
Sanaya merengek meminta papi dan momy nya berbelanja terlebih dulu. Ia sudah lama tidak berjalan-jalan bersama papi dan momy nya.
“Ayolah pap!” rengek Sanaya.
“Tapi sayang, abang kamu tidak ikut!” Agra merasa tidak enak jika harus jalan-jalan tanpa putranya juga.
“Tapi pap, Gara tidak akan suka ikut jalan-jalan,
dia nakal sekali. Dia pasti sedang bermain-main dengan Abimanyu. Kasihan sekali
anak itu!” ucap Sanaya , ia cukup simpati dengan teman abangnya itu.
“Memang kenapa dengan Abimanyu?” Tanya Agra
penasaran.
“Gara selalu saja menyusahkan nya, dia selalu
menjahili Abimanyu!”
“Benarkah?” Tanya Agra pada Sanaya, tapi matanya menatap istrinya. Sepertinya istrinya itu sudah mulai melupakan ngambeknya. Ara
hanya menggerakkan matanya tanda setuju dengan putrinya.
Akhirnya mobil mereka sampai pada sebuah pusat perbelajaan.
“Kita sampai sayang!” ucap Agra sambil memarkir mobilnya.
“Hore …!” Sanaya teriak kegirangan.
Mereka turun dan anak buah Agra sudah siap berjaga
di tempat yang dapat menjangkau keamanan tuannya itu.
Mereka berjalan layaknya keluarga bahagia, keluarga
seperti biasanya. Agra tidak terlalu suka di perlakukan istimewa, tapi perannya
sebagai orang besar membuatnya tidak bisa menolak semua perlakuan istimewa itu.
Banyak di luar sana yang menunggu orang-orang yang mengawal keluarganya lengah
dan menggunakan kesempatan itu untuk mencelakai mereka.
“Pap …, bagaimana kalau kita ke toko mainan dulu!”
Ajak Sanaya sambil menarik tangan papinya, sedangkan Ara kualahan mengimbangi
langkah mereka, Sanaya begitu lincah. Sesekali anak itu mengajak papinya
berlari.
“tentu saja sayang …, apapun yang di minta tuan putrinya papi!”
Mereka pun akhirnya menuju sebuah toko yang menjual segala macam mainan untuk anak-anak. Sanaya begitu kebingungan memilih semua mainan-mainan itu.
“Bby …, jangan terlalu di manjakan, Sanaya nya!”
protes Ara saat melihat suaminya menuruti semua permintaan putrinya.
“Ayah ini bisa apa, sayang …! Semuanya hanya untuk putra putriku!” ucap Agra tak berdaya sambil menakup kedua pipi istrinya dan
terakhir meninggalkan kecupan di bibir istrinya. Dan seketika mendapat cubitan
__ADS_1
di perutnya.
“Auhg …!”
“Siapa suruh menciumku, lihat kita jadi tontonan mereka!” ucap Ara lirih, semua mata di tempat itu memperhatikan mereka, mereka
melihat Agra dengan penuh kekaguman, hal itu membuat Ara lagi-lagi kesal
karenanya.
“Mereka hanya iri pada kita, sayang!” bisik Agra di telinga Ara sambil menarik pinggang istrinya dengan sebelah lengannya sambil
berjalan mengikuti kemanapun Sanaya pergi. Gadis kecil it uterus berkeliling
dengan membawa troli belanjaan dan sesekali mengambil mainan yang ia sukali,
walaupun begitu ia juga tidak melupakan membelikan mainan untuk abangnya dan
Abimanyu.
“Aku tidak tahu apa mainan kesukaan Abimanyu! Apa aku memilih mainan yang sama seperti kesukaan gara saja ya …!” Sanaya
menimbang-nimbang mainan yang akan di berikan pada Abimanyu, seperti pesona
Abimanyu telah berhasil menarik perhatian Sanaya.
“Nay …, sedang apa?’ Tanya Ara pada putrinya itu saat melihat putrinya itu kebingungan.
“Nay bingung mom!”
“Bingung kenapa sayang?”
“Abimanyu suka mainan apa ya?”
sedang berpikir.
“Mungkin papi lebih tahu sayang!”
“Aku?” Agra terkejut dan menunjuk wajahnya sendiri,
selama ini dia tidak tahu tentang mainan bagaimana bisa ia di suruh memilh
mainan.
Ara dan Sanaya menatap Agra bersamaan dengan wajah
penuh harap, membuat Agra keki sendiri. Ia pun pura-pura kuat, dilipatnya kedua
tangan di depan dada. Memperhatikan semua mainan anak laki-laki itu.
Menyipitkan matanya, seperti sedang mengincar sesuatu.
“Harus papi ya?” Tanya Agra lagi memastikan.
“Iya!” jawab Sanaya dan Ara bersamaan.
Aduh …, dua perempuan ini kenapa selalu membuatku dalam pilihan yang berat …., apa
tidak ada yang bisa aku lakukan yang lainnya selain memilih diantara ribuan
mainan ini ….
“Apa papi sudah menemukannya?” Tanya sanaya tidak
__ADS_1
sabar.
“Sabar sayang, papi sedang memilih yang paling
tepat!” Agra berusaha ngeles.
“Kenapa milihnya selama itu?” Tanya Ara yang juga
tidak sabar. Hal itu membuat Agra berdecak.
“Bagaimana kalau ini!” akhirnya setelah melakukan
pemilihan yang panjang itu, pilihannya jatuh pada sebuah mainan tembakan air.
“Apa papi yakin?” Tanya Sanaya ragu dengan pilihan
papinya. Sedangkan Agra sudah tersenyum penuh kemenangan karena merasa berhasil
memilih mainan yang paling tepat. Ara hanya bisa menepuk jidatnya.
“kenapa?” Tanya Agra sambil menggaruk tengkutnya
yang tidak gatal.
“Yang benar saja, bby …, kau lihat penampilan
Abimanyu saja sesangar itu, kamu mau kasih tembakan air!” keluh Ara.
“Papi keterlaluan …!” Sanaya tak mau kalah.
“Biar momi saja sayang yang milih, bagaimana bisa
papimu milih mainan, milih baju aja suka salah!” ara mengambil alih peran Agra
dan memilh mainan untuk Abimanyu. Setelah memperhatikan semua maian itu
akhirnya pilihan Ara tertuju pada satu mainan.
“Aku rasa Abimanyu akan suka ini!” Ara mengambil sebuah ukulele, gitar kecil.
“Iya mom, Nay setuju dengan pilihan momi!”
Sanaya dan Ara segera membawa semua belanjaannya ke
kasir, sedangkan Agra masih di buat bingung dengan pilihan kedua perempuan
pemilik hatinya itu.
“Apa bagusnya gitar kecil? Memang itu sebuah
mainan?”
“terserahlah …., memang wanita selalu benar …!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘
__ADS_1