My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Dia begitu Berarti


__ADS_3

Sore ini seperti yang mereka rencanakan, Sanaya


datang ke taman belakang rumah. Sebuah taman milik umum, siapapun bebas di


sana. Jika masih ingat dulu di taman itu ada lapangan tempat anak-anak kecil


bermain bola, di jalan dekat lapangan itu Sanaya hampir tertabrak mobil dan


Abimanyu yang menyelamatkannya. Bagi Sanaya itu adalah kenangan terburuknya


tapi bagi Abimanyu, itu adalah titik balik di mana dia punya tujuan untuk terus


hidup. Ia mengabaikan statusnya sebagai anak buangan dan membiarkan dirinya


semakin membaur dengan dunianya yang baru tanpa bayang-bayang keburukan dalam


dirinya.


Lapangan itu sampai sekarang masih ada, tapi sudah


beralih fungsi menjadi tempat duduk-duduk santai karena sekarang anak-anak


lebih suka bermain bola di lapangan yang lebih luas yang lokasinya juga tidak


jauh dari tempat itu.


Sanaya ada tugas yang harus di kumpulkan besok,


tanpa di beritahu pun Abimanyu sudah mengetahuinya. Ia lebih tahu semua tentang


Sanaya dari pada tentang dirinya sendiri walaupun waktunya lebih sering ia


habiskan bersama Sagara.


Tapi selama satu minggu ke depan, Sagara tidak akan


ke kantor karena ia punya jam belajar tambahan dari omanya, jadi Abimanyu punya


banyak waktu untuk belajar bersama Sanaya.


Gadis itu memakai celana jeans di atas lutut dengan


kaos berwarna kuning polos yang sebagian di masukkan ke celana, sandal jepit


berwarna senada, rambut yang din kuncir kuda tinggi dengan bandana berwarna


kuning kecil cukup menjadi hiasan kepalanya. Ia berjalan lebih cepat saat


melihat anak laki-laki itu sudah duduk di tengah lapangan dengan pohon besar di


sekelilingnya.


“Abi …!” ia melambaikan tangannya dan berjalan cepat


menghampiri Abimanyu.


“Kemana aja?” tanya Abimanyu saat ia sudah duduk di


sampingnya.


“Nggak kemana-mana, kenapa?”


“Bisa nggak tepat waktu datangnya?”


“ini sudah yang paling tepat!”


Abimanyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah


di duga, ia memang tidak akan pernah menang kalau melawan kecerewetan Sanaya.


“Keluarkan buku mu, kita kerjakan tugasnya dulu baru


bahas yang lain!”


Lagi-lagi Sanaya di buat tercengang, ia tidak pernah


mengatakan kalau ia punya tugas tapi abi selalu tahu tentang hal itu,


“kamu tahu kalau aku punya tugas?”


“Bukan hal yang besar!”


Sanaya pun mengeluarkan bukunya, Abimanyu memeriksa


tugas sanaya dan membimbingnya untuk mengerjakannya satu persatu. Hanya dalam waktu satu jam  saja tugas itu sudah selesai, sisa waktunya abimanyu menjelaskan tentang materi yang akan di


pelajari oleh sanaya besok.


“Akhirnya …!”


Hal yang paling membuat gadis itu senang adalah saat

__ADS_1


ia menyelesaikan belajarnya, ia sampai meregangkan otot-ototnya seakan sedari


tadi yang berpikir dirinya sendiri.


“Besok jangan telat lagi!” abimanyu memperingatkannya pada Sanaya.


“Siap bos!”


“Ini hadiah buat kamu karena berhasil selesai lebih


cepat hari ini!” ucap Abimanyu sambil menyodorkan sebuah coklat. Melihat coklat


di depannya Sanaya begitu senang.


“makasih …!”


***


Hari ini Sanaya begitu bersemangat untuk berangkat


ke sekolah, ia sudah menyiapkan tugas sekolahnya dan dia juga yakin jika


jawabannya pasti benar.


“Nay tunggu …!” seseorang memanggilnya, itu mom Ara.


Ia menghampiri Sagara dan sanaya di depan rumah dengan sebuah paper bag di


tangannya.


“Ada apa mom?”


“Nihhhh!” mom Ara mengacungkan tasnya.


