
Sore ini seperti yang mereka rencanakan, Sanaya
datang ke taman belakang rumah. Sebuah taman milik umum, siapapun bebas di
sana. Jika masih ingat dulu di taman itu ada lapangan tempat anak-anak kecil
bermain bola, di jalan dekat lapangan itu Sanaya hampir tertabrak mobil dan
Abimanyu yang menyelamatkannya. Bagi Sanaya itu adalah kenangan terburuknya
tapi bagi Abimanyu, itu adalah titik balik di mana dia punya tujuan untuk terus
hidup. Ia mengabaikan statusnya sebagai anak buangan dan membiarkan dirinya
semakin membaur dengan dunianya yang baru tanpa bayang-bayang keburukan dalam
dirinya.
Lapangan itu sampai sekarang masih ada, tapi sudah
beralih fungsi menjadi tempat duduk-duduk santai karena sekarang anak-anak
lebih suka bermain bola di lapangan yang lebih luas yang lokasinya juga tidak
jauh dari tempat itu.
Sanaya ada tugas yang harus di kumpulkan besok,
tanpa di beritahu pun Abimanyu sudah mengetahuinya. Ia lebih tahu semua tentang
Sanaya dari pada tentang dirinya sendiri walaupun waktunya lebih sering ia
habiskan bersama Sagara.
Tapi selama satu minggu ke depan, Sagara tidak akan
ke kantor karena ia punya jam belajar tambahan dari omanya, jadi Abimanyu punya
banyak waktu untuk belajar bersama Sanaya.
Gadis itu memakai celana jeans di atas lutut dengan
kaos berwarna kuning polos yang sebagian di masukkan ke celana, sandal jepit
berwarna senada, rambut yang din kuncir kuda tinggi dengan bandana berwarna
kuning kecil cukup menjadi hiasan kepalanya. Ia berjalan lebih cepat saat
melihat anak laki-laki itu sudah duduk di tengah lapangan dengan pohon besar di
sekelilingnya.
“Abi …!” ia melambaikan tangannya dan berjalan cepat
menghampiri Abimanyu.
“Kemana aja?” tanya Abimanyu saat ia sudah duduk di
sampingnya.
“Nggak kemana-mana, kenapa?”
“Bisa nggak tepat waktu datangnya?”
“ini sudah yang paling tepat!”
Abimanyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah
di duga, ia memang tidak akan pernah menang kalau melawan kecerewetan Sanaya.
“Keluarkan buku mu, kita kerjakan tugasnya dulu baru
bahas yang lain!”
Lagi-lagi Sanaya di buat tercengang, ia tidak pernah
mengatakan kalau ia punya tugas tapi abi selalu tahu tentang hal itu,
“kamu tahu kalau aku punya tugas?”
“Bukan hal yang besar!”
Sanaya pun mengeluarkan bukunya, Abimanyu memeriksa
tugas sanaya dan membimbingnya untuk mengerjakannya satu persatu. Hanya dalam waktu satu jam saja tugas itu sudah selesai, sisa waktunya abimanyu menjelaskan tentang materi yang akan di
pelajari oleh sanaya besok.
“Akhirnya …!”
Hal yang paling membuat gadis itu senang adalah saat
__ADS_1
ia menyelesaikan belajarnya, ia sampai meregangkan otot-ototnya seakan sedari
tadi yang berpikir dirinya sendiri.
“Besok jangan telat lagi!” abimanyu memperingatkannya pada Sanaya.
“Siap bos!”
“Ini hadiah buat kamu karena berhasil selesai lebih
cepat hari ini!” ucap Abimanyu sambil menyodorkan sebuah coklat. Melihat coklat
di depannya Sanaya begitu senang.
“makasih …!”
***
Hari ini Sanaya begitu bersemangat untuk berangkat
ke sekolah, ia sudah menyiapkan tugas sekolahnya dan dia juga yakin jika
jawabannya pasti benar.
“Nay tunggu …!” seseorang memanggilnya, itu mom Ara.
Ia menghampiri Sagara dan sanaya di depan rumah dengan sebuah paper bag di
tangannya.
“Ada apa mom?”
“Nihhhh!” mom Ara mengacungkan tasnya.
“Itu apa?”
