My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 38


__ADS_3

“kau bisa menutup mata pada hal-hal yang tidak ingin kau lihat,


tapi kau tidak akan pernah bisa menutup hati pada hal-hal yang tidak ingin kau


rasakan”


***


Mereka kembali dalam diam tak ada lagi hingga tanpa terasa mobil


berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas dan di


depan langsung di sambut kolam air mancur yang begitu indah


“kita sudah sampai tuan” suara Pak Munir membuyarkan lamunan mereka


berdua, agra hanya menggaguk menanggapinya dan segera menyakukan ponselnya


Pak munir segar turun dan mengitari mobil menuju pintu dekat agra


untuk membukakan pintu, setelah pintu mobil terbuka Agra segera turun


Sedangkan Ara, ia tidak menunggu pak munir membukakan pintu, ia


sudah terlebih dulu turun dari mobil


Nampak di teras rumah sudah berjejer para pelayan rumah dan Rendi


yang berdiri di jajaran paling depan berdampingan dengan Ratih , ibunya Agra


Ara segera berjalan berputar dan berdiri di damping Agra, Agra pun


langsung menarik tangan Ara , membuat empunya tangan sedikit kaget, jantungnya


berdegup kencang , Ara memandang punggung pemilik tangan yang sedang menariknya


“apa yang kau lakukan pak, aku bisa jantungan” batin Ara


Agra berhenti tepak di depan Ratih, ibunya yang berdiri anggun bak


ibu suri. Busana hitam selutut  dengan


hills yang begitu tinggi. Rambut di tarik ke belakang di sanggul anggun. Raut mukanya


yang selalu tampak seram di mata ara kini berubah 180 derajat, kini terlihat


begitu segar dan bersahabat tapi tetap tidak meninggalkan kesan tegas


Meskipuun sudah berumur, tapi masih tetap cantik. Ia mendekat pada


Ara, ia memegang tanga Ara hangat, tangan yang sudah di lepas oleh Agra kini di


raih oleh ibunya


 “selamat datang nak” ibu


Agra langsung memeluk hangat Ara “selamat bergabung menjadi keluar kami”


“terimakasih nyonya” Ara begitu canggung dengan mertuanya itu


“panggil saya ibu, seperti Agra memanggil saya”


“baik bu”


“mari masuk” Ratih menarik tangan Ara, dan semua pelayan


menundukkan kepalanya memberi hormat, wanita itu seperti melupakan putranya,


tak ada percakapan diantara mereka, seolah-olah Ratih hanya bisa peduli pada


menantunya saja


Agra masih tertinggal di luar bersama Rendi


“bagaimana pekerjaanmu? Apa sudah beres?”


“sudah tuan” Rendi menjawab begitu kaku dan resmi


“dasar kau sudah ku bilang jangan bicara seperti itu padaku jika di


rumah” agra memukul punggung Rendi supaya tidak seperti Robot, Rendi pun hanya


menggangguk sambil menahan sakit karena pukulan Agra terlalu keras


“maafkan aku ...” agra berucap pelan


“untuk apa?” Rendi heran dengan sahabatnya itu, yang tiba-tiba


meminta maaf


“ya jelas untuk tadi lah ...., aku sudah memukulmu ...., itu kan


sakit, sakit sekali kan ...?” Agra mencoba membuat alasan yang jelas-jelas kata


maafnya itu bukan untuk hal itu

__ADS_1


“itu bukan dirimu ...” Rendi tak percaya dengan alasan Agra


“memang aku seperti apa? Jangan sok tau kamu ...” bantah Agra


“seenggaknya aku tahu apa alasanmu minta maaf” jawab Renndi masih


dengan wajah datarnya


‘memang kamu peramal, atau jangan-jangan kamu bisa baca pikiran


orang ya ...?”


“aku bisa baca pikireanmu ...” lagi-lagi jawaban Rendi membuat agra


bergidik ngeri


“sudah sana pulang, besok datang ke sini pagi-pagi sekali, aku


banyak pekerjaan”