“Itu apa?”


“Ini  seragam


teman kamu, katanya hari ini mau di kembalikan!”


“Ahhhh iya …, Nay bisa sampai lupa gini sih!”


Sagara sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan


mom dan adik kembarnya itu, ia tidak tahu menahu tentang baju seragam itu. Tapi


yang ia ingat kemarin Sanaya menuduh Ariel mengenai hal itu.


“Iya mom!”


Mobil melaju meninggalkan rumah besar itu, seperti


biasa sanaya duduk sendiri di belakang. Sagara terus menatapnya dari cermin


kecil yang berada di depan. Sanaya sangat senang hari ini, sepertinya dia


sedang dalam mode bahagia.


“Seneng banget, mau ketemu anak itu?”


Sagara tidak tahan untuk bertanya.


“Nggak tuh!”


“Trus senyum-senyum terus kenapa?”


“Lagi dapet lotre aja!” jawab sanaya asal.


Abimanyu yang mendengarkan perdebatan dua saudara


itu hanya tersenyum tipis. Ia membayangkan betapa bahagianya jika punya seorang


saudara. Ia pasti tidak akan kesepian.


Seperti biasa, Sanaya akan turun di depan. Ia segera


menuju ke kelasnya. Masih ada waktu sepuluh menit sampai kelas benar-benar di


mulai, kelasnya juga masih terlihat sepi.


Dari pada duduk sendiri di dalam kelas, ia pun


memilih untuk mengembalikan baju milik Aditya, lagian kelas mereka berdekatan


pasti tidak butuh waktu lama untuk hanya sekedar mengembalikan.


Ia meninggalkan tasnya di kelas dan menenteng


paper bag nya lagi menuju ke kelas sebelah. Saat ia menengok ke dalam kelas itu,


masih ada beberapa anak saja di dalam kelas itu, tidak jauh berbeda dengan

__ADS_1


keadaan kelasnya.


“Permisi!”


Ucapan Sanaya berhasil mencuri perhatian para siswa


di dalam kelas itu.


“Hai …!” sanaya melambaikan tangannya dengan senyum


yang di buat semanis mungkin, “Bangku Aditya yang mana ya?”


Salah satu dari mereka menunjuk ke bangku yang masih


kosong yang berada di urutan hampir belakang sendiri.


“Itu!”


“Itu?” Sanaya memastikan kembali.


“Iya!”


“Ijin naruh ini sebentar ya!” Sanaya pun segera


berjalan mendekati bangku yang masih kosong itu dan meletakkan paper bag itu di


dalam laci.


“Boleh minta kertas nya nggak?” tanya Sanaya pada


anak yang berada paling dekat dengan bangku Aditya.


“Ini!” anak itu memberikan selembar kertas.


“Bolpoinnya?”


“Ini!”


Untung anak itu cukup baik dan mau memberinya kertas


dan meminjaminya bolpoin. Sanaya segera menuliskan sesuatu di atas kertas itu.


Hai


Aditya, baju kamu udah aku kembalikan ya, jangan lupa baju aku di kembalikan


juga. Btw …, makasih banyak ya …


Sanaya


Ia meletakkan kertas itu di dalam paper bag dan


mengembalikannya ke dalam laci meja.


“Terimakasih ya!” ucap sanaya saat mengembalikan


bolpoin itu ke pemiliknya.


“sama-sama!”


Sanaya segera meninggalkan kelas itu, satu persatu


anak sudah memasuki ruang kelas. Sanaya pun juga, ia sudah mendapati tas Riska


berada di bangkunya, tapi ia tidak menemukan anaknya di dalam kelas. Ia ingin


minta maaf kepada Riska kerena sudah membuatnya marah.


Akhirnya ia mengambil kertas kosong yang ada di


lacinya, mengambil bolpoin juga. Ia menuliskan sesuatu di atas kertas itu dan


meletakkannya di atas meja Riska.


Tidak berapa lama, saat bel berbunyi. Riska masuk


bersama anak-anak lainnya. Ia duduk di bangkunya, tangannya langsung menyentuh


sebuah kertas di atas meja.


Riska maaf ya …, beneran kemarin aku nggak sengaja ke kantin sama Abimanyu, maafin


aku ya ….


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2