
Agra keluar dari kamar saat jarum jam sudah menunjuk ke angka
sepuluh. Rendi sudah duduk sedari tadi di sofa yang ada di depan kamar mereka.
“kau ...” Agra terkejut dengan Rendi yang ada di depannya.
“ya ..., saya sudah menunggu anda sejak empat jam yang lalu.”ucap
Rendi dengan menatap kesal walau dengan bicara formal.
“siapa suruh menungguku? Kau kan bisa ke kantor terlebih dulu .”
ucap Agra tak mau kalah.
“ya ..., seandainya anda tidak membuat janji dengan dokter Frans.”
Ucap Rendi menimpali.
“Astaga ..., aku melupakannya.” Agra menepuk keningnya. Ia
benar-benar lupa telah membuat janji.
“ok ...., tunggu aku ..., aku akan siap-siap.” Agra pun kembali
masuk kedalam kamar. Meninggalkan Rendi yang masih kesal.
“Bby ...., kenapa kembali?” tanya Ara yang msih sibuk menyisir
rambutnya.
“aku harus keluar sebentar. Kau tidak papa kan sendiri?” tanya Agra
sambil memilah baju yang akan di kenakan.
“kemana?”
“Menemui dokter Frans.”
“Sendiri ...?” tanya Ara penasaran.
“Sama Rendi.”
“Apa lama?” tanya Ara lagi. Seakan enggan untuk di tinggal sendiri.
Hidup di rumah yang penuh aturan. Membuatnya sulit.
Agra pun merangkum wajah Ara dengan kedua tangannya, mendekatkan
wajahnya, hingga hidung dan kening mereka saling menempel.
“Tidak sayang, aku tidak akan kuat lama-lama jauh dari kamu ...”
seketika pipi Ara memerah mendengar ucapan lembut suaminya.
“Pergilah, aku tidak akan menahanmu lagi ...” Ara mendorong tubuh
Agra dan segera mengalihkan wajahnya karena malu.
“kau sungguh menggemaskan, sayang ...” ucap Agra sambil mengecup
puncak kepala istrinya. Ia pun segera mengganti bajunya. Ban bersiap-siap
pergi.
“nggak makan dulu, Bby ...?”
“Nanti saja sayang, kau makanlah ..., biar ku suruh bi Anna
mengantarkan makananmu ke atas, kamu jangan naik turun tangga, Ok ...!”
perintah Agra sebelum meninggalkan kamar.
“Baiklah ....”
Agra pun berlalu pergi meninggalkan Ara. Ia pergi bersama Rendi.
dokter Frans harus membatalkan beberapa jadwal operasi gara-gara sahabatnya
itu.
Ara hari ini benar-benar harus memulai dari awal. Kehidupan penuh
aturan harus di pelajari lagi.
Tok tok tok
Benar saja belum ada sepuluh menit Agra meninggalkannya. Pintu
sudah kembali di ketuk.
Bi Anna datang dengan pasukannya membawakan berbagai makanan sehat,
vitamin dan susu untuk ibu hamil.
“silahkan sarapannya nona ...” ucap Bi Anna setelah selesai membuka
semua tudung saji.
“Makasih bi ...”
Tak mau berlama-lama. Ara pun segera melahap makanannya. Tak
seperti beberapa bulan lalu. Kali ini Ara lebih penurut. Karena kali ini ia
benar-benar hamil. Jatah makannya menjadi dua kali lipat dari biasanya.
***
Di ruangan dokter Frans terdengar suara tawa terbahak-bahak, suara tawa tiga sahabat itu menggema di dalam
ruangan. Mereka seperti sedang reoni. Sangat jarang mereka tertawa lepas
seperti sekarang. Tapi tetap saja meskipun dua sahabatnya tertawa, Rendi tetap
__ADS_1
dengan nada dinginnya.
“Apa sih sebenarnya yang membuat putra mahkota ini tiba-tiba
membuat janji khusus?” tanya dokter Frans saat tawa mereka terhenti. Bukan tidak
ada alasan kenapa dokter Frans menanyakan hal itu. Sangat jarang Agra
menemuinya kalau tanpa ada suatu yang serius yang harus di bahas.