“baik, selamat malam” rendi menunduk memberi hormat dan berlalu


meninggalkan agra menuju ke mobilnya yang terparkir tak jauh darinya berdiri


Rendi segera memasuki mobil dan melajukannya, setelah mobil Rendi


tak terlihat lagi Agra pun segera masuk ke dalam rumah, langkahnya terhenti di


ruang keluarga saat melihat ibunya dan Ara sedang berbincang di sana


Ratih melihat ke arah Agra, Agra yang mengerti tatapan ibunya, ia


tak mau menurutinya


“aku ke kamar, aku ngantu” Agra berkata begitu dingin dan


melangkahkan kakinya dengan cepat menaiki tangga


“Gra ..., berhenti ...”Saat sampai di tengah-tengah tangga


langkahnya terhenti ketika ibunya memanggil, Agra hanya menghentikan langkahnya


sebentar dan kembali berjalan hingga menghilang di balik pintu


“dia memang kers kepala” gumam Ratih


“saya tahu ...” Ara menanggapi gumaman mertuanya


“ya memang seharusnya kamu tahu, karena sudah cukup lama kau


bekerja dengannya”


sejak tadi berdiri tak jauh dari tempat Ara duduk


“kemarilah” wanita paruh baya itu pun segera mendekat


“ kenalkan ini bi Anna , dia yang akan membantu semua keperluanmu,


dia kepala pelayan disini”


“selamat datang nona” bi Anna pun menyapa Ara


“terimakasih bi, salam kenal”


“karena saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, jadi


istirahatlah, saya tinggal dulu” Ratih pun meninggalkan Ara bersama bi anna


Setelah Ratih tak terlihat lagi, ara segera menghela nafas,


menghilangkan rasa kaku yang sejak  tadi


menjalar


“walaupun tak seseram biasanya, tetap saja membuatku menahan nafas


...” gumam Ara


“ada apa nona?” walaupun gumamannya lirih  tapi tetap saja masih bisa di dengar oleh bi


anna


“ah ..., tidak apa bik ..., oh iya ngomong-ngomong di mana ya


kamarku?”


“mari saya tunjukkan nona”


“baiklah ..., tapi aku harus mengambil koperku dulu” ara sambil


menunjuk ke luar rumah


“koper anfda sudah di kamar nona”


“hah ...” ara kaget sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya “sejak

__ADS_1


kapan?”


“sejak anda di sini nona”


“baiklah aku mengerti, ayo bi tunjukkan kamarku”


“baik nona mari” Ara pun berjalan di belakan bi anna, mereka


menaiki tangga yang sama yang di naiki Agra, kemudian mereka berhenti di depan


sebuah pintu yang sama juga dengan pintu yang di masuki agra


“sebentar bi ...” ara segera menahan tangan bi anna


“ada apa nona?” bi anna heran dengan gerakan tiba-tiba Ara


“ini kamarku?” ara ragu untuk bertanya


“iya nona”


“tapi bukankah ini tadi di masuki pak Agra?”


“iya nona, ini kamar anda dengan tuan muda”


“hah ..., berdua?”


“iya nona ...”


“aduh ...., bagaimana ini ...” gumam Ara


“ada yang bisa saya bantu nona”


“ahhh..., tidak pa pa, kenapa kau bicaranya seperti pak Rendi saja,


santai saja lah bi jika bicara dengan ku” ara bicara sambil mengedipkan matanya


dan membetulkan posisi kaca matanya


“maaf nona”


bi Anna segera membuka pintu agar Ara tidak banyak bicara lagi,


hari ini ia begitu di buat repot oleh pertanyaan-pertanyaan Ara


“silahkan masuk nona, ini kamar anda”


“terima kasih bi Anna, panggil saya Ara saja bik, saya nggak enak


di panggil seperti itu”


“maaf nona, tapi itu tidak sopan, biarkan seperti ini saja, selamat


istirahat nona” Ara pun pasrah dan segera masuk ke dalam kamar


Setelah menutup pintunya kembali, Ara langsung mengedarkan


pandangannya ke seluruh penjuru kamar, kamar ini luasnya 4 kali lebih luas dari


kamarnya di rumah, matanya berhenti pada pria yang sedang duduk bersandar di


sandaran ranjang sambil memainkan hpnya


Ara pun segera mendekati pria itu yang tak lain adalah Agra, ia


memperhatikan Agra


“pak ....”


***


“kamu tersenyum tapi kamu ingin menangis, kamu berbicara , tapi


kamu diam, kamu berpura-pura seperti kamu bahagia , tapi sebenarnya tidak”


-


-


-


-


-


-


INFO PENTING


hai .... para reader ....


author benar-benar mengharapkan like


beberapa komentar


dan tak lupa minta vote

__ADS_1


maaf ya jika terlalu banyak permintaan


tapi hanya itu uypahnya untuk menambah semangat kami menulis


__ADS_2