
“Mana seragam gue?” gumam sanaya sambil mencari-cari
keberadaan seragamnya hingga di bawah bangku. Seingatnya ia meninggalkan
seragamnya di sandara bangku tempat duduknya.
“Ke mana ya?”
Jangan-jangan ada yang ngerjai gue lagi, tapi siapa ya …, batin Sanaya mencoba menebak-nebak siapa yang melakukannya.
Tidak ada siapapun di kelasnya saat ini, kelas itu
terlihat begitu sepi. Memang sudah menjadi kebiasaan di kelas itu jika setelah
selesai jam olah raga, para penghuninya akan pergi ke kantin untuk sekedar membasahi tenggorokannya atau mengisi perutnya.
Sanaya pun berinisiatif untuk mencari-cari baju seragamnya di seluruh bangku temannya tapi tetap tidak ada, ia juga kembali ke kamar mandi takut jika ternyata ia kelupaan membawa bajunya masuk ke kelasnya
kembali. Tapi ternyata di sana juga tidak ada, jelas saja ia membawanya tadi
bersama Riska.
Ia pun kembali lagi ke kelasnya dengan sedikit putus
asa karena tidak bisa menemukan seragamnya, di kelas yang tadi sepi itu
sekarang satu per satu temannya sudah mulai masuk. Mereka terlihat saling
berbisik, masih dengan topik yang sama, gossip kedekatan Sanaya dengan Abimanyu
terlebih lagi di tambah kejadian tadi saat abimanyu dengan terang-terangan
memanggul Sanaya.
“Nay …, ya ampun gue udah nunggu lo sampek lumutan,
lo nggak nyamperin gue kemana aja?” tanya Riska yang malah nyerocos tanpa
henti.
“Seragam gue ilang, Ris!” ucap Nay yang sudah duduk
putus asa di bangkunya. Ia tidak terlalu memikirkan gossip yang beredar, karena
kenyataannya memang mereka dekat Cuma tidak ada yang mengetahuinya saja.
“Loh kok bisa? Tadi pas gue kembali ke kelas_!”
ucapan Riska menggantung. Ia tidak yakin dengan apa yang ia lihat.
“Tadi masih?” tanya Nay yang sudah mengangkat
kepalanya menatap Riska.
“Nggak yakin, kayaknya sih udah nggak ada …!” Riska
malah tampak bingung, ia ingin memberitahu sesuatu tapi tidak yakin.
“hehhhh …., trus kemana baju gue?”
Riska kembali duduk, ia sempat melihat ada yang
janggal tadi. Ia seperti melihat seragam yang sama menggantung di pagar
belakang sekolah.
Suasana di kelas itu sangat gaduh jadi tidak ada
yang memperhatikan percakapan mereka.
“Nay_!” panggil Riska.
“Hemmm?” Nay masih menutup wajahnya dengan kedua
tangan. Ia tidak mungkin melanjutkan pelajaran jika masih pakai kaos olah raga,
pasti guru setelahnya akan memintanya keluar kelas dan memberi tugas yang
banyak karena tidak mematuhi peraturan.
“Gue tadi kayaknya liat seragam deh, Nay!”
Sanaya pun dengan cepat menoleh ke arah Riska,
“Dimana?”
__ADS_1
“Pas gue ke kantin, gue lihat ada segaram yang
menggantung di belakang sekolah!”
Mendengarkan hal itu, Nay pun segera bangun dari
duduknya. Ia segera meninggalkan Riska.
“Mau ke mana?”
“Mengambilnya!”
Saat Riska hendak bangun dari duduknya, guru masuk
ke dalam kelas, Nay hampir saja menabrak guru itu.
“Mau ke mana?” tanya pak Guru dengan kumis tebal
yang menghiasi wajahnya, suara gaduh di kelas seketika hilang berganti dengan
hening. Nay terpaksa menghentikan langkahnya, pak Guru memperhatikan penampilan
Sanaya yang masih memakai seragam olah raga.
“Kenapa belum ganti baju?”
“Ini pak, saya mau ganti baju! Kalau begitu saya
permisi ijin ke belakang pak!”
Tanpa menunggu jawaban dari pak guru, Nay pun segera
berlari. Riska mengurungkan niatnya untuk meninggalkan bangkunya. Ia memilih
kembali duduk dan mengikuti pelajaran.
Sanaya berlari dengan cepat, jika sampai berita
dirinya bolos pelajaran hari ini sampai pada omanya, bisa-bisa ia di skors
lagi uang jajannya, bisa dua minggu tidak dapat uang jajan.