“Ini seragam
teman kamu, katanya hari ini mau di kembalikan!”
“Ahhhh iya …, Nay bisa sampai lupa gini sih!”
Sagara sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan
mom dan adik kembarnya itu, ia tidak tahu menahu tentang baju seragam itu. Tapi
yang ia ingat kemarin Sanaya menuduh Ariel mengenai hal itu.
“Iya mom!”
Mobil melaju meninggalkan rumah besar itu, seperti
biasa sanaya duduk sendiri di belakang. Sagara terus menatapnya dari cermin
kecil yang berada di depan. Sanaya sangat senang hari ini, sepertinya dia
sedang dalam mode bahagia.
“Seneng banget, mau ketemu anak itu?”
Sagara tidak tahan untuk bertanya.
“Nggak tuh!”
“Trus senyum-senyum terus kenapa?”
“Lagi dapet lotre aja!” jawab sanaya asal.
Abimanyu yang mendengarkan perdebatan dua saudara
itu hanya tersenyum tipis. Ia membayangkan betapa bahagianya jika punya seorang
saudara. Ia pasti tidak akan kesepian.
Seperti biasa, Sanaya akan turun di depan. Ia segera
menuju ke kelasnya. Masih ada waktu sepuluh menit sampai kelas benar-benar di
mulai, kelasnya juga masih terlihat sepi.
Dari pada duduk sendiri di dalam kelas, ia pun
memilih untuk mengembalikan baju milik Aditya, lagian kelas mereka berdekatan
pasti tidak butuh waktu lama untuk hanya sekedar mengembalikan.
Ia meninggalkan tasnya di kelas dan menenteng
paper bag nya lagi menuju ke kelas sebelah. Saat ia menengok ke dalam kelas itu,
masih ada beberapa anak saja di dalam kelas itu, tidak jauh berbeda dengan
__ADS_1
keadaan kelasnya.
“Permisi!”
Ucapan Sanaya berhasil mencuri perhatian para siswa
di dalam kelas itu.
“Hai …!” sanaya melambaikan tangannya dengan senyum
yang di buat semanis mungkin, “Bangku Aditya yang mana ya?”
Salah satu dari mereka menunjuk ke bangku yang masih
kosong yang berada di urutan hampir belakang sendiri.
“Itu!”
“Itu?” Sanaya memastikan kembali.
“Iya!”
“Ijin naruh ini sebentar ya!” Sanaya pun segera
berjalan mendekati bangku yang masih kosong itu dan meletakkan paper bag itu di
dalam laci.
“Boleh minta kertas nya nggak?” tanya Sanaya pada
anak yang berada paling dekat dengan bangku Aditya.
“Ini!” anak itu memberikan selembar kertas.
“Bolpoinnya?”
“Ini!”
Untung anak itu cukup baik dan mau memberinya kertas
dan meminjaminya bolpoin. Sanaya segera menuliskan sesuatu di atas kertas itu.
Hai
Aditya, baju kamu udah aku kembalikan ya, jangan lupa baju aku di kembalikan
juga. Btw …, makasih banyak ya …
Sanaya
Ia meletakkan kertas itu di dalam paper bag dan
mengembalikannya ke dalam laci meja.
“Terimakasih ya!” ucap sanaya saat mengembalikan
bolpoin itu ke pemiliknya.
“sama-sama!”
Sanaya segera meninggalkan kelas itu, satu persatu
anak sudah memasuki ruang kelas. Sanaya pun juga, ia sudah mendapati tas Riska
berada di bangkunya, tapi ia tidak menemukan anaknya di dalam kelas. Ia ingin
minta maaf kepada Riska kerena sudah membuatnya marah.
Akhirnya ia mengambil kertas kosong yang ada di
lacinya, mengambil bolpoin juga. Ia menuliskan sesuatu di atas kertas itu dan
meletakkannya di atas meja Riska.
Tidak berapa lama, saat bel berbunyi. Riska masuk
bersama anak-anak lainnya. Ia duduk di bangkunya, tangannya langsung menyentuh
sebuah kertas di atas meja.
Riska maaf ya …, beneran kemarin aku nggak sengaja ke kantin sama Abimanyu, maafin
aku ya ….
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