
Acara empat bulanan
Satu minggu kini sudah berlalu, dan hari ini semua sedang sibuk
mempersiapkan acara empat bulanan kandungan Ara, Agra sengaja hanya mengundang
anak-anak panti dan tetangga rumahnya
Semua makanan di pesan dari luar, walaupun acaranya sederhana tapi
Agra suka bisa berbagi dengan anak-anak yang memiliki nasib yang sama dengannya
di waktu kecil, di tinggalkan oleh orang tuanya
Ia benar-benar berharap kelak anaknya tidak akan pernah merasakan
hal yang sama seperti yang ia alami
Walaupun sekarang penghasilannya tak sebesar dulu ketika menjadi CEO
tapi ia bersyukur karena masih bisa berbagi dengan yang lebih membutuhkan
acara di isi dengan pengajian dan santunan,
Setelah acara selesai, Agra dan Ara segera berdiri di depan pintu
untuk memberikan bingkisan dan menyalami tamu yang akan pulang, sedangkan Nadin
membereskan bagian dalam ruangan untuk persiapan pembukaan kafe nanti malam
Setelah tamu tinggal beberapa orang, tiba-tiba sebuah mobil
berhenti tepat di plataran kafe, mobil yang begitu Agra kenal, dan seseorang
keluar dari dalam mobil itu
“ibu ....” ucap Agra dan Ara bersamaan
Wanita itu dengan santai dan anggunnya berjalan menghampiri mereka,
ia meneteng tas brandendnya, mini dress yang selalu ia kenakan menambah
keanggunan wanita yang sudah berusia setengah abad itu
“boleh aku masuk?” tanyanya begitu anggun dan tegas
Ara menoleh kepada suaminya meminta persetujuan, tapi tetap sama ,
Agra hanya diam menatap ibunya dingin
“masuklah bu ...!” tanpa menunggu persetujuan dari Agra, Ara pun
mempersilahkan ibunya untuk masuk
Ratih berjalan terlebih dahulu dan di ikuti Ara, sedangkan Agra
masih berdiri di tempatnya, seseorang yang selalu bersama Ratih segera
menghampirinya, dia adalah Salman, tangan kanan ayahnya yang kini menjadi
tangan kanan ibunya, dia ayah Rendi
“selamat malam tuan muda” sapanya pada Agra
“selamat malam paman” Agra memberi hormat pada seorang yang sudah
di anggapnya seperti ayahnya sendiri, sejak kecil Salman begitu menyayangi Agra bahkan mungkin lebih menyayangi Agra dari pada putranya sendiri Rendi
“bagaimana kabar tuan muda?” senyum mengembang menampakkan deretan gigi yang sudah mulai rapuh tapi nanpak masih bersih dan rapi, senyum penuh kasih sayang yang selalu Agra rindukan
“seperti yang paman lihat, saya baik paman ...” jawab Agra sambil mengangkat kedua bahunya
“sepertinya anda kurusan ...., bagaimana kabar nona Ara?” Salman lagi-lagi menunjukkan perhatiannya
“Ara juga baik paman, bagaimana kabar paman?” Agra balik bertanya karena sudah lama sekali tak bertemu dengan Salman
"seperti yang tuan muda lihat, saya juga baik, hanya bertambah tua ..."
"paman masih tampak muda ...."
“selamat atas kehamilan nona, nyonya begitu senang mendengar nona
Ara hamil ...”
Mendengar ucapan Salman, Agra tak punya sanggahan atau pertanyaan,
ia hanya diam dengan wajah yang sulit di artikan, apakah dia senang atau ia
meragukan perkataan Salman
“mari paman .., masuklah ...” setelah dalam kediamannya yang tak berarti, Agra pun mengajak Salman untuk masuk
***
Ratih sudah masuk ke dalam kafe, melihat kedatangan besannya, Roy
yang sedang berbincang dengan salah satu karyawan Agra, segera menghentikan
aktifitasnya dan segera menghampiri Ratih yang sudah begitu dekat dengan tempatnya
“nyonya ....” sapa Roy, ayah Ara dengan senyum yang mengembang seperti biasanya
“selamat malam tuan ,Roy..., bagaimana kabar anda?” dan seperti biasa Ratih tetap dengan keanggunannya
__ADS_1
“alhandulillah nyonya saya baik, silahkan duduk nyonya ...” Roy
segera menggeserkan salah satu bangku yang palin dekat dengan mereka untuk Ratih duduk
“terimakasih ...”
