My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 86


__ADS_3

Siang ini begitu panas,matahari seakan enggan bersahabat dengan


rakyat kecil, kipas angin yang teronggok di meja tak mengurangi hawa panas yang


di hasilkan oleh si mentari


Mbak Rini masih sibuk di dapur memberiskan bekas wadah kue, Ara


sebenarnya ingin sekali membantu tapi mbak Rini selalu saja menolak


“biar aku bantu ya mbak?” Ara berdiri di semping mbak Rini yang


sedang mencuci penggorengan


“nggak usah mbak Ara, biar saya saja, mbak Ara duduk saja, sebentar


lagi selesai kok...” tolak mbak Rini


“ya udah, kalau gitu aku tinggal ke depan ya mbak, udaranya panas


banget.” Ucap Ara sambil mengelap peluh yang terus mengalir di pelipisnya


“iya mbak ...”


 karena hari ini Ara pesanan


kue Ara sudah kelar,mereka menutup dagangannya lebih cepat, Ara yang sudah


kepanasan segera keluar membuat ara dan duduk di teras sambil memngibas-kibaskan


kipas plastik di tangannya, baju daster yang ia kenakan dengan bahan kain katun


tak mampu menyurutkan rasa panas siang itu


Tapi tiba-tiba mobil hitam berhenti dan terparkir di gang depan


rumahnya, memang tak ada halaman di rumahnya sehingga jika memarkirkan mobil


hanya di tepi jalan saja


Ara pun segera beranjak dari duduknya, ia menatap mobil yang telah


mematikan mesinnya itu, ia melihat dua orang kekar yang sudah turun terlebih


dahulu dan di susul dengan keluarnya orang yang begitu ia kenal


Pria dengan jas dan pakaian resmi yang selalu melekat di badannya


serta wajah dingin yang selalu menghiasi setiap langkahnya, berjalan mendekati


Ara yang belum beranjak dari tempatnya


“selamat siang nona” Rendi menyapa Ara yang tetap berdiri dengan


daster biru muda motif bunga selutut itu


“pak Rendi?” Ara di buat terkejut dengan kedatangan Rendi di


tempatnya


hari ini Rendi datang berkunjung ke kontrakan Agra dan Ara tanpa


sepengetahuan Agra, Rendi memang selalu rutin menanyakan keadaan mereka


walaupun hanya melalui pesan singkat


“pak Rendi ..., kenapa ke sini?”


“ada yang ingin saya bicarakan pada anda”


“cihhhh...., kenapa dia tetap bersikap seolah-olah saya ini bosnya


saja” batin Ara


“ duduklah” Ara segera menyuruhnya untuk duduk di teras rumahnya


yang memang ada sepasang kursi dan sebuah meja kecil di sana


“terimakash nona” jawab Rendi dan segera duduk di tepat yang di


tunjuk oleh Ara, sedangkan dua orang tadi masih tetap berdiri di depan mobil


yang sedang terparkir


“biar aku ambilkan minum dulu ya” Ara pun hendak ke dalam untuk


mengambil minum tapi langkahnya sudah lebih dulu di tahan oleh rendi


“tidak perlu nona, saya Cuma sebentar” tolak Rendi


“baiklah ...” Ara kembali duduk


Mbak Rini yang sudah selesai dengan pekerjaannya ingin segera


pulang, tapi langkahnya segera terheti saat melihat di luar rumah sedang ada


tamu, ia sedikit heran karena tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Ara


dan Rendi


“apa yang membuatmu ke sini?” Ara pun akhirnya mulai bertanya


kepada Rendi


“saya hanya memastikan keadaan nona dan pak Agra baik-baik saja”


jawab Rendi tetap dengan wajah dinginnya


“kami baik-baik saja, jadi kamu atau siapa pun tak perlu pura-pura


khawatir terhadap kehidupan kami, kami sudah hidup bahagia, lebih bahagia dari

__ADS_1


sebelumnya, dan lagi Agra tidak akan suka jika kau menemuiku, aku harap kau


mengerti hal itu”


