
Setelah pertemuannya dengan Rendi, Agra pun segera memberitahu Ara bahwa Rendi setuju untuk mengajak Nadin, Ara kini sudah memulai aktifitasnya di kafe dan toko roti.
"mbak Rini!" panggil Ara pada mbak Rini, teman sekaligus tetangga yang selama ini ia percayai untuk menjaga toko rotinya.
"Iya mbak Ara, ada apa?" bak Rini yang masih membuat adonan menoleh pada Ara yang sudah berlari menghampirinya.
"Mbak Rini nggak keberatan kan kalau satu Minggu ini saya ijin lagi?"
"Emang mbak Ara mau ke mana?"
"Aku akan berlibur ke Korea, ini pertama kalinya buat aku mbak!" Ara tersenyum bahagia. "Aku juga sama Nadin, nanti!"
"Ihhh ...., senengnya bisa rame-rame ke sana, nggak pa pa kalau mbak Ara ke sana, tapi jangan lupa oleh-olehnya ya mbak!"
"Tentu saja, mana mungkin aku sampai lupa!"
Ting Ting
Bel pintu berbunyi, menandakan ada yang sedang masuk, seketika menghentikan pembicaraan mereka.
"Aku ke depan dulu mbak, kamu lanjutkan heh buat kuenya!"
Ara pun segera menyambut tamunya.
"Selamat datang!" Ara menyambut sambil menundukkan kepalanya, tapi seseorang malah mendorong kepalanya ke belakang, membuat Ara terpaksa menatap siapa yang datang.
"Kak Divta!" Ara memundurkan tubuhnya, memberi jarak, kalau sampai anak buah Agra melihat dan melaporkannya bisa runyam urusannya.
"Sendiri?" Divta langsung duduk di salah satu kursi sambil mengamati sekitar, Ara mengikutinya ia berdiri di depan meja Divta.
"Ada apa kak ke sini?"
"Biasanya kalau orang-orang ke sini ngapain?" Divta malah balik bertanya, membuat Ara berdecak kecil hampir tak terlihat.
Bisa jadi masalah besar kalau kayak gini .....
"Minum kopi, jus dan makan kue!" ucap Ara sambil membenahi kaca matanya, atas perintah suaminya, Ara harus memakai kembali kaca matanya saat keluar rumah. Aturan dari mana itu.
"Bagus, aku mau minum teh dan kue terbaru di toko ini!" Divta menyenderkan punggungnya dan melipat tangannya di depan dada. Ara pun segera meninggalkan Divta, ia sibuk membuat kopi, tapi matanya tak henti mengawasi kakak iparnya itu.
Apa sih sebenarnya yang dia inginkan ...., asal jangan aneh-aneh saja ...., dia benar-benar membuatku takut.
Ara mengambil satu piring kue dengan berbagai varian rasa. Ia kembali menghampiri Divta yang masih duduk dengan posisi yang sama.
"Silahkan kak!" Divta membuka matanya, ia menatap Ara, tatapan yang masih sama seperti waktu itu, hal itulah yang membuat Ara semakin takut.
"Duduklah ...!"
__ADS_1
"Hehhh?"
"Duduklah di sini, temani aku!" Divta menunjuk salah satu kursi yang ada di depannya.
"Nggak usah kak, aku berdiri saja!" Ara menolaknya, mana mungkin ia duduk dengan Divta, sedangkan ia selalu di awasi.
"Jangan takut, ayo duduk!" Divta segera menarik tangan Ara, membuat Ara benar-benar duduk. Divta meminum kopinya, mencicipi kue yang ada di depannya, ia begitu santai, berbeda dengan Ara. Ara begitu tegang, ia tidak mau membuat suaminya salah faham.
"Ra ...., kamu sendiri? kau belum menjawab pertanyaanku dari tadi!"
"Ehh ..., I-iya....., maksudku tidak, aku sama mbak Rini dan suaminya!" Ara begitu gugup.
