My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 107


__ADS_3

   Acara empat bulanan


Satu minggu kini sudah berlalu, dan hari ini semua sedang sibuk


mempersiapkan acara empat bulanan kandungan Ara, Agra sengaja hanya mengundang


anak-anak panti dan tetangga rumahnya


Semua makanan di pesan dari luar, walaupun acaranya sederhana tapi


Agra suka bisa berbagi dengan anak-anak yang memiliki nasib yang sama dengannya


di waktu kecil, di tinggalkan oleh orang tuanya


Ia benar-benar berharap kelak anaknya tidak akan pernah merasakan


hal yang sama seperti yang ia alami


Walaupun sekarang penghasilannya tak sebesar dulu ketika menjadi CEO


tapi ia bersyukur karena masih bisa berbagi dengan yang lebih membutuhkan


acara di isi dengan pengajian dan santunan,


Setelah acara selesai, Agra dan Ara segera berdiri di depan pintu


untuk memberikan bingkisan dan menyalami tamu yang akan pulang, sedangkan Nadin


membereskan bagian dalam ruangan untuk persiapan pembukaan kafe nanti malam


Setelah tamu tinggal beberapa orang, tiba-tiba sebuah mobil


berhenti tepat di plataran kafe, mobil yang begitu Agra kenal, dan seseorang


keluar dari dalam mobil itu


“ibu ....” ucap Agra dan Ara bersamaan


Wanita itu dengan santai dan anggunnya berjalan menghampiri mereka,


ia meneteng tas brandendnya, mini dress yang selalu ia kenakan menambah


keanggunan wanita yang sudah berusia setengah abad itu


“boleh aku masuk?” tanyanya begitu anggun dan tegas


Ara menoleh kepada suaminya meminta persetujuan, tapi tetap sama ,


Agra hanya diam menatap ibunya dingin


“masuklah bu ...!” tanpa menunggu persetujuan dari Agra, Ara pun


mempersilahkan ibunya untuk masuk


Ratih berjalan terlebih dahulu dan di ikuti Ara, sedangkan Agra


masih berdiri di tempatnya, seseorang yang selalu bersama Ratih segera


menghampirinya, dia adalah Salman, tangan kanan ayahnya yang kini menjadi


tangan kanan ibunya, dia ayah Rendi


“selamat malam tuan muda” sapanya pada Agra


“selamat malam paman” Agra memberi hormat pada seorang yang sudah


di anggapnya seperti ayahnya sendiri, sejak kecil Salman begitu menyayangi Agra bahkan mungkin lebih menyayangi Agra dari pada putranya sendiri Rendi


“bagaimana kabar tuan muda?” senyum mengembang menampakkan deretan gigi yang sudah mulai rapuh tapi nanpak masih bersih dan rapi, senyum penuh kasih sayang yang selalu Agra rindukan


“seperti yang paman lihat, saya baik paman ...” jawab Agra sambil mengangkat kedua bahunya


“sepertinya anda kurusan ...., bagaimana kabar nona Ara?” Salman lagi-lagi menunjukkan perhatiannya


“Ara juga baik paman, bagaimana kabar paman?” Agra balik bertanya karena sudah lama sekali tak bertemu dengan Salman


"seperti yang tuan muda lihat, saya juga baik, hanya bertambah tua ..."


"paman masih tampak muda ...."


“selamat atas kehamilan nona, nyonya begitu senang mendengar nona


Ara hamil ...”


Mendengar ucapan Salman, Agra tak punya sanggahan atau pertanyaan,


ia hanya diam dengan wajah yang sulit di artikan, apakah dia senang atau ia


meragukan perkataan Salman


“mari paman .., masuklah ...” setelah dalam kediamannya yang tak berarti, Agra pun mengajak Salman untuk masuk


***


Ratih sudah masuk ke dalam kafe, melihat kedatangan besannya, Roy


yang sedang berbincang dengan salah satu karyawan Agra, segera menghentikan


aktifitasnya dan segera menghampiri Ratih yang sudah begitu dekat dengan tempatnya


“nyonya ....” sapa Roy, ayah Ara dengan senyum yang mengembang seperti biasanya


“selamat malam tuan ,Roy..., bagaimana kabar anda?” dan seperti biasa Ratih tetap dengan keanggunannya

__ADS_1


“alhandulillah nyonya saya baik, silahkan duduk nyonya ...” Roy


segera menggeserkan salah satu bangku yang palin dekat dengan mereka untuk Ratih duduk


“terimakasih ...”


