
Siang ini begitu panas,matahari seakan enggan bersahabat dengan
rakyat kecil, kipas angin yang teronggok di meja tak mengurangi hawa panas yang
di hasilkan oleh si mentari
Mbak Rini masih sibuk di dapur memberiskan bekas wadah kue, Ara
sebenarnya ingin sekali membantu tapi mbak Rini selalu saja menolak
“biar aku bantu ya mbak?” Ara berdiri di semping mbak Rini yang
sedang mencuci penggorengan
“nggak usah mbak Ara, biar saya saja, mbak Ara duduk saja, sebentar
lagi selesai kok...” tolak mbak Rini
“ya udah, kalau gitu aku tinggal ke depan ya mbak, udaranya panas
banget.” Ucap Ara sambil mengelap peluh yang terus mengalir di pelipisnya
“iya mbak ...”
karena hari ini Ara pesanan
kue Ara sudah kelar,mereka menutup dagangannya lebih cepat, Ara yang sudah
kepanasan segera keluar membuat ara dan duduk di teras sambil memngibas-kibaskan
kipas plastik di tangannya, baju daster yang ia kenakan dengan bahan kain katun
tak mampu menyurutkan rasa panas siang itu
Tapi tiba-tiba mobil hitam berhenti dan terparkir di gang depan
rumahnya, memang tak ada halaman di rumahnya sehingga jika memarkirkan mobil
hanya di tepi jalan saja
Ara pun segera beranjak dari duduknya, ia menatap mobil yang telah
mematikan mesinnya itu, ia melihat dua orang kekar yang sudah turun terlebih
dahulu dan di susul dengan keluarnya orang yang begitu ia kenal
Pria dengan jas dan pakaian resmi yang selalu melekat di badannya
serta wajah dingin yang selalu menghiasi setiap langkahnya, berjalan mendekati
Ara yang belum beranjak dari tempatnya
“selamat siang nona” Rendi menyapa Ara yang tetap berdiri dengan
daster biru muda motif bunga selutut itu
“pak Rendi?” Ara di buat terkejut dengan kedatangan Rendi di
tempatnya
hari ini Rendi datang berkunjung ke kontrakan Agra dan Ara tanpa
sepengetahuan Agra, Rendi memang selalu rutin menanyakan keadaan mereka
walaupun hanya melalui pesan singkat
“pak Rendi ..., kenapa ke sini?”
“ada yang ingin saya bicarakan pada anda”
“cihhhh...., kenapa dia tetap bersikap seolah-olah saya ini bosnya
saja” batin Ara
“ duduklah” Ara segera menyuruhnya untuk duduk di teras rumahnya
yang memang ada sepasang kursi dan sebuah meja kecil di sana
“terimakash nona” jawab Rendi dan segera duduk di tepat yang di
tunjuk oleh Ara, sedangkan dua orang tadi masih tetap berdiri di depan mobil
yang sedang terparkir
“biar aku ambilkan minum dulu ya” Ara pun hendak ke dalam untuk
mengambil minum tapi langkahnya sudah lebih dulu di tahan oleh rendi
“tidak perlu nona, saya Cuma sebentar” tolak Rendi
“baiklah ...” Ara kembali duduk
Mbak Rini yang sudah selesai dengan pekerjaannya ingin segera
pulang, tapi langkahnya segera terheti saat melihat di luar rumah sedang ada
tamu, ia sedikit heran karena tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Ara
dan Rendi
“apa yang membuatmu ke sini?” Ara pun akhirnya mulai bertanya
kepada Rendi
“saya hanya memastikan keadaan nona dan pak Agra baik-baik saja”
jawab Rendi tetap dengan wajah dinginnya
“kami baik-baik saja, jadi kamu atau siapa pun tak perlu pura-pura
khawatir terhadap kehidupan kami, kami sudah hidup bahagia, lebih bahagia dari
__ADS_1
sebelumnya, dan lagi Agra tidak akan suka jika kau menemuiku, aku harap kau
mengerti hal itu”
“maaf jika kedatanganku begitu mengganggumu, tapi saya benar-benar
inghin memastikan sesuatu saja”
“kau sudah tahu keadaan kami, lalu apa lagi?” Ara benar-benar
merasa tidak nyaman jika berlama-lama berdua dengan Rendi, jika sampai Agra
melihatnya akan terjadi kesalah pahaman lagi
“apakah nona Viona atau siapapun pernah datang ke sini, atau menemui pak Agra?”
Mendengar Rendi menyebutkan nama Viona membuat Ara begitu terkejut,
ia segera membulatkan matanya menatap Rendi
“kenapa kau bertanya seperti itu?”