“untung kau ingatkan, aku hampir lupa.” Ucap Agra. Ia karena
kekonyolan Dokter Frans berhasil menghilangkan rasa khawatir Agra untuk
beberapa saat.
“Kau ini, belum juga punya anak, sudah pelupa.” Ledek dokter Frans.
“bagaimana kalau sudah punya anak ....?”
“Nggak lucu ...” ucap Agra kesal. Agra pun bersiap hendak
melemparkan vas bunga yang ada di sampingnya.
“Sorry..., sorry ..., gimana, gimana, apa yang lo mau tanyakan?”
ucap dokter Frans sambil melindungi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Apa istri gue trauma? Lalu trauma seperti apa itu? Bagaimana aku
harus mengatasi traumanya?” tanya Agra panjang lebar. Rendi yang mendengarnya
hanya memutar bola maranya. Sedangkan dokter Frans memperhatikannya dengan
mulut yang terbuka sempurna. Tak percaya. Kenapa dia bisa secerewet ini jika
menyangkut istrinya?
“Wiiisss ..., tanya satu-satu bro ...” dokter Frans segera
menghentikan ucapan sahabatnya.sebelum dia bingung sendiri dari mana harus
menjawabnya.
“lo ya ...., gue nggak sabar
...” ucap Agra kesal. Karena perkataannya harus di hentikan.
Dokter Frans pun menjelaskan persis seperti yang di jelaskan oleh
Rendi. hanya ada beberapa park yang sedikit mendetail.
“kok samaan sih penjelasan kalian ....” ucap Agra.
“Emang mau yang bagaimana Fergosa .....” ucap dokter Frans kesal.
Dan di sambut tawa oleh Rendi. tawa yang sangat langka.
Rendi yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, menjadi ikut
bersama. Entah kapan lagi mereka bisa berkumpul seperti itu.
Setelah jam makan siang. Agra dan Rendi memutuskan untuk
meninggalkan tempat praktek dokter Frans.
***
Setelah keadaan Agra benar-benar pulih, Agra pun kembali dengan
aktifitasnya. Yaitu kembali bekerja. Sekarang bukan hanya perusahan kecil dan
kafenya saja yang harus di urusnya tapi juga menjadi presiden direktur di
FinityGroup. Ia mengelola Finity Group di bantu Divta dan Rendi.
Sore itu Agra kembali dari meetingnya. Ia mencoba mencari udara
segar. Ia pergi ke balkon kantornya. Ternyata di sama sudah ada seseorang yang
sudah lama sekali ingin ia temui. Tapi kenapa begitu sulit? Apa dia sebegitu
sibuknya? Hingga untuk menemuinya saja tidak pernah. Apa yang di pikirkan
olehnya?
“Bang Divta ....” pria yang di panggilnya pun menoleh ke sumber
suara.
“Gra ...”
Agra pun mendekatinya. Divta sedang menikmati satu cap kopi yang
terlihat sekali sudah dingin. Tak ada asap yang mengepul di atasnya. Entah sudah
berapa lama pria itu di sana.
Agra pun ikut menyandarkan badannya di pembatas balkon. Berdiri dengan
jarak satu meter.
“Bang ..., aku ingin bicara ...” ucap Agra lagi setelah beberapa
saat terjadi keheningan. Dan Divta pun hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Apa abang baik-baik saja?” tanya Agra.
“Menurutmu?” tapi Divta malah balik bertanya. Wajahnya menyimpan luka.
“Aku harap abang akan baik-baik saja. Tapi entah kenapa aku merasa
jika bang Divta sedang menghindariku.”
__ADS_1
“Itu Cuma perasaanmu saja ...”
“Jika bang Divta menghindariku karena mama abang, aku minta maaf
... karena aku tidak mungkin memaafkannya.”