“maaf jika kedatanganku begitu mengganggumu, tapi saya benar-benar


inghin memastikan sesuatu saja”


“kau sudah tahu keadaan kami, lalu apa lagi?” Ara benar-benar


merasa tidak nyaman jika berlama-lama berdua dengan Rendi, jika sampai Agra


melihatnya akan terjadi kesalah pahaman lagi


“apakah nona Viona atau siapapun  pernah datang ke sini, atau menemui pak Agra?”


Mendengar Rendi menyebutkan nama Viona membuat Ara begitu terkejut,


ia segera membulatkan matanya menatap Rendi


“kenapa kau bertanya seperti itu?”


“karena mungkin akan ada yang menemuimu dan Agra”


“maksud kamu?” Ara benar-benar gagal mencerna ucapan Rendi


“anda hanya harus berkata jujur agar kami bisa mengantisipasi


semuanya”


“kau kan bisa langsung tanya pada mata-mata suruhanmu itu, bukankah


mereka selalu mengawasi kami dua puluh empat jam, kenapa kamu harus repot-repot


datang ke sini, kami bisa jaga diri kami sendiri, jadi jangan lagi mengusik


kami, aku mohon ....” ucap Ara sambil mengatupkan kedua tangannya, ada banyak


yang di pikirkan Ara, rasa cemasnya jika memikirkan kejamnya dunia suaminya


membuatnya sedikit egois, tapi tak bisa di pungkiri jika ia juga ingin melihat


suaminya kembali berbaikan dengan ibunya


Ucapan Ara membuat Rendi tak menemukan jawabannya, mereka kembali


dalam diam, dalam pikirannya masing-masing


“apa ibu baik-baik saja?” ya sekeras-kerasnya hati Ara tetap saja


tak bisa mengalahkan rasa bersalahnya pada ibu mertuanya


“nyonya baik-baik saja”


“baguslah ...” jawaban Ara sebenarnya terselip rasa kecewa, ia


ingin mendengar jika ibu mertuanya itu tidak baik-baik saja, ia merindukanb


“memang ada apa dengan Viona atau orang lain?” tanya Ara lagi, ia


sedikit bingung dengan kata orang lain, orang lain siapa yang di maksud Rendi


“tidak ada nona, mungkin nanti anda akan menghadapi beberapa


masalah yang akan sedikit menguji rumah tangga kalian, aku harap kau akan tetap


berada di pihak Agra”


“aku akan tetap berada di pihak suamiku tanpa kamu minta” jawab Ara


tegas


“saya pegang ucapan anda”


