My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
seragam yang hilang


__ADS_3

“Mana seragam gue?” gumam sanaya sambil mencari-cari


keberadaan seragamnya hingga di bawah bangku. Seingatnya ia meninggalkan


seragamnya di sandara bangku tempat duduknya.


“Ke mana ya?”


Jangan-jangan ada yang ngerjai gue lagi, tapi siapa ya …, batin Sanaya mencoba menebak-nebak siapa yang melakukannya.


Tidak ada siapapun di kelasnya saat ini, kelas itu


terlihat begitu sepi. Memang sudah menjadi kebiasaan di kelas itu jika setelah


selesai jam olah raga, para penghuninya akan pergi ke kantin untuk sekedar membasahi tenggorokannya atau mengisi perutnya.


Sanaya pun berinisiatif untuk mencari-cari baju seragamnya di seluruh bangku temannya tapi tetap tidak ada, ia juga kembali ke kamar mandi takut jika ternyata ia kelupaan membawa bajunya masuk ke kelasnya


kembali. Tapi ternyata di sana juga tidak ada, jelas saja ia membawanya tadi


bersama Riska.


Ia pun kembali lagi ke kelasnya dengan sedikit putus


asa karena tidak bisa menemukan seragamnya, di kelas yang tadi sepi itu


sekarang satu per satu temannya sudah mulai masuk. Mereka terlihat saling


berbisik, masih dengan topik yang sama, gossip kedekatan Sanaya dengan Abimanyu


terlebih lagi di tambah kejadian tadi saat abimanyu dengan terang-terangan


memanggul Sanaya.


“Nay …, ya ampun gue udah nunggu lo sampek lumutan,


lo nggak nyamperin gue kemana aja?” tanya Riska yang malah nyerocos tanpa


henti.


“Seragam gue ilang, Ris!” ucap Nay yang sudah duduk


putus asa di bangkunya. Ia tidak terlalu memikirkan gossip yang beredar, karena


kenyataannya memang mereka dekat Cuma tidak ada yang mengetahuinya saja.


“Loh kok bisa? Tadi pas gue kembali ke kelas_!”


ucapan Riska menggantung. Ia tidak yakin dengan apa yang ia lihat.


“Tadi masih?” tanya Nay yang sudah mengangkat


kepalanya menatap Riska.


“Nggak yakin, kayaknya sih udah nggak ada …!” Riska


malah tampak bingung, ia ingin memberitahu sesuatu tapi tidak yakin.


“hehhhh …., trus kemana baju gue?”


Riska kembali duduk, ia sempat melihat ada yang


janggal tadi. Ia seperti melihat seragam yang sama menggantung di pagar


belakang sekolah.


Suasana di kelas itu sangat gaduh jadi tidak ada


yang memperhatikan percakapan mereka.


“Nay_!” panggil Riska.


“Hemmm?” Nay masih menutup wajahnya dengan kedua


tangan. Ia tidak mungkin melanjutkan pelajaran jika masih pakai kaos olah raga,


pasti guru setelahnya akan memintanya keluar kelas dan memberi tugas yang


banyak karena tidak mematuhi peraturan.


“Gue tadi kayaknya liat seragam deh, Nay!”


Sanaya pun dengan cepat menoleh ke arah Riska,


“Dimana?”

__ADS_1


“Pas gue ke kantin, gue lihat ada segaram yang


menggantung di belakang sekolah!”


Mendengarkan hal itu, Nay pun segera bangun dari


duduknya. Ia segera meninggalkan Riska.


“Mau ke mana?”


“Mengambilnya!”


Saat Riska hendak bangun dari duduknya, guru masuk


ke dalam kelas, Nay hampir saja menabrak guru itu.


“Mau ke mana?” tanya pak Guru dengan kumis tebal


yang menghiasi wajahnya, suara gaduh di kelas seketika hilang berganti dengan


hening. Nay terpaksa menghentikan langkahnya, pak Guru memperhatikan penampilan


Sanaya yang masih memakai seragam olah raga.


“Kenapa belum ganti baju?”


“Ini pak, saya mau ganti baju! Kalau begitu saya


permisi ijin ke belakang pak!”


Tanpa menunggu jawaban dari pak guru, Nay pun segera


berlari. Riska mengurungkan niatnya untuk meninggalkan bangkunya. Ia memilih


kembali duduk dan mengikuti pelajaran.