Hening
Hening
Hening
“Kamu salah ...” ucap Divta ketika sudah terdiam cukup lama. “Aku
merasa malu, aku bukan kakak yang baik. Bukan putra yang baik. Bahkan aku sudah
merencanakan hal yang jahat pada keluargaku sendiri. Rasanya untuk berhadapan
denganmu dan ibumu, aku tak sanggup.”
“Ini bukan salah bang Divta. Aku tahu abang orang yang baik. Jadi untuk
kedepannya jangan pernah menyalahkan diri abang lagi. Aku akan sangat senang
jika kita bisa bersama. Saling merangkul layaknya saudara.”
“Terimakasih .... aku akan mencobanya." mereka menghabiskan senja bersama di sana. banyak hal yang harus mereka bahas. Banyak cerita yang mereka curahkan selama terpisah. Dan yang akan tetap menjadi rahasia adalah perasaan Divta terhadap Ara. Dia tidak mau membuat adiknya merasa tidak enak atau mungkin akan membencinya.
Divta yakin lambat laun pasti ia akan bisa melupakan cinta pertamanya. Saat suatu saat nanti ada perempuan yang berhasil mengetuk hatinya kembali.
***
Selama Ara di rumah besar, Agra menyerahkan pengawasan Ara pada
ibunya dan bi Anna. Dia kembali bekerja meskipun sebenarnya dia sangat malas
untuk melakukannya. Setiap kali akan berangkat ke kantor rasanya sangat enggan. Ketika di kantor pikirannya akan terpusat pada istrinya.
Dia tidak bisa konsentrasi kerja.
Setiap hari dia selalu ingin pulang lebih cepat. Ingin rasanya ia mengajak
istrinya ke kantor, tapi tidak mungkin dengan keadaan kandungan Ara yang kini
semakin besar.
***
Sore ini agra pulang cepat. Hal pertama yang dia lakukan saat sampai di rumah adalah menemukan istrinya. Tapi kali ini, ia tidak menemukan istrinya di
dalam kamar. Agra menatap sekeliling, berusaha mencari keberadaan istrinya.
Namun wanita itu memang tidak ada.
Agra pun segera keluar dari kamar tanpa mengganti pakaiannya, ia
masih mengenakan baju yang sama hanya melepaskan jas dan dasinya saja. Menurut
informasi dari pelayan, istrinya sedang berada di dapur. Mau tak mau agra pun
melangkahkan kakinya ke dapur.
Langkah kaki Agra terhenti ketika melihat pemandangan di depan
mata. Ia melihat istrinya memakai baju terusan yang begitu pas dengan perut
buncitnya. Rambutnya di ikat asal, terlihat begitu cantik.senyum yang tak pernah memudar di bibirnya
setiap kali berbicara dengan pelayan. Dia sangat menikmati aktivitasnya.
Agra menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Dia terlalu terpesona
untuk melakukan hal lain. Ia menatap istrinya dengan terkagum-kagum. Kehadiran
Ara bagaikan malaikat di hidupnya. Ara membuatnya menjadi laki-laki yang sangat
bahagia.
“dia sangat cantik ...”
“iya ...”
‘hatinya juga cantik ...”
“iya ...”
‘kamu mencintainya?”
“sangat.”
“itu artinya keputusan ibu tak pernah salah untuk menjadikan dia
istri dari putra ibu ..., iya kan ...?” Agra melirik di sampingnya. Agra
terkejut, ia tidak menyadari kedatangan ibunya.
“jadi sebenarnya ...?”
“ya ..., ibu yang merencanakan semuanya, ibu tahu tidak terjadi
apa-apa di antara kalian, tapi pagi itu, memberi jalan pada ibu untuk
menyatukan kalian, ibu merasa Ara adalah wanita yang paling tepat, itu kenapa
ibu begitu ingin menikahkan kalian.”
“ibu ...” Agra menatap ibunya dengan haru.
“bby ..., sudah pulang ?” Ara mendekat padanya saat menyadari
kedatangannya.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG
HAPPY READING 😘😘😘😘😘😘