
Matahari pagi sudah menerobos celah-celah horden kamar , dua
manusia yang saling berpelukan itu enggan untuk membuka matanya
Ara menggerakkan tubuhnya, tapi seperti tertahan oleh sesuatu ,
sesuatu yang besar yang sedang mengungkung tubuh mungilnya, perlahan ia membuka
matanya , ada bayangan orang lain di hadapannya
Ia berusaha membuka matanya
yang begitu berat, setelah matanya terbuka ia benar-benar terkejut, karena
masih tak percaya dengan apa yang di lihat, ia kembali menutup matanya, hingga
berkali-kali
“aku sedang tidak bermimpi kan?” gumamnya bertanya pada dirinya
sendiri, ia kembali mengucek ucek matanya, tapi benar apa yang ia lihat adalah
benar, sebuah kebenaran, bu7kan mimpi ataupun fatamorgana
“kenapa ada pak Agra, kenapa aku memeluknya? Dan ini dia juga
memelukku” gumam Ara kembali sambil menunjuk tangan kekar agra yang melingkar
sempurna di perutnya
Kemudian ingatannya berputar kembali pada kejadian kemarin,
“oh ..., ya ampun ..., aku sudah menikah” Ara terkejut sambil
menutup mulutnya supaya Agra tidak sampai terbangun, ia baru ingat jika kemarin ia telah menikah
dengan bosnya, dan pria yang sedang memeluknya adalah bosnya
“aaaaah.......” Ara pun berteriak tapi segera menutup kembali
mulutnya dengan kedua tangannya
“apa sih berisik ....” Agra yang belum bangun jadi ikut terbangun
karena teriakan Ara, membuatnya membuka
mata dengan begitu malas
“haaaahhhhh .....” ternyata reaksi Agra pun sama, bukan Cuma
berteriak tapi Agra juga mendorong tubuh Ara
Bruggg
“auhg ...., sakit ...” saking kerasnya Agra mendorong Ara, Ara pun
hingga terjatuh dari tempat tidur, lagi-lagi jatuh
“kamu ...? ngapain di kamarku?”
“haduh ..., ngipi apa aku hingga terjatuh dua kali gara-gara
suamiku” Ara pun bangun dari lanntai sambil mengelus pantatnya yang sakit
“suami ....?” Agra pun kemudian mengingat-ingat jika benar jika Ara
sekretarisnya itu kini sudah menjadi istrinya
“jangan bilang bapak lupa ingatan juga ...., kita udah nikah pak,
__ADS_1
nih buktinya” Ara begitu kesal sambil menunjukkan sebuah cincin yang melingkar
di jari manisnya
“iya, iya, siapa juga yang lupa, aku Cuma terkejut saja” Agra
berkilah
“sakit tau pak ....” Ara masih mengerucutkan bibirnya sambil
mengelus pantatnya yang ngilu karena harus beradu dua kali dengan lantai, belum
sembuh ngilunya tadi malam kini harus di tambah lagi
“sorry sorry, gue nggak sengaja, lagian kamu ngagetin”
Tok tok tok
Perdebatan mereka pun terhenti saat pintu kamarnya di ketuk dari
luar, agra segera menyingkap selimutnya dan duduk di tepi tempat tidur
sedangkan Ara segera berlari ke dalam kamar mandi
“masuk ...” Agra pun menyuruh orang yang berada di luar kamar untuk
masuk
“selamat pagi pak” ternyata Rendi yang masuk
“ada apa?”
“ini sudah jam 09.00 pak, seharusnya satu jam lalu anda melakukan
meeting dengan mr Jovan dari Singapura”
“benarkah? Kenapa kau tak membangunkanku?” Agra mengeluh pada Rendi
“syukurlah .....” agra segera memegang dadanya lega
“apa jadwalku sebelum itu?”
Kemudian Rendi menunjukkan beberapa pekerjaan yang harus di
selesaikan oleh Agra
“tapi bukankah ini tanggung jawab ibu?” Agra protes pada satu point
pekerjaaannya
“nyonya menyuruh anda untuk menyelesaikannya pak”
“kenapa ibu suka sekali memerasku” gerutu agra
Tak berapa lama Ara pun keluar dari ruang ganti sudah rapi dengan
pakaian kerjanya
“eh ada pak Rendi” Ara pun menyapa rendi yang masih menunggu Agra
di sisi sofa tempat Agra duduk sambil memeriksa beberapa berkas
“selamat pagi nona Ara”
“berhenti jangan memandang istriku seperti itu” saat mata Agra
tanpa sengaja melihat Rendi yang sedang memperhatikan Ara “lo keluar dulu, gue
mau mandi”
__ADS_1
“baik pak” Rendi pun segera meninggalkan kamar Agra
Agra pun beranjak dari duduknya menuju ke kamar mandi, tapi sebelum
melewati pintu kamar mandi, Agra menghentikan langkahnya
“hey ....” Agra memanggil ara yang sedang sibuk menisir rambutnya
tapi karena tidak memanggil nama Ara enggan untuk menoleh
Agra yang kesal karena di abaikan segera mendekat dan menarik
tangan Ara hingga tubuh ara terpental di tubuhnya
“A-ada apa ?” Ara begitu gugup saat berada begitu dekat dengan Agra
“kau yang ada apa? Kenapa mengabaikanku?” agra menatap tajam pada
Ara
“aku tidak mengabaikanmu” ara mencoba bersikap biasa saja
“aku memanggilmu”
“tapi aku punya nama pak”
“oh ...,jadi begitu ..., baiklah” agra mengalah untuk menghindari
perdebatan yang cukup panjang jika sampai berdebat dengan Ara
“dengarkan aku, mulai hari ini jangan terlalu dekat dengan Rendi”
“kenapa?”
“bisa tidak sih kamu tidak usah terlalu banyak bertanya, merepotkan
sekali” Agra pun melepas genggaman tangannya pada Ara
“dan satu lagi, mulai hari ini jangan panggil pak, memang aku
bapakmu apa”
“trus aku harus panggil apa?”
“terserah,
lazimnya seorang istri memanggil suaminya, kamu mengerti?” Ara pun hanya bisa
mengangguk walaupun ia masih bingung dengan maksud Agra, Agra pun benjalan
meninggalkan Ara dan menghilang dari balik pintu kamar mandi
-
-
-
-
-
-
-
SEPERTI YANG SUDAH AKU BILANG DI EPISODE SEBELUMNYA, AUTHOR MOHON BANGET KALAU NGASIH LIKE DAN KOMENTAR JANGAN DI JAMA' YA, KASIH PADA MASING-MASING EPISODE
BIAR AUTHORNYA TAMBAH SEMANGAT NULIS
__ADS_1