
Pagi ini Agra tidak masuk lagi ke kafe karena membantu Ara untuk
beres-beres barang di ruko barunya, hari ini Ara mulai membuka rukonya di bantu
mbak Rini dan Nadin
Semua pelanggan yang sudah tahu lokasi baru Ara, sudah langsung
berdatangan ke ruko untuk mengambil pesanan dan juga ada beberapa pelanngan
baru yang kebetulan melintas di depan ruko menyempatkan diri mampir
“sayang jangan capek –capek ya ...” Agra yang sedang mengemas
beberapa pesanan pelanggan,
“enggak, kan di bantu mbak Rini sama Nadin” jawab Ara yang sedang
sibuk mengaduk adonan, sedangkan Nadin dan mbak Rini sedang mengukus sebagian
ada yang di masukkan ke oven
Ternyata semakin sore semakin banyak yang berdatangan, ada yang di
bungkus dan ada juga yang memang sengaja pengen nongkrong di ruko karena
pemandangannya begitu bagus lansung bisa melihat hamparan taman yang luas di
depan ruko
***
Agra sudah duduk di atas tempat tidur, Ara yang baru saja selesai mandi segera menyusul Agra, dan duduk di samping suaminya
“kamu pasti capek sayang, sini aku pijitin ...” Agra menarik kaki Ara dan di naikkan di atas pangkuannya
“nggak usah bby ..., aku nggak pa pa ...” ara berusaha menolak
perlakuan lembut suaminya, dan menarik kakinya kembali, tapi ternyata tangan Agra lebih kuat
“kamu pasti juga capek ...” ucap Ara, merasa tidak enak, mereka seharian ini telah bekerja keras, pasti suaminya juga tak kalah capeknya
“aku senang sayang, melakukan semua ini ....” agra ngotok memijit
kaki Ara dengan lembut membuat Ara tak mampu lagi menolaknya
“terimakasih bby ....” Ara hanya bisa tersenyum dengan mata yang
sudah berkaca-kaca
“ihhhh ...., ternyata istri aku ini cengeng banget ya ..., sedih
nangis, senag nangis ...” Agra malah semakin menggoda istrinya dan menghapus
air mata yang melintas di pipi istrinya
“apaan sihhhh ...., jahat deh ...” Ara hanya bisa memukul dada
suaminya pelan
“nggak tahu nih akhir-akhir ini aku sensitif banget” ucap Ara sambil membenarkan kakinya yang sedang di pijat suaminya
“besok ke dokter ya, aku liat kamu akhir-akhir ini sering lemas
sayang" ucap Agra sambil memperhatikan istrinya
"nggak bby ....." Ara masih saja menolak,
"jangan menolak lagi ya, aku benar-benar berharap kamu hamil sayang, besok aku antar ya .....” ucap Agra memaksa
“bby..., kamu udah banyak ijin nggak ke kafe loh...., ntar kamu nggak
habis-habis loh kontraknya...., nggak bisa cepet-cepet fokus ke ruko kita bby.....”
“trus bagaimana dong?”
“gini aja bby..., aku besok ke dokter sama Nadin, gimana?”
“aku pengen banget nemenin kamu sayang ....."
"tapi kan bby, semakin cepat selesai kontrak kerjanya semakin bagus, kita bisa sama-sama terus, di ruko kita ..... "
"ya sudah deh aku nyerah ....., ya sudah nggak pa pa ya nggak aku temenin?”