Sanaya berlari dengan cepat, jika sampai berita


dirinya bolos pelajaran hari ini sampai pada omanya, bisa-bisa ia di skors


lagi uang jajannya, bisa dua minggu tidak dapat uang jajan.


“Siapa yang mengerjai gue, atau jangan-jangan Ariel,


dia kan benci banget sama gue!” gumam Nay sambil terus berjalan. Dan benar saja


bendera di pagar  yang paling atas.


Sanaya hanya bisa menatap seragamnya itu, cukup


tinggi untuk di raih dengan tangan kosong,


“bagaimana sekarang?” Sanaya hanya bisa jongkok


sambil menatap baju seragamnya. Setelah cukup lama akhirnya Sanaya menatap ke


sekeliling tempat itu, siapa tahu ada sesuatu yang bisa di gunakan untuk


mengambilnya.


Tidak jauh dari tempat itu ia bisa melihat ada


sebuah tongkat pramuka, ia bisa menyimpulkan jika mungkin pelakunya juga


menggunakan tongkat itu untuk menaruh seragamnya di atas sana.


Sanaya pun dengan cepat mengambil tongkat itu, dia


tidak begitu tinggi jadi cukup sulit untuk mengambilnya. Beberapa kali ia


melompat dengan tongkat itu.


“Siapa yang bertubuh tinggi seperti ini?” gerutunya,


karena ia masih kurang tinggi walaupun di tambah dengan tongkat  yang panjangnya hampir satu setengah meter.


“Ehhhh …!”


“Ehhhh …!”


“Ehhhh …!”


Entah sudah lompatan ke berapa dan akhirnya kemeja


atasannya bisa terlepas juga tapi, kemeja itu melayang bebas begitu saja dan …

__ADS_1


“Yahhhh …, yahhhh …, yahhhh ….!” Sanaya hanya bisa


bengong menyaksikan bajunya terjatuh ke selokan yang ada di samping pagar.


Glodakkk


Tongkat itu ia jatuhkan begitu saja saat melihat


kemeja putihnya melayang bebas ke selokan, tangannya bukannya ia gunakan untuk


menangkap kemeja itu tapi malah ia gunakan untuk menutup mulutnya yang terbuka


lebar.


“Ohhh no ….!”


Setelah selesai dengan keterkejutannya, Sanaya


buru-buru mengambil kemejanya itu agar tidak ikut terbawa arus. Memeng tidak


begitu besar airnya tapi cukup untuk menghanyutkan satu kemeja kecil saja.


Sanaya memegang dengan kedua ujung jarinya dan


tangan sebelahnya ia gunakan untuk menutup hidungnya.


“Ahhhh bau …!”


Sanaya membawa kemejanya dan meletakkannya di tanah


lagi, ia masih harus mengambil rok dan juga jas kecilnya. Ia mengambil


tongkatnya yang sempat ia jatuhkan dan kembali melompat agar bisa meraih roknya


lagi.


“Ehhhh …, ehhhhh …, ehhhh ….!” Terlihat sekali jika


Sanaya sedang sangat berusaha.


“Kurang tinggi lompatnya!” suara seseorang itu


membuat Sanaya menghentikan kegiatannya. Sepertinya ia masih sendiri dari tadi


tapi tiba-tiba ada suara lainnya.


Sanaya mengedarkan pandangannya, ia mencari sumber


suara dan ternyata ada seseorang yang sedang tiduran di balik pohon besar di


samping tempatnya berada saat ini.


“kamu …, nggapain di situ?” tanya sanaya yang masih


terkejut.


“Kamu yang ngapain di situ? Mengganggu orang tidur


aja!” keluh anak laki-laki itu,


Anak laki-laki yang sama yang sagara temui tadi


pagi, dia masih dengan penampilannya yang terlihat sekali kalau dia anak yang


bandel.


“kamu nggak denger bel masuk? Ngapain di sini? Tiduran? Kalau tidur tuh di rumah jangan di sekolah!” cerocos Sanaya mengeluarkan jurus cerewetnya hingga membuat anak laki-laki itu menutup


telinganya.


“Berisik sekali!” keluhnya, ia pun berdiri dan menghampiri Sanaya. “Lo lihat di sana!”


Anak laki-laki itu menunjuk ke arah kelas yang


tampak  gaduh, jika di lihat-lihat kelas itu ada tepat di samping kelas Sanaya.


“Kelas  XII H?” tanya Sanaya dan anak laki-laki itu mengangguk.


“kenapa gue tidak pernah melihat lo?” tanya sanaya lagi dengan mengerutkan keningnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2