Setelah mengucapkan terimakasih, Ratih pun duduk dan di ikuti Ara,


tapi ia segera mengurungkan untuk duduk


“kalau begitu saya permisi dulu nyonya, ada yang harus saya


kerjakan” ucap Roy pamit, karena ia harus segera mempersiapkan untuk acara


besok


“baik tuan Roy, silahkan...!”


Roy pun segera meninggalkan Ara dan Ratih, sebelum pergi ia


mengusap punggung putrinya memberikan dukungan, setelah Roy pergi meninggalkan


mereka, Ara kembali fokus pada ibu mertuanya


“ibu ingin minum apa? Biar Ara buatkan ...!” tanya Ara yang sudah


berdiri kembali, ia tampak begitu canggung


“tetaplah di sini...” ucap Ratih dengan lembut, wanita itu kini


bersikap lembut, begitu lembut ya berbeda dari biasanya


“tapi ibu ....!” Ara berusaha membantah, ia merasa tidak sopan jika


tidak menawari ibu mertuanya minuman setelah sekian lama mereka tidak bertemu


“biar saya saja kak ..., nyonya mau minum apa?” Nadin yang


kebetulan melihat kedatangan Ratih, ia segera menawarkan diri, dan Ratih


sepertinya juga menyetujuinya


“kopi saja ...” ucap Ratih pada Nadin, Nadin pun tersenyum senang


“baik nyonya ...” Nadin segera meninggalkan mereka berdua, Ara dan


Ratih


“duduklah nak ...” perintah Ratih pada Ara yang lagi-lagi masih terlihat canggung, ia bingung bagaimana harus bersikap


“bagaimana kabarmu?” tanya Ratih saat Ara sudah kembali duduk


“aku baik bu” Ara meremas jarinya yang ia sembunyikan di balik meja, mengurangi rasa groginya, ia hanya berharap semoga suaminya segera datang dan berhabung, pandangannya sesekali fokus ke pintu masuk


“mereka baik”


“aku senang kau mengandung anak kembar, semoga kalian selalu sehat”


“terimakasih ibu ...”


Percakapan mereka terhenti saat, Salman dan Agra juga masuk ke


dalam kafe, mereka menghampiri Ratih dan Ara, Ara bisa bernafas lega


“duduklah ...” perintah Ratih pada Agra dan Salman


“terimakasih nyonya, biar saya berdiri saja, silahkan duduk tuan


muda” Salman meminta Agra untuk duduk


Agra pun ikut duduk dengan Ratih dan Ara, keheningan terjadi di


antara mereka yang terdengar hanya alunan lagu yang sengaja di sajikan oleh kafe


“silahkan minumnya...” Nadin sudah kembali dengan membawa tiga


cangkir kopi dan satu gelas coklat panas


Setelah menaruh semua gelas itu di atas meja, Nadin segera


meninggalkan mereka tanpa berkeinginan untuk mendengarkan pembicaraan mereka


“gra ....” Ratih memulai pembicaraan setelah terjadi keheningan


yang cukup lama, mungkin dari mereka merasa kesulitan untuk mencari topik yang


pas untuk memulai bicara


Agra hanya menoleh tanpa mau menyahuti ucapan ibunya, ia mulai


menyesap kopinya


“maafkan ibu ....!”


Setelah memdengar ucapan ibunya, Agra benar-benar membulatkan


matanya tak percaya, ini untuk pertama kalinya ibunya dan setelah sekian lama


ia menunggu kata maaf keluar dari mulut ibunya, dan sekarang benar-benar ia


mendengarnya


“ibu minta maaf, ibu minta maaf karena kamu harus melewati

__ADS_1


masa-masa itu tanpa penjelasan, membuatku bertanya-tanya, membuatmu menunggu”


“aku tau tidak mudah bagimu untuk memaafkan ibu, karena kesalahan


ibu terlalu besar padamu. Andai ada cara lain yang bisa ibu lakukan selain


mengucapkan maaf. Tolong katakan, jika bisa ibu akan lakukan”


“ibu tahu jika kata-kata maaf ini tidak akan mengurani rasa sakit


yang telah ibu buat, tetapi, bagaimanapun, ibu mohon maafkan ibu, ibu begitu


menyayangimu hingga tak tahu bagaimana cara untuk menunjukkannya hingga cara


ibu malah melukaimu begitu dalam” wanita paruh baya itu untuk pertama kalinya


menunjukkan air matanya, rasa bersalah pada putranya telah membuatnya begitu


terluka


Agra masih tetap dengan diamnya, entah apa yang sedang di pikirkan


putranya itu, ini untuk pertama kalinysa ibunya mengucapkan maaf setelah ia


menunggu ucapan itu 15 tahun lamanya, hingga mungkin maaf itu hampir saja


terlambat baginya


“bby ....” Ara menyentuh tangan suaminya begitu lembut, Agra


menoleh dan menatap istrinya, ada rasa ragu di hatinya, Ara tersenyum menatap


suaminya


“bby .....jangan pernah menyimpan dendam yang tak berkesudahan


dengan masa lalu yang telah kalian lalui bersama, biarlah yang lalu menjadi


pelajaran buat kita bby...., dengan memaafkan akan sangat meringankan bby ...”


ucap Ara meyakinkan suaminya, dan Agra pun melepaskan nafasnya kasar seakan


lepas bersamaan dengan beban berat yang di pikulnya


“ibu ....., aku begitu kecewa padamu ...., tapi seandainya ibu tahu


rasa kecewaku tidak akan pernah mengalahkan rasa sayangku pada ibu”


“tapi kali ini beda ibu ..., kau melibatkan Ara, dia istriku, aku


harus melindunginya dengan nyawaku, aku begitu terluka saat mendengar ibu bisa


mengatakankan memintaku untuk meninggalkannya, untuk menceraikannya”


Mendengar ucapan Agra, Ara begitu terkejut


“jadi itu alasanmu bby..., pergi dari rumah “ batin Ara, hingga air


matanya tak tertahan lagi, begitu besar cinta suaminya padanya, tapi


“tapi aku malah sering sekali mengecewakanmu, dengan berpikir


untuk meninggalkanmu” batin Ara begitu sakit


“rasanya kata maaf itu tak mampu lagi menghapuskan luka yang telah


ibu perbuat, aku dulu berjanji akan selalu menyayangi ibu dan menjadikan ibu


prioritasku, tapi saat ini beda ibu ..., aku memiliki Ara dan juga anak-anak


kami yang menjadikan aku sebagai panutannya”


“aku tak mau anak-anakku kelak menjadi pendendam, untuk itu aku


memaafkan ibu”


“jadi kau mau memaafkan ibu nak ...?” ada senyum yang mengembang


dari bibir wanita paruh baya itu


“iya ibu ...” jawab Agra tapi tatapannya tak pernah beralih dari


istrinya, sekarang istrinya adalah kekuatannya


“jadi kalian akan kembali ke rumah kan?” tanya Ratih lagi


“tapi maafkan untuk itu ibu, sesuai dengan ucapan ibu sebelum kami


keluar dari rumah, kami tidak akan kembali ke rumah itu sampai kami bisa


berdiri di atas kaki kami sendiri, dan dapat membuktikannya pada ibu”


“tapi sayang ...., ibu begitu merindukanmu, merindukan kalian....”


ucapnya lembut tapi tak mengurangi keanggunan wanita itu, anggun dan tegas


“tunggulah ibu sampai saat itu tiba, kami pasti kembali dan berdiri


di atas kaki kami sendiri, dengan bangga kami akan memasuki rumah itu ...”


BERSAMBUNG


maaf ya upnya lama .....

__ADS_1


jangan lupa lagi ya kasih like komentar dan vote ya


__ADS_2