Mereka kembali terdiam, tiba-tiba tak jauh dari tempat mobil Rendi


terparkir sebuah ojol dengan penumpangnya berhenti tepat di belakang mobil itu,


penumpang itu segera membuka helmnya dan melakukan pembayaran


Ia menapat ke arah Rendi dan Ara yang sedang duduk di teras,


setelah itu pandangannya beralih pada dua pria kekar yang sedang berdiri di


samping mobil


“siang om ...” sapa Nadin, ya gadis itu adalah Nadin, ia menyapa


kedua pria kekar itu sambil menundukkan kepalanya


Tapi seperti tak terpengaruh dengan sapaan Nadin, kedua pria kekar


itu tetap menunjukkan wajah seramnya, membuat Nadin bergidik ngeri dan segera


berlari menghampiri Ara


“siang kak ...” Nadin segera memeluk dan mencium pipi Ara, kemudian


pandangannya teralihkan kepada pria yang duduk di samping kakaknya


Ia pun segera melepas pelukannya kepada Ara, dan memberi salam pada


Rendi


“selamat siang pak ...., Rendi” Nadin sedikit lupa dengan nama


orang yang berada di samping kakaknya


Rendi pun seperti biasa, ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa


berniat membalas sapaan Nadin

__ADS_1


“baiklah nona, kalau begitu saya permisi nona” Rendi pun segera


berdiri dari duduknya, Ara pun hanya mengangguk


“selamat siang nona” Rendi segera undur diri


Rendi segera berlalu meninggalkan mereka berdua, mata Ara dan Nadin


tetap tertuju pada punggung pria itu hingga pria itu memasuki mobilnya


Setelah mobil Rendi tak terlihat lagi, Nadin pun segera duduk di


tempat yang baru saja di tinggalkan oleh Rendi


“kak ....?”


“hemmmm?” Ara pun ikut duduk di samping Nadin


“kenapa pak es batu kesini?”


“siapa es batu?”


“ya itu tadi..., ganteng sih tapi sayang kayak es batu, nggak ada


senyum-senyumnya”


“bisa aja kamu tuh dek ...”


“abis dingin banget, yang di sampingnya aja ikutan beku”


“siapa dek emang yang di sampingnya?”


“tuh tadi dua orang yang berdiri jadi patung di samping mobil, apa


mungkin emang kalau kerja sama es batu juga harus jadi kulkas kali ya kak...”


Ucapan nadin di sambit tawa keduannya,  hingga kedatangan mbak Rini dari dalam rumah


menghentikan tawa mereka


“mbak Rini kenapa liat saya kayak gitu banget?” Rini tetap menatap


Ara dan nadin bergantian


“Cuma heran aja mbak.” Jawab mbak Rini polos


“heran kenapa mbak?” tanya Nadin ikut penasaran


“apa mbak Ara ini keturunan raja atau sultan gitu mbak?”


“hah ....?” jawab Ara dan Nadin bersamaan


“soalnya tamunya sepertinya hormat banget sama mbak Ara, trus ada


pengawalnya juga”


“bukan  kok mbak ...hehehe


..., itu tadi Cuma temannya Agra aja mbak” jawab ara berusaha memberi alasan


“oh ...., jadi gitu, ya sudah mbak kalau gitu saya pamit pulang


dulu ya mbak Ara, mbak Nadin” pamit mbak Rini


‘iya mbak, hati-hati ya, salam buat suaminya”


***


Tapi ternyata ada alasan lain kedatangan Rendi ke rumah mereka,


kakak Agra, Divta sudah kembali ke Indonesia, Rendi tau pasti orang pertama


yang akan ia temui adalah Agra atau siapapun yang berhubungan dengan Agra


Jika ia sampai bisa menemukan keberadaan Agra, itu akan sangat


bahaya dengan keselamatan Agra maupun Ara, sebelum bukti-bukti kejahatan istri


pertama ayah Agra benar-benar terkumpul baik ibu ataupun Rendi belum berniat


mempertemukan mereka


Agra adalah orang yang tetap menjadikan kakaknya sebagai panutan,


ia akan menuruti semua keinginan kakaknya tanpa tahu siapa yang sudah berada di


belakan kakaknya


Tapi ibu Agra sudah bergerak lebih cepat dengan mengalihkan semua


harta Agra atas nama Ara, itulah kanapa ia masih terus menyembunyikan status


ara sebangai menantu Wijaya


Akan sangat bahaya bagi Ara jika pihak musuh mengetrahuinya, mereka


pasti akan beralih mengejar Ara


Jika ibu Agra menggunakan Rendi lagi, jelas tidak mungkin, karena


publik sudah tahu siapa putra Wijaya yang sebenarnya


***


BERSAMBUNG


maaf ya ada keterlambatan up soalnya nih PLN lagi ngajak perang, masak pemadaman sampek 36 jam, mau protes kok ya sama siapa


janganm lupa kasih upah ya ke aku dengan memberikan LIKE dan KOMENTARNYA


kasih VOTE juga

__ADS_1


__ADS_2