
Setelah menyelesaikan makan malamnya yang cukup
menyesalkan bagi sanaya, ia tidak langsung menuju ke kamarnya, ia memilih masuk
ke kamar saudara kembarnya tanpa ijin.
“kalau masuk permisi!” ucap sagara tanpa menatap
kearah Nay, ia memilih tetap fokus dengan buku yang ada di tangannya.
Sanaya nyelonong saja masuk dan duduk di atas tempat
tidur, ia segera merebahkan tubuhnya di sana.
“Sudah gue bilang, jangan tiduran di kamar cowok!”
keluh sagara dengan mata tajam menatap Sanaya, ia meletakkan bukunya dan hampir
menarik kaki Sanaya agar turun.
“Apaan sih Gara, lo kan saudara gue, nggak pa pa
kali sekali-kali kita tidur satu kamar!”
“Lo sudah bukan anak kecil lagi Nay, usia lo sudah
tujuh belas tahun, jadi stop bersikap seperti anak kecil!”
“Resek lo!”
Sagara kembali duduk saat sanaya juga duduk, ia
mendekatkan kursinya dan duduk tepat di depan sanaya, “Ada apa?”
“Gue yakin Ariel yang nyembunyiin seragam gue dan
menaruhnya di pagar!”
“Jangan asal tuduh!”
“Gue nggak asal tuduh, lo lihat kan giman dia sama
gue!”
Karena itu gue nggak mau melakukan kesalahan yang sama, mungkin yang gue lakukan di waktu kecil adalah sebuah kesalahan dan sekarang gue harus menyelesaikannya …., batin
Sagara, ia menatap saudara kembarnya itu. Saudara kembarnya masih sangat polos,
dia tidak mengerti cara menyelidiki sesuatu, atau dia terlalu percaya dengan
perkataan orang lain.
Ia mengusap kepala Sanaya, ia berharap saudaranya
itu akan tetap menjadi saudara kecilnya yang manja.
“Aku akan membantumu!”
“Punya nomornya Ariel nggak?”
“Nggak, buat apa?”
“Gue mau labrak dia sekarang juga!”
“jangan jadi cewek bar bar …, tidurlah jangan ganggu, gue harus belajar, besok lo bisa pakek uang sakuku kalau kau mau!”
“Nggak ahhh, met tidur Sagara …!”
Sanaya mengusap kedua pipi Sagara dan keluar dari
kamar saudara kembarnya. Ia berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya, ia menatap
seragam yang tergantung di balik pintunya. Membaca kembali tag nama di baju
itu.
“Aditya Banu! Namanya lucu ya …!”
Ia segera mengambil baju itu, melepaskannya dari
gantungan dan membawanya kembali keluar kamar. Saat hampir sampai di tempat
cuci baju, ia berpapasan dengan mom nya.
“Ada apa ke sini sayang? Kok belum tidur?”
“Nggak pa pa mom, Nay mau mencuci baju seragam Nay!”
Mendengar putrinya ingin mencuci baju, mom Ara
__ADS_1
mengerutkan keningnya. Ia merasa belum terlalu mengantuk tapi kenapa rasanya
seperti mimpi. Mendengar putrinya akan mencuci baju, ada yang aneh kayaknya.
“Nay …, mom nggak mimpi kan?”
“Nggak mom, ini baju temen Nay, kalau nggak nay cuci
sekarang, Nay nggak bisa mengembalikan besok dong!”
“Ohhhh …, gini aja deh, di kembalikan lusa saja ya,
biar mom kasih ke binatu dan di cuci, kamu tidur saja!”
“beneran ma?”
“Iya sayang …!”
“terimakasih ya mom!”
Sanaya memeluk mom nya lalu menyerahkan baju itu dan
kembali ke kamarnya. Ia menang harus segera tidur karena jangan sampai terlambat, bisa dapat hukuman dua kali kalau sampai itu terjadi.
***
Pagi ini seperti biasa, Abimanyu sudah menunggu
Sagara dan Sanaya di depan rumah. Logikanya bisa di tebak kalau satu terlambat
pasti lainnya juga ikut terlambat, tapi ternyata ada yang salah.
“bagaimana kemarin bisa terlambat?” tanya Abimanyu
saat mobil sudah berjalan meninggalkan rumah itu.