“karena mungkin akan ada yang menemuimu dan Agra”
“maksud kamu?” Ara benar-benar gagal mencerna ucapan Rendi
“anda hanya harus berkata jujur agar kami bisa mengantisipasi
semuanya”
“kau kan bisa langsung tanya pada mata-mata suruhanmu itu, bukankah
mereka selalu mengawasi kami dua puluh empat jam, kenapa kamu harus repot-repot
datang ke sini, kami bisa jaga diri kami sendiri, jadi jangan lagi mengusik
kami, aku mohon ....” ucap Ara sambil mengatupkan kedua tangannya, ada banyak
yang di pikirkan Ara, rasa cemasnya jika memikirkan kejamnya dunia suaminya
membuatnya sedikit egois, tapi tak bisa di pungkiri jika ia juga ingin melihat
suaminya kembali berbaikan dengan ibunya
Ucapan Ara membuat Rendi tak menemukan jawabannya, mereka kembali
dalam diam, dalam pikirannya masing-masing
“apa ibu baik-baik saja?” ya sekeras-kerasnya hati Ara tetap saja
tak bisa mengalahkan rasa bersalahnya pada ibu mertuanya
“nyonya baik-baik saja”
“baguslah ...” jawaban Ara sebenarnya terselip rasa kecewa, ia
ingin mendengar jika ibu mertuanya itu tidak baik-baik saja, ia merindukanb
“memang ada apa dengan Viona atau orang lain?” tanya Ara lagi, ia
sedikit bingung dengan kata orang lain, orang lain siapa yang di maksud Rendi
“tidak ada nona, mungkin nanti anda akan menghadapi beberapa
masalah yang akan sedikit menguji rumah tangga kalian, aku harap kau akan tetap
berada di pihak Agra”
“aku akan tetap berada di pihak suamiku tanpa kamu minta” jawab Ara
tegas
“saya pegang ucapan anda”
Mereka kembali terdiam, tiba-tiba tak jauh dari tempat mobil Rendi
terparkir sebuah ojol dengan penumpangnya berhenti tepat di belakang mobil itu,
penumpang itu segera membuka helmnya dan melakukan pembayaran
Ia menapat ke arah Rendi dan Ara yang sedang duduk di teras,
setelah itu pandangannya beralih pada dua pria kekar yang sedang berdiri di
samping mobil
“siang om ...” sapa Nadin, ya gadis itu adalah Nadin, ia menyapa
kedua pria kekar itu sambil menundukkan kepalanya
Tapi seperti tak terpengaruh dengan sapaan Nadin, kedua pria kekar
itu tetap menunjukkan wajah seramnya, membuat Nadin bergidik ngeri dan segera
berlari menghampiri Ara
“siang kak ...” Nadin segera memeluk dan mencium pipi Ara, kemudian
pandangannya teralihkan kepada pria yang duduk di samping kakaknya
Ia pun segera melepas pelukannya kepada Ara, dan memberi salam pada
Rendi
“selamat siang pak ...., Rendi” Nadin sedikit lupa dengan nama
orang yang berada di samping kakaknya
Rendi pun seperti biasa, ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa
berniat membalas sapaan Nadin
__ADS_1
“baiklah nona, kalau begitu saya permisi nona” Rendi pun segera
berdiri dari duduknya, Ara pun hanya mengangguk
“selamat siang nona” Rendi segera undur diri
Rendi segera berlalu meninggalkan mereka berdua, mata Ara dan Nadin
tetap tertuju pada punggung pria itu hingga pria itu memasuki mobilnya
Setelah mobil Rendi tak terlihat lagi, Nadin pun segera duduk di
tempat yang baru saja di tinggalkan oleh Rendi
“kak ....?”
“hemmmm?” Ara pun ikut duduk di samping Nadin
“kenapa pak es batu kesini?”
“siapa es batu?”
“ya itu tadi..., ganteng sih tapi sayang kayak es batu, nggak ada
senyum-senyumnya”
“bisa aja kamu tuh dek ...”
“abis dingin banget, yang di sampingnya aja ikutan beku”
“siapa dek emang yang di sampingnya?”
“tuh tadi dua orang yang berdiri jadi patung di samping mobil, apa
mungkin emang kalau kerja sama es batu juga harus jadi kulkas kali ya kak...”
Ucapan nadin di sambit tawa keduannya, hingga kedatangan mbak Rini dari dalam rumah
menghentikan tawa mereka
“mbak Rini kenapa liat saya kayak gitu banget?” Rini tetap menatap
Ara dan nadin bergantian
“Cuma heran aja mbak.” Jawab mbak Rini polos
“heran kenapa mbak?” tanya Nadin ikut penasaran
“apa mbak Ara ini keturunan raja atau sultan gitu mbak?”
“hah ....?” jawab Ara dan Nadin bersamaan
“soalnya tamunya sepertinya hormat banget sama mbak Ara, trus ada
pengawalnya juga”
“bukan kok mbak ...hehehe
..., itu tadi Cuma temannya Agra aja mbak” jawab ara berusaha memberi alasan
“oh ...., jadi gitu, ya sudah mbak kalau gitu saya pamit pulang
dulu ya mbak Ara, mbak Nadin” pamit mbak Rini
‘iya mbak, hati-hati ya, salam buat suaminya”
***
Tapi ternyata ada alasan lain kedatangan Rendi ke rumah mereka,
kakak Agra, Divta sudah kembali ke Indonesia, Rendi tau pasti orang pertama
yang akan ia temui adalah Agra atau siapapun yang berhubungan dengan Agra
Jika ia sampai bisa menemukan keberadaan Agra, itu akan sangat
bahaya dengan keselamatan Agra maupun Ara, sebelum bukti-bukti kejahatan istri
pertama ayah Agra benar-benar terkumpul baik ibu ataupun Rendi belum berniat
mempertemukan mereka
Agra adalah orang yang tetap menjadikan kakaknya sebagai panutan,
ia akan menuruti semua keinginan kakaknya tanpa tahu siapa yang sudah berada di
belakan kakaknya
Tapi ibu Agra sudah bergerak lebih cepat dengan mengalihkan semua
harta Agra atas nama Ara, itulah kanapa ia masih terus menyembunyikan status
ara sebangai menantu Wijaya
Akan sangat bahaya bagi Ara jika pihak musuh mengetrahuinya, mereka
pasti akan beralih mengejar Ara
Jika ibu Agra menggunakan Rendi lagi, jelas tidak mungkin, karena
publik sudah tahu siapa putra Wijaya yang sebenarnya
***
BERSAMBUNG
maaf ya ada keterlambatan up soalnya nih PLN lagi ngajak perang, masak pemadaman sampek 36 jam, mau protes kok ya sama siapa
janganm lupa kasih upah ya ke aku dengan memberikan LIKE dan KOMENTARNYA
kasih VOTE juga
__ADS_1