"Kenapa gugup sekali, seolah-olah aku ini setan saja!"
"Maafkan aku kak!" Ara menyesal, ia merasa tidak enak karena membuat Divta tersinggung.
"Jangan sungkan!"
Suasana kembali hening, untung saja toko sedang dama keadaan sepi, Divta kembali menyesap kopinya, menikmati kuenya hingga hampir habis.
"Nadin?" tanya Divta lagi setelah menyelesaikan makannya.
"Maksudnya?"
"Apa Nadin ke sini, maksudku, apa sesekali ke sini?"
"Tidak aku pikir ke sini, ya sudah aku pergi dulu!" Divta pun segera berdiri meninggalkan Ara yang masih bingung, ia mengamati meja itu, ternyata Divta sudah menyisipkan dua lembar uang seratus ribuan.
Ara segera mengejar Divta, ia ingin mengembalikan Uang itu, tapi terlambat, dia sudah menghilang bersama mobilnya.
"Seharusnya ini tidak perlu!" Ara mengamati uang itu. "Ini terlalu banyak!"
"Memang Nadin ke mana? Aku jadi cemas!"
Ara kembali masuk ke dalam toko, ia mengambil ponselnya, dan segera mencari kontak nomor Nadin.
"Hallo kak!"
"Hallo dek, kamu di mana?"
"Aku?"
"Iya kamu, kakak telpon kamu itu, pasti nanyain kamu!"
"Aku di rumah kak, di apartemen mas Rendi, ada apa kak?"
"Kamu baik-baik saja kan?"
__ADS_1
"Memang aku kenapa kak?"
"Bisa nggak kalau di tanya itu nggak usah balik nanya!?" Ara di buat jengkel oleh adiknya itu.
"Aku baik kak, aku sehat, kenapa kakak tiba-tiba tanya kayak gitu?"
"Tidak pa pa, cuma nanya, ya sudah kalau kau baik-baik saja, jangan tutupi apapun dari kakak, kamu mengerti!"
"Mengerti kak!"
"Ya udah kakak tutup dulu ya, bye!"
Ara segera mematikan sambungan telponnya, ia merasa lega karena adiknya di kenapa-kenapa.
"Ah iya ...., kenapa aku lupa mengatakan ke Nadin kalau kita besok ke Korea! Ahhhh ...., dasar pelupa!" Ara memukuli kepalanya sendiri.
Ara meletakkan ponselnya di tempat semula, ia kembali dengan aktifitasnya, hingga sore. Biasanya ia mengajak Sanaya dan Sagara, tapi karena hari ini nyonya Ratih berada di rumah, jadi mereka lebih memilih bermain bersama Omanya.
Tepat setelah semua pekerjaannya selesai, Agra sudah berdiri di depan pintu. Sekarang Agra memiliki kebiasaan baru yaitu menjemput istrinya. Rendi hari ini cuma mengantar sampai toko saja, Agra sudah memintanya untuk kembali.
"Rendi kemana bby?" tanya Ara, saat suaminya sudah mengecup kening dan bibirnya, Agra benar-benar tak tahu tempat, setiap ketemu Ara bawaannya ingin segera menyentuh istrinya itu.
"Dia aku suruh pulang! Paling juga balik ke perusahaan!"
"Kasian Rendi, kau pasti sudah sangat menyiksanya!"
"Memang aku menyiksa bagaimana?"
"Kau memberi pekerjaan terlalu banyak!"
"Kenapa kau selalu menyalahkan ku, kau ini, cepat ambil tasmu, kita ke rumah ayah!"
"Ke rumah ayah, ada apa?"
"Jangan banyak tanya, nanti kamu juga tahu sendiri!"
Ara pun kembali masuk dan mengambil tas kecilnya, kemudian berpamitan pada mbak Rini yang masih sibuk beres-beres.
Ia kembali menghampiri suaminya yang sudah bersiap dengan menggandeng tangan Ara.
**Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya, kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘😘**