
Aditya segera menghampiri Sanaya dan menarik tangan Sanaya menjauh dari kerumunan.
Ia tidak menyadari jika di sisi lain mereka ada Sagara yang sedang menunggu Sanaya.
"Nay ...., ngapain di sini?" tanya Adit saat mereka sudah berada di tempat yang lebih sepi.
Adit tidak peduli dengan teman-teman nya yang kecewa padanya.
"Lo yang ngapain di sini?"
Hehhh
Aditya menghela nafas, ia tidak tahu dari mana Sanaya bisa tahu keberadaannya di tempat ini.
"Aku mau balap motor!"
"Bisa nggak, buat jangan balap motor lagi, kasihan tahu bunda mikirin kamu, dia nyariin kamu!"
Jadi bunda yang kasih tahu ....
"Pulanglah!" ucap Aditya, ia segera berbalik tapi Sanaya menarik kembali tangannya membuat Adit kembali menghadap Sanaya.
"Gue nggak akan pulang sebelum lo pulang!"
"Nay, ini sudah malam! Jangan aneh-aneh deh ....! Aku antar pulang ya!"
"Gue nggak suka lo balap motor kayak gini!"
"Aku harus lanjutkan balapan ini!"
"Ok, kalau lo tetap keras kepala, jangan pernah hubungi gue lagi, anggap kita nggak pernah temenan!"
"Terserah!" ternyata Aditya tidak kalah keras kepalanya.
Kali ini Aditya memilih berlalu begitu saja meninggalkan Sanaya dan kembali ke kerumunan anak muda itu. Ia memakai kembali helmnya dan naik ke motornya. Suara sorak-sorai anak-anak menyemangatinya tapi tatapan Adit tetap pada gadis sendiri yang berdiri menatapnya dengan tatapan tidak menentu.
Maafin aku Nay ...., aku hanya belum siap kecewa Nay, bukan aku yang ada di dalam hati mu ...
aku rasa ini jalan terbaik, menjauh darimu untuk sementara waktu ....
Suara motor yang menderu menjadi irama penanda balapan segera di mulai. Anak perempuan dengan pakaian seksi mulai mengangkat kain yang ada di tangannya dan motor-motor itu melaju dengan cepat meninggalkan kerumunan itu.
Meninggalkan Sanaya yang cukup terluka, ia tidak suka Aditya bersikap seperti itu padanya. Rasanya sakit.
Ia pun memilih beranjak dan menghampiri Sagara.
"Gimana?" tanya Sagara, walaupun ia melihat sendiri apa yang terjadi tetap saja ia ingin bertanya dan mendapat jawaban langsung dari saudarinya itu.
"Kita pulang saja!" ucap Sanaya dan langsung naik begitu saja mengabaikan tangan Gara yang mengacungkan helm.
Sagara pun hanya menghela nafas dan kembali menggantungkan helm itu di lengannya.
Sepanjang jalan Sanaya hanya diam, tangannya melingkar sempurna di perut Sagara dengan kepala yang menempel di punggung.
Sagara bisa merasakan punggungnya basah.
Dia tidak secerewet saat berangkat tadi. Sanaya hanya terus diam hingga mereka sampai kembali di rumah.
Sanaya meninggalkan Sagar begitu saja tapi Sagara segera mengejarnya.
__ADS_1
"Nay!" panggilnya hingga membuat Sanaya menghentikan langkahnya, ia tidak berniat untuk berbalik. Ia tidak mau Sagara sampai tahu jika dirinya sekarang sedang menangis.
Sagara segera menarik tubuh Sanaya hingga tubuh itu berbalik dan masuk ke dalam pelukannya.
"Aku memang suka resek, menyebalkan, dingin, tapi kamu jangan lupa, bahu ini, dada ini masih akan tetap nyaman untuk tempatmu bersandar!
Aku adalah saudaramu, aku adalah bagian dari hidupmu, jangan mengira jika kamu sakit aku juga tidak merasakan sakit! Sebelum kamu dewasa dan mengenal cowok-cowok itu, akulah cowok yang selalu ada untukmu!"
Hiks hiks hiks
Mendengar perkataan Sagara yang seperti itu membuat Sanaya semakin terharu, dia malah semakin mengeraskan tangisnya.