“Bukan hal yang besar!”
“Mudah-mudahan seperti itu!”
Mobil itu akhirnya sampai juga di area sekolah,
seperti biasa Nay akan memilih untuk turun sendiri di depan. Ia tidak mau
terlihat begitu mencolok dengan datang bersama Sagara dan Abimanyu.
Setelah bel berbunyi, anak-anak mulai masuk ke dalam
ucapan selamat pagi dari para guru yang mengajar.
Sanaya sebenarnya bukan anak yang bandel, ia hanya
kurang punya keinginan untuk belajar. Menurutnya belajar itu sungguh membuatnya
capek. Ia bahkan sering melupakan PR nya.
Bell istirahat berbunyi, ada hal penting yang ingin
ia lakukan.
“Mau ke mana Nay?” tanya Riska saat tiba-tiba Sanaya
meninggalkan bangkunya tanpa mengajaknya.
“Gue mau bikin perhitungan!”
“Perhitungan apa?”
“Nanti lo juga tahu, kalau mau ke kantin ke kantin sendiri aja, nggak usah nungguin gue!”
Ia segera berlalu begitu saja menuju ke kelas Sagara,
tapi kali ini bukan Sagara yang ia cari.
“Ada yang liat Ariel nggak?” tanya Sanaya pada salah
satu anak yang masih berada di dalam kelas itu.
“Kalau nggak salah tadi ke ruang guru mau ambil
seragam!”
“Makasih ya!”
Sanaya berjalan begitu cepat menuju ke ruang guru,
dari kejauhan abimanyu bisa melihat Sanaya berjalan terburu-buru.
Nay mau ke mana? Batinnya sambil menjawab pertanyaan
__ADS_1
teman yang ada di depannya. Memang kalau di area sekolah mereka bertiga jarang
terlihat bersama-sama.
Mereka mencoba berbaur dengan teman-teman yang
lainnya, di sekolah mereka juga memilih ekstra yang berbeda-beda.
Walaupun berbicara dengan teman-temannya, tapi mata
Abimanyu terus mengawasi kemana Sanaya pergi.
“Ariel!” panggil Sanaya saat sudah menemukan anak
itu, untung saja Ariel belum sampai di ruang guru.
“Ada apa?”
Srekkkkkkk
Sanaya menarik tangan Ariel dan membawanya ke tempat
sepi.
Ariel berusaha untuk melepaskan genggaman tangan
Sanaya, “Ada apa sih Nay?”
Sanaya tampak memperhatikan sekitar, tidak ada
siapapun. Ia pun melepaskan tangan Ariel.
“Lo kan yang udah membuang seragam gue kemarin?”
tanya Sanaya sambil meletakkan jari telunjuknya di depan wajah Ariel.
“Jadi lo nuduh gue?”
“Iya …, siapa lagi kalau bukan lo, lo yang selalu bikin gara-gara sama gue! Sejak dulu ..!”
“Lo ngaca dong …, bukan gue yang bikin gara-gara
tapi lo .., lo selalu nuduh tanpa bukti …!”
“Kurang bukti apa lagi coba, baru juga ada di
sekolah ini satu hari dan lo udah bikin ulah …!”
“Gue nggak terima ya lo terus nuduh gue, lo bisa gue
laporin sama guru karena melakukan tuduhan palsu!”
“Apanya yang palsu, ada buktinya, ada saksinya
juga!”
“Ya udah lo datangin saksi lo ke sini!”
Abimanyu yang mengetahui jika Ariel dan Sanaya sudah
pasti akan bertengkar pun segera menghampiri mereka.
“Berhenti…!” ia berdiri di antara dia gadis itu,
menghadap ke arah sanaya.
“Lo jangan ikut campur Abi …!” ucap Sanaya yang
kesal karena Abimanyu selalu ikut campur.
“Bisa berhenti atau aku yang akan memaksamu
berhenti!”
Ucapan Abimanyu berhasil membuat Sanaya terdiam, ia
tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh Abimanyu tapi ia lebih suka jaga-jaga.
“Ariel, pergilah …!” perintah Abimanyu, walaupun
terpaksa ia tetap mau meninggalkan mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