
“kau bisa menutup mata pada hal-hal yang tidak ingin kau lihat,
tapi kau tidak akan pernah bisa menutup hati pada hal-hal yang tidak ingin kau
rasakan”
***
Mereka kembali dalam diam tak ada lagi hingga tanpa terasa mobil
berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas dan di
depan langsung di sambut kolam air mancur yang begitu indah
“kita sudah sampai tuan” suara Pak Munir membuyarkan lamunan mereka
berdua, agra hanya menggaguk menanggapinya dan segera menyakukan ponselnya
Pak munir segar turun dan mengitari mobil menuju pintu dekat agra
untuk membukakan pintu, setelah pintu mobil terbuka Agra segera turun
Sedangkan Ara, ia tidak menunggu pak munir membukakan pintu, ia
sudah terlebih dulu turun dari mobil
Nampak di teras rumah sudah berjejer para pelayan rumah dan Rendi
yang berdiri di jajaran paling depan berdampingan dengan Ratih , ibunya Agra
Ara segera berjalan berputar dan berdiri di damping Agra, Agra pun
langsung menarik tangan Ara , membuat empunya tangan sedikit kaget, jantungnya
berdegup kencang , Ara memandang punggung pemilik tangan yang sedang menariknya
“apa yang kau lakukan pak, aku bisa jantungan” batin Ara
Agra berhenti tepak di depan Ratih, ibunya yang berdiri anggun bak
ibu suri. Busana hitam selutut dengan
hills yang begitu tinggi. Rambut di tarik ke belakang di sanggul anggun. Raut mukanya
yang selalu tampak seram di mata ara kini berubah 180 derajat, kini terlihat
begitu segar dan bersahabat tapi tetap tidak meninggalkan kesan tegas
Meskipuun sudah berumur, tapi masih tetap cantik. Ia mendekat pada
Ara, ia memegang tanga Ara hangat, tangan yang sudah di lepas oleh Agra kini di
raih oleh ibunya
“selamat datang nak” ibu
Agra langsung memeluk hangat Ara “selamat bergabung menjadi keluar kami”
“terimakasih nyonya” Ara begitu canggung dengan mertuanya itu
“panggil saya ibu, seperti Agra memanggil saya”
“baik bu”
“mari masuk” Ratih menarik tangan Ara, dan semua pelayan
menundukkan kepalanya memberi hormat, wanita itu seperti melupakan putranya,
tak ada percakapan diantara mereka, seolah-olah Ratih hanya bisa peduli pada
menantunya saja
Agra masih tertinggal di luar bersama Rendi
“bagaimana pekerjaanmu? Apa sudah beres?”
“sudah tuan” Rendi menjawab begitu kaku dan resmi
“dasar kau sudah ku bilang jangan bicara seperti itu padaku jika di
rumah” agra memukul punggung Rendi supaya tidak seperti Robot, Rendi pun hanya
menggangguk sambil menahan sakit karena pukulan Agra terlalu keras
“maafkan aku ...” agra berucap pelan
“untuk apa?” Rendi heran dengan sahabatnya itu, yang tiba-tiba
meminta maaf
“ya jelas untuk tadi lah ...., aku sudah memukulmu ...., itu kan
sakit, sakit sekali kan ...?” Agra mencoba membuat alasan yang jelas-jelas kata
maafnya itu bukan untuk hal itu
__ADS_1
“itu bukan dirimu ...” Rendi tak percaya dengan alasan Agra
“memang aku seperti apa? Jangan sok tau kamu ...” bantah Agra
“seenggaknya aku tahu apa alasanmu minta maaf” jawab Renndi masih
dengan wajah datarnya
‘memang kamu peramal, atau jangan-jangan kamu bisa baca pikiran
orang ya ...?”