“nggak pa pa bby, kan aku yang minta”
“sudah jangan memikirkan sesuatu ..., nanti langsung kasih tahu aku hasilnya ya ....” agra mengusap lembut rambut
istrinya
"iya ....., bawel banget suami aku ini ....." jawab Ara sambil tersenyum begitu manis
“tidurlah sayang ..., aku
akan memijitmu hingga tertidur ...” agra membantu merebahkan tubuh istrinya dan
__ADS_1
memberi kecupan singkat di keningnya
“I love u my wife”
“I love you my husbend ..., you are my hero” lagi-lagi jantung agra
di buat berlari maraton meninggalkan dadanya ...., agra benar-benar bahagia, ia
tidak pernah menyangka jika takdir cintanya berlabuh pada sekertaris bermata
empat ini
***
Hari ini Ara sudah janji pada Agra untuk pergi ke dokter, awalnya
ia ingin meminta Nadin untuk menemaninya, tapi tiba-tiba Nadin ada kelas pagi,
akhirnya mau tak mau Ara ke dokter sendiri
“mbak Rini nggak pa pa ya aku tinggal sendiri?” tanya Ara pada mbak
Rini karena merasa tidak enak karena meninggalkannya sendiri
“nggak pa pa mbak” jawab mbak Rini dengan senyum yang selalu
menghiasi bibirnya
“Nadin satu jam lagi bakalan datang kok mbak, katanya kuliahnya
Cuma sebentar, aku pergi dulu ya”
“iya hati-hati ya mbak”
Ojol yang sudah di pesan Ara sudah menunggu di halaman ruko
“dengan mbak Ara ya”
“iya mas”
“sesuai aplikasi ya mbak?”
‘iya mas”
Ara pun menuju ke salah satu klinik di Jakarta, setelah sampai di
depan plataran klinik , ia segera turun dari motor dan menyerahkan helmnya
Setelah menyelesaikan transaksinya pada supir ojol, ia segera
melangkahkan kakinya menyusuri halaman klinik
takut dengan jarum suntik, ia menyesali ucapannya sendiri untuk datang ke
tempat itu seorang diri tanpa suaminya
“astaga ...., apa yang harus aku lakukan ...?” ia terus saja berdoa
dalam hati, hingga tanpa di sadari langkahnya sudah sampai di depan meja
resepsionis
“ada yang bisa kami bantu mbak?’ suara seseorang mengagetkannya
“hemm ....., nggak perlu mbak, saya Cuma lagi nunggu teman saja”
kilah Ara, ia segera menjauh dari meja resepsionis
Ara kembali memutuskan untuk keluar dari tempat itu, ia benar-benar
takut untuk datang ke tempat itu, seumur-umur iya benar-benar takut masuk rumah sakit, rasa traumanya atas meninggalnya sang ibu di rumah sakit masih terus menghatui, membuatnya begitu takut untuk kembali menjejakkan kakinya ke bangunan yang namanya Rumah Sakit,
akhirnya ia memutuskan benar-benar balik badan, dan ia memilih berjalan menyusuri trotoar depan rumah sakit, ia begitu
bingung dan di hantui rasa takut, kepedihan yang ia rasakan 12 tahun lalu saat ibunya meninggal begitu membekas
“aku harus ngomong apa ya sama Agra ...” ia terus saja berjalan
tanpa memperhatikan jalan, hingga langkahnya terhenti di depan sebuah apotek
“apotek ...” melihat tulisan apotek di depan ruko menbuatnya mendapatkan
ide, ia pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam apotek
“ada yang bisa di bantu mbak?’ tanya apoteker yang sedang bertugas
“saya mau vitamin ya mbak”
tanpa pikir panjang petugas apotek pun segera memberikan beberapa Vitamin yang di minta oleh Ara
***
Semenjak memiliki Ruko Agra tak pernah lagi bekerja di pasar, ia
hanya menghabiskan kontrak kerjanya di kafe milik Jerry, setelah selesai pekerjaannya di kafe ia akan segera pulang dan membatu di rukonya dan mengurusi usaha marketingnya yang baru di rintis
__ADS_1
“sayang ....” seperti biasa , Agra akan segera memeluk tubuh
istrinya ketika sampai di rumah, ya ruko yang bagian lantai duanya kini di sulap menjadi rumah kecil untuk mereka berdua
“bby ....” keluh Ara karena merasa tidak nyaman dengan bau
keringat suaminya, dulu bau itu begitu di rindukan tapi entah kenapa sekaran ia merasa mual saat mencium bau keringat suaminya
“ada apa sayang ?” Agra segera menjauhkan badannya saat melihat pipir Ara yang sudah memerah karena menahan ingin muntah
“bau bby ...., mandi dulu ...” Ara segera menutup hidungnya agar bau suaminya tidak mencapai rongga hidungnya
Agra segera mencium bau tubuhnya sendiri, mengangkat kedua tangannya dan mencium ketiaknya
"nggak bau ....., seperti biasanya ....." Agra protes
"tapi itu bau bby ... .." Ara yang tak tahan segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya,
hoek hoek hoek
dan Agra segera menyusul dan menepuk punggung istrinya dengan penuh khawatir
"jangan-jangan kamu hamil ya sayang ...?" tanya Agra antusias, setelah selesai mengeluarkan semua isi perutnya Ara kembali masuk ke dalam kamar di ikuti Agra, Agra begitu menunggu jawaban istrinya
"nggak bby .... , cepetan mandi ....., dari pada nanti aku mintah lagi bby ..." Ara mendudukkan bokongnya di atas tempat tidur sambil memijat pelipisnya yang terasa nyeri
‘baik sayang ...” Agra pun segera melenggang ke kamar mandi,
"memang sebau itu badanku, sampai dia muntah ...., perasaan nggak bau ..., badanku harum ...." batin Agra yang lebih memilih mengalah dari pada berdebat dengan istrinya
tak mau membuat istrinya marah, akan sangat sulit membujuknya jika sampai marah,
karena akhir-akhir ini mood istrinya suka berubah-ubah
Setelah selesai mandi, agra pun kembali menghampiri istrinya yang
sedang menyiapkan makan malam, ia pun segera duduk di kursi dan menunggu istrinya mengambilkan makanan
“bagaimana sayang tadi ke dokternya?” tanya Agra setelah Ara menyerahkan satu piring yang sudah berisi makanan
“eh..., e....” Ara bingung harus mengatakan apa, ia benar-benar tak bisa bicara jujur pada suaminya
“bagaimana sayang hasilnya, kamu nggak pa pa kan, kamu hamil....?” tanya Agra menyelidik
“nggak bby ...., aku belum hamil, aku nggak pa pa bby, Cuma kecapekan aja” Ara menundukkan wajahnya, ia tak
mau jika sampai suaminya menyadari jika
dirinya sedang berbohong
‘kamu beneran ke dokter kan sayang?” Agra tak percaya dengan ucapan istrinya, pasalnya akhir-akhir ini istrinya menunjukkan tanda-tanda kehamilan
‘beneran kok ..., nih buktinya ...” Ara pun segera menunjukkan
beberapa bungkus vitamin yang sengaja dia beli di apotik tadi
“ini apa sayang?” Agra mengambil vitamin yang di tunjukkan oleh Ara
“itu vitamin bby...., aku Cuma di kasih vitamin, soalnya aku Cuma
kecapekan saja”
“beneran kamu nggak bohong kan?” Agra masih meragukan ucapan
istrinya
“enggak bby, kamu bisa tanya sama mbak Rini, aku benar-benar pergi
tadi pagi”
“sama Nadin?”
‘enggak, soalnya Nadin sedang ada kelas pagi, jadi nggak bisa
nemenin..., makan bby...” Ara mengalihkan pembicaraan dengan menyerahkan piring
milik Agra yang sudah berisi nasi , sayur dan lauk
“makasih sayang ...., sebenarnya aku berharap lain sayang?”
“apa bby?”
‘aku berharap sudah ada Agra junior di dalam sini” jawab Agra
sambil mengelus perut Ara
“maafkan aku bby, aku sudah berbohong, aku nggak punya keberanian
ke dokter sendiri” batin Ara
“sabar ya bby, nanti kalau sudah waktunya di kasih, pasti dikasih
sama Allah”
**BERSAMBUNG
__ADS_1
siapa coba yang nungguin Ara hamil, sabar ya, orang sabar di sayang suami ....he he he
jangan lupa untuk selalu ngasih upah buat Author ya dengan meninggalkan like komentar dan vote nya**