Setelah mengucapkan terimakasih, Ratih pun duduk dan di ikuti Ara,
tapi ia segera mengurungkan untuk duduk
“kalau begitu saya permisi dulu nyonya, ada yang harus saya
kerjakan” ucap Roy pamit, karena ia harus segera mempersiapkan untuk acara
besok
“baik tuan Roy, silahkan...!”
Roy pun segera meninggalkan Ara dan Ratih, sebelum pergi ia
mengusap punggung putrinya memberikan dukungan, setelah Roy pergi meninggalkan
mereka, Ara kembali fokus pada ibu mertuanya
“ibu ingin minum apa? Biar Ara buatkan ...!” tanya Ara yang sudah
berdiri kembali, ia tampak begitu canggung
“tetaplah di sini...” ucap Ratih dengan lembut, wanita itu kini
bersikap lembut, begitu lembut ya berbeda dari biasanya
“tapi ibu ....!” Ara berusaha membantah, ia merasa tidak sopan jika
tidak menawari ibu mertuanya minuman setelah sekian lama mereka tidak bertemu
“biar saya saja kak ..., nyonya mau minum apa?” Nadin yang
kebetulan melihat kedatangan Ratih, ia segera menawarkan diri, dan Ratih
sepertinya juga menyetujuinya
“kopi saja ...” ucap Ratih pada Nadin, Nadin pun tersenyum senang
“baik nyonya ...” Nadin segera meninggalkan mereka berdua, Ara dan
Ratih
“duduklah nak ...” perintah Ratih pada Ara yang lagi-lagi masih terlihat canggung, ia bingung bagaimana harus bersikap
“bagaimana kabarmu?” tanya Ratih saat Ara sudah kembali duduk
“aku baik bu” Ara meremas jarinya yang ia sembunyikan di balik meja, mengurangi rasa groginya, ia hanya berharap semoga suaminya segera datang dan berhabung, pandangannya sesekali fokus ke pintu masuk
“mereka baik”
“aku senang kau mengandung anak kembar, semoga kalian selalu sehat”
“terimakasih ibu ...”
Percakapan mereka terhenti saat, Salman dan Agra juga masuk ke
dalam kafe, mereka menghampiri Ratih dan Ara, Ara bisa bernafas lega
“duduklah ...” perintah Ratih pada Agra dan Salman
“terimakasih nyonya, biar saya berdiri saja, silahkan duduk tuan
muda” Salman meminta Agra untuk duduk
Agra pun ikut duduk dengan Ratih dan Ara, keheningan terjadi di
antara mereka yang terdengar hanya alunan lagu yang sengaja di sajikan oleh kafe
“silahkan minumnya...” Nadin sudah kembali dengan membawa tiga
cangkir kopi dan satu gelas coklat panas
Setelah menaruh semua gelas itu di atas meja, Nadin segera
meninggalkan mereka tanpa berkeinginan untuk mendengarkan pembicaraan mereka
“gra ....” Ratih memulai pembicaraan setelah terjadi keheningan
yang cukup lama, mungkin dari mereka merasa kesulitan untuk mencari topik yang
pas untuk memulai bicara
Agra hanya menoleh tanpa mau menyahuti ucapan ibunya, ia mulai
menyesap kopinya
“maafkan ibu ....!”