“aku bisa baca pikireanmu ...” lagi-lagi jawaban Rendi membuat agra
bergidik ngeri
“sudah sana pulang, besok datang ke sini pagi-pagi sekali, aku
banyak pekerjaan”
“baik, selamat malam” rendi menunduk memberi hormat dan berlalu
meninggalkan agra menuju ke mobilnya yang terparkir tak jauh darinya berdiri
Rendi segera memasuki mobil dan melajukannya, setelah mobil Rendi
tak terlihat lagi Agra pun segera masuk ke dalam rumah, langkahnya terhenti di
ruang keluarga saat melihat ibunya dan Ara sedang berbincang di sana
Ratih melihat ke arah Agra, Agra yang mengerti tatapan ibunya, ia
tak mau menurutinya
“aku ke kamar, aku ngantu” Agra berkata begitu dingin dan
melangkahkan kakinya dengan cepat menaiki tangga
“Gra ..., berhenti ...”Saat sampai di tengah-tengah tangga
langkahnya terhenti ketika ibunya memanggil, Agra hanya menghentikan langkahnya
sebentar dan kembali berjalan hingga menghilang di balik pintu
“dia memang kers kepala” gumam Ratih
“saya tahu ...” Ara menanggapi gumaman mertuanya
“ya memang seharusnya kamu tahu, karena sudah cukup lama kau
bekerja dengannya”
sejak tadi berdiri tak jauh dari tempat Ara duduk
“kemarilah” wanita paruh baya itu pun segera mendekat
“ kenalkan ini bi Anna , dia yang akan membantu semua keperluanmu,
dia kepala pelayan disini”
“selamat datang nona” bi Anna pun menyapa Ara
“terimakasih bi, salam kenal”
“karena saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, jadi
istirahatlah, saya tinggal dulu” Ratih pun meninggalkan Ara bersama bi anna
Setelah Ratih tak terlihat lagi, ara segera menghela nafas,
menghilangkan rasa kaku yang sejak tadi
menjalar
“walaupun tak seseram biasanya, tetap saja membuatku menahan nafas
...” gumam Ara
“ada apa nona?” walaupun gumamannya lirih tapi tetap saja masih bisa di dengar oleh bi
anna
“ah ..., tidak apa bik ..., oh iya ngomong-ngomong di mana ya
kamarku?”
“mari saya tunjukkan nona”
“baiklah ..., tapi aku harus mengambil koperku dulu” ara sambil
menunjuk ke luar rumah
“koper anfda sudah di kamar nona”
“hah ...” ara kaget sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya “sejak
__ADS_1
kapan?”
“sejak anda di sini nona”
“baiklah aku mengerti, ayo bi tunjukkan kamarku”
“baik nona mari” Ara pun berjalan di belakan bi anna, mereka
menaiki tangga yang sama yang di naiki Agra, kemudian mereka berhenti di depan
sebuah pintu yang sama juga dengan pintu yang di masuki agra
“sebentar bi ...” ara segera menahan tangan bi anna
“ada apa nona?” bi anna heran dengan gerakan tiba-tiba Ara
“ini kamarku?” ara ragu untuk bertanya
“iya nona”
“tapi bukankah ini tadi di masuki pak Agra?”
“iya nona, ini kamar anda dengan tuan muda”
“hah ..., berdua?”
“iya nona ...”
“aduh ...., bagaimana ini ...” gumam Ara
“ada yang bisa saya bantu nona”
“ahhh..., tidak pa pa, kenapa kau bicaranya seperti pak Rendi saja,
santai saja lah bi jika bicara dengan ku” ara bicara sambil mengedipkan matanya
dan membetulkan posisi kaca matanya
“maaf nona”
bi Anna segera membuka pintu agar Ara tidak banyak bicara lagi,
hari ini ia begitu di buat repot oleh pertanyaan-pertanyaan Ara
“silahkan masuk nona, ini kamar anda”
“terima kasih bi Anna, panggil saya Ara saja bik, saya nggak enak
di panggil seperti itu”
“maaf nona, tapi itu tidak sopan, biarkan seperti ini saja, selamat
istirahat nona” Ara pun pasrah dan segera masuk ke dalam kamar
Setelah menutup pintunya kembali, Ara langsung mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru kamar, kamar ini luasnya 4 kali lebih luas dari
kamarnya di rumah, matanya berhenti pada pria yang sedang duduk bersandar di
sandaran ranjang sambil memainkan hpnya
Ara pun segera mendekati pria itu yang tak lain adalah Agra, ia
memperhatikan Agra
“pak ....”
***
“kamu tersenyum tapi kamu ingin menangis, kamu berbicara , tapi
kamu diam, kamu berpura-pura seperti kamu bahagia , tapi sebenarnya tidak”
-
-
-
-
-
-
INFO PENTING
hai .... para reader ....
author benar-benar mengharapkan like
beberapa komentar
dan tak lupa minta vote
__ADS_1
maaf ya jika terlalu banyak permintaan
tapi hanya itu uypahnya untuk menambah semangat kami menulis