...., oh iya nak ..., kelihatannya ayah besok belum bisa pulang, ayah harus mencari keberadaan istri saudara kembar ayah, karena kata nenek kamu, saudara kembar ayah meninggalkan surat wasiat untuk ayah dan sekarang surat itu di bawa oleh istrinya."


"Benarkah ....? Ya udah nggak pa pa deh yah, tapi ayah tetap jaga kesehatan ya."


"Iya ayah, ayah jangan khawatir. Cepat istirahat, jangan capek-capek."


"Iya putri ayah yang bawel, selamat malam sayang...., assalamualaikum ...."


"Selamat malam, Waalaikum salam ..."


Akhirnya Roy mengakhiri panggilan pada putrinya. ia kembali meletakkan benda pipih itu di atas nakas di samping tempat tidurnya.


Roy kembali merebahkan tubuhnya, hanya dalam hitungan menit, ia sudah masuk ke dalam alam mimpi. Karena faktor usia yang sudah tak muda lagi, membuatnya levih cepat lelah.


****


Pagi ini matahari bersinar lebih cerah dari biasanya. Ya ..., pagi ini Roy bisa merasakan indahnya kasih sayang seorang ibu.


Saat ia bangun, makanan sudah tersaji untuknya.


"Ibu ...., kenapa ibu repot sekali?" tanya Roy yang melihat ibunya sedang sibuk di dapur.


"Ini sarapan pertama yang ibu buat untuk putra ibu."


"Tapi ini semua tidak perlu, nanti ibu capek."


"Tidak nak, biar ibu melakukan semua ini, mungkin ibu tidak akan lama bisa melayanimu sebagai ibumu."


"Jangan bicara seperti itu bu, ibu akan berumur panjang."


Perbincangan mereka terhenti saat suara ketukan pintu terdengar.

__ADS_1


"Ibu ...., itu sepertinya pak Salman."


"Bagus..., ajak dia sarapan bersama."


"Baik ibu ...."


Roy pun segera menuju ke ruang tamu, ia membukakan pintu, dan benar Salman yang datang.


"Selamat pagi pak Roy." sapa Salman.


"Pagi pak Salman, mari masuk!" Roy pun mengajak Salman untuk masuk ke dalam rumah.


"Ibu sudah membuatkan sarapan untuk kita." ucap Roy.


"Anda benar-benar sudah seperti anak muda." ucap Salman.


Hahaha


Roy menanggapinya dengan tawa yang terlihat sangat lepas.


"Anda benar pak Salman, aku merasa lebih muda dua puluh tahun."


Mereka kembali tertawa, karena tawa mereka sampai terdengar oleh Nani, Nani pun tak mau kalah, ia datang dengan dua cangkir kopi di atas nampan.


"Aduh ...., senangnya pagi-pagi sudah melihat anak-anak ibu tertawa bahagia."


"Ibu ....., selamat pagi bu Nani." Sapa Salman.


"Selamat pagi nak. Kalian putra-putra ibu yang luar biasa."


"Terimakasih sudah menganggap ku sebagai putra ibu juga."


"Jangan sungkan, nak...., ibu senang jika kamu mau menganggap ku seperti ibu kamu juga."


"Senangnya pagi ini." ucap Roy.


"Ya sudah, ayo kita sarapan, lalu minum kopi kalian."


"Baik ibu." jawab Roy dan Salman bersamaan. Setelah sadar bersamaan, mereka pun saling pandang, dan lagi-lagi tawa pun pecah.


Mereka menikmati sarapan bersama, sambil mengobrol santai. Setelah selesai sarapan, mereka menikmati kopi mereka yang sudah mulai dingin.


"Apa rencana pak Roy hari ini?" tanya Salman.


"Kalau pak Salman tidak keberatan, bisakah kita mencari istri dan putri Dafian, kata ibu Dafian meninggalkan surat wasiat untukku."


"Baiklah, kita bisa menunda kepulangan kita, aku akan menemani pak Roy untuk mencari mereka."


"Terimakasih banyak ..."


"Jangan sungkan."


****


"Dunia tak lagi sama tak selamanya memihak kita, di saat kita mau berusaha di situlah kebahagiaan akan indah pada waktunya"


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya

__ADS_1


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘


__ADS_2