Setelah memdengar ucapan ibunya, Agra benar-benar membulatkan
matanya tak percaya, ini untuk pertama kalinya ibunya dan setelah sekian lama
ia menunggu kata maaf keluar dari mulut ibunya, dan sekarang benar-benar ia
mendengarnya
“ibu minta maaf, ibu minta maaf karena kamu harus melewati
__ADS_1
masa-masa itu tanpa penjelasan, membuatku bertanya-tanya, membuatmu menunggu”
“aku tau tidak mudah bagimu untuk memaafkan ibu, karena kesalahan
ibu terlalu besar padamu. Andai ada cara lain yang bisa ibu lakukan selain
mengucapkan maaf. Tolong katakan, jika bisa ibu akan lakukan”
“ibu tahu jika kata-kata maaf ini tidak akan mengurani rasa sakit
yang telah ibu buat, tetapi, bagaimanapun, ibu mohon maafkan ibu, ibu begitu
menyayangimu hingga tak tahu bagaimana cara untuk menunjukkannya hingga cara
ibu malah melukaimu begitu dalam” wanita paruh baya itu untuk pertama kalinya
menunjukkan air matanya, rasa bersalah pada putranya telah membuatnya begitu
terluka
Agra masih tetap dengan diamnya, entah apa yang sedang di pikirkan
putranya itu, ini untuk pertama kalinysa ibunya mengucapkan maaf setelah ia
menunggu ucapan itu 15 tahun lamanya, hingga mungkin maaf itu hampir saja
terlambat baginya
“bby ....” Ara menyentuh tangan suaminya begitu lembut, Agra
menoleh dan menatap istrinya, ada rasa ragu di hatinya, Ara tersenyum menatap
suaminya
“bby .....jangan pernah menyimpan dendam yang tak berkesudahan
dengan masa lalu yang telah kalian lalui bersama, biarlah yang lalu menjadi
pelajaran buat kita bby...., dengan memaafkan akan sangat meringankan bby ...”
ucap Ara meyakinkan suaminya, dan Agra pun melepaskan nafasnya kasar seakan
lepas bersamaan dengan beban berat yang di pikulnya
“ibu ....., aku begitu kecewa padamu ...., tapi seandainya ibu tahu
rasa kecewaku tidak akan pernah mengalahkan rasa sayangku pada ibu”
“tapi kali ini beda ibu ..., kau melibatkan Ara, dia istriku, aku
harus melindunginya dengan nyawaku, aku begitu terluka saat mendengar ibu bisa
mengatakankan memintaku untuk meninggalkannya, untuk menceraikannya”
Mendengar ucapan Agra, Ara begitu terkejut
“jadi itu alasanmu bby..., pergi dari rumah “ batin Ara, hingga air
matanya tak tertahan lagi, begitu besar cinta suaminya padanya, tapi
“tapi aku malah sering sekali mengecewakanmu, dengan berpikir
untuk meninggalkanmu” batin Ara begitu sakit
“rasanya kata maaf itu tak mampu lagi menghapuskan luka yang telah
ibu perbuat, aku dulu berjanji akan selalu menyayangi ibu dan menjadikan ibu
prioritasku, tapi saat ini beda ibu ..., aku memiliki Ara dan juga anak-anak
kami yang menjadikan aku sebagai panutannya”
“aku tak mau anak-anakku kelak menjadi pendendam, untuk itu aku
memaafkan ibu”
“jadi kau mau memaafkan ibu nak ...?” ada senyum yang mengembang
dari bibir wanita paruh baya itu
“iya ibu ...” jawab Agra tapi tatapannya tak pernah beralih dari
istrinya, sekarang istrinya adalah kekuatannya
“jadi kalian akan kembali ke rumah kan?” tanya Ratih lagi
“tapi maafkan untuk itu ibu, sesuai dengan ucapan ibu sebelum kami
keluar dari rumah, kami tidak akan kembali ke rumah itu sampai kami bisa
berdiri di atas kaki kami sendiri, dan dapat membuktikannya pada ibu”
“tapi sayang ...., ibu begitu merindukanmu, merindukan kalian....”
ucapnya lembut tapi tak mengurangi keanggunan wanita itu, anggun dan tegas
“tunggulah ibu sampai saat itu tiba, kami pasti kembali dan berdiri
di atas kaki kami sendiri, dengan bangga kami akan memasuki rumah itu ...”
BERSAMBUNG
maaf ya upnya lama .....
__ADS_1
jangan lupa lagi ya kasih like komentar dan vote ya