"Kenapa ngomongnya kayak gitu sih Ga? Kamu benar-benar kayak cinta pertamaku, menakutkan sekali ....!" ucapnya sambil memukul dada Sagara.
"Sudah jangan nangis, besok aku traktir es krim deh!"
Sanaya mendongakkan kepalanya, "Beneran?"
"Memang aku pernah bohong? Yang ada kamu yang sering bohongi aku, besok ikut aku ke kantor, kita jalan-jalan lalu makan es krim!"
Sanaya tersenyum sambil menghapus air matanya,
"Serius ngajak aku?"
"Tawarannya nggak bisa di ulang inih!"
"Iya iya percaya, besok aku ikut!"
"Sudah sekarang tidur dan jangan bikin ulah!"
"Siap!"
...**"**...
Abimanyu pagi ini tidak datang ke rumah tapi Sanaya dan Sagara yang menghampirinya.
Abimanyu begitu terkejut saat melihat Sagara dan Sanaya sudah berada di depan rumahnya,
"Kenapa kalian ke sini?"
"Kata Sanaya kemarin kamu cidera!"
"Tidak pa pa, hanya terkilir saja!" ucap Abimanyu, dia memang tidak suka di anggap lemah.
Sanaya segera berdiri di samping Abimanyu dan menggandeng tangannya,
"Hari ini kami yang akan membantumu!"
"Itu tidak perlu!" tolak Abimanyu sedangkan Sagara hanya menyilangkan tangannya sambil berdecak melihat drama di depannya.
"Kalian tetap mau ngobrol saja atau berangkat?"
"Issstttttt, ayo Abi!"
Sanaya segera memapah Abimanyu dan mengajaknya ke mobil. Sagara segera mengikutinya di belakang, kali ini Sagara yang menyetir mobil.
...****...
Akhirnya mereka sampai juga di depan sekolah, Sanaya masih berusaha untuk memapah Abimanyu walaupun dia terus menolaknya.
__ADS_1
"Aku nggak pa pa Nay, serius!"
"Nggak pa pa Bi, aku akan mengantarmu sampai di kelas!"
"Ada Gara, Nay!"
Sagara berjalan di belakang mereka dengan tetap diam.
Langkah mereka terhenti saat di depan mereka ada seseorang yang semalam sudah membuat Sanaya menangis.
Aditya juga menghentikan langkahnya, awalnya ingin menyapa Sanaya, tapi kemudian dia urungkan.
Mungkin ini alasan Sanaya tidak mau lagi dekat denganku ....
Anak laki-laki itu memilih berlalu begitu saja.
Aku yang seharusnya marah sama dia, kenapa dia yang tidak menyapaku?
Abimanyu menoleh pada Sanaya, ada yang tidak dia tahu.
"Nay!"
"Hemm?"
"Kamu nggak pa pa?"
"Nggak, memang aku kenapa? Ayo aku antar ke kelas kamu!"
Sanaya dan Abi melanjutkan langkahnya menuju ke kelas Sagara dan Abi, bahkan Sanaya mengantar Abi sampai di bangkunya.
"Makasih ya Nay!"
"Sama-sama, Aku ke kelas dulu ya!"
"Iya, hati-hati!"
Sanaya meninggalkan kelas itu, Abi terus menatap Sanaya hingga anak itu menghilang.
"Gitu banget lihatnya!" keluh Sagara membuat Abi tersadar.
"Biasa aja!"
Sanaya segera ke kelasnya, di kelas nya sudah ramai, anak-anak di kelas itu duduk bergerombol menjadi beberapa kelompok. Ini adalah kebiasaan setiap pagi jika ada pekerjaan rumah, mereka akan mencontek kepada anak yang paling pintar di kelas.
Sanaya segera duduk di bangkunya, dan hal yang paling di hindari beberapa hari ini. Melihat ke arah laci mejanya.
Gulungan yang sama itu selalu muncul pagi-pagi. Gulungan berisi kata-kata ancaman.
Sebenarnya siapa sih ini .....
Sanaya mengedarkan pandangannya, tidak ada yang mencurigakan. lagi-lagi ia di hadapkan dengan teka-teki siapa peneror dirinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading đ„°đ„°đ„°