“Siapa yang mengerjai gue, atau jangan-jangan Ariel,
dia kan benci banget sama gue!” gumam Nay sambil terus berjalan. Dan benar saja
bendera di pagar yang paling atas.
Sanaya hanya bisa menatap seragamnya itu, cukup
tinggi untuk di raih dengan tangan kosong,
“bagaimana sekarang?” Sanaya hanya bisa jongkok
sambil menatap baju seragamnya. Setelah cukup lama akhirnya Sanaya menatap ke
sekeliling tempat itu, siapa tahu ada sesuatu yang bisa di gunakan untuk
mengambilnya.
Tidak jauh dari tempat itu ia bisa melihat ada
sebuah tongkat pramuka, ia bisa menyimpulkan jika mungkin pelakunya juga
menggunakan tongkat itu untuk menaruh seragamnya di atas sana.
Sanaya pun dengan cepat mengambil tongkat itu, dia
tidak begitu tinggi jadi cukup sulit untuk mengambilnya. Beberapa kali ia
melompat dengan tongkat itu.
“Siapa yang bertubuh tinggi seperti ini?” gerutunya,
karena ia masih kurang tinggi walaupun di tambah dengan tongkat yang panjangnya hampir satu setengah meter.
“Ehhhh …!”
“Ehhhh …!”
“Ehhhh …!”
Entah sudah lompatan ke berapa dan akhirnya kemeja
atasannya bisa terlepas juga tapi, kemeja itu melayang bebas begitu saja dan …
__ADS_1
“Yahhhh …, yahhhh …, yahhhh ….!” Sanaya hanya bisa
bengong menyaksikan bajunya terjatuh ke selokan yang ada di samping pagar.
Glodakkk
Tongkat itu ia jatuhkan begitu saja saat melihat
kemeja putihnya melayang bebas ke selokan, tangannya bukannya ia gunakan untuk
menangkap kemeja itu tapi malah ia gunakan untuk menutup mulutnya yang terbuka
lebar.
“Ohhh no ….!”
Setelah selesai dengan keterkejutannya, Sanaya
buru-buru mengambil kemejanya itu agar tidak ikut terbawa arus. Memeng tidak
begitu besar airnya tapi cukup untuk menghanyutkan satu kemeja kecil saja.
Sanaya memegang dengan kedua ujung jarinya dan
tangan sebelahnya ia gunakan untuk menutup hidungnya.
“Ahhhh bau …!”
Sanaya membawa kemejanya dan meletakkannya di tanah
lagi, ia masih harus mengambil rok dan juga jas kecilnya. Ia mengambil
tongkatnya yang sempat ia jatuhkan dan kembali melompat agar bisa meraih roknya
lagi.
“Ehhhh …, ehhhhh …, ehhhh ….!” Terlihat sekali jika
Sanaya sedang sangat berusaha.
“Kurang tinggi lompatnya!” suara seseorang itu
membuat Sanaya menghentikan kegiatannya. Sepertinya ia masih sendiri dari tadi
tapi tiba-tiba ada suara lainnya.
Sanaya mengedarkan pandangannya, ia mencari sumber
suara dan ternyata ada seseorang yang sedang tiduran di balik pohon besar di
samping tempatnya berada saat ini.
“kamu …, nggapain di situ?” tanya sanaya yang masih
terkejut.
“Kamu yang ngapain di situ? Mengganggu orang tidur
aja!” keluh anak laki-laki itu,
Anak laki-laki yang sama yang sagara temui tadi
pagi, dia masih dengan penampilannya yang terlihat sekali kalau dia anak yang
bandel.
“kamu nggak denger bel masuk? Ngapain di sini? Tiduran? Kalau tidur tuh di rumah jangan di sekolah!” cerocos Sanaya mengeluarkan jurus cerewetnya hingga membuat anak laki-laki itu menutup
telinganya.
“Berisik sekali!” keluhnya, ia pun berdiri dan menghampiri Sanaya. “Lo lihat di sana!”
Anak laki-laki itu menunjuk ke arah kelas yang
tampak gaduh, jika di lihat-lihat kelas itu ada tepat di samping kelas Sanaya.
“Kelas XII H?” tanya Sanaya dan anak laki-laki itu mengangguk.
“kenapa gue tidak pernah melihat lo?” tanya sanaya lagi dengan mengerutkan